Silvia adalah seorang gadis baik hati dan polos yang masih duduk di bangku SMA. Gadis kurus dengan rambut panjang dan kulit putih itu tak jarang menjadi rebutan dikalangan pria disekolah nya dan itu membuatnya merasa percaya diri.
Namun semuanya sirna ketika mendengar bahwa dia akan di jodohkan dengan seorang CEO yang tidak dia cintai. Tidak percaya bahwa dizaman modern seperti ini masih ada yang namanya perjodohan. Namun semua itu mungkin terjadi melihat kondisi keluarga nya yang krisis keuangan.
Dia pun harus siap meninggalkan kekasih nya bahkan impiannya di masa depan demi keinginan orang tuanya. Diawal semua terlihat baik baik saja sampai ketika dia mengetahui sifat asli suaminya yang membuatnya tersiksa batin setiap harinya. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan hidup nya sendiri bahkan nekat untuk menikah lagi.
"Inilah kehidupan Silvia dengan kehidupan pernikahan yang tak dia harapkan"...
[Cerita ini telah berhenti, tidak disarankan membaca] -Author-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wira Noviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17. Orang Baru
Desi pun terus membantu Zaiden untuk dapat berdiri namun setelah berulang ulang kali mencoba dan terus terjatuh, hal itu membuat Zaiden putus asa dan berhenti untuk mencoba.
"Yuk coba lagi, jangan menyerah!" ucap Desi menyemangati Zaiden.
"Udah lah mah mau gimana lagi, mungkin belum waktunya" ucap Zaiden dengan kecewa.
"Jangan bilang kayak gitu nak" ucap Desi.
"Yaudah deh mah, Zaiden mau keluar aja, buat menenangkan diri" ucap Zaiden dengan ekspresi yang penuh kekecewaan tampah bahwa suasanya hatinya sedang dalam keadaan yang buruk.
"Emangnya enggak apa apa sendirian? Nggak bahaya?" tanya Desi sedikit mengkhawatirkan Zaiden.
"Aku bisa jaga diri kok mah" ucap Zaiden lalu pergi dengan kursi rodanya.
Zaiden pun duduk di taman dengan kursi roda nya sambil meminum kopi yang dibeli. Suasana sepi dan sunyi sangat cocok untuk kondisi hati nya saat ini, taman itu menggambarkan diri nya yang sedang hampa tanpa harapan. Setelah lama berada di sana Zaiden pun sedikit bergerak, dan tiba tiba ada seorang wanita yang berlari dan menabrak Zaiden hingga kopi yang Zaiden pegang terkena baju wanita itu. Hal itu pun membuat Zaiden merasa terganggu
"Auh.. Jadi kotor" ucap wanita itu dengan sangat kesal.
"Maaf, habis nya kamu ngapain lari lari" ucap Zaiden dengan ketus balik menyalahkan wanita yang tampak tidak sopan itu.
"Kamu yang salah dong! Kok nyalahin aku, lihat ini bajuku jadi kotor!" ucap wanita itu membentak dengan kasar seperti orang yang tidak memiliki sopan santun.
"Sudahlah, mari kita akhiri ini! Berapa harga baju mu itu biar kuganti" ucap Zaiden jengkel.
"Hei? Kau sultan? Kenapa kau berlagak seperti itu ha?" ucap wanita itu kesal dengan sikap Zaiden.
"Aku malas berdebat dengan wanita sepertimu, katakan saja berapa harga baju yang kau pakai itu" ucap Zaiden malas menatap wanita itu.
"Mudah sekali caramu berucap, kau tau baju ini sangat mahal!" sombong wanita itu.
"Katakan saja berapa" Zaiden mulai kesal.
"25 juta!" ucap wanita itu berbohong dengan sombong dan percaya diri.
"Huh, 25 juta untuk baju seperti ini apa kau pikir aku percaya!?" ucap Zaiden mulai tertawa melihat baju Laura yang terlihat seperti wanita yang biasa nya berkerja di tempat buruk seperti bar.
"Jangan tertawa!" ucap wanita itu yang mulai malu.
"Yasudah berikan saja nomor ponselmu, besok akan ku beri tahu kapan kita bertemu dan akan kuberi uangnya karena hari ini aku tidak membawa uang atau ATM" ucap Zaiden.
"Kau membodohiku?.. Bagaimana jika kau mengingkari nya?" tanya wanita itu.
"Berikan saja nomor ponsel mu!" ucap Zaiden dingin.
"Ini" wanita itu pun memberikan nomor ponsel nya.
"Namamu?" tanya Zaiden dingin.
"Laura" jawab wanita itu.
"Baiklah, tenang saja, aku akan membayar nya aku bukan orang yang suka mengingkari janji" ucap Zaiden.
"Emm kalau kau? namamu siapa?" tanya Laura.
"Zaiden" Jawab Zaiden.
"Astaga apa apaan? Aku ketemu cowok setampan dia, cool banget lagi, dan beruntung nya aku karena mendapat nomor ponsel nya" ucap Laura bersorak gembira didalam hati.
Zaiden pun lekas pergi ketempat lain untuk menenangkan diri yaitu ke cafe, ternyata sesampai nya dia di cafe dia malah bertemu dengan Aleena yakni kakak Silvia.
"Eh Zaiden!" ucap Aleena begitu senang bertemu dengan Zaiden.
"Ya" Jawab Zaiden singkat.
"Apa? Kau kenapa bisa seperti ini?" ucap Aleena melirik ke arah kaki dan tangan Zaiden yang terlihat tidak baik baik saja.
"Aku kecelakaan" jawab Zaiden.
"Astaga bagaimana bisa?" Aileen begitu khawatir dengan kondisi Zaiden.
". . ."
"Eum.. Sepertinya suasana hatimu sedang buruk.. Bisakah kita pergi ke tempat lain untuk membuat suasana hatimu membaik?" tanya Aleena begitu perhatian.
"Ya" jawab Zaiden hanya pasrah dengan semuanya.
Alhasil mereka pun pergi ke taman tempat Zaiden berada sebelumnya, dengan Aleena yang membantu Zaiden dengan mendorong kursi rodanya.
"Apa yang telah terjadi, kenapa kau terlihat sangat murung hari ini?" tanya Aleena lembut penuh perhatian dan kasih sayang sambil tangan nya yang dengan lancang mengusap kepala Zaiden.
"Aku akan cerita tapi.." perkataannya berhenti lalu menatap Aleena.
"Ada apa Zai?" tanya Aleena.
"Tolong jangan katakan apa yang aku akan ceritakan ini kepada siapapun" ucap Zaiden berharap Aleena merahasiakan nya.
"Tentu saja" ucap Aleena sangat yakin.
"Aku mencintai Silvia" ucapnya penuh keyakinan, pengakuan itu pun sontak membuat mata Aleena melotot terkejut mendengar sesuatu yang tidak ingin dia dengar itu.
"Aku melihat dia dulu adalah seorang gadis lugu dan polos, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai tertarik padanya bahkan aku kini merasa bahwa Silvia itu benar benar cantik dan baik hati. Segala sesuatu yang dia perbuat membuatku semakin jatuh hati padanya, tapi kenyataan pahit yang membuatku selalu tersentak kenyataan bahwa Silvia sudah menikah bahkan suaminya adalah kakakku sendiri, aku sempat berfikir untuk merebut Silvia dari kakak ku tapi aku takut semua orang akan membenciku, terkadang aku teringat bahwa Silvia sama sekali tidak mencintai Hevin bahkan dia sangat membenci kakakku, Silvia sendiri ingin bertunangan dengan Rey dan bodohnya lagi aku malah membantu acar pertunangan mereka" ucap Zaiden terlihat begitu kecewa.
"Apa!? Kau menyukai Silvia, d.. d.. dan Silvia akan bertunangan dengan bocah Rey itu!?" ucap Aleena terpukul oleh kenyataan.
"Ya" Jawab Zaiden.
Dibalik percakapan itu, ternyata Laura melihat mereka berdua duduk bersama, tiba tiba Laura merasakan cemburu untuk pertama kalinya.
Setelah lama mereka berbicara, Zaiden pun memutuskan untuk pulang dan menyisakan Aleena sendirian sedang melamunkan sesuatu, lalu Laura pun datang menghampiri Aleena.
"Kau! Kau siapanya Zaiden!" tanya Laura dengan lantang.
"Justru kau yang siapa, berani bertanya mengenai Zaiden" ucap Aileen kesal lalu berdiri dari duduknya.
"Oh kau tidak tau aku ini siapa!?" ucap Laura mulai memasang wajah sombong.
"Aku tak perlu tau, itu hanya akan membuang buang waktu ku saja" Balas Aleena dan memperhatikan baju Laura yang terlihat seperti seorang pel4cur.
"Sungguh? Kau tau, Aku adalah pacarnya Zaiden" ucap Laura dengan sombong dan percaya diri.
"Apa!? Kau bohong! Sejak kapan kau menjadi pacar nya Zaiden!" tanya Aleena menyangkal.
"Sudah lama, jadi jangan sekali kali kau berani dekat dekat dengan pacarku itu" ucap Laura dengan tegas.
"Hahaha kau ini sungguh wanita yang sangat lucu, tau apa kau tentang Zaiden!?" ucap Aleena meledek.
"Apa maksudmu ha? Jangan berlagak seolah kau tau semua tentang Zaiden!" ucap Laura dengan kesal.
"Hei! Zaiden itu sudah mencintai seorang wanita, dan sangat mustahil apa bila dia berpacaran dengamu" ucap Aleena dengan jengkel.
"Hmm? Siapa orang itu!" tanya Syifa dengan tatapan yang kesal.