Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"
Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GADIS PUJAAN HATI BRAMASTA
Pagi ini Zayn dan Velin sedang sarapan bersama di meja makan yang penuh dengan hidangan. Velin nampak tidak berselera, ia hanya membolak balikkan makannya menggunakan sendoknya. Hal ini menyita perhatian Zayn yang duduk di sampingnya.
" Sayang, kenapa tidak di makan hmm? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Zayn menatap Velin yang terlihat murung.
" Lagi nggak mood aja mas." Sahut Velin.
" Nggak boleh gitu donk sayang. Kamu tetap harus makan, kalau nggak makan nanti sakit lhoh. Mas nggak mau melihatmu kesakitan." Ujar Zayn.
Velin tersenyum kecut mendengarnya. Tidak mau melihat Velin kesakitan tapi justru dia sendiri yang menyakiti Velin.
Zayn mengambil makanan di piring Velin menggunakan sendoknya, lalu ia menyodorkannya ke depan mulut Velin.
" Ayo a' makan yang banyak biar sehat."
Velin menatap Zayn dengan mata berkaca kaca. Ia tidak menyangka jika pria sebaik dan selembut Zayn bisa mengkhianatinya. Masih terlihat dengan jelas di dalam ingatannya tentang bagaimana Zayn begitu menyayanginya selama ini. Bagaimana Zayn mencurahkan semua waktu dan perhatiannya selama proses pendekatan.
Setelah menikah, Zayn memperlakukan Velin seperti seorang ratu. Zayn melarang Velin mengerjakan pekerjaan sekecil apapun. Semua di kerjakan oleh asisten rumah tangga.
Ketika Velin sakit, Zayn selalu jadi orang pertama yang begitu mengkhawatirkannya. Ia selalu menemani Velin selama apa pun itu sampai Velin sembuh. Ia bahkan sering mengabaikan pekerjaannya karena tidak mau meninggalkan Velin barang sedetik pun.
Namun semua itu mulai berubah sejak satu tahun lalu. Tanpa Zayn sadari, kedekatannya dengan Siska membuat jarak antara dia dan Velin semakin jauh.
" Sayang, ayo di makan. Kenapa malah melamun?"
Ucapan Zayn menyadarkan lamunan Velin.
" Aku nggak berselera mas. Mas makan sendiri saja." Velin meletakkan sendoknya lalu beranjak meninggalkan Zayn sendirian. Pengkhianatan Zayn benar benar membuatnya tidak bergairah mengerjakan apapun.
" Ada apa dengan Velin? Sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini. Apa dia tahu sesuatu? Atau dia sedang sakit? Atau jangan jangan dia tahu tentang Siska? Tapi tidak mungkin. Aku menyembunyikannya dengan rapat." Gumam Zayn.
Velin masuk ke kamarnya, ia duduk di tepi ranjang menatap luar jendela.
" Kenapa kamu melakukan ini padaku mas? Kenapa kamu mengkhianati cinta kita? Kalau memang kamu tidak mencintaiku lagi, harusnya kamu tidak perlu seperti ini." Monolog Velin.
Semalam, Arvha mengirimkan bukti bukti perselingkuhan Zayn dengan Siska. Tidak hanya sering menginap di rumah Siska, namun Zayn juga sering mengajak Siska menemaninya pergi dinas ke luar kota. Bahkan pernah ke luar negeri selama satu minggu. Hal ini membuat dada Velin terasa nyeri. Ia ingin terlihat tegar, namun rasa sakit ini begitu membuatnya rapuh.
" Hiks.." Dada yang semakin sesak membuat Velin tidak sanggup menahan air matanya lagi. Melihat foto kemesraan sang suami dengan wanita selingkuhannya membuat harga dirinya terjun bebas ke dasar jurang. Ingin sekali ia menyerang kedua pasangan bejat itu, namun Velin berusaha menahan diri. Ia ingin membuat perhitungan secara halus untuk membalas perbuatan mereka. Ia ingin mereka berdua merasakan sakit seperti apa yang ia rasakan saat ini.
" Sayang."
Mendengar suara Zayn, Velin langsung mengusap air matanya. Ia menoleh ke arah pintu, nampak Zayn berjalan mendekatinya.
" Apa kamu sakit? Kalau iya, ayo kita ke dokter." Ucap Zayn duduk di samping Velin. Tangannya terulur menempel di dahi Velin.
" Kamu menangis?" Tanya Zayn melihat mata Velin memerah.
" Tidak. Cuma kemasukan debu tadi. Aku nggak apa apa mas. Hanya saja akhir akhir ini aku merasa gelisah entah karena apa. Apa semua baik baik saja mas?"
Deg...
Jantung Zayn berdebar, ia menatap wajah cantik sang istri. Istri yang paling ia cintai.
" Semua baik baik saja sayang, mungkin hanya perasaanmu saja." Sahut Zayn menggenggam tangan Velin.
Velin menarik tangannya, " Aku rasa ini berkaitan denganmu mas." Ujar Velin menatap Zayn. Kini keduanya saling melempar pandangan.
" A.. Apa maksud kamu sayang? Mas baik baik saja kok." Sahut Zayn.
" Mungkin kamu baik baik saja, tapi hubungan kita yang tidak baik baik saja mas."
Lagi lagi jantung Zayn berdebar. Bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
" Akhir akhir ini kamu semakin sibuk dengan urusanmu mas. Tanpa kamu sadari, aku bukan lagi prioritas utamamu. Biasanya laki laki yang mulai mengabaikan istrinya itu laki laki yang memiliki wanita lain di luar sana."
Deg...
Detak jantung Zayn seperti genderang mau perang. Ia memeluk sang istri dengan sangat erat. Ada rasa bersalah merambat di hatinya.
" Maafkan mas sayang."
" Lepaskan mas!" Velin mendorong Zayn hingga pelukannya terlepas.
" Kenapa kamu meminta maaf? Apa tebakanku benar?" Selidik Velin. Ia berharap sang suami mau jujur padanya sehingga ia tidak menjadikan orang yang tidak bersalah sebagai poinnya. Ia berjanji jika Zayn mau mengakui semuanya, ia akan menjauh dari Bram. Jujur, ia ingin hidup damai dan tenang.
" Kamu bicara apa sayang? Kamu sendiri tahu kalau mas hanya mencintai kamu. Mas tidak mungkin mengkhianatimu."
Velin tersenyum sinis mendengar ucapan sang suami. Seharusnya ia tidak berharap pada Zayn, apalagi tentang kejujuran.
Zayn kembali menggenggam tangan Velin. " Kamu tahu bagaimana usaha mas selama bertahun-tahun untuk mendapatkan kamu. Mas berusaha memberimu yang terbaik. Bahkan waktu hati dan cinta mas, semuanya mas berikan padamu. Lalu bagaimana kamu bisa berpikir kalau mas mengkhianati kamu hmm? Mas hanya mencintai kamu sayang, tidak ada yang lain. Seandainya pun mas dekat dengan wanita lain, pasti saat itu mas sedang khilaf." Zayn mencium punggung tangan Velin.
" Jika benar sampai itu terjadi, maka tegur mas! Mas akan kembali padamu sayang karena hanya kamu tempat mas kembali." Imbuh Zayn.
Kepercayaan yang sudah retak, bagaikan sebuah kaca pecah yang tidak bisa di satukan lagi.
" Kau tidak sedang berbohong?" Selidik Velin menatap mata Zayn.
" Tidak sayang." Sahut Zayn menggelengkan kepala.
" Baiklah aku percaya padamu mas. Tapi jika suatu hari nanti aku tahu kamu mengkhianati pernikahan kita, aku tidak akan mengingatkanmu untuk kembali mas. Tapi aku akan meninggalkanmu untuk selamanya." Ucap Velin.
Zayn menatap Velin, ia menangkup wajah Velin dengan kedua tangannya.
" Mas tidak akan memberikan kesempatan itu sayang. Mas tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidup mas. Mas sangat mencintai kamu." Ungkap Zayn. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Velin.
Cup...
Zayn mengecup kening Velin.
" Aku baru sadar jika kau bisa akting sesempurna ini mas." Batin Velin.
" Ya sudah mas berangkat dulu. Tunggu mas di rumah ya." Ucap Zayn di balas anggukkan kepala oleh Velin.
Zayn bergegas meninggalkan kamarnya. Velin menatapnya dengan senyuman kecut.
" Kau harus membayar mahal untuk semua ini mas."
Velin mengambil ponselnya, ia segera menelepon seseorang.
" Halo."
" Halo, bagaimana dengan dokumen yang aku minta?"
" Semua sudah siap nona, anda sendiri yang mau mengantarkannya ke tuan Zayn atau saya, nona?"
" Biar aku sendiri. Ingat jangan bilang papa soal masalah ini."
" Baik nona."
Bip..
Velin tersenyum lebar, " Status baru i'm comiiiiing." Sorak Velin.
Ting...
Velin menatap layar ponselnya.
" Bram, mau apa dia chat aku? Pasti mau meminta pertanggungjawaban lagi. Mentang mentang bibir masih perawan."
Velin segera membukanya.
Hai Velin cantik, kenapa hari ini gak ada di UKS? Padahal aku terluka lho ~ Bram
Tanpa sadar, Velin menyunggingkan senyuman.
Aku ijin karena ada urusan lain. Kenapa? Apa lukanya kena air? ~ Velin
Tidak, tapi aku jatuh lagi. Kali ini lebih parah dari kemarin ~ Bram
Ya ampun, makanya hati hati ~ Velin
Nggak mau hati hati karena itu artinya hatinya ada 2. Hatiku cuma satu yaitu kamu. Kesini bentar ya obati aku~ Bram
Velin menggelengkan kepala. " Nggak ibu nggak anak sama saja. Sama sama pintar menggoda." Monolog Velin.
Velin memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia harus segera pergi untuk menyelesaikan urusannya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam UKS. Bram yang sedang duduk di temani oleh Tyo merasa gelisah. Ia terus menatap layar ponselnya berharap Velin membalas pesannya.
" Kenapa gelisah gitu bro? Nggak di bales pesannya? Hahahaha." Tyo tertawa mengejek.
" Dia lagi ada urusan." Sahut Bram.
" Lagian elo, cewek baru di temui dua kali udah nyatain cinta. Yang ada bukannya dia klepek klepek malah dianya kabur bro. Cewek itu butuh pendekatan lama baru bisa menerima cinta." Ujar Tyo.
" Sebenarnya di spa waktu itu bukan pertemuan pertama kami." Sahut Bram.
Tyo menatap Bram, " Maksud lo, kalian udah bertemu sebelumnya?" Selidik Tyo.
" Iya." Bram menggelengkan kepalanya.
" Emang kapan kalian pernah bertemu?" Tanya Tyo lagi.
" Waktu itu." Sahut Bram menerawang ke sebuah kejadian. " Dan itu yang membuat gue jatuh cinta padanya." Imbuh Bram.
" Dimana kalian bertemu? Dan kapan?"
" Di..... "
TBC...