Merelakan orang yang kita cintai demi kebahagiaannya adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan untuk sebagian orang. Namun, tidak bagi laki-laki bernama Lucky Pratama. Dia rela melepaskan wanita yang dia cintai menikah dengan laki-laki lain dan berharap bahwa wanita itu akan hidup bahagia.
10 tahun berlalu, Lucky kembali bertemu dengan mantan kekasihnya. Keadaan gadis itu jauh dari kata bahagia seperti apa yang dia harapkan ketika Lucky melepasnya kala itu.
Apakah Lucky Pratama akan kembali mengejar cintanya yang telah kandas? Atau, dia akan menatap lurus ke depan dan melupakan cintanya seperti yang sudah dia lakukan selama ini?
"Hi, Mantan. Apa Kabar?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HMAK Bab 17
'Ayah?' batin Lucky seketika merasa heran. Kenapa Rani tiba-tiba saja memanggil dirinya dengan sebutan Ayah? Apa mungkin gadis kecil itu baru saja memimpikan Akbar dan mengira dirinya adalah dia? Meskipun hatinya diliputi berbagai tanda tanya, Lucky Pratama segera meraih tubuh mungil Rani dari gendongan Starla. Laki-laki itu pun menimang Rani layaknya sedang menimang bayi. Ke dua mata Rani pun kembali terpejam sempurna di dalam gendongan Lucky. Starla yang menyaksikan hal itu hanya diam seraya menatap wajah putrinya dengan tatapan mata sayu.
"Tidurkan Rani di kasur, Luck. Kasihan kamu-nya kalau dia di gendong terus," pinta Starla.
"Gak mau, aku maunya tidur sama Ayah," rengek Rani yang tiba-tiba saja membuka ke dua matanya kembali.
"Iya, sayang. Iya, kamu tidur lagi ya," imbuh Lucky seraya menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Starla hanya bisa menghela napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun memberikan isyarat agar Lucky duduk di kursi seraya memangku Rani. Lucky pun mengikuti apa yang diperintahkan olehnya, dia berjalan ke arah kursi lalu duduk, sementara Rani memeluk tubuh kekar Lucky yang dia kira adalah ayahnya sendiri. Laki-laki itu tertidur di atas kursi dalam posisi duduk bersama Rani di atas pangkuannya.
.
Keesokan harinya, Rani merentangkan ke dua tangannya. Dia pun mengedipkan pelupuk matanya pelan saat hangatnya sinar matahari menyentuh permukaan wajahnya. Sampai akhirnya, gadis kecil itu pun membuka ke dua matanya secara sempurna. Rani mengerutkan kening tatkala dia menyadari bahwa dirinya bangun di atas pangkuan Lucky bukan ayahnya.
"Om Lucky?" sapa Rani mencoba untuk bangkit.
"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Lucky mengangkat kepala seraya duduk tegak.
"Kenapa aku bisa tidur di sini?" tanya Rani seraya turun dari atas pangkuan Lucky lalu duduk di kursi.
"Apa kamu lupa, semalam Om gendong kamu sampai kamu tidur lho," jawab Lucky.
"O ya?" Rani seketika mengerutkan kening.
Dia mencoba untuk mengingat apa yang baru saja diucapkan oleh Lucky. Semalam dirinya memimpikan Akbar sang ayah, dan seingatnya Akbar'lah yang menggendong dan menimang dirinya.
"Apa kamu lupa?" tanya Lucky seraya tersenyum cengengesan.
Rani diam membisu. Dia merentangkan ke dua tangannya seraya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kamu sudah bangun, Nak. Kita siap-siap ya, hari ini kita akan pulang ke rumah," tanya Starla yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Yeeeey! Kita pulang!" sorak Rani terlihat begitu senang.
.
Stelah menyelesaikan administrasi di Rumah Sakit, Lucky mengantarkan Starla dan ke dua putra-putrinya pulang. Rani terlihat begitu senang, sedangkan Lucky kecil tidak berhenti tersenyum seraya menatap setiap jengkal ruangan di dalam mobil yang dia tumpangi. Ini adalah pertama kalinya anak berusia 8 tahun itu menaiki mobil mewah seperti ini.
"Mobil Om Lucky bagus sekali," ujar Lucky kecil seraya tersenyum lebar.
"O ya? Hahahaha! Memangnya kamu baru pertama kali naik mobil seperti ini?" tanya Lucky tanpa menoleh, tatapan matanya menatap lurus ke depan di mana jalanan raya membentang di hadapannya.
"Iya, Om. Aku baru pertama kali naik mobil sebagus ini," jawab Lucky kecil dengan begitu polosnya.
Sedangkan Starla yang duduk di kursi depan seketika menoleh dan menatap wajah ke dua buah hatinya secara bergantian. Wajah mereka berdua terlihat begitu senang bahkan tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Dia berharap bahwa dirinya akan selalu melihat senyuman mereka berdua kedepannya.
"Apa kalian senang?" tanya Starla kemudian.
"Senang banget, Bu," jawab Lucky kecil dan juga Rani secara bersamaan.
"Syukurlah kalau begitu," jawab Starla seraya mengusap kepala putra putrinya secara bergantian.
Sampai akhirnya, mobil yang mereka tumpangi pun tiba di tempat tujuan. Kediaman Starla yang merupakan rumah warisan dari ke dua orang tuanya. Mobil pun mulai melipir dan berhenti tepat di depan pagar. Mereka berempat keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
Starla berjalan memasuki halaman seraya menggendong Rani, sedangkan Lucky Pratama menggandeng pergelangan tangan Lucky kecil yang baru saja pulih usai mendapatkan perawatan selama beberapa hari di Rumah Sakit. Baik Starla maupun Lucky seketika mengerutkan kening, tatkala melihat kertas dengan tulisan berukuran besar yang di tempel di depan pintu utama.
"Apa ini?" tanya Starla membaca tulisan itu dengan seksama.
'RUMAH INI DI SITA OLEH BANK.'
Seperti itulah isi dari tulisan tersebut. Starla merasa bingung. Kenapa rumahnya bisa di sita oleh Bank?
"Kamu punya utang ke Bank?" tanya Lucky mengerutkan kening.
"Tidak, aku gak pernah meminjam uang ke Bank," jawab Starla. Pikirannya mendadak kosong. Tubuhnya benar-benar terasa lemas, dia menurunkan tubuh Rani dari gendongannya lalu duduk di kursi yang berada di teras rumah.
"Kalau kamu tidak punya utang ke Bank, mana mungkin rumah kamu di sita oleh pihak Bank? Jangan-jangan--" Lucky menahan ucapannya mencoba untuk berpikir keras. Sedangkan Rani dan Lucky kecil hanya diam menyimak pembicaraan mereka tanpa mengerti apapun.
"Sepertinya ini ulah Mas Akbar. Diam-diam dia menggadaikan sertifikat rumah ini," lirih Starla seraya mengusap wajahnya kasar.
"Apa? Benar dugaan saya," decak Lucky merasa tidak habis pikir.
"Ibu, kenapa kita diam di sini? Kenapa kita tidak masuk? Aku lelah, Bu," rengek Rani.
"Sini, sayang. Duduk di pangkuan Ibu. Kita tunggu sebentar di sini ya," jawab Starla, memangku tubuh Rani dan mendudukkan di atas pangkuannya. Sedangkan Lucky kecil duduk di kursi lain.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Rumah ini sudah di sita, kuncinya juga di bawa oleh pihak Bank pasti. Kasihan anak-anak," tanya Lucky Pratama, ke dua matanya menatap sayu wajah Starla dan ke dua anaknya. Kenapa nasib mereka bisa mengenaskan seperti ini?
"Entahlah, aku juga bingung," jawab Starla, otaknya benar-benar tidak dapat berpikir dengan benar.
"Gimana kalau kamu tinggal di rumah saya untuk sementara, kebetulan saya baru saja membeli rumah di Jakarta, tapi belum saya tempati, saya masih tinggal sama Ayah dan Ibu," ajak Lucky tidak ada pilihan lain.
"Gak usah, Luck. Aku bisa cari kontrakan di daerah sini. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja. Kamu tahu sendiri, rumah ini adalah rumah peninggalan ke dua orang tuaku. Astaga! Kenapa Mas Akbar tega sekali berbuat seperti ini kepadaku?" decak Starla merasa tidak habis pikir. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Akbar mantan suaminya akan mengadaikan sertifikat rumah itu kepada pihak Bank.
"Apa kamu punya uang untuk menyewa rumah kontrakan? Lagipula, butuh waktu untuk mencari kontrakan yang cocok untuk kalian tinggali. Kasihan Lucky dan Rani, mereka begitu kelelahan. Begini saja, kamu tinggal di rumah saya hanya untuk sementara sampai kamu mendapatkan kontrakan yang cocok untuk kalian tinggali, gimana?"
BERSAMBUNG
tp very good kak . swemangatt 👌