Natasya Effendi,,, Gadis pintar yang selalu menjadi juara di sekolahnya. Bahkan Tasya begitu biasa dia di panggil, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dengan nilai terbaik. Bahkan Tasya bisa lolos masuk kerja di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik dengan pendidikan dan karirnya kisah cintanya harus berakhir dengan penuh luka.
Mau tau kisah lanjutnya? Yuk... ikutin ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Undangan pernikahan Raya dan Galih telah di sebar pernikahan mereka pun semakin dekat. Besok sore akan di adakan siraman sedang Tasya masih harus bekerja Karena hanya mendapatkan ijin satu hari di hari jum'at. Karena hari jum'at akan di adakan upacara pelangkah untuk Tasya.
Keluarga Marchel masih berada di kota C karena tugas Dokter Arnot masih 2 bulan ke depan. Ayah Effendi senang karena dirinya bisa memiliki teman dengan adanya Dokter Effendi. Bahkan Dokter Arnot tak sungkan membantu apapun yang di kerjakan Ayah Effendi.
Walau mereka berasal dari keluarga mampu mereka tak pernah memilah hal apapun. Mami Marchel pun selalu ikut turun ke dapur bersama Ibu Lidia. Ibu Lidia dengan senang hati meminta Mami Marchel untuk memasak di rumahnya saja karena rumah kost Uwa Rani memang tak memiliki perabot rumah tangga.
Uwak Rani pun senang kini mereka tak hanya berdua lagi tapi ada Mami Marchel yang ikut berkecimpung. Samping halaman rumah mereka memang terhubung. Satu halaman untuk dua rumah. Orang tua mereka memang sengaja membuat seperti itu agar kedua putri mereka tetap bersama.
"Mama pulang..." Seru suster Rini yang tengah mengajak Daren bermain di depan rumah.
Disana ada juga anak-anak kecil lainnya saudara dari Tasya. Cucu-cucu Uwak Rani. Daren tampak antusias melihat Tasya. Daren tak lagi menangis meraung ketika melihat Tasya. Karena Daren tau Tasya tak akan meninggalkannya. Tasya pun menyapa sebentar Daren kemudian dia pergi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk acara siraman sore malam ini.
"Main dulu ya. Mama mau mandi dulu oke." Sapa Tasya pada Daren.
"Oke Mama." Jawab suster Rini.
"Hai Lik, sudah lama?" Tanya Tasya yang melihat ada Lika di dalam.
Lika hadir karena Lika sahabat Raya. Walaupun Raya kecewa padanya namun Tasya selalu menanamkan jika Lika tak bersalah. Raya pun kembali bersikap biasa pada Lika namun kali ini sedikit tertutup.
Saat acara siraman berlangsung Marchel datang bersama asistennya karena mereka baru saja dari kota Y. Marchel mengajak asistennya ikut serta menghadiri acara pernikahan Raya. Marchel menggendong Daren karena Daren meminta di gendong saat ditemui Marchel.
"Kau rindu Papa Nak? Papa pun sama sayang." Marchel.
"Mama."
"Ya Mama juga." Marchel.
"Bagaimana jika kau menikah dengan yang lain Bos? Sepertinya Abang Daren hanya menginginkan Mama nya yang sekarang." Goda Tanu asisten pribadinya.
"Diam kau." Marchel.
Setelah acara selesai Marchel menghampiri Ayah Effendi dan Ibu Lidia mengalaminya seperti biasa ketika dirinya baru tiba atau akan pergi. Marchel pun menyalami uwak dan anak-anaknya. Lika tertegun melihat ke akraban Papa Daren. Ada rasa suka namun Lika segera menepisnya. Dirinya tau jika Tasya dan Marchel sedang dekat walau tak ada ikrar diantara keduanya jika mereka berdua berhubungan khusus.
Namun, Lika sadar diri apalagi kini dirinya bukan wanita single. Ada buah hati di dalam perutnya yang juga harus di jaga. Lika tak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Dirinya terlalu kotor dan hina. Lika berfikir tak akan ada seorang ibu yang ingin anaknya menikah dengan seorang perempuan seperti dirinya.
"Ma, sepertinya Daren mengantuk." Ucap Marchel pada Tasya yang tengah berbincang bersama saudara-saudaranya juga ada Raya dan Lika.
"Hm,, kemarilah." Tasya.
"Suster tolong susu untuk Daren." Titah Tasya pada suster.
Marchel memberikan Daren pada Tasya kemudian Marchel kembali bergabung dengan para laki-laki yang lainnya. Tasya memberikan susu pada Daren sambil memangkunya. Tasya menggoyangkan kakinya agar Daren merasa seperti di ayun.
"Sya, kapan?" Menantu pertama Uwak Rani.
"Iya, jangan lama-lama." Menantu kedua.
Tasya tak menjawab apapun. Tasya hanya tersenyum kepada semuanya membuat Lika gemas ingin mendengar dari Tasya apa pendapatnya tentang Marchel. Karena menurutnya Marchel pria yang sempurna namun, kembali lagi dia teringat akan janin di dalam perutnya.
Hari ini upacara pelangkah Tasya. Tasya tampak selalu menampilkan senyumannya berbeda dengan Raya yang terus berderai air mata. Begitu juga dengan Ibu Lidia. Tanpa terasa Marchel ikut menitikan air matanya namun Marchel segera menepisnya.
Hingga acara usai senyuman Tasya tak pernah lepas. Hatinya begitu lapang dan ikhlas Raya melangkahinya. Karena sejak awal Tasya memang meminta Raya untuk menikah lebih dulu jika sudah menemukan yang cocok jangan menunggunya.
"Semoga semua do'a baik ada padamu nak." Uwak Rani.
"Amin Wak." Tasya.
Siang nanti acara akad Raya dan Galih di adakan Tasya telah berganti pakaian kembali kali ini Tasya memakai gaun yang senada dengan Daren. Tasya tak pernah jauh dengan Daren walau Daren selalu berada di gendongan Suster.
Akad pun berjalan dengan lancar Galih mengucapkan janji sucinya dengan satu helaan nafas. Hadir pula sahabat-sahabat Tasya karena Galih pun termasuk sahabat Tasya hanya Doni yang absen mengingat pernah ada cerita di antara Tasya dan dirinya. Sebenarnya Lika berharap Dono datang.
Rantika dan Rosa menyempatkan hadir di pernikahan Raya dan Galih. Rantika datang bersama suami dan putranya begitu juga dengan Rosa dan Guntur yang datang bersama putra mereka. Guntur merupakan sahabat dari Marchel.
"Minum Kak." Lika menyodorkan segelas minuman pada Marchel.
"Terima kasih saya baru saja minum tadi. Kau membutuhkannya Gun?" Marchel.
"Tidak terima kasih. Istri saya akan membawakannya nanti." Guntur.
"Kau Tan?" Tanya Marchel pada asisten pribadinya.
"Tidak Pak terima kasih saya bisa mengambilnya nanti." Tanu.
"Baiklah." Ucap Lika sedikit kesal.
"Kau tau tentang dia Chel?" Guntur.
"Tidak. Saya hanya tidak ingin memberi harapan untuk wanita seperti dia. Dan sepertinya dia juga sedang berbadan dua." Marchel.
"Wah, pak Bos jeli sekali. Berarti pak bos memperhatikannya sejak tadi." Tanu.
"Ku potong gaji mu Tan." Marchel.
"Hahahaa... Dia yang merebut kekasih Tasya dan bayi di rahimnya itu anak darinya. Dan sialnya laki-laki itu pergi entah kemana." Guntur.
"Wah, Pak Guntur update gosip ya." Tanu.
"Biar calon suaminya Tasya tau." Guntur.
Marchel hanya diam ketika Guntur dan Tanu berbicara. Marchel berfikir pantas saja Tasya bersikap sedikit dingin pada Lika sedang pada yang lainnya tidak begitu juga dengan Raya padahal Raya merupakan sahabat Lika.
"Pantas Raya dan Tasya berbeda sikap padanya. Lantas apa maksudnya menawarkan minuman padaku? Atau karena aku dekat dengan Tasya membuatnya ingin merebutku juga dari Tasya." Batin Marchel.
"Jangan banyak di fikirkan. Segera halalkan agar dia memiliki alasan untuk mempertahankan miliknya." Guntur.
"Kau sedang berbicara padaku Gun?" Marchel.
"Hah! Kau bawa ke THT Bos mu ini Tan. Sepertinya dia sedikit gangguan." Guntur.
"Kau saja sana." Marchel.
🌹🌹🌹
yg judul 'jodoh pilihan ayah' jg di up thor
lanjuttttt