"Apakah kau akan terpancing dengan sentuhan ku yang seperti ini?" Yasmin membelai rahang tegas Marcell.
Yasmin wanita berusia 25 tahun yang jatuh cinta pada sahabatnya.
Apapun akan Yasmin lakukan hanya agar bisa bersama dengan sahabat tercintanya.
Namun sang sahabat selalu menolaknya karena merasa bahwa dia bukanlah Pria yang baik.
Ayo ikuti kisah mereka.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Marcell cukup terkejut ketika keluar dari lift, mendapati Yasmin yang sudah duduk manis di ruang kerjanya, wanita itu tampak fokus menatap layar komputer dan jari tangannya menari dengan indah di atas kayboard. Sesekali wanita itu melihat lembaran kertas yang ada di samping komputer nya.
Wajahnya yang ayu, tampak semakin manis saat tengah serius bekerja. Aura wangi itu juga tampak tenang dan berwibawa, tidak ada guratan marah atau mendung.
Yasmin terlihat seperti biasanya, cantik, menarik, pintar, elegan, dewasa, dan anggun. Membuat Marcell selalu terkesima, sulit untuk berpaling.
"Yas," panggil Marcell kini berada di depan meja kerja nya.
"Selamat pagi Tuan, Regan." sapa Yasmin bangun dari duduknya ,dan menundukkan kepalanya menyambut Tuan nya.
"Bisa ke ruangan ku?"
"Tentu, Tuan." Yasmin tersenyum ramah, benar-benar seperti tidak pernah terjadi apapun di antara keduanya.
"Baiklah, ayo." ajak Marcell.
"Duduklah, Yas." Marcell mempersilahkan Yasmin duduk di sofa sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Yasmin.
"Aku sungguh minta maaf tentang semalam Yas, aku tidak bermaksud membentak mu." Marcell meraih tangan Yasmin lalu menggenggam nya.
"Aku tahu itu, dan kamu tidak perlu minta maaf, karena kamu tidak bersalah." ucapan Yasmin terdengar sangat tulus.
"kamu sudah memaafkan ku?"
"Apa nya yang harus ku maafkan jika kamu tidak bersalah?" Yasmin tersenyum.
"Tapi aku sudah membentak mu secara tidak sengaja." sesal Marcell.
"Baiklah aku memaafkan mu, apakah kamu sudah puas?" Marcell tersenyum mendengar ucapannya Yasmin.
"Yas, ada yang ingin aku sampaikan." ragu-ragu Marcell.
"Apa?" Marcell terlihat gelisah, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Katakan saja terus terang, tak perlu sungkan." Yasmin tak ingin marah-marah lagi dengan Marcell, Yasmin ingin menjalin hubungan baik dengan Marcell.
"Yas ..." Marcell menggantung ucapannya.
"Ada apa? Kamu mau punya pacar? Atau kamu mau menikah?" tebak Yasmin.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" heran Marcell.
"Aku adalah wanita yang cerdas dan pintar jika kau lupa." sinis Yasmin. "Jadi kamu yang mana?" Yasmin melepaskan genggaman tangan Marcell.
"Mama ingin aku bertunangan dengan Laura."
Deg.....
pernyataan Marcell bagaikan batu yang menimpa dada Yasmin, meskipun sebelumnya Yasmin sudah memperkirakan nya, tapi tetap saja pernyataan Marcell menyesakkan dada.
"Lalu?" Yasmin sekuat tenaga mengendalikan diri nya.
"Apakah kau akan marah padaku, Yas?"
"Kamu ingin aku marah padamu?"
"Tidak juga."
"Jadi? Apakah kamu memberikan hak untuk aku marah padamu?"
"Yas, aku tidak bermaksud ...."
"Aku tahu Cell, kamu tidak bermaksud menyakiti ku. Apakah kamu suka dengan Laura?"
"Semua pria pasti menyukainya." jawab Marcell secara universal.
"Dan pria itu termasuk dirimu?"
"Aku pria yang normal, Yas."
"Yahhh tentu saja kamu pria normal, karena aku sudah membuktikan kenormalan mu itu."
"Apakah kamu akan marah padaku jika aku bertunangan dengan Laura? Kamu tidak akan meninggalkan ku kan?"
"Ada apa denganmu?"
"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Yas."
"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, apalagi meninggalkan mu hanya karena kamu sudah bertunangan, itu tidak mungkin aku lakukan, karena aku sudah kecanduan junior mu yang gagah perkasa itu." Yasmin mengusap pa ha Marcell.
"Kau serius dengan perkataan mu 'kan?" Marcell memastikan bahwa Yasmin tidak akan pergi dari sisinya.
"Of course." Yasmin melu mat bibir Marcell.
"Aku suka dengan Yasmin yang seperti ini." ucap Marcell membalas luma tan Yasmin, tangan kanannya menahan tengkuk Yasmin, sedangkan tangan kirinya mendaki pegunungan mulus nan kenyal itu.
"Apakah kita bisa melanjutkan nya di dalam?" Marcell kini meletakkan kepalanya di ceruk leher Yasmin.
"Kamu menginginkan nya?"
"Tentu saja, kamu tahu aku selalu on jika bersamamu."
"Baiklah, tapi aku akan keluar nanti siang."
"Kamu mau kemana?"
"Ke rumah sakit."
"Kau sakit?"
"Tidak."
"Lalu untuk apa ke rumah sakit?"
"Aku harus melakukan medical check up dan itu rutin ku lakukan setiap 6 bulan sekali." tutur Yasmin.
"Baiklah tidak masalah, ayo kita ke kamar." Marcell menggendong Yasmin ala bridal style, membawa wanita itu naik keranjangnya untuk kesekian kalinya.
"Aku sangat merindukan kedua buah ini." Marcell mengu lum puncak buah Yasmin dengan kasar dan Yasmin mengeluh nikmat merasakan sensasi nya.
*
*
*
Yasmin keluar dari ruangan dokter setelah melakukan pemeriksaan, dia membawa sebuah amplop hasil dari pemeriksaan itu dengan perasaan bahagia, haru, sedih, bingung, namun Yasmin tetap bersyukur atas apa yang terjadi pada dirinya.
Brukkk...
Karena berjalan dengan pikiran yang tidak fokus, akhir Yasmin menabrak seseorang.
"Maaf ... Maaf ... Saya tidak sengaja, maaf ...." Yasmin mengambil tasnya, dan tas orang yang di tabrak nya.
"Yasmin ...." ucap orang itu.
"Ny ... Nyonya Helena." Yasmin mengangkat wajahnya dan melihat satu-satunya wanita yang selalu ada di hati Marcell. "Maafkan saya Nyonya Helena, saya tidak sengaja." Yasmin menunduk kan kepalanya.
"Tidak apa-apa, kamu sedang apa disini."
"Saya baru saja melalui medical check up, Nyonya," tutur Yasmin.
"Kau sakit?"
"Tidak Nyonya, hal itu rutin saya lakukan setiap 6 bulan sekali." jelasnya.
"Ahh ... Begitu, bagus sekali jika kamu aware akan pentingnya kesehatan." Mama Helena mengelus-elus pundak Yasmin, dan hal sederhana itu membuat Yasmin terharu, entah kapan terakhir kali orang tuanya mengelus tubuhnya. Tanpa terasa air mata menetes.
"Ada apa Yas? Kenapa kamu menangis?" Mama Helena menyadari air mata Yasmin.
"Ahh ... Ini, ini karena saya terharu ada seseorang yang mengelus pundak saya." jujur Yasmin mengusahakan air matanya.
"Owhh ... Apakah kamu tidak sibuk?"
"Saya sudah meminta izin kepada Tuan Regan, untuk keluar kantor setelah makan siang, jadi saya tidak harus kembali ke kantor, Nyonya."
"Bagaimana jika kita ke kafetaria? Saya ingin ngobrol sama kamu." ajak Mama Helena.
"Baik, Nyonya." setuju Yasmin.
"Panggil Tante saja."
"Tapi ...."
"Saya tidak menerima penolakan." Mama Helena menatap tajam Yasmin.
"B-baiklah, Tante." gugup Yasmin dan membuat Mama Helena tertawa, lalu merangkul Yasmin menuju kafetaria.
.
.
.
"Di mana orang tua mu, Yas?" Mama Helena ingin mengenal Yasmin lebih dekat, sebenarnya Mama Helena sangat menyukai Yasmin.
Namun sayangnya putranya tidak menjalin hubungan dengan Yasmin. Tanpa Mama Helena ketahui jika hubungan antara Yasmin dan putranya sudah layaknya hubungan suami-istri. Sungguh Mama Helena kecolongan mengawasi Marcell.
"Ayah masih ada di kota ini Tante, tapi saya tidak pernah mengunjungi nya." jawab Yasmin.
"Kenapa? Lalu ibumu?"
"Ayah dan ibu bercerai ketika saya berusia 13 tahun, dan sejak saat itu saya tidak tahu ibu kemana, karena ibu menyerahkan saya dibawah pengasuhan ayah."
"Kenapa begitu? Biasanya seorang ibu akan memperjuangkan hak asuh anaknya, apalagi saat itu kamu masih di bawah umur." heran Mama Helena.
"Ibu terlalu sakit hati dengan ayah, jadi ibu tidak ingin hidup bersama denganku." Yasmin tersenyum penuh luka saat mengenang ibunya.
"Memang apa yang dilakukan oleh Ayahmu, sehingga membuat ibumu sakit hati sedalam itu?"
"Karena ayah menikah lagi dengan wanita pilihannya, hingga memiliki dua anak yang tak lain adalah adik-adikku."
"Maaf, kalau Tante membuka luka lama mu, Yas." Mama Helena menggenggam kedua tangan Yasmin.
"Tidak apa Tante, di ceritakan atau tidak luka dan sakitnya tetap sama."
"Lalu kenapa kamu tidak tinggal bersama ayahmu?"
"Saya ini adalah bukti nyata kesalahan ayah, Tante. Jadi, saya cukup tahu diri untuk tidak menggangu kehidupan impian Ayah bersama dengan wanita yang di cintai nya."
"Tante yakin, kamu juga tidak ingin berada di posisi yang seperti ini, Yas." Mama Helena tersentuh mendengar kisah Yasmin.
"Tentu saja, namun semua sudah menjadi garis takdir ku."
"Jadi kamu tidak pernah bertemu dengan ibumu?"
"Bahkan saya tidak tahu dimana ibu berada."
"Kamu bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama ,Yas. Kamu tahu sendiri jika Marcell itu satu-satunya anak Tante."
"Tidak Tante, jika Yasmin memanggil Tante dengan sebutan Mama, maka nanti istri Tuan Regan akan salah paham." Yasmin tersenyum.
Keduanya berbincang cukup lama. Mama Helena menceritakan bagaimana Marcell saat masih bayi, batita, balita, hingga usia remaja. Yasmin pun menceritakan kebiasaan buruk Marcell, saat sedang dalam perjalanan bisnis ataupun, saat Marcell yang selalu mengandalkan nya.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
sepertinya bilang saja bagus. kan konon katanya kita kudu menggunakan kata dan kalimat yang positif.