Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Kakak Ku Atau Iblis
Jam 10 pagi. 8 jam ngebut dari Semarang. Badan gue remuk. Mata perih kurang tidur. Motor Supra butut gue parkir sembarangan di basement Kalibata City. Satpam udah mau negor, tapi ngeliat muka gue kayak orang kesurupan, dia diem.
Jantung gue jedag-jedug kayak bedug mau lebaran. Tangan gue dingin, keringetan, padahal AC mall di bawah tadi dinginnya minta ampun. Ini dia. Setelah 5 tahun nyekar ke kuburan kosong, setelah 5 tahun nangis tiap malem Jumat, setelah 5 tahun nyalahin diri sendiri...
Gue bakal ketemu Sari. Kakak gue.
Lift naiknya lama banget. Lantai 1... 5... 10... 15... 20... Setiap angka nambah, napas gue makin sesek. Macan di punggung gue diem. Bukan meringkuk takut kayak kemaren. Diem. Nunggu. Ngincer.
Ting. Lantai 23.
Loromg sepi. Sepi banget. Jam 10 pagi tapi kayak kuburan. Cuma ada suara AC central dengung pelan. Lampu lorong ada yang mati satu, kedip-kedip. Unit 2317 ada di ujung. Pintunya kayu coklat, polos. Nggak ada keset, nggak ada tulisan, nggak ada apa-apa.
Gue berdiri di depannya. Tangan mau ngetok, gemetar. Mau manggil "Kak Sari", tenggorokan kering. Gimana kalo bener ini Sari? Gue harus ngomong apa? "Kak, kok kakak boongin aku 5 tahun?" atau "Kak, kenapa kakak biarin aku gila?"
Gue kepal tangan. Tok. Tok.
Hening. Nggak ada jawaban. Cuma dengung AC.
Gue coba lagi. Lebih keras. Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" Suara dari dalem. Pelan. Serak. Tapi... familiar.
Itu suara Sari. Suara kakak gue yang dulu suka nyanyiin gue Nina Bobo waktu gue demam. Suara yang sama yang teriak-teriak marahin gue kalo pulang malem.
Lutut gue lemes. Air mata langsung netes tanpa permisi. "Kak... Kak Sari... ini aku, Raka, Dek..." Suara gue sember, hampir nggak kedengeran.
Hening sedetik. Terus... KLEK.
Pintu kebuka pelan.
Dan di sana dia berdiri.
Sari. Kakak gue. Rambutnya panjang sepunggung, sama kayak 5 tahun lalu. Mukanya tirus, sama kayak di foto terakhir sebelum dia "mati". Matanya... matanya itu yang bikin dada gue sesak. Mata yang sama yang dulu selalu khawatir tiap gue berantem.
Dia pake daster biru bunga-bunga. Daster favoritnya. Yang dia pake pas terakhir kali gue liat dia hidup, pas dia nganterin gue berangkat kerja di bengkel.
"Raka?" Bibirnya gemetar. Matanya langsung berkaca-kaca. "Dek... kamu... kamu beneran ke sini?"
"KA SARI!" Gue nggak kuat. Gue nyerbu masuk, meluk dia erat-erat. Badannya anget. Beneran anget. Ada detak jantungnya. Ada bau shampo Sunsilk yang sama kayak dulu. Ini bukan hantu. Ini bukan mayat. Ini Sari. Kakak gue hidup!
Gue nangis. Nangis sejadi-jadinya di pundaknya. 5 tahun gue nahan. "Kak... kenapa... kenapa kakak tega... aku... bapak... kita semua udah ngubur kakak..."
Sari diem. Tangannya ngelus punggung gue pelan. Kayak dulu. "Maafin kakak, Dek. Kakak nggak ada pilihan..."
Nggak ada pilihan? Maksudnya apa?
Gue lepasin pelukan. Gue pegang pipinya. Gue liatin mukanya lekat-lekat. Nggak berubah. Kerut di dahinya sama. Tahi lalat di bawah mata kirinya sama. Bekas luka kecil di dagu gara-gara jatuh dari sepeda waktu SD, sama.
Ini Sari. Ini pasti Sari.
Tapi... kenapa macan di punggung gue tiba-tiba nggerung kenceng banget? Nggerung marah, nggerung ngusir. Panasnya sampe nembus jaket.
Sari narik gue masuk. "Ayo masuk dulu, Dek. Di luar bahaya."
Apartemennya bersih. Rapi banget. Terlalu rapi buat ukuran orang yang ngumpet 5 tahun. Nggak ada debu. Nggak ada foto. Nggak ada barang pribadi sama sekali. Cuma ada meja, dua kursi, sama kasur di pojok. Kayak kamar hotel. Kayak... kamar transit.
"Kak, jelasin ke aku. Kenapa kakak pura-pura mati? Kenapa mayat di kuburan itu bukan kakak? Terus mayat siapa itu? Kenapa Seto bilang kakak tumbal kedelapan?" Gue nembak pertanyaan bertubi-tubi. Gue udah nggak tahan.
Sari nunduk. Tangannya gemetaran pas ngambilin gue air putih gelas. "Duduk dulu, Dek. Kakak ceritain pelan-pelan."
Gue duduk. Gelas gue terima. Tapi gue nggak minum. Firasat gue nggak enak.
"Kakak... kakak dipaksa, Raka." Suaranya pelan, gemetar. "5 tahun lalu, orang-orangnya Seto dateng ke kontrakan kakak di Semarang. Mereka... mereka ancem mau bunuh kamu sama bapak kalo kakak nggak nurut."
Jantung gue berhenti.
"Mereka nyuruh kakak mati. Pura-pura bunuh diri. Biar kamu nggak dicari. Biar kamu aman. Mayat yang di kuburan itu... itu orang lain. Tumbal pengganti. Seto yang atur semua. Polisi, Pak Modin, semua udah dibayar."
Bajingan. Seto emang bajingan.
"Terus selama ini kakak di sini? Ngapain?"
Sari gigit bibir. Matanya nggak berani natap gue. "Kakak... kakak dikurung, Dek. Buat jaga... buat jaga Rajah Kedelapan. Kalo kakak keluar dari apartemen ini, rajahnya bangkit. 6 kota yang disebut Seto itu... bakal rata sama tanah."
Tumbal kedelapan. Dia nggak bohong. Sari emang tumbalnya.
"Terus kenapa sekarang Seto nyuruh aku ke sini? Katanya jemput kakak?"
Baru aja gue ngomong gitu, lampu apartemen mati. JEGLEK. Gelap total. AC mati. Hening.
Tapi anehnya, di kegelapan itu, gue bisa liat mata Sari. Nyala. Merah. Kayak bara api.
Dan senyumnya... senyumnya sobek. Lebar banget. Nggak manusiawi. Dari ujung kuping kiri ke ujung kuping kanan.
Suara Sari berubah. Berat. Bergema. Bukan suara kakak gue lagi. "Karena waktunya sudah habis, Raka. Rajab ke-7. Kau telat."
DINGIN. Tiba-tiba ruangan jadi dingin kayak di dalam freezer. Napas gue ngebul.
Macan di punggung gue NGERAUNG. Nggak lagi nggerung. NGERAUNG MURKA. Cakarnya nonjok keluar dari kulit punggung gue, perih banget.
Sosok di depan gue ketawa. Ketawa Sari, tapi dicampur sama suara lain. Suara berat, tua, serak. "Bodohnya kau, anak manusia. Kau pikir bisa ketemu kakakmu lagi? Sari sudah mati 5 tahun lalu. Yang kau kubur itu memang dia."
Gue mundur. Kaki nabrak kursi. JATUH.
"Terus... terus yang di depan gue ini siapa?!" Teriak gue. Keringat dingin segede jagung netes.
Dia jalan mendekat. Di kegelapan, badannya Sari, tapi jalannya aneh. Kayak patah-patah. Lehernya miring 90 derajat. "Aku? Aku adalah Rajah Kedelapan. Aku adalah yang kau sebut 'Sari'. Enak, kan, pake tubuhnya? Darahnya manis. Dagingnya empuk. 5 tahun aku pakai ini buat jaga pintuku."
MUNTAH. Gue mau muntah lagi. Jadi selama ini... yang gue peluk... yang gue kangenin...
"Seto nggak bohong," katanya sambil nyengir, air liur netes-netes hitam dari ujung bibir sobeknya. "Kakakmu memang tumbal. Tumbal buat wadahku. Dan sekarang... giliranmu. Darah adiknya pasti lebih manis buat bangunin 6 saudaraku yang lain."
Tangannya yang kuku-kukunya panjang item nonjok ke arah gue.
GUE DITIPU. DITIPU MENTAH-MENTAH. SARI GUE UDAH MATI. DARI 5 TAHUN LALU. YANG ADA DI SINI CUMA IBLIS PAKE MUKANYA.
Macan gue ngamuk. GUE JUGA NGAMUK.
"ANJING!" Gue ngeraung, bukan pake suara gue lagi. Suara macan. Kuku gue manjang. Taring gue nonjol.
Kalo Sari udah nggak ada... kalo yang ada cu
ma iblis ini...
Maka gue bakal ngubur dia dua kali. Sekali di Tegal Alur, sekali lagi di sini, sekarang juga!.