NovelToon NovelToon
Cincin Pengkhianatan

Cincin Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Its Efa

Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.

Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...

“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

[ Di Balik Jeruji ]

Rumah yang beberapa jam lalu dipenuhi tawa kini berubah menjadi lautan keheningan. Kelopak-kelopak mawar putih berguguran di atas halaman, tertiup angin malam yang dingin. Kue pertunangan masih berdiri utuh di atas meja. Dua cangkir teh belum sempat disentuh. Seolah waktu berhenti tepat ketika suara sirene memecah kebahagiaan mereka.

Vincent digiring menuju mobil tahanan dengan kedua tangan terborgol. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya kosong. Ia tidak melawan. Tidak berteriak. Tidak mencoba melarikan diri. Tatapannya hanya sekali beralih ke arah Rhea yang masih berdiri di tempat semula, mengenakan gaun putih dan cincin yang baru beberapa menit lalu ia pasangkan sendiri.

Anak-anak panti menangis sambil mengejar mobil polisi.

"Om Vincent! Jangan pergi!"

"Om janji mau datang lagi!"

Seorang anak perempuan yang paling dekat dengan Vincent berusaha berlari lebih jauh, tetapi pengasuh panti segera memeluknya. Vincent hanya mampu menoleh melalui jendela mobil. Bibirnya tersenyum tipis, meski air mata telah memenuhi pelupuk matanya.

"Jadilah anak-anak yang baik..." bisiknya pelan sebelum pintu mobil tertutup.

Mobil itu perlahan meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan barunya.

Rhea masih tidak mampu bergerak. Komandan menghampirinya dan menepuk pelan bahunya.

"Kerja bagus, Letnan Zhava Vianzya."

Panggilan itu justru membuat napas Rhea terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia membenci identitas yang selama ini ia banggakan.

Tanpa menjawab, ia berjalan memasuki rumah. Langkahnya terhenti di ruang tamu. Kotak cincin masih terbuka di atas meja. Buket mawar putih yang tadi digenggam Vincent mulai kehilangan beberapa kelopaknya. Semua dekorasi yang disiapkan dengan penuh harapan kini berubah menjadi pengingat bahwa kebahagiaan mereka hanya bertahan beberapa menit.

Rhea terduduk di lantai. Tangannya gemetar ketika menyentuh kotak cincin itu.

"Maaf..." bisiknya lirih. "Maaf..."

Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah memenuhi ruangan yang sunyi.

Sementara itu, Vincent telah tiba di kantor kepolisian. Ia dibawa ke ruang pemeriksaan tanpa sedikit pun perlawanan. Seorang penyidik meletakkan beberapa berkas di atas meja, lalu duduk tepat di hadapannya.

"Nama lengkap."

"Vincent Lawson."

"Pemimpin organisasi Black Raven?"

"Iya."

"Apakah Anda mengakui seluruh tuduhan yang diajukan kepada Anda?"

Vincent menatap kosong ke arah meja sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Aku mengaku."

Penyidik saling berpandangan. Mereka sudah menyiapkan berbagai strategi menghadapi mafia paling dicari di negara itu. Namun pria di hadapan mereka justru menyerahkan semuanya tanpa perlawanan.

"Anda tidak ingin didampingi pengacara?"

"Tidak."

"Anda tidak ingin membela diri?"

Vincent tersenyum tipis. Senyum itu begitu lelah.

"Semua dosaku memang nyata. Aku tidak punya alasan untuk menyangkalnya."

Jawaban itu membuat ruang pemeriksaan mendadak sunyi.

Di lorong tahanan, Damian yang juga telah ditangkap sempat melihat Vincent melewati selnya.

"Bos..."

Vincent berhenti.

Damian menundukkan kepala dengan mata yang memerah.

"Maaf... aku gagal melindungi Bos."

Vincent menggeleng pelan.

"Bukan salahmu."

Damian mengepalkan kedua tangannya.

"Nona Rhea... apakah selama ini dia benar-benar..."

Vincent menatap lantai beberapa saat sebelum menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Namanya bukan Rhea."

Damian membeku.

"Tapi..." Vincent tersenyum pahit. "Apa pun namanya... aku tetap mencintainya."

Damian memejamkan mata. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu.

Malam semakin larut ketika Rhea akhirnya datang ke kantor kepolisian. Ia masih mengenakan gaun putih yang sama. Rambutnya mulai berantakan, sementara matanya membengkak karena terlalu banyak menangis.

Langkahnya terhenti di depan sebuah sel.

Vincent duduk bersandar di dinding dengan kedua tangan masih terborgol. Jas hitamnya kusut, tetapi ia masih terlihat seperti pria yang beberapa jam lalu berlutut sambil membawa sebuah cincin.

Perlahan Vincent mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kebencian.

Hanya ada luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata.

"Vincent..." suara Rhea bergetar.

Vincent bangkit lalu berjalan mendekati jeruji besi hingga hanya beberapa langkah memisahkan mereka. Keheningan menyelimuti keduanya. Tak satu pun berani memulai, karena mereka tahu tidak ada kalimat yang mampu memperbaiki apa yang telah hancur.

"Aku tidak marah karena kau menangkapku," ucap Vincent pelan.

Air mata Rhea kembali jatuh.

"Aku hanya sedih."

Tatapan Vincent turun ke tangan kanan Rhea. Cincin pertunangan itu masih melingkar di jari manisnya.

Senyum tipis terukir di wajahnya, tetapi senyum itu lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Karena setelah semuanya berakhir..." suaranya mulai serak. "Kau masih memakai cincin yang kuberikan."

Rhea spontan menggenggam cincin itu. Sejak tadi ia berkali-kali ingin melepaskannya, tetapi setiap kali mencoba, jemarinya selalu gemetar.

"Maaf..." isaknya.

"Itu tidak cukup untuk mengembalikan semua yang telah kau hancurkan."

Kalimat itu membuat Rhea semakin menangis. Namun Vincent tidak mengatakannya dengan penuh kebencian. Justru suaranya terdengar begitu lelah.

Ia memejamkan mata sejenak, lalu berbisik pelan,

"Kalau aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu... aku tetap akan memilih bertemu denganmu."

Rhea menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar. Dadanya terasa seperti diremas hingga sulit bernapas.

Di balik jeruji besi itu, Vincent akhirnya menyadari satu hal.

Peluru memang bisa meninggalkan luka di tubuh.

Tetapi pengkhianatan dari orang yang dicintai...

akan meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh seumur hidup. 💔

1
Anne Soraya
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!