Semua orang pasti memiliki Cinta Pertama..
Kapan waktunya kita tak dapat menentukannya..
Seperti yang dialami Intan , gadis remaja yang kini baru merasakan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama..
Bagas kakak kelas Intan, sosok yang selalu membuat jantung Intan berdebar lebih cepat dari biasanya..
Dari sinilah perjalanan cinta Intan di mulai..
Bagaimana kah, kelanjutan kisah cinta pertamanya? akan kah terbalas? ataukah sebaliknya??..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir ulangan setelah 2 minggu para murid berjuang mengerahkan kemampuan mereka.
Intan, sempat merasa sedih karna ini artinya hari terakhir ia dapat duduk bersama Bagas dan ia harus menanti waktu 3 bulan lagi untuk bisa kembali duduk bersama Bagas.
Ia sama sekali tak menyia-nyiakan waktu yang tersisa kala itu.
Ia sudah bertekad bahwa hari ini ia harus memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel Bagas, sehingga mereka masih bisa saling terhubung walaupun tidak duduk bersama lagi.
"Bagas, senyum-senyum terus duduk sama gadis cantik" ucap guru penjaga yang tengah keliling untuk membagikan soal ulangan kala itu.
Mendengar ucapan guru itu, seketika wajah Intan seakan memanas. Ia melirik Bagas, ia tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bapak bisa aja" ucap Bagas canggung.
"Konsentrasi dulu waktu ngerjakan ulangannya, jangan gangguin dia dan teman-teman yang lain" ucap guru itu lagi dengam nada memperingatkan. Sepertinya kasus Intan dan Bagas sudah menjadi topik hangat dikalangan guru. Ini bukan kali pertama Intan dan Bagas disindir untuk konsentrasi, hanya saja caranya gak seunik guru pendamping kali ini.
"Gak usah dipikirin, Pak Anton memang begitu orangnya" ucap Bagas setengah berbisik setelah guru pendamping itu menjauh. Bagas dapat melihat bahwa Intan terlihat canggung.
Mendengar penjelasan Bagas, Intan pun mengangguk
dan tersenyum pada Bagas. Kemudian, mereka fokus untuk mengerjakan ulangan.
1,30 menit kemudian.
Intan sudah mengecek jawabannya dua kali dan ia sudah yakin dengan jawabannya. Sedangkan waktu masih kurang 30 menit lagi.
Ia bingung sekarang harus apa, ia kembali dilanda kebosanan seperti hari itu. Iapun tersenyum geli saat mengingat momen itu.
Ia juga mengingat kekonyolannya sepanjang hari ketika di rumah, karna kejadian itu terus terbayang yang membuat ia kembali tertawa. Sampai-sampai ia harus kembali berbohong ketika ditanya orang tuanya.
"Hahaha, ada temen aku yang ketahuan nyontek, dihukum nyanyi sambil goyang-goyang didepan kelas," bohong Intan waktu itu, Intan kembali tersenyum geli mengingat kejadian konyol itu.
Iapun semakin yakin dengan perasaanya sekarang, bahwa ia memang sudah jatuh cinta, terlihat bahwa ia terus terbayang dengan wajah Bagas dimanapun itu.
Karna, kebosanannya sudah memuncak dan Bagas juga masih sibuk mengerjakan ulangannya dan walaupun seumpama Bagas sudah selesai tak mungkin mereka mengulang kejadian hari itu, karna tadi saja mereka sudah dapat peringatan.
Akhirnya, Intan mengeluarkan ponselnya. Sebelum itu ia memastikan bahwa benda itu dalam mode diam.
Setelah ia yakin, kemudian ia membuka salah satu permainan di ponselnya.
Ya, Intan memilih bermain game untuk menghilangkan kebosanan itu yang ia yakini tak akan mengganggu yang lainnya. Intan begitu asyik bermain, sampai ia dikejutkan oleh Bagas.
"Ya ampun, kamu ini malah main tembak-tembakan. uda selesai?" tanya Bagas heran sambil mendekatkan wajahnya ke arah Intan.
Intan yang terkejutpun reflek menoleh dan
Dukk ...
Disusul dengan pekikan Intan 'Aww!!'
Karena, gerakan terkejut Intan itu membuat dahi mereka berdua saling terbentur dan Intan merasakan sakit didahinya. Ia memegang dahinya yang berkedut begitu juga dengan Bagas.
Ternyata suara Intan cukup keras, hingga membuat penghuni kelas itu kembali menoleh ke arah Intan dan Bagas, termasuk Ifa yang sudah cekikikan melihat tingkah konyol temannya itu.
sedangkan Pak Anton sudah melirik tajam pada mereka. Intan dan Bagas pun hanya bisa menunduk.
"Kamu gak papa?" tanya Bagas setengah berbisik setelah suasana kelas sudah kembali seperti semula.
"Iya gak apa-apa. Kakak gimana? maaf yaa" jawab Intan merasa bersalah.
"Aku gak apa-apa. Kamu gak salah, gak usah minta maaf" ucap Bagas lembut, kemudian mereka saling tersenyum geli.
"Kamu suka main game itu? Asyik gak?" tanya Bagas yang penasaran.
"Gak suka-suka amat sih. Ya lumayan lah buat ngehilangin bosan" jawab Intan.
"Oh, cara kamu ngehilangin bosan dengan main game. Kalau aku sih baca novel biasanya" kata Bagas memberitahukan.
"Wah, kakak juga suka baca novel?" tanya Intan antusias dengan menatap Bagas penuh minat.
"Iya, aku punya beberapa novel tuh di rumah" jawab Bagas.
"Aku juga suka banget kak baca novel. Kalau ditanya suka baca novel ato nge game, ya aku milih baca novel. Tadi aku nge game karna lagi gak bawa novel" ucap Intan antusias menjelaskan ke Bagas.
"Biasanya kamu baca genre apa?" tanya Bagas.
"Petualangan, fantasi, komedi, kekeluargaan, persahabatan dan sekarang uda mau nyoba yang agak romance" jawab Intan agak malu-malu saat dia mengatakan genre romance.
"Punya banyak novel juga dong?" tanya Bagas yang terlihat antusias.
"Iya lumayan lah, hehe. Kalau kakak suka genre apa?" tanya Intan yang juga penasaran.
"Sama kayak kamu, kecuali romance dan aku juga suka horor" jawab Bagas ia tersenyum melihat Intan yang terlihat malu.
"Gak usah malu gitu, semua orang berhak punya kesukaannya masing-masing" sambung Bagas.
Intan hanya tersenyum canggung. Dilain sisi, kini Intan sedang berperang dalam dirinya, meyakinkan dirinya bahwa ini kesempatan yang tepat untuk meminta nomor ponsel Bagas. Ia melirik Bagas yang masih tersenyum ke arahnya. Ia menghembuskan nafas berat sebelum memulai obrolannya. Ia merasa gugup sekarang, tangannya saja juga sudah berkeringat deras.
"Hmm ... Anuu ... Kak, kapan-kapan aku boleh pinjam novel kakak?" ucap Intan pelan.
"Tentu saja, dengan senang hati ... Aku juga boleh pinjam punya kamu kan?" tanya Bagas dengan senyum yang mengembang lebar.
"Tentu saja, kalau gitu ... Kak ... Hmm, aku boleh gak minta nomor ponsel kakak, biar nanti gampang komunikasinya" tanya Intan ragu. Jantungnya sudah mau lepas rasanya.
"Boleh, mana ponselmu aku masukkan saja langsung disana" ucap Bagas santai sambil tersenyum ramah.
Intan, cukup terkejut dengan jawaban Bagas. Ia memandang Bagas tak percaya, tetapi ia merasa bahagia, ia merasakan pipinya memanas.
Dengan perlahan, ia memberikan ponselnya pada Bagas. Ia menatap Bagas mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Intan.
"Nih" ucap Bagas memberikan ponsel ke Intan, setelsah selesai mengetikkan nomor ponselnya.
Intan, menerima ponselnya dengan senyum merekah. Kemudian ia menamai nomor Bagas 'Kak Bagas'.
(Gak aku kasih tau ya kak nomor Bagas, cuman Intan aja yang boleh tau😄)
"Coba telpon aku" ucap Bagas yang juga sudah mengeluarkan ponselnya. Sebelumnya Bagas sudah memastikan juga bahwa ponselnya berada dalam mode diam.
Intan mengangguk dan mulai menelfon nomor Bagas. Beberapa saat kemudian, ponsel Bagas bergetar dan dapat ia lihat nomornya muncul dilayar ponsel Bagas.
"Sudah masuk. Aku save ya" ucap Bagas sambil mengetikkan nama Intan disertai dengan emoji '🥺'
Intan menatap bingung Bagas dengan lambang emoji itu. Bagas mengerti arti tatapan Intan, ia pun menjelaskan.
"Di mata aku, ekspresimu selalu menggemaskan seperti ini" ucap Bagas sambil tersenyum ke arah Intan.
Deg ... Deg ... Deg
Senyum kak Bagas gak baik deh buat jantung. Bisa-bisa aku masuk rumah sakit beneran kalau gini terus.
.
.
.
Bersambung..
harusnya tokohnya sudah SMA minimal kelas 9 lah
sukaaa ceritanyaaa thorrr 😍
tinggalin jejak juga yaaa di novelku ASIYAH AKHIR ZAMAN 😊
mari qt slg dukung. like balik novel q
the thunder's love
mari saling mendukung terimakasih
Kutunggu kedatangan kalian.
Terima kasih.