Menceritakan seorang laki-laki berusia 29 tahun namun belum kunjung menikah, namun penasaran dan jatuh cinta dengan pesona tetangganya yang begitu menggoda namun tetangganya telah bersuami. Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bel Bel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Tibalah saatnya, keluarga Raka pun berangkat ke rumah orang tua Dina untuk melamar Dina. Raka tentu saja tidak setuju bahkan sangat kecewa, namun dia tidak bisa menolak sehingga dia hanya bisa duduk diam dan mengikuti semua prosesnya. Ponsel Raka terus berdering, Nadia menelfon berkali-kali namun Raka tidak bisa menerima panggilan dari Nadia.
“Itu ponsel mas Raka yang bergetar ya?” Tanya Rani karena dia duduk di sebelah Raka, namun Raka tidak menjawab pertanyaan adiknya.
“Kalau memang penting, terima saja mas.” Kata Rani.
“Lebih baik kamu diam.” Kata Raka.
Tak lama kemudian, rombongan keluarga Raka tiba dirumah orang tua Dina. Keluarga besar Dina menyambut keluarga Raka dengan baik. Mereka mempersilahkan keluarga Raka untuk segera masuk kedalam.
Tak lama kemudian tibalah acara inti yaitu tukar cincin. Ekspresi Raka sangat datar sedangkan Dina merasa bahagia terlihat dari senyumannya.
“Senyum dong nak, jangan bikin malu ayah dan ibuk.” Bisik Ajeng.
“Aku sudah menuruti semua keinginan ayah dan ibuk hari ini.” Bisik Raka.
Setelah selesai tukar cincin dilanjutkan dengan sesi foto, selama sesi foto ekspresi Raka sangat datar bahkan untuk senyum saja rasanya berat dan tidak Ikhlas.
“Terima kasih banyak mas Raka.” Kata Dina.
“Sama-sama.” Jawab Raka.
“Serasi banget kalian.” Kata Rani.
“Terima kasih Rani.” Kata Dina.
“Mbak Dina katanya mau kerja di kota seperti mas Raka ya?” Tanya Rani.
“Iya Rani, mulai senin besok, lokasinya dekat kantor mas Raka katanya.” Kata Dina.
“Loh berarti pas banget nanti kalau setelah nikah, Raka juga sudah ada tempat tinggal disana.” Kata Ajeng.
“Ibuk sudah dong.” Kata Raka.
“Nanti carikan kos buat Dina ya nak, dia senin besok mulai kerja, sekalian bantu Dina buat pindahan.” Kata Hadi.
“Makasih ya mas Raka, maaf jadi merepotkan mas Raka.” Kata Dina.
“Mas Raka beruntung bisa mendapatkan mbak Dina, sudah cantik, baik, sholihah lagi.” Kata Rani.
“Kamu bisa saja Rani, aku juga masih belajar kok, aku juga belum lama memakai hijab jadi masih harus banyak belajar.” Kata Dina.
“Kamu kerja di kantor apa memangnya?” Tanya Raka,
“Di kantor PT Mandiri Sekali mas.” Jawab Dina.
“Oh PT MS, dekat dengan kantorku memang.” Kata Raka.
“Wah bisa berangkat sama pulang bareng dong asyik.” Kata Rani.
“Aku nanti bawa motor saja biar tidak merepotkan orang lain.” Jawab Dina.
“Sesekali boleh kok berangkat sama pulang bareng mas Raka.” Goda Rani.
“Kita pulang jam berapa buk?” Tanya Raka kepada Ajeng.
“Setelah ini nak.” Jawab Ajeng.
**
Hari senin pagi.
Raka mendapat telfon dari ibunya.
“Assalamualaikum buk, ada apa telfon pagi-pagi buk?” Tanya Raka.
“Tolong jemput Dina di kos lalu antarkan ke tempat kerja ya nak.” Kata Ajeng.
“Dia kan bawa motor sendiri buk.” Kata Raka.
“Dia kan calon istrimu nak, sesekali bantu dia nggak apa-apa kan.” Kata Ajeng.
“Nanti kalau keterusan antar jemput bagaimana?” Kata Raka.
“Loh malah lebih bagus itu nak.” Kata Ajeng.
“Iya hari ini aku antar dia.” Kata Raka.
“Makasih banyak ya nak.” Kata Ajeng.
Raka segera mandi dan siap-siap berangkat kerja. Saat dia mengecek notifikasi pesan ternyata dia mendapat pesan dari Dina.
“Mas terima kasih ya sudah mau mengantarku kerja hari ini, kebetulan hari iniadalah hari pertamaku kerja. Aku tunggu di depan kos ya mas Raka, terima kasih.”