Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Di dalam kelas sastra yang sepi karena sebagian besar murid sedang menghabiskan waktu istirahat di kantin, Issabelle duduk bersandar di kursinya.
Ponselnya tergeletak telungkup di atas paha. Ia baru saja memeriksa jaringan satelit pribadi klan untuk kesekian kalinya, dan hasilnya tetap sama: nihil.
Benar-benar tidak ada balasan dari Martha. Keheningan ini terasa mencekik.
Di balik wajahnya yang sedatar es, Issabelle terus merapalkan harapan dalam hati agar Daddy-nya baik-baik saja di Frankfurt, bertahan di antara kepungan konflik klan yang memanas.
Sore nanti dia sudah harus mulai bekerja di bengkel milik Harrison.
Pikirannya mendadak terbagi memikirkan banyak hal.
Selain urusan penyamaran dan hilangnya kontak dari Jerman, bayangan tadi pagi kembali melintas di benaknya.
Saat di dapur sebelum berangkat sekolah, Issabelle sempat melihat sekilas bekas luka memar berbentuk cengkraman lima jari yang menghitam di leher Sloane, yang berusaha ditutupi wanita itu dengan kerah kemeja kerjanya.
Issabelle mendengus dingin. Ia benar-benar benci dan tidak habis pikir dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi wanita selemah dan sepasrah itu?
Di dunianya, kelemahan adalah dosa terbesar yang mengundang maut, dan melihat Sloane membiarkan dirinya ditindas oleh pria kasar sekelas Harrison membuat rasa hormatnya sebagai anak terkikis habis, menyisakan kekosongan yang sinis.
TAK. TAK. TAK.
Suara ketukan sol sepatu hak tinggi yang genit di luar lorong membuyarkan lamunan Issabelle.
Ia mengalihkan pandangan abu-abunya ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke koridor.
Di sana, Chloe berjalan dengan gaya angkuh yang dibuat-buat, dikelilingi oleh dua orang temannya yang sibuk membawakan tas kosmetik dan memujinya sepanjang jalan.
Issabelle hanya mengendus geli.
Cara berjalan yang berlebihan, tawa palsu yang nyaring, dan obsesi Chloe terhadap pengakuan sosial murahan di sekolah ini tampak begitu menggelikan di matanya.
Seseorang yang membangun benteng pertahanan dirinya di atas pujian orang lain adalah target yang paling mudah dihancurkan dalam hitungan detik.
Merasa tenggorokannya kering karena memikirkan terlalu banyak kalkulasi, Issabelle bangkit dari kursinya.
Ia mengambil botol minum termos hitam miliknya, lalu melangkah keluar kelas untuk mengisi air.
Berdasarkan peta sekolah, fasilitas pengisian air terdekat berada di koridor ujung bangunan utama, area yang agak menjauh dari kebisingan loker.
Langkah kaki Issabelle membawanya menyusuri lorong panjang yang semakin sunyi.
Tempat pengisian air itu—sebuah dispenser premium dengan teknologi filter dan pilihan air panas khusus—terletak tepat di seberang sebuah ruangan besar berlabel Kelas 10-A.
Sembari menunggu botol minumnya terisi penuh oleh air dingin yang mengalir pelan, mata abu-abu Issabelle bergerak memindai bagian dalam kelas 10-A melalui dinding kaca transparan yang tebal.
Sedetik kemudian, kedua alisnya yang rapi menyipit samar. Ia cukup terkejut melihat interior di dalam sana.
Kelas itu tidak terlihat seperti ruang belajar pada umumnya.
Alih-alih deretan kursi kayu standar, ruangan itu dipenuhi oleh sofa kulit kustom yang menyatu secara ergonomis dengan meja tunggal berdesain minimalis, disusun melingkar membentuk huruf Letter U yang megah.
Di bagian depan, tidak ada papan tulis kapur atau spidol, melainkan sebuah papan layar sentuh canggih berukuran Besar.
Di atas setiap meja tunggal, sebuah iPad Pro generasi terbaru terpasang pada dudukan khusus dengan logo Oakridge Gold berbalut kuningan.
Wah, ini gila, batin Issabelle.
Bahkan di Jerman, di lingkungan sekolah elit swasta tempat anak-anak diplomat dan oligarki Eropa menuntut ilmu, ia belum pernah mendengar atau melihat ada kelas unggulan dengan fasilitas se-eksklusif dan semewah ini untuk tingkat sekolah menengah.
Kelas 10-A ini jelas merupakan fasilitas khusus yang disediakan pihak yayasan hanya untuk lingkaran teratas dari anak-anak pemilik saham terbesar sekolah—termasuk klan Riccardo.
KLIK.
Suara sensor dispenser menandakan botol minumnya telah terisi penuh.
Tepat saat Issabelle hendak memasang kembali tutup botolnya, instingnya yang telah dilatih bertahun-tahun di Frankfurt mendadak berteriak histeris.
Seluruh bulu kuduknya meremang.
Udara di sekitarnya mendadak mendingin, dan sebuah tekanan atmosfer yang sangat pekat merayap dari arah belakang tubuhnya.
Ada seseorang di sana.
Issabelle langsung memutar tubuhnya dengan cepat untuk mengambil jarak. Namun, gerakannya terlambat satu detik.
UGH!
Tubuh ramping Issabelle langsung menabrak dada bidang seorang siswa yang berdiri begitu dekat, nyaris tanpa jarak di belakangnya.
Aroma maskulin yang dominan—campuran antara tembakau mahal, mint, dan bau bahaya yang pekat—seketika menyerbu indra penciumannya.
Sebelum logikanya sempat mencerna situasi atau membaca gerakan lawan, sebuah dorongan kuat menghantam pundaknya.
BRAK!
Tubuh Issabelle terhimpit, ditindih sepenuhnya ke dinding semen di samping dispenser oleh tubuh besar pria itu.
Botol minum hitamnya terlepas dari genggaman, jatuh ke atas lantai beton dengan bunyi dentangan keras yang menggema di koridor yang sepi.
Belum sempat Issabelle menarik napas untuk mengeluarkan suara atau mengaktifkan mode bela diri jarak dekatnya, sepasang tangan kekar dengan cepat mencengkeram kedua pergelangan tangannya, mengangkatnya ke atas, dan menguncinya dengan kuat di atas kepalanya sendiri melawan dinding.
Detik berikutnya, segalanya menjadi gelap dan panas.
Pria itu menundukkan kepalanya secara agresif, meraup bibir tipis Issabelle tanpa peringatan, dan langsung melumat bibir itu dengan intensitas yang begitu liar, dalam, dan menuntut.
Cara pria itu menciumnya begitu posesif, seolah-olah Issabelle adalah sepotong wilayah kekuasaan miliknya yang telah lama hilang dan kini berhasil direbut kembali.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Issabelle Reichenbach mengalami blank total.
Seluruh memori tentang teknik kuncian, pukulan mematikan, dan refleks bela diri yang diajarkan oleh instruktur militernya seakan menguap dari kepalanya.
Kejutan mental karena diserang secara seksual di tempat umum oleh seseorang yang memiliki kekuatan fisik sebesar ini membuat sistem sarafnya membeku selama beberapa detik yang krusial.
Pria itu adalah Navarro Von-riccardo.
Navarro sudah mengawasi Issabelle sejak gadis itu berdiri diam menatap kelas 10-A.
Sejak jam istirahat dimulai, Navarro sengaja memisahkan diri dari George dan Grey.
Menggunakan insting berburunya yang akut, ia mengikuti wangi mawar es yang samar-samar kembali terendus oleh indra penciumannya.
Dan saat ia merasakan lorong tempat air panas khusus yang terletak di ujung gedung ini benar-benar sepi dari jangkauan kamera pengawas dan murid lain, ia langsung bergerak mendekat seperti serigala yang menyergap mangsanya di sudut gelap.
Sentuhan bibir Issabelle yang dingin namun lembut di bawah lumatannya justru membakar kewarasan Navarro.
Sentuhan ini nyata.
Gadis ini bukan sekadar bayangan.
Sistem pertahanan otak Issabelle akhirnya kembali berfungsi dengan sentakan adrenalin yang hebat.
Kesadarannya pulih sepenuhnya.
Rasa hangat yang menjalar di bibirnya memicu kemarahan yang luar biasa di dalam dadanya.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun cengkeraman Navarro di atas kepalanya seperti borgol baja yang tidak bergeser satu milimeter pun.
Lebih buruk lagi, di sisi lain, Issabelle bisa merasakan tangan bebas Navarro yang lain perlahan merayap turun ke pinggangnya, lalu bergeser ke bawah, memberikan elusan serta remasan lembut yang tegas di atas permukaan kulit pahanya.
Rok seragamnya yang pendek telah terangkat setengah akibat posisi tubuh mereka yang menempel rapat.
Sentuhan kasar namun berpola itu mengirimkan sinyal bahaya yang mutlak bagi harga diri Issabelle.
Kau salah memilih lawan, Riccardo! amuk Issabelle dalam hati.
Karena kedua tangan dan kakinya terkunci oleh bobot tubuh Navarro, Issabelle menggunakan satu-satunya senjata yang tersisa.
Di sela-sela lumatan liar pria itu, Issabelle membuka mulutnya sedikit, lalu dengan sekuat tenaga murni, ia menggigit bibir bawah Navarro hingga terdengar bunyi robekan kecil.
"Mphhh...Ugh!" Navarro mengerang tertahan di dalam ciumannya, rasa sakit yang tajam seketika menyengat bibirnya.
Namun, alih-alih melepaskan, gigitan itu justru membuat cengkeramannya mengencang karena amarah yang tersulut.
Melihat pria itu keras kepala, Issabelle menarik kepalanya ke belakang sejauh beberapa sentimeter yang tersisa dari bantalan dinding, lalu dengan sentakan otot leher yang cepat dan keras—
BUGH!
Dahi Issabelle menghantam dahi Navarro dengan benturan tulang yang keras dan solid.
Ciuman liar itu seketika terlepas.
Navarro melangkah mundur dua tapak, keseimbangannya sempat goyang.
Pria itu refleks melepaskan cengkeraman tangannya dan memegang dahinya yang kini memerah dan berdenyut nyeri akibat hantaman mendadak tersebut.
Napasnya memburu, berat dan tidak beraturan.
Tepat setelah ciuman itu terlepas, Issabelle langsung menggunakan punggung tangan kanannya untuk menghapus bekas saliva dari bibirnya dengan gerakan yang sangat kasar, penuh dengan rasa jijik yang murni.
Napasnya ikut terengah-engah, matanya yang abu-abu kini tidak lagi datar—mata itu berkilat dengan kemarahan yang dingin dan mematikan, memancarkan aura seorang pembunuh dari klan Reichenbach yang siap mencabut nyawa.
"Kau lancang, Riccardo," desis Issabelle, suaranya bergetar rendah oleh amarah yang tertahan.
Setiap suku kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang diasah tajam.
Navarro menurunkan tangannya dari dahi.
Alih-alih marah karena baru saja dihantam dan digigit, sebuah senyuman tipis, miring, dan sarat akan kegilaan perlahan terukir di wajah tampannya.
Sinar matahari dari ventilasi lorong menyinari setetes darah segar yang mulai merembes keluar dari sudut bibir bawahnya yang tergores bekas gigitan Issabelle.
Navarro menjulurkan lidahnya, menjilati bibir bawahnya sendiri untuk mengecap rasa darahnya yang bercampur dengan sisa kehangatan bibir Issabelle.
Pandangan matanya yang gelap mengunci sosok Issabelle dengan intensitas obsesi yang berada di ambang batas kegilaan.
"Kau bisa menggigitku sesukamu, Belle," ucap Navarro, suaranya terdengar serak, rendah, dan sangat berbahaya saat ia melangkah maju satu tapak lagi, menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Issabelle.
"But remember one thing... you are mine. Kau sudah masuk ke wilayahku, dan aku tidak akan pernah melepaskan mangsa yang memiliki wangi seindah dirimu."
Issabelle Reichenbach
Navarro Von-riccardo
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂