NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Mencari Senjata

Keesokan harinya...

Matahari mulai menampakkan dirinya kembali ke dunia, membawa kehangatan dan melenyapkan malam dingin yang menyelimuti cakrawala. Kini giliran sang rembulan untuk pergi, karena tugas menjaga malam sudah selesai.

Di dalam kamar yang mulai memperlihatkan bentuknya karena sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah jendela, terlihat dua orang gadis masih berbaring.

Salah satunya sudah bangun, tapi ia tidak bisa bergerak.

"Siria, bangun. Ini sudah pagi."

Suara yang lembut memanggilnya, tapi Siria tidak dapat membuka matanya karena kehangatan memaksa tubuh dan pikirannya untuk beristirahat lebih lama. Itulah yang menyebabkan Siria lebih nyaman dan tidak mau bangun.

"Hei, apa kamu barusan mendengarkanku?"

Alexia menepuk bahunya berulang kali, namun tidak ada respon apapun. Malahan, ia masih bisa tersenyum lebar.

"Siria, mau sampai kapan kamu akan tidur?" Alexia kali ini mengguncang tubuhnya dan ia pun memberikan respon.

"Lima menit lagi." ucapnya sambil memeluk erat Alexia.

"Aku tidak masalah kalau kamu mau tidur lebih lama, tapi bisakah kamu melepaskan pelukanmu dulu?" kata Alexia sambil mencoba melepaskan diri, tapi usahanya sia-sia.

Siria yang mendengarnya terdiam dan masih terpejam.

'Aku memeluk nona Alexia ...?' pikirnya sedikit bingung.

Namun saat dia merasakan sedang memeluk seseorang, Siria pun langsung sadar dan membuka kedua matanya.

Pemandangan pertama yang ia lihat saat bangun adalah dua benda mirip seperti bola besar yang lembut dan juga hangat. Dua benda itu sekarang menempel di wajahnya, yang membuat wajah Siria langsung berubah memerah.

Bukan hanya itu, namun pakaian Alexia yang berantakan dan hampir telanjang membuat Siria makin tidak tenang.

"Apa kamu sudah bangun?" tanya Alexia sambil melihat Siria lebih dekat. "Maaf karena aku membangunkanmu."

Siria yang sadar pun langsung melepaskan pelukannya dari Alexia dan bersujud di lantai dengan rasa bersalah.

"Mohon maaf atas kelancangan saya!" teriaknya.

Dia tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, tapi menurut Siria tindakannya sudah keterlaluan. Entah apa yang dia lakukan hingga membuat Alexia hampir telanjang dada.

'Sepertinya aku melakukan sesuatu ...' pikir Siria, gugup.

Alexia membenarkan piyamanya dan beranjak dari kasur.

"Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya." balas Alexia dengan ramah sembari berjalan ke kamar mandi.

Dan saat membuka pintu, Alexia berhenti dan berkata,

"Aku tidak tahu kalau kamu punya kebiasaan seperti itu saat malam." kata Alexia dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Siria yang mendengarnya diam membisu.

"A-apa maksudnya dengan 'kebiasaan seperti itu'?"

Ekspresinya yang datar membuat Siria sangat terluka.

Siria kemudian berbaring di lantai dan meringkuk.

Dengan air mata yang mengalir keluar, ia berkata, "Siapa saja, tolong bunuh aku. Aku tidak sanggup untuk hidup."

Siria berpikir ia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan pada Alexia. Melihat sikap dan perkataannya tadi, sudah jelas kalau Siria sudah menyentuh tubuhnya.

"Apa aku bunuh diri saja sekarang juga?" katanya sambil mendongak ke arah belati yang tergeletak di atas lemari.

Tak lama kemudian, suara pintu yang diketuk muncul.

Tok tok tok

"Nona Alexia, kakak Siria, apa kalian sudah bangun?"

Pertama tak ada respon, tapi yang kedua ada tanggapan.

"Apa mereka belum bangun, ya? Padahal ini sudah pagi."

"Ada apa, Hana?" balas Siria dengan nada lirih dan lemas.

Orang yang berdiri di depan pintu, yang tidak lain adalah Hana, memiringkan kepala setelah mendengar suaranya.

'Kenapa suara kakak Siria terdengar aneh?' pikirnya.

Hana pun berhenti memikirkan hal itu dan melaporkan.

"Tadi malam ada beberapa assassin yang menyusup ke kamar nona Alexia. Lima orang sudah tewas, dan tersisa satu orang. Saya memindahkannya ke gudang belakang."

Setelah memberikan laporan, tidak ada tanggapan. Dan tidak lama, Hana mendengar suara tangisan dari dalam.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Hana, penasaran.

"Nona Alexia sedang mandi, jadi aku akan menjelaskan informasi ini padanya nanti." kata Siria sambil berusaha melupakan kejadian yang sebelumnya. "Aku akan pergi ke sana, jadi kamu jaga dan awasi agar dia tidak kabur."

"B-baik, saya mengerti." balasnya dan berbalik pergi.

Siria berdiri dan menghela nafas lelah. Ingatan tentang baju piyama Alexia yang hampir terbuka terus kembali dan membuat wajah Siria berubah merah seperti tomat.

"Lupakan itu! Lupakan! Aku tidak boleh mengingatnya!"

Dan untuk mengalihkan pikirannya, Siria pun membuka jendela. Angin yang sejuk perlahan masuk ke kamarnya.

****

Beberapa saat kemudian...

Setelah mandi dan membersihkan diri, Alexia memakai pakaian kasual berwarna hitam. Bentuknya sedikit mirip dengan seragam akademi, namun roknya lebih panjang.

Alexia tidak perlu merias diri, karena wajahnya yang tidak diberikan sentuhan apapun sudah terlihat cantik. Untuk aksesoris, Alexia hanya memakai sepasang anting kecil.

Gelang, kalung, dan cincin hanya membuatnya risih.

Siria mengambil sisir di meja dan mendekati Alexia.

"Nona Alexia, bagaimana dengan assassin yang telah di tangkap oleh Hana dan yang lainnya? Apa anda sendiri yang akan datang dan menginterogasinya?" tanya Siria.

Alexia menurunkan pandangannya dan berpikir.

'Aku sebenarnya ingin melihat kondisi kakak. Aku tidak melihatnya sejak kemarin siang setelah dia cedera dari latih tanding. Mungkin aku akan mengunjungnya nanti.'

"Aku serahkan itu padamu. Aku ingin melakukan sesuatu nanti, jadi kamu makan saja dulu dan jangan menunggu."

Siria yang bingung bertanya, "Anda mau melakukan apa?"

"Kamu tidak perlu tahu. Ngomong-ngomong, apa pedang yang aku minta itu sudah siap? Aku ingin membawanya."

Siria yang sedang menyisir rambutnya pun menjawab,

"Masih belum, nona Alexia. Saya menyuruh Hana untuk mencari di toko pandai besi di kota, tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana. Maafkan saya, nona Alexia."

"Tidak apa-apa, lagipula dia tidak tahu seleraku."

Pedang adalah simbol seorang ksatria, dan menemukan pedang yang cocok adalah tugas pertama. Alexia waktu itu menggunakan pedang bernama «Frozen Sea Sword», tapi pedang itu sekarang hilang dan entah ada di mana.

Sudah lima ratus tahun berlalu, mungkin saja pedang itu hancur atau berada di suatu tempat yang tidak diketahui.

Hanya alasan itu yang bisa dipikirkan oleh Alexia.

"Apakah anda perlu saya untuk pergi ke pandai besi dan meminta untuk pembuatan pedang pribadi?" tanya Siria.

Alexia pun menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu."

"Aku akan pergi sendiri dan melihat-lihat." lanjutnya.

'Selain itu, aku ingin memastikan sesuatu.' pikir Alexia.

Setelah mendengarnya, Siria tiba-tiba berhenti menyisir.

"Tapi nona Alexia, apa anda yakin ingin pergi ke kota dan berkeliling? Saya takut para assassin akan menemukan anda dan melancarkan serangan diam-diam pada anda."

Siria memberikan peringatan dengan raut wajah cemas.

Beberapa hari lagi kepala keluarga Swan akan kembali ke kediaman, jadi Alexia perlu pembuktian supaya ia dapat bebas dari pengawasan. Apalagi, ia perlu menyelesaikan masalah racun dengan orang di balik semua masalah ini.

Oleh karena itu, dia membutuhkan sebuah senjata.

Alexia tidak ingin ada orang lain yang tahu bahwa ia bisa menggunakan sihir. Jika ada orang yang mengetahui hal itu, sesuatu yang jauh lebih buruk mungkin akan terjadi.

Jadi, sebisa mungkin Alexia ingin menyembunyikannya.

"Aku yakin. Lagipula, apa kau tidak ingin menyelamatkan adikmu?" tanya Alexia sambil menatap lurus ke arahnya.

"Apa hubungannya anda pergi keluar dengan adik saya?"

"Karena aku ingin mengunjungi gereja saat melewatinya dalam perjalanan menuju pandai besi." balasnya hingga membuat Siria terdiam. "Jadi katakan ciri-ciri adikmu itu."

Siria yang mendengar hal itu pun melebarkan mata.

"Saya... saya ..." Siria di sini mulai bimbang dan ragu.

Tentu saja dia ingin menyelamatkan adiknya yang telah ditawan oleh mereka, tapi entah mengapa dia sekarang jadi lebih khawatir jika Alexia terluka. Siria bingung dan tidak tahu harus menjawab apa pada situasi seperti ini.

Alexia yang melihatnya sangat bingung pun berkata,

"Aku tahu apa yang sedang kau cemaskan, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan pergi ke kota sambil menyamar menjadi orang lain." ucapnya dengan wajah percaya diri.

"Menyamar ...?" Siria mengulangi dengan nada bingung.

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!