Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Romantis
Tere menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukan makanan ke dalam mulutnya saat mendengar Assisten Rumah tangga tersebut menyebut namanya kini.
"Saya?" Tanya Tere kemudian.
"Iya, Nona.'' Jawab Assisten Rumah tangga tersebut ramah.
Tere pun seketika bangkit lalu hendak pergi.
"Tunggu, sayang. Saya antar kamu ke depan." Ucap David ikut berdiri bersama sang kekasih lalu berjalan beriringan bersamanya.
Hati seorang Teresia nampak diliput berbagai tanda tanya, dia baru saja datang ke kota, mana mungkin ada orang yang tiba-tiba saja mencari dirinya karena dia sama sekali kenal siapapun lagi selain keluarga calon suaminya itu.
Apa mungkin, sang kakak menyusul dirinya ke kota? Akh .... Rasanya tidak mungkin, darimana dia bisa tahu tempat tinggal David juga darimana sang Kaka bisa mendapatkan uang untuk datang jauh-jauh ke kota?
Sesampainya di pintu depan.
Tere menatap sekeliling mencari orang yang katanya sedang mencari dirinya, akhirnya dia pun bisa bernapas lega karena Larisa sang kakak sama sekali tidak berada di sana seperti apa yang baru saja dia pikirkan baru saja.
Di depan pintu dia hanya melihat seorang laki-laki yang saat ini sedang berdiri dengan membelakangi dirinya.
"Permisi, anda mencari saya?" Tanya Teresia menatap dengan seksama punggung laki-laki tersebut.
Laki-laki itu pun berbalik dan menatap wajah Teresia.
"Anda Nona Teresia Anindya Putri?" Tanyanya kemudian.
"Iya betul, apa anda mengenal saya?"
"Saya dari toko bunga, saya diminta untuk mengantarkan pesanan bunga untuk anda, Nona."
"Hah?"
Tere seketika termenung lalu menoleh dan menatap wajah David yang saat ini berdiri tepat di sampingnya yang terlihat memasang wajah santai bahkan tersenyum kecil.
"Bunganya mana? Anda tidak membawa bunga sama sekali?" Tanya Teresia kembali mengalihkan pandangannya kepada pengantar bunga tersebut.
"Bunganya ada di depan, Nona."
Tere semakin termenung merasa tidak mengerti.
"Maksudnya?"
"Silahkan ikut saya ke depan, Nona.'' Pinta orang tersebut.
Tere pun berjalan mengikuti orang tersebut bersama David tentu saja. Di halaman rumah, bunga mawar nampak tersusun rapi hampir memenuhi taman membuat Tere seketika tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga juga dengan perasaan haru.
Matanya pun nampak berkaca-kaca merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini. Tere pun seketika menoleh dan menatap wajah David sang kekasih karena dia pun sudah dapat menebak bahwa ini pasti perbuatan David sang kekasih.
"Apa ini, Dav?" Tanya Tere kemudian.
Bukannya menjawab pertanyaan kekasihnya, David kini berjongkok tepat di hadapan Teresia seraya membawa kotak cincin yang terbuka dimana Cincin bertahtakan berlian bertengger di dalamnya.
"Teresia Anindya Putri, maukah kamu jadi istri saya? Salah bukan itu maksud saya. Saya ulangi ya. Ehem ... Eu ... Teresia Anindya Putri, saya meminta kamu jadi istri saya. Kamu harus mau dan tidak ada penolakan,'' ucap David terlihat gugup juga dengan senyuman yang mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini.
"Dih, ko maksa si." Tere seketika terkekeh merasa bahagia, sangat-sangat bahagia.
"Saya memang pemaksa orangnya, hehehehe ...''
"Hmm ... Aku mau, Dav. Aku mau jadi istri kamu,'' jawab Tere singkat tidak kuasa lagi menahan rasa haru membuat bibirnya merasa kaku.
Tanpa basa-basi lagi, David pun segera melingkarkan cincin bertahtakan berlian itu di jari manis Tere, lalu segera berdiri dan memeluknya.
"Makasih, sayang. Makasih karena kamu sudah hadir di dalam kehidupan saya, terima kasih karena kamu telah memberi warna di hidup saya yang sebenernya selalu terasa membosankan setiap harinya. Terakhir, terima kasih karena kamu akhirnya saya mengakhiri masa lajang saya dan melepas gelar perjaka tua yang selama ini melekat di dalam diri saya." Lirih David panjang lebar memeluk erat tubuh Tere sang kekasih.
"Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu, Dav. Makasih karena kamu telah Sudi mencintai aku, aku seperti manjadi seorang Cinderella yang dipersunting Pangeran tampan juga kaya raya, ini seperti mimpi buatku, Dav.'' Jawab Tere tersenyum bahagia juga dengan buliran yang air mata yang berjatuhan dengan begitu derasnya kini.
Keduanya pun mulai mengurai pelukan, kemudian David mendaratkan ciu*an di kening Teresia lembut dan penuh kasih sayang.
Louis, Arista dan juga si kembar yang diam-diam menyaksikan hal itu pun benar-benar merasa haru karena akhirnya, sang putra telah menemukan tambatan hatinya kini.
Louis bahkan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri seraya tersenyum lebar.
"Ngeliat mereka berdua jadi ingat masa muda kita dulu ya." Celetuknya tiba-tiba, membuat Arista sang istri seketika menoleh lalu menatap wajah sang suami.
"Kamu gak seromantis itu, Mas. Gak ada bunganya, yang ada steak daging pake nasi.'' Celetuk Arista seketika mengingat masa lalu.
"Hahahaha ... Iya juga ya. Hadeuh ... Ternyata David lebih romantis dari ayahnya."
"Hmm ... Bulan juga pengen dong di lamar kayak gitu sama pacar Bulan." Bulan yang ada di sana pun ikut bicara, kedua matanya nampak menatap dengan tatapan berbinar kakak sulungnya itu.
"Kamu udah punya pacar?"
"Hah? Eu ... Nggak ko, Dad. Maksud Bulan, nanti kalau udah dewasa pengen di lamar kayak gitu juga, Dad." Ralat Bulan dengan wajah cengengesan.
"Oh ... Daddy kira kamu beneran udah punya pacar. Awas aja, kalian berdua di larang pacaran.''
"Iya, Dad iya ... Hadeuh ... Daddy kayak yang gak pernah muda aja si." Celetuk Bintang berbalik lalu masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Bulan kembarannya.
"Daddy nyebelin, sama aja kayak Kak David." Ucap Bulan merasa kesal.
"Iya, masa kita gak boleh pacaran? Kita 'kan udah 17 tahun, udah dewasa kali.''
Keduanya pun berjalan secara beriringan masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal.
❤️❤️
Keesokan harinya.
Ceklek ....
Anggi keluar dari dalam kamarnya, pagi ini dia bangun agak siangan karena tidak perlu beres-beres rumah terlebih dahulu seperti yang selalu dia lakukan setiap paginya.
Berhubung dirinya sudah memiliki seorang Pembantu Rumah tangga, dia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan rumah lagi sekarang.
Anggi pun nampak sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke kantor. Dengan menenteng tas berukuran besar, dia pun berjalan ke arah dapur hendak menyantap sarapan.
''Astaga ...! Apa ini?'' teriak Anggi kesal menatap sekeliling dapur yang terlihat berantakan.
''Larisaaa ...'' Teriaknya dengan suara yang sangat nyaring juga memekikkan telinga.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Selamat malam, Reader. Promosi lagi ya, semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan jejak juga di sana. Terima kasih ❤️❤️❤️