Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Saya minta jauhi Shandra!"
Abim tertawa sinis, sambil menggelengkan kepalanya. Abim sudah tahu yang sebenarnya soal pernikahan Shandra dan Atha. Abim juga tahu kalau Atha itu tidak cinta sama Shandra.
"Kalau aku gak mau gimana?" jawab Abim seraya memasukan satu tangannya ke saku celananya.
Mendengar hal itu, Atha semakin geram saja. Rahangnya mengeras seraya menatap tajam bola mata Abim.
"Aku tahu kalau kamu terpaksa kan nikahin Shandra demi ibu mu. Aku juga tahu kalau kamu itu sama sekali tidak cinta sama Shandra."
"Sok tahu kamu!" balas Atha yang semakin kesal saja mendengarnya.
Memangnya salah jika ia menikahi Shandra tanpa cinta? Tidak kan? Tapi bukan berarti ia membiarkan lelaki itu terus berhubungan dengan istrinya.
Atha penasaran, tahu dari mana Abim tahu soal ini? Apa mungkin di belakangnya Shandra masih berhubungan sama lelaki di hadapannya ini? Jika benar, ia sangatlah marah.
Semakin benci saja hati Atha jika benar kalau Shandra masih berhubungan dengan dia dan menceritakan semuanya ke Abim. Covernya aja bagus, tapi dalamnya tidak.
"Jika kamu tidak bisa memberinya bahagia, maka aku akan mengambilnya darimu. Aku tidak peduli di cap pebinor. Shandra berhak bahagia."
Setelah berbicara seperti itu, Abim pun meninggalkan Atha yang terlihat semakin kesal. Abim menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas.
Ucapan yang ia lontarkan kepada Atha sungguhan dan ia tidak segan-segan merebut Shandra dari suami yang tak pernah mencintai wanita yang ia cintai. Ia akan berusaha memperjuangkan kebahagiaan untuk wanita yang ia cintai.
"Aku gak akan biarkan itu terjadi," gumam Atha sambil menatap nyalang kepergian Abim.
***
Jam mengajar sudah selesai. Shandra membereskan buku-buku, lalu membawanya ke ruang guru. Ia melangkah keluar sambil menyapa beberapa muridnya yang tengah menunggu jemputan orang tuanya.
Saat hendak berbelok ke arah ruang guru, salah satu muridnya berlari dan memanggilnya.
"Ibu guru."
"Iya, Maira, kenapa sayang?"
"Ini." Maira menyodorkan seikat bunga kepadanya.
Shandra tersenyum, lalu menerima bunga pemberian dari muridnya itu. "Terima kasih, Maira." Seraya mengelus kepala muridnya itu.
Maira mengangguk seraya membalas senyuman, lalu Maira berlari meninggalkan Shandra.
"Dah, Bu guru," ujar Maira sambil terus berlari. Shandra membalas lambaian Maira dan berkata, "Hati-hati." Bola mata Shandra terus mengekori punggung Maira sampai hilang dari pandangannya.
"Anak itu selalu saja ngasih sesuatu untukku," gumam Shandra sambil menggeleng kecil kepalanya, kemudian Shandra melanjutkan langkahnya lagi ke ruang guru.
Shandra menyimpan buku-buku yang ia bawa di mejanya, lalu Shandra meraih tasnya dan bergegas pulang.
"Mana motor kamu?" tanya Nisa, ketika sudah di halaman sekolah.
"Di bengkel."
"Oh, terus kamu pulangnya naik apa?" tanya Nisa lagi.
"Ojek online lah, apalagi."
Nisa manggut-manggut. "Ya udah, aku pulang duluan ya. Bapakku udah jemput tuh, bye ..."
Shandra membalas lambaian Nisa, setelah itu Shandra memesan ojek online. Sambil menunggu ojek online datang, Shandra melihat-lihat sosial medianya, hingga tidak lama terdengar seseorang memanggilnya.
"Shandra."
Shandra menoleh dan terkejut melihat orang yang memanggilnya.
"Atha ...."
Ya ... orang itu adalah suaminya, Athaya. Atha sengaja datang menjemput Shandra, sebab Atha tidak mau Shandra pulang di antar oleh Abim. Ia tidak suka kalau Shandra terus di dekati lelaki lain. Selain itu, perkataan Abim tadi pagi terus mengusik hatinya dan membuat pikirannya kacau, makanya ia sengaja menjemput Shandra. Kebetulan juga ia ada kerjaan di luar kantor, sehingga ia bisa menjemput sang istri.
Atha bernapas lega, karena Abim tidak terlihat di sana. Padahal sejak tadi ia gelisah, takut lelaki itu sudah datang menjemput Shandra.
"Ayo pulang," ajak Atha sambil menarik tangan Shandra. Namun Shandra menahan tangannya dan hal itu membuat Atha menatapnya.
"Aku udah pesan ojek online," kata Shandra.
"Batalkan."
"Tapi ...."
Dan ojek online yang Shandra pesan udah sampai.
"Mba Shandra?" ucap bang ojeknya.
"Iya." Lalu Shandra kembali menatap Atha.
"Ojeknya udah terlanjur datang. Aku gak bisa batalin begitu saja," ucap Shandra. Ada rasa tak enak hati saat mengatakannya, lagian Atha tiba-tiba menjemputnya tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Atha membuang napas kasar, kemudian Atha mendekati bang ojeknya dan berbicara kalau Shandra tidak jadi pulang pakai ojek online dan Atha mengganti kerugiannya.
"Ayo pulang," ucap Atha.
Shandra mengangguk dan mengekori langkah Atha dari belakang.
Shandra duduk manis di mobil seraya memangku tas dan bunga. Alis Atha mengkerut saat melihat bunga yang di pegang Shandra. Seketika hatinya curiga. Air muka Atha seketika berubah merah menahan kesal.
"Sini bunganya," pinta Atha.
Tanpa curiga Shandra menyerahkan bunga tersebut ke Atha, kemudian Atha keluar dari mobil dan membuang bunganya ke tempat sampah.
Shandra terperangah melihat bunga pemberian dari muridnya di buang ke tempat sampah.
"Kenapa di buang?" ucap Shandra, saat Atha sudah kembali duduk di mobil. Ada rasa kesal saat bunga itu di buang begitu saja. Bagaimana kalau Maira melihat bunga pemberiannya di buang. Pasti hati kecilnya Maira sangat kecewa.
Atha tak menyahutinya, malah Atha menyalakan mesin mobilnya.
Shandra mulai geram, karena Atha mengabaikan omongannya. Shandra kemudian membuka pintu mobil dan berniat mengambil lagi bunga itu. Ia tidak ingin melihat wajah sedih muridnya, jika tahu bunganya di buang. Namun, saat akan turun, Atha mencekal tangan Shandra.
"Segitu pentingnya bunga itu buat kamu!" Marah Atha seraya menatap nyalang bola mata Shandra.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" jawab Shandra dengan nada suara yang tidak suka.
"Ck! Kamu pikir aku akan biarin kamu dekat sama dia."
Sontak saja kedua alis Shandra berkerut. "Maksud kamu?"
"Alah, jangan sok be go kamu. Aku tahu bunga itu dari dia kan." Atha menyugar rambutnya seraya membuang napas kasar. Rasa marahnya sudah tidak bisa lagi ia tahan.
"Dengar ya, aku gak akan biarin kamu terus dekat sama dia. Paham kamu!"
Alis Shandra semakin menyaut dan menatap heran suaminya itu.
"Bunga itu bukan dari Mas Abim, tapi dari muridku, namanya Maira."
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya