Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 17 Diusir
Balqis Untuk Baim (17)
"Cie,, istri."
"Aku serius."
"Haha jangan marah."
Seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri Baim.
"Bang!."
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Seperti janji Baim, malam hari ia menemani Balqis membawa pakaiannya ke kontrakan Balqis.
"Kamu yakin mau pergi ke kontrakan?," tanya Baim yang entah kenapa merasa khawatir.
Bu Nurmala sudah menceritakan kejadian tadi siang yang membuat Baim menjadi khawatir. Orang-orang akan berpikiran negatif kepada Balqis. Atau mereka akan bersikap tidak baik pada Balqis.
"Abang tenang saja. Aku gak apa-apa." jawab Balqis tersenyum.
Baim mengangguk. Kini mereka sedang dalam perjalanan ke kontrakan Balqis.
Ceklek
Balqis masuk diikuti Baim.
"Abang duduk saja dulu. Aku mau membereskan pakaianku," ucap Balqis.
Baim pun duduk di atas tikar. Ia mengamati kontrakan Balqis. Ini pertama kalinya ia masuk karena dua kali datang kesini, ia hanya sampai pintu depan saja.
Tok..Tok...Tok...
Baim menoleh ke arah pintu. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu.
Ceklek
Terlihat seorang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu.
Perempuan itu sedikit terkejut melihat ada laki-laki di kontrakan Balqis. Namun, tiba-tiba ia teringat gosip yang beredar bahwa Balqis sudah menikah karena di gerebek warga di kampung sebelah.
"Balqis ya ada?," tanya perempuan itu bersikap tenang.
"Siapa, Bang?," tanya Balqis sambil membawa tas berisi pakaiannya.
Baim yang tidak tahu siapa yang sedang mencari Balqis pun hanya menggeleng.
"Oh, Bu Ambar. Silahkan masuk." Balqis mengenali perempuan yang mengetuk pintu. Dialah pemilik kontrakan yang Balqis tempati.
Perempuan tersebut duduk. Ia diam sejenak bingung harus mengatakan apa.
"Ada apa, Bu? Saya merasa sudah membayar uang kontrakan bulan ini." Ucap Balqis heran. Karena Bu Ambar biasanya hanya datang untuk menagih uang kontrakan.
"Soal itu, sebenarnya saya ingin mengembalikan uangmu, Balqis. Tapi, tolong kamu segera keluar dari kontrakan ini." pinta Bu Ambar merasa tak enak hati.
"Tapi, kenapa, Bu?," Balqis terkejut. Begitu pula Baim.
"Berita kamu kemarin di kampung sebelah sudah di ketahui semua penghuni kontrakan. Mereka mendatangi ibu dan mengancam akan keluar dari kontrakan kalau kamu tidak angkat kaki. Mereka tidak mau kamu ada disini. Maafkan ibu, Qis."
"Tapi, Bu. Anda seharusnya tahu Balqis seperti apa. Dia dibesarkan disini. Dan Anda percaya begitu saja pada berita itu?," Baim geram. Ternyata ini terjadi juga.
Sementara Balqis hanya diam. Ia merasa terkejut beritanya sudah tersebar. Orang-orang pasti berpikiran buruk tentangnya. Mereka tidak akan percaya karena baik Balqis maupun Baim tidak bisa membuktikan keduanya tidak bersalah.
"Saya melakukan ini bukan karena percaya berita yang beredar. Saya yakin Balqis tidak seperti itu. Tapi, saya juga tidak bisa kalau harus membiarkan penghuni kontrakan lainnya pergi. Kontrakan ini satu-satunya sumber penghasilan saya." Bu Ambar berkaca-kaca.
Para penghuni kontrakan terhasut berita buruk itu. Apalagi kebanyakan mereka adalah orang baru yang memang tidak terlalu mengenal Balqis.
Balqis diam. Ia tahu Bu Ambar tidak akan sejahat itu mengusirnya kalau bukan karena adanya tekanan dari luar. Ia juga tahu, Bu Ambar hanya mengandalkan uang dari kontrakan peninggalan suaminya untuk menghidupi ia dan anak-anaknya yang masih sekolah.
"Maafkan ibu, Balqis. Ibu bukannya tidak tega. Tapi, ibu tidak punya pilihan."Jelasnya sambil menyerahkan kembali uang kontrakan Balqis yang sudah ia terima.
"Pakailah ini untuk membayar kontrakan baru." tambahnya.
Balqis hanya bisa pasrah. "Iya, Bu. saya paham. Tapi, berikan saya waktu tiga hari untuk pindah dan mencari kontrakan baru." pinta Balqis.
Bu Ambar mengangguk.
"Untuk uang ini, ibu ambil saja. Sudah hak ibu."
"Tapi, "
"Ambil saja , Bu." pinta Baim.
Sepeninggal Bu Ambar, keduanya terdiam. Balqis bingung mau pindah kemana. Sementara Baim juga tidak tahu harus kemana.
"Kita pikirkan nanti saja. Sekarang, kita pulang dulu ke rumah Om Heri. Kita bisa meminta pendapatnya." jelas Baim yang di setujui Balqis.
Keduanya pun segera pergi dari sana saat urusannya sudah selesai.
"Balqis, apa kamu tidak apa-apa?," Baim khawatir karena sejak bertemu Bu Ambar, Balqis hanya diam.
"Hanya masih terkejut saja, Bang. Ternyata cepat sekali beritanya tersebar." Balqis jujur.
"Mau mampir dulu ke taman?,"
"Malam-malam begini mau apa ke taman, Bang?," Balqis menggelengkan kepalanya.
"Siapa tahu ingin menenangkan diri dulu sebelum bertemu Keluarga Arumi." jelas Balqis.
...******...
Keesokan harinya Baim dan Balqis meminta izin untuk berbicara kepada Arumi dan keluarganya. Mereka pun akan berbicara setelah selesai sarapan nanti.
"Semalam pulang jam berapa, Qis? Aku nunggu kamu sampai jam sepuluh malam tapi,kamu belum pulang juga." Arumi penasaran.
"Kami mampir ke taman dulu." Jawab Balqis tersenyum.
"Hayo, ngapain malam-malam ke taman?."
"Ada deh." jawaban Balqis malah membuat Arumi kesal.
"Pasti pacaran iya kan?" tebak Arumi.
Balqis hanya mengangkat kedua bahunya.
" Ish, kamu ini." kesal Arumi.
Balqis hanya tertawa saat berhasil membuat Arumi kesal. Namun, tiba-tiba tawanya terhenti saat ia ingat topik pembicaraan mereka nanti.
" Kamu kenapa sih ,Qis? Kok aneh. Tadi tertawa terus sekarang kelihatan sedih."
Ditanya begitu, air mata Balqis tiba-tiba menetes. Namun, Balqis buru-buru menyekanya.
"Hei, kenapa menangis? Aku salah bicara?."
Arumi mendekati Balqis dan duduk di sampingnya.
"Kamu tidak salah. Aku hanya sedih aja."
"Sedih kenapa?."
"Itu.."
"Loh, kamu kenapa, Qis?," Baim yang baru keluar dari kamar segera menghampiri Balqis dan Arumi.
Arumi bergeser tempat duduk, memberi Baim ruang agar bisa mendekati Balqis.
Balqis diam dan hanya berusaha menghapus air matanya.
"Soal yang akan kita bicarakan sekarang?,"
Balqis mengangguk.
"Kalau kamu berubah pikiran, tidak apa-apa. Aku tahu ini berat." Ucap Baim lembut sambil mengusap punggung Balqis.
Setelah kejadian kemarin, Baim jadi lebih berani untuk melakukan kontak fisik.
"Aku tidak berubah pikiran, Bang. Hanya terbawa perasaan saja."
"Kalian bicara apa sih?," Arumi bingung.
"Tunggu Om dan Tante dulu. Biar sekalian bicaranya." jelas Baim.
Arumi semakin penasaran. Namun, ia terpaksa bersabar.
Tidak lama kemudian, orang-orang yang di tunggu pun datang.
"Ada apa sebenarnya ini, Baim?" Tanya Bu Nurmala sesaat setelah ia duduk.
"Begini, Tan. Kemarin, saat kami mengambil pakaian ke kontrakan Balqis, pemilik kontrakan datang menemui kami. Ia meminta Balqis pindah karena penghuni kontrakan yang lain mengancam akan keluar dari kontrakan jika Balqis masih ada disana?"
Semua yang ada disana terkejut.
"Tali, kamu tidak apa-apa kan, Qis?"
Balqis tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Karena itu, kami memutuskan untuk pindah."
"Bagus. Memang baiknya seperti itu. Nanti biar Tante bantu Carikan ya."
"Soal itu, Tante tidak perlu repot-repot. Karena kamu akan pindah ke luar kota."
"APA???"
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰...