Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Maafkan aku," kata Prof Alnero.
Melisa melepas genggaman tangan Prof Alnero. Ia meraih gagang pintu dan keluar tanpa menjawab kata Maaf dari Profesornya. Sesampainya diluar, orang-orang menatap Melisa dengan bingung.
"Apa dia dimarahi karena menentang tugas-tugas yang selalu diberikan Prof?"
"Kasihan Melisa, demi kita dia kena marah,"
Itulah percakapan teman-teman Melisa saat melihat Melisa ke luar dari ruangan Prof Alnero dengan bulir air mata.
"Aku ke Rumah sakit saja, hanya Elina yang dapat membuatku bahagia" gumam Melisa sambil menyeka air matanya.
Melisa ke luar dari area Kampus lalu mencari Taxi. Dari kejauhan tepatnya di dalam mobil, Alnero memandangi Melisa yang sedang berdiri di depan jalan.
"Aakhh...!!" Prof Alnero memukul stir mobilnya. "Kenapa aku begitu kasar padanya!!" umpat Alnero sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Di pinggir jalan, Melisa terlihat menatap jalan dengan pandangan kosong, entah apa yang ia pikirkan. Sedangkan Prof Alnero terus menerus menatap Melisa dari dalam mobil. "Apa aku telpon saja" gumam Prof Alnero.
Profesor Alnero mengambil ponselnya, kemudian mencari nomor Melisa yang pernah ia minta direkan Dosen yang lain, siapa lagi kalau bukan Jonathan.
"Nomor baru," gumam Melisa. Melisa yang tidak suka menggubris nomor baru, membuatnya enggan untuk mengangkatnya.
"Sial!!" umpat Prof Alnero saat Melisa menolak panggilannya.
Tiiiiiiin... bunyi kalakson mobil. Alnero yang melihat Melisa menolak panggilannya, memilih untuk menghampiri Melisa. "Naiklah," ujar Alnero sambil membukakan pintu mobil untuk Melisa.
"Aku tidak mau," tolak Melisa.
"Tolong, jangan buat aku semakin kesal. Kita masih dilingkungan Kampus. Apa kamu mau orang-orang berpikiran jelek tentang kita" ucap Alnero.
"Jika tidak ingin orang lain berpikiran jelek maka pergilah!! Aku tidak perduli lagi, jika Prof ingin bermain dengan nilaiku maka silahkan saja." Melisa tidak perduli lagi dengan siapa lawan bicaranya.
Akkhhh... Alnero menendang mobilnya Semua Mahasiswa yang menyaksikan itu mulai berkumpul.
"Ada hubungan apa mereka?" tanya salah seorang Mahasiswa.
"Sepertinya Prof Alnero sangat marah," kata Mahasiswa yang lain.
Melisa yang merasa orang-orang menatap mereka langsung berdiri dan masuk ke dalam mobil kemudian duduk di kursi kemudi.
"Biar aku yang mengemudi," ujar Melisa.
Praf Alnero masuk ke dalam mobil tanpa menatap Melisa. Mobil perlahan bergerak meninggalkan area Kampus. Diperjalanan, Alnero terus diam. "Di mana alamat tempat tinggal, Prof." Melisa memecah keheningan.
"Aku tidak ingin pulang," ujar Prof Alnero.
"Lalu?" Melisa menatap heran Profesornya itu.
Dengan santai, Prof Alnero berkata. "Jalan terus dan berhenti di saat kamu lelah,"
"Aku harus belajar, aku tidak punya waktu untuk berkeliling" jelas Melisa.
"Aku bisa membatalkan tugas itu," ujar Prof Alnero sambil menatap ponselnya.
"Tapi Prof..." ucapan Melisa terhenti.
"Tidak ada tapi-tapian Melisa, jika kamu tidak ingin berkeliling maka ayo kita ke Rumah sakit" ujar Prof Alnero.
"Pilihan yang tepat," kata Melisa. Melisa yang sudah tahu di mana tujuannya mulai fokus mengemudi. Mobil Sport putih yang tadinya pelan kini melaju dengan kecepetan tinggi.
"Pelan-pelan, Melisa." Alnero membulatkan mata saat menyaksikan Melisa membawa mobil ugal-ugalan. Perjalanan yang harusnya ditempuh dengan waktu 20 menit menjadi singkat. Dan kini, Alnero dan Melisa berada di depan bagunan kokoh Johns Hopkins Hospital.
"Kamu terlalu gila membawa mobil!" ketus Alnero saat mereka sampai di Johns Hopkins Hospital.
"Aku berencana mengakhir hidupku tapi ternyata aku masih diberi kesempatan hidup," ujar Melisa sambil tersenyum pada Prof Alnero.
"Ayo, Prof" ajak Melisa kemudian turun dari mobil.
Di dalam ruang VVIP, Elina dan suaminya sedang bercengkaram. "Ini sudah siang, kamu tidak kerja?" tanya Elina.
"Tidak, aku akan di sini menjagamu" balas Jonathan.
"Aku baik-baik saja, apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh Dokter Antoni" ujar Elina dengan senyum.
"Aku tahu tapi kamu tidak perlu khawatir dengan urusan Perusahaan, aku bisa bekerja sekalipun di sini" kata Jonathan.
"Aku ingin pulang, aku bosan di Rumah sakit" kata Elina dengan cemberut.
"Dokter belum memperbolehkan kamu untuk pulang hari ini," ujar Jonathan lagi.
"Tapi kamu bisa membawaku pulang kan? Di rumah aku punya teman, ada banyak pelayan di sana yang bisa aku ajak bercerita." Elina memohon menatap Jonathan.
"Nanti malam kita pulang. Tapi ingat! Di rumah nanti, kamu tidak boleh melakukan apa-apa," Jonathan memperingati Elina karena disetiap sore saat Jonathan masih di Perusahaan ia selalu menyaksikan ulah Elina lewat CCTV.
"Iya, aku janji. Tapi kita pulang ya," pinta Elina.
"Bawel sekali kamu..." Jonathan mencubit hidung Elina.
Jonathan menatap Elina sejenak kemudian ia mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku bajunya. Jonathan menjauh dari istrinya lalu menjawab panggilan dari sahabatnya, Rinton.
"Halo, Rinton. Bagaimana? Apa dia sudah pergi?" tanya Jonathan saat panggilan dari Rinton terhubung.
"Dia sudah pergi dari Kota ini, tapi bukan berarti dia akan membiarkan istrimu hidup. Ingat Jonathan! Niza bukan wanita yang dapat kita anggap remeh," ujar Rinton.
"Ingin sekali aku meleyapkannya!!" kata Jonathan dengan marah. "Utus dua orang kepercayaanmu yang kamu anggap mampuh untuk menjadi bodyguard istriku" lanjutnya.
"Kamu tenang saja, soal itu biar aku yang urus. Atau kamu utus aku saja yang menjaga istrimu. Hahahaha" ujar Rinton disertai tawa lalu memutus panggilannya.
Tut tut tut... panggilan telepon berakhir.
Di hospital bad, Elina menatap suaminya dengan penuh tanya. Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya. Elina berharap suaminya dapat jujur padanya. Namun, saat Jonathan sudah duduk di samping Elina, Jonathan tak kunjung jujur. Elina pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Siapa yang mencoba membunuhku?" tanya Elina.
"Niza, wanita yang dijodohkan denganku" jawab Jonathan.
"Jika kamu sudah dijodohkan lalu kenapa kamu menikahiku. Bukankah kamu bisa menjadikan aku sebagai pembantumu" ujar Elina menahan tangis.
"Aku tidak mencintainya" balas Jonathan. "Tapi aku mencintaimu, Elina" batin Jonathan.
"Pernikahan kita juga tanpa cinta, Jonathan. Aku menerimamu karena kamu membeliku bukan karena cinta..." seru Elina.
"Stop! Jangan lanjutkan kalimatmu lagi!!" ujar Jonathan meninggikan nada suaranya. Jonathan yang tidak ingin mendengar kalimat istrinya, ia memilih ke luar, meninggalkan Elina seorang diri di dalam ruang perawatan.
"Apa hanya aku yang menyimpan perasaan suka padanya! Apa dia masih mencintai kekasihnya itu?" batin Jonathan disepanjang jalan menelusuri lorong Rumah sakit.
"Seperti inikah sakitnya ditolak," gumam Jonathan kemudian tersenyum. Ia tidak menyangkah cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
"Jika bahagiamu ada padanya, aku pastikan pria itu akan kembali lagi padamu!" batin Jonathan. Jonathan berhenti di depan ruangan Antoni. Di dalam, Antoni sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Jonathan sambil berdiri di depan ruangan Antoni.
"Kamu kenapa? Tidak biasanya kamu seperti itu" tanya Antoni.
"Entahlah," hanya itu yang dapat Jonathan katakan.
.
.
.
.
Bersambung....
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...