NovelToon NovelToon
Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asni J Kasim

Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Nina menghampiri Iki di balkon setelah ia mengenakan pakaian. Mendapati Iki merokok, Nina mendengus kesal. Dia pernah melarang Iki untuk tidak merokok dan Iki pun mengiyakan. Nyatanya pria itu didapati merokok.

"Kamu perokok aktif?" tanya Nina mengintrogasi.

"Nggak, aku bukan perokok aktif. Awalnya aku juga nggak mau merokok tapi mau bagaimana lagi, Papa menawarkan rokok padaku bahkan menyuruhku ambil," jawab Iki dengan santai.

"Papa?" Nina menoleh balkon rumahnya, dia mendapati sang Papa sedang merokok juga. Menghela napas panjang, Nina sudah tahu dimana akarnya. Nyatanya si akar ada di sebelah, pantas saja Iki merokok.

"Papa, jangan ngajak ngajak Iki merokok! Kalau kecanduan gimana. Nanti uang belanja lari semua di rokok!" Nina cemberut.

Iki terkekeh, begitu juga dengan Papa Nawan. "Sekali kali nggak Papa," ucap Papa Nawan. "Papa masuk ke dalam dulu." Papa Nawan menarik langkah ke dalam.

Iki mematikan rokoknya, kemudian membuangnya. Menatap Nina, dia tersenyum. "Jangan lupa cuci pakaian," kata Iki mengingatkan.

Cemberut, Nina bermanja di lengan Iki. "Aku malas ..." rengek Nina.

Terkekeh, Iki membawa Nina dalam pelukannya. "Maaf ya, tadi aku nggak berpikir panjang," ucap Iki. Tanpa dia sadari, tindakannya saat ini juga membuat Nina kehabisan udara.

Nina berdehem, membuat Iki tersadar. "Emmm ..." Iki menggaruk tengkuknya.

"Daripada kita salah tingkah begini, lebih baik kita mencuci." Tersenyum kecil, Nina menarik tangan Iki masuk ke kamar.

Tertawa bersama, keduanya memilih mengeluarkan pakaian kotor masing-masing lalu ke lantai satu. Nina mencuci pakaian sementara Rifki membuat nasi goreng seadanya. Di tempat mencuci, Nina tertawa geli melihat ****** ***** milik Rifki. "Besar bangat. Itu ___" kalimatnya digantung. Menggelengkan kepala, Nina membuang jauh pikiran kotornya.

"Cis! Kenapa ini otak nggak mau kerja sama sih!" ketus Nina.

Di dapur, Iki baru mengingat akan satu hal, celana pendek bunga-bunga yang ada di dalam keranjang pakaian kotornya. Takut dilihat Nina, Iki segera mematikan kompor gas. Berlari ke tempat nyuci, dia melihat Nina yang sementara tertawa. Di tangan Nina ada celana pendek bunga-bunga milik Iki.

"Iki, jadi kamu masih hobi pakai celana motif beginian." Nina tertawa.

Rifki hanya bisa tertawa. Kembali ke dapur, ia menyiapkan makan malam untuk dia dan Nina. Dari arah kamar, terdengar ponsel Iki berdering, Iki segera ke kamar mengambil ponselnya. Menatap layar, nama Dika tertera di sana. Segera Iki melakukan panggilan balik. "Halo, Dika. Maaf, tadi aku di bawa. Bagaimana?"

"Nggak Papa. Oh ya, kamu dan Nina nggak datang?" tanya Dika.

"Datang?" Iki berpikir. "Datang kemana?" tanyanya.

"Oh Tuhan ... kamu nggak tahu? Yakin nggak tahu?" Dika tertawa. "Bro, malam ini ada acara di Lapangan Samargalila. Aku dan yang lain sudah di sini. Kalian mau datang nggak?"

"Aku nggak tahu, serius. Oke, aku panggil Nina dulu. Aku hubungi jika sudah di situ," kata Iki lalu memutuskan panggilan. Berlari ke lantai satu, Iki menghampiri Nina di kamar mandi.

"Nina, ayo ganti pakaian. Ternyata malam ini ada acara di lapangan SG, Dika dan teman-teman yang lain sudah di sana." Iki menarik tangan Nina.

"Bagaimana dengan cucian?" tanya Nina menoleh pakaian yang sudah di mesin cuci.

"Itu mesin cuci otomatis, Nina. Nanti pulang baru kita angkat," jelas Iki terus menarik langkah ke kamar.

Masuk di kamar, Iki membuka lemari pakaian. Baik Nina dan Iki bingung mengenakan pakaian yang mana. Tersenyum, Nina menyenggol lengan Iki. "Couple, kita kan pasutri, jadi nggak aneh dong kita couple. Orang yang pacaran saja couple, masa kita nggak."

Iki setuju, namun dia tidak punya baju couple. Cemberut, dia duduk di sisi tempat tidur. Sementara Nina lari ke balkon lalu ke kamarnya. Membuka lemari, dia mengeluarkan baju couple. Tersenyum, dia segera menemui Rifki di rumah sebelah.

"Coba ini." Nina menyerahkan satu kaos putih.

Iki segera melepas baju kaos yang dia pakai lalu mencoba kaos dari Nina. Tersenyum, dia mulai mengeluarkan celana dari lemari. "Nina, celana cream ya."

"Iya, aku punya," balas Nina. Nina segera mengambil celana jins cream yang sobek bagian lututnya.

Tak membutuhkan waktu lama, keduanya selesai mengganti pakaian. Nina membiarkan rambutnya digerai, sementara Rifki merapikan rambutnya agar terlihat semakin tampan. Tak lupa mengambil jaket, keduanya turun dari kamar.

"Iki, aku lupa bawa dompet," kata Nina. "Tunggu aku ke kamar dulu."

"Aku bawa," ucap Iki menarik tangan Nina. "Pakai helem dulu," ujarnya sambil memasang helem di kepala, Nina.

Nina menahan napas, takut Iki mendengar detak jantung Nina yang berpacu cepat. "Sepertinya aku kena serangan jantung," batin Nina.

"Oke, ayo kita berangkat," kata Iki tersenyum.

Melewati kompleks, Nina mulai memeluk Iki. Keduanya bertukar cerita hingga tiba di Lapangan SG. Nina mengeluarkan ponselnya, kemudian memulai panggilan. Tak berapa lama, Dika menjawab panggilan darinya. "Kalian di bagian mana?" tanya Nina.

"Di parkiran dekat jalan Angkasa," jawab Dika.

Iki segera menyalakan motornya, mengendarainya dengan pelan karena jalanan mulai macet. Hanya dua menit saja, mereka sampai di parkiran dimana banyak teman-teman mereka yang datang. Melihat Nina dan Iki couple, mereka juga ingin. Terlebih Santi dan Gio yang baru jadian.

"Besok kita beli, persediaan besok malam," bisik Gio.

"Ya sudah, ayo kita berkeliling dulu. Setelah itu kita kembali ke sini. Lagian acaranya belum di mulai," kata Dika. Dika membonceng kekasihnya, sementara Alan membonceng sahabatnya anak SMK Kesehatan yang dari Kabupaten lain. Sinta dan Gio, Clara dan Jimi anak Smansa. Masing-masing dari mereka memeluk pria yang membonceng mereka. Star dari Lapangan SG, ke tembal, balik lagi ke Lapangan SG namun dari jalur Mandaong. Tiba di Pantai Labuha, mereka menepi.

"Mau makan gorengan?" tanya Iki pada Nina.

"Mau, tapi aku nggak bawa uang," balas Nina.

Rifki terkekeh. Ia mendekat dan berbisik. "Suami kamu bawa uang."

Tertawa pelan, Nina menarik tangan Iki. Mereka menghampiri penjual gorengan. Niatnya membeli banyak untuk teman-teman yang lain, tapi mereka mau beli sendiri. Alhasil, Iki hanya membeli untuk Nina. Membeli molen pisang, bakwan, dan juga tahu rebus yang dicelupkan ke dalam sambal pedas.

"Hati-hati," Iki menyeka saus yang tertinggal di bagian bibir Nina.

Degh!! Jantung Nina berdetak cepat, pipinya memerah, beruntung malam jadi Iki tak menyadari wajah Nina yang bak kepiting rebus. "Kalau begini terus, lama-lama aku bisa khilaf," batin Nina.

"Aaaa" Iki menyodorkan satu tusuk tahu. "Buka mulut, aku siapun kamu," kata Iki.

Jleb!! Pipi Nina semakin memerah. Membuka mulut, Nina menerima tahu dari Iki. Mengunyahnya dengan pelan kemudian menelannya.

"Enak, kan. Sudah aku bilang, tahunya enak." Iki tersenyum.

"Ingat Sinta ..., kamu pacarannya sama aku, bukan sama Iki!" ucap Gio saat Sinta menatap Iki yang memperlakukan Nina dengan romantis.

"Makanya, romantis dikit napa!" Sinta cemberut. Rifki dan yang lain tertawa, begitu juga dengan Gio.

1
Sumiati Aja
cerita nya g msuk nni kn udah sembuh kok menninggal aja
mama Al: karena kanker tidak bisa di tebak kak.
banyak di dunia nyata yang di nyatakan sembuh oleh dokter malah meninggal dunia.
total 1 replies
Zana aripin
Aduh kenapa ceritanya begitu. Nina meninggal... semoga itu hanya mimpi iki ya thor
aris Widiatmoko
kok Nina meninggal kasihan Riki
Aji Sangpengembara
bagus banget
Asni J Kasim: Masya Allah, terima kasih banyak KK 🥰
total 1 replies
Rina Halawa
the best
Asni J Kasim: Terima Kasih untuk bintang 5nya Kak 😊🥰
total 1 replies
Zana aripin
Fuh ramai juga yg jadi pelakor ni. Novi dan vindian pelakor
Asni J Kasim: Vindian main belakangan 🤣
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg sgt best
Asni J Kasim: Terima kasih 🥰
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg best..byk pengajaran yg blh diambil.nilai kasih sayang yg hebat..maruah diri yg tinggi
Asni J Kasim: Terima kasih untuk bintangnya, Kak. Walau hanya bintang 4 udah senang, apalagi 5 🤣🤣🤣
total 1 replies
Queen
Hai kak, Mampir di novelku yaa
Mbah Gatot
lanjut bro ceritanya keren
Mbah Gatot
emosi cokkk Nina kek perempuan arggggggg tol anjayy


tpi keren ceritanya tingkat kan
Asni J Kasim: Tingkatkan kesabaran 🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!