NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Sahabat Lama

Malam harinya, atas permintaan Nara sendiri, Zaid datang berkunjung ke rumah keluarga Rahardja. Pria yang terkesan dingin itu datang tepat waktu, mengenakan kemeja hitam yang rapi dan memancarkan aura dewasa yang tenang.

Setelah berbincang sebentar dengan Pak Rahardja dan Bunda Mayang di ruang tamu, Nara meminta izin untuk bicara berdua dengan Zaid di halaman samping rumah, dekat kolam ikan yang gemericik.

Suara gemericik air memecah keheningan di antara mereka. Zaid berdiri bersedekap, menatap lurus ke arah kolam, sementara Nara berdiri satu meter di sampingnya.

"Bunda memberitahuku soal teleponmu kemarin malam," ujar Nara membuka percakapan.

Zaid tidak terkejut. Wajah tampannya tetap tenang tanpa riak. "Tante Mayang menceritakannya? Saya hanya ingin memastikan kamu tidak merasa tertekan."

Nara menoleh, memperhatikan profil wajah Zaid dari samping. Garis rahangnya yang tegas menunjukkan kedewasaan seorang pria yang sudah kenyang ditempa pengalaman hidup.

"Kenapa kamu melakukan itu? Bukankah kamu bisa saja memanfaatkan kuasa Ayahku untuk memaksaku menikahimu?"

Zaid menghela napas pelan, menoleh menatap Nara dengan sepasang iris mata hitamnya yang dalam.

"Saya laki-laki dewasa, Nara. Saya sudah melewati masa-masa di mana saya harus memaksakan kehendak atau bermain-main dengan ego. Pernikahan bukan tempat untuk memenjarakan orang lain. Jika kamu masuk ke dalam hidup saya karena terpaksa, rumah tangga itu hanya akan berisi kebencian."

Zaid melangkah satu tapak lebih dekat, menatap gadis di hadapannya itu dengan keseriusan yang mutlak.

 "Jadi saya tanya sekali lagi, Kaynara. Keputusan ada di tanganmu. Jika kamu menolak, saya yang akan maju menghadapi om Rahardja malam ini juga untuk membatalkannya. Kamu bebas."

Nara menatap Zaid dalam-dalam. Di dalam mata pria dingin itu, ia tidak menemukan kebohongan, tidak ada manipulasi, dan tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan dan rasa tanggung jawab yang amat sangat besar.

Nara menarik napas panjang, meresapi kehangatan malam dan keheningan di dadanya yang kini terasa begitu lapang.

"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Devino sore tadi," kata Nara pelan namun mantap.

Alis Zaid terangkat tipis, sedikit terkejut dengan pengakuan jujur tersebut.

"Dan untuk perjodohan ini..." Nara menatap lurus ke mata Zaid, sebuah senyuman tipis yang tulus akhirnya terukir di bibirnya. "Aku tidak ingin membatalkannya. Aku menerima pernikahan ini, Zaid."

Zaid terdiam sejenak. Sorot matanya yang biasanya selalu dingin dan tak tersentuh kini tampak goyah oleh rasa hangat yang samar-samar.

Bibirnya yang kaku perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman tipis—senyuman yang sama hangatnya dengan yang dilihat Nara di panti asuhan waktu itu.

"Kamu yakin?" tanya Zaid memastikan. "Saya bukan pria yang romantis. Saya tidak pandai merangkai kata-kata manis."

"Aku tidak butuh kata-kata manis dari pria yang kabur saat dibutuhkan," balasan Nara terdengar lugas dengan sedikit nada godaan yang membuat Zaid terkekeh pelan. "Aku hanya butuh pria yang berani berdiri di sampingku dan bertanggung jawab."

Zaid mengulurkan tangannya ke hadapan Nara. "Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan ini, Kaynara."

Nara menatap uluran tangan tegap itu, lalu menyambutnya dengan genggaman yang mantap. Sentuhan telapak tangan Zaid terasa hangat dan kokoh, seolah memberi kepastian bahwa melangkah ke masa depan bersamanya tidak akan lagi menjadi perjalanan yang menakutkan.

Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, dua jiwa yang berbeda usia dan sifat itu akhirnya menemukan titik temu untuk memulai babak baru dalam hidup mereka.

.

.

.

Keesokan harinya, riak-riak keraguan mulai mengikis kepastian yang semalam sempat memenuhi dada Nara.

Dunia kerja tetap berjalan seperti biasa, tak peduli betapa berisiknya isi kepala seorang Kaynara Rahardja.

Sepanjang hari di kantor, jemarinya memang menari di atas keyboard dan matanya tertuju pada layar monitor, tetapi pikirannya berkelana jauh. Bayangan percakapannya dengan Zaid di tepi kolam semalam terus berputar seperti rekaman ulang tanpa henti.

'Apakah aku terlalu terburu-buru?' pertanyaan itu berulang kali berbisik tajam di benaknya.

Memutus hubungan dengan Devino—pria yang bertahun-tahun mewarnai harinya—lalu di hari yang sama menerima perjodohan dengan pria dingin yang terpaut usia cukup jauh dengannya... bukankah itu langkah yang terlalu impulsif?

'Bagaimana jika keputusan semalam hanyalah bentuk pelarian dari rasa kecewanya pada Devino? Bagaimana jika rasa tenang yang ditawarkan Zaid semalam hanyalah ilusi sesaat?'

Ketika jam pulang kantor tiba, Nara sengaja tidak langsung pulang ke rumah. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah jeda dari tekanan harapan orang tuanya yang selalu terasa menghimpit.

Langkah kakinya membawanya ke sebuah kafe berkonsep hangat di sudut jalan yang tak terlalu jauh dari area perkantoran. Aroma biji kopi sangrai dan alunan musik instrumental bernuansa tenang menyambutnya saat pintu kaca berdeting.

Nara memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan malam.

Ia memesan secangkir hot chamomile tea, berharap hangatnya minuman itu bisa mengurai benang kusut dalam kepalanya.

Nara memangku dagu, menatap rintik gerimis tipis yang mulai membasahi kaca luar. Rasa bimbang itu kini mewujud menjadi gumpalan sesak yang nyata di dadanya.

Pernikahan bukanlah perkara sehari dua hari. Bagaimana mungkin ia mengikatkan hidupnya pada Zaid, pria yang bahkan tak betul-betul ia kenal luar dalamnya?

"Nara?"

Sebuah suara lembut yang sangat familier memecah lamunan Nara. Ia mendongak, dan seketika matanya membelalak kagum.

Di hadapannya berdiri seorang wanita berpenampilan rapi dengan tas kerja terpanggul di bahu. Senyum hangat merekah luas di wajah wanita itu.

"Laras?" bisik Nara, seakan tak percaya dengan penglihatannya.

"Ya ampun, Nara! Ini beneran kamu!" seru Laras tanpa sanggup menahan kebahagiaannya.

Tanpa ragu, Laras langsung menarik Nara ke dalam pelukan hangat. Rasa hangat dan keakraban serta-merta melingkupi Nara.

Laras adalah sahabat karibnya sejak seragam putih-abu-abu hingga menuntaskan gelar sarjana bersama. Namun, kesibukan dunia kerja dan kepindahan Laras ke luar kota beberapa tahun terakhir sempat merenggangkan intensitas komunikasi mereka.

Pertemuan tak disengaja di kafe ini terasa seperti takdir yang sangat tepat waktu.

"Kamu ke sini sendirian? Boleh aku duduk?" tanya Laras penuh semangat setelah melepas pelukannya.

"Boleh banget, Ras. Duduklah," balas Nara, rasa bersyukur yang luar biasa merayapi hatinya.

Di saat ia berada di titik paling membingungkan dalam hidupnya, semesta menghadirkan Laras—sosok yang selalu menjadi tempat aman baginya untuk bertukar cerita tanpa takut dihakimi.

Setelah Laras memesan minumannya, cerita masa lalu dan tawa kecil sempat mengalir di antara mereka, mengikis kecanggungan yang sempat ada.

Namun, Laras bukanlah orang baru bagi Nara. Tatapan mata Laras yang jeli segera menangkap kilat kelelahan dan gurat kesedihan di balik senyuman sahabatnya itu.

Laras memajukan duduknya, menatap Nara lekat-lekat. "Ra, jujur sama aku. Ada yang lagi kamu pikirkan, kan? Wajahmu nggak bisa bohong. Senyummu dari tadi nggak sampai ke mata."

Nara menunduk, mengaduk teh chamomilenya yang mulai mendingin. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Perlahan, gumpalan pertahanan dirinya runtuh.

"Aku... aku baru saja putus dari Devino, Ras," ujar Nara pelan.

Laras membelalak, terkejut. "Putus? Dari Devino? Bukannya kalian sudah jalan bertahun-tahun? Kenapa bisa, Ra?"

"Dia kabur saat aku paling butuh keberadaannya," jawab Nara lugas, menyisakan rasa pahit yang tersisa. "Tapi... itu bukan bagian terberatnya, Ras."

Nara mengangkat wajahnya, menatap laras dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sore setelah aku putus dari Devino... aku menerima perjodohan yang diatur Papa dan Bunda."

"Apa?!" Laras hampir menepuk meja karena kaget, namun ia segera menahan diri dan merendahkan suaranya. "Perjodohan? Di zaman sekarang? Kamu dijodohkan, Ra?"

Nara mengangguk perlahan.

Laras memegang dahi, mencoba mencerna informasi yang bertubi-tubi itu. Namun, detik berikutnya, ekspresi Laras berubah menjadi seraut pemahaman yang sedih.

Sebagai sahabat sejak sekolah, Laras tahu betul bagaimana watak orang tua Nara. Pak Rahardja dan Bunda Mayang adalah tipe orang tua yang sangat dominan, tegas, dan selalu mengontrol garis hidup Nara—mulai dari jurusan kuliah hingga pilihan karier.

"Aku paham..." gumam Laras prihatin, meraih dan menggenggam jemari Nara yang dingin di atas meja. "Tante Mayang dan Om Rahardja dari dulu memang nggak pernah berubah, ya? Selalu mau memegang kendali atas hidupmu. Tapi, Ra... kenapa kamu langsung terima? Kenapa kamu nggak melawan seperti biasanya?"

"Namanya Zaid," bisik Nara, mengabaikan pertanyaan Laras sejenak. "Pria pilihan Papa itu namanya Zaid. Dia jauh lebih tua dari kita,... dingin, dan kaku.... Semalam dia datang ke rumah. Dan uniknya... dia sama sekali nggak memanfaatkan posisi Papa untuk memaksaku. Dia justru memberiku kebebasan penuh untuk menolak kalau aku merasa tertekan.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!