Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
"Jika kau memintaku untuk menerima perempuan itu di rumah ini jawaban ku masih tetap sama, aku tidak akan pernah menerima nya, apalagi niat mu untuk mengakui anak yang ada di dalam kandungan wanita itu sebagai anak mu, jawaban ku masih tetap sama, sekali tidak selamanya tidak," jawab Lilian dengan suara lirih namun terdengar tidak getir sedikit pun dia teguh akan pendirian nya.
"Istri macam apa kau ini? Aku bahkan belum bicara, kau sudah menyangkal dan bicara panjang lebar tanpa mendengar ku terlebih dahulu," ucap Alen terlihat jelas kalau ia mulai berfikir Lilian adalah wanita yang tidak pengertian.
"Istri macam apa diriku ini hanya kau dan keluarga mu lah yang tau mas, tiga tahun, tiga tahun aku mengorbankan segalanya untuk keluarga ini, aku tau kau berhutang budi tapi cara membalas nya tidak seperti ini mas, aku beri kesempatan tiga hari untuk mu, jika kau tidak mengubah niat dan keputusan mu, kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan," ucap Lilian yang terdengar mengancam di kupingnya Alen.
"Kau mengancamku? Sayang dengar, aku tau selama ini kau sudah berkorban untuk keluarga ini dan aku sangat berterima kasih tapi kondisi Tasya sama sekali tidak bisa di abaikan, dia membutuhkan sosok suami dan suaminya malah meninggal karena aku, aku mohon jangan buat aku jadi manusia yang tidak tau di untung," ucap Alen kekeh tak mau mendengarkan keinginan Lilian tapi keinginan nya seolah-olah tak boleh sama sekali di tolak.
"Jika kau menyayangiku maka kau tidak akan memberikan rasa sakit yang sesakit ini mas, kau berhutang budi pada Tian, tapi kenapa kau malah menyakiti ku dengan wanita itu," jawab Lilian sambil menahan air mata.
"Aku tidak menyakitimu sama sekali, aku hanya ingin kau menerimanya Tasya sebagai keluarga baru kita, sudah itu saja," ucap Alen sambil memegang kedua pundak Lilian.
"Istri mana yang akan rela mendengar suaminya mengakui anak wanita lain sebagai anak nya, istri mana mas?" ucap Lilian lagi, kali ini ia tersenyum menatap Alen tapi air mata nya menetes membasahi pipinya.
"Aku tau itu membuat mu sakit hati, tapi aku tidak punya pilihan lain, mama dan Raya setuju, lagipula kita sudah begitu lama menikah tapi tak kunjung di berikan keturunan, aku sangat menginginkan seorang anak Lilian, sangat," ucap Alen seolah-olah menekan perasaan dan hati Lilian.
Lilian yang mendengar itu seketika terdiam membisu, dia menundukkan pandangannya dari sang suami, hatinya semakin perih mendengar pernyataan Alen barusan.
"Bagaimana kita mau punya anak kalau kau hanya akan fokus dengan pekerjaan mu? Aku juga sudah memeriksakan diri berkali-kali ke dokter dan hasilnya tidak ada yang salah, dokter bahkan memintaku untuk membawamu ikut periksa tapi kau selalu saja tidak punya waktu," jelas Lilian. Kali ini dia tidak menatap Alen.
"Maafkan aku untuk soal ini, aku janji setelah Tasya melahirkan aku akan fokus dengan mu, kita akan sama-sama pergi ke dokter untuk memeriksa, aku janji akan melakukan apapun bersama mu agar kita bisa memiliki anak kita sendiri," ucap Alen terlihat sangat menyayangi Lilian.
Ya, kalau di bilang sayang ataupun cinta Alen memang sangat menyayangi dan mencintai Lilian, tapi sayang sekali semua itu tidak ada effort atau apapun, buktinya dia membiarkan ibu dan adiknya menjadikan Lilian sebagai pelayan di rumah mereka, membiarkan Lilian hidup menderita dan tidak pernah menanyakan apakah Lilian bahagia di sana sepeninggal dirinya bekerja.
Cinta Alen kepada Lilian itu seperti di bibir dan di hati saja, namun tidak sampai ke tahap tindakan dan perlindungan.
Hati Lilian semakin lemah mendengar sekarang di mata Alen Tasya adalah hal utama, bahkan saat mereka seharusnya fokus dengan hubungan mereka Alen malah lebih mementingkan Tasya.
"Lilian aku sangat mencintaimu, aku tau kau wanita yang baik, tolong mengertilah," ucap Alen yang kemudian menarik Lilian ke dalam pelukannya.
"Jika kau sangat mencintai dan menyayangi ku, bisakah kali ini kau mendengarkan aku? Aku tidak mau ada wanita lain dirumah tangga kita mas," ucap Lilian lagi dengan suara lirih.
Mendengar itu Alen seketika melepaskan pelukannya, dia menatap Lilian dengan tatapan kesal. Seolah-olah setengah jam ia membujuk sang istri sama sekali tak luluh dan tidak ada hasilnya.
"Maaf Lilian, jika kau tidak setuju aku akan tetap melakukan tugas dan tanggungjawab ku terhadap Tasya, baiklah jika kau mau marah mau egois terserah mu saja, mama benar, kau ini tidak punya hati nurani, dan satu lagi, sekarang di rumah ini Tasya adalah hal yang paling utama dia keluarga kita, dia bukan orang lain, yang paling penting adalah, kau harus memperlakukan nya dengan baik," ucap Alen. Dia menuding Lilian dengan jari telunjuknya lalu meninggalkan kamar tersebut.
"Ternyata hangatnya pelukan mu barusan hanya untuk membuat ku tenang mas, tapi sayang sekali kau tidak bisa, jika kau memilih menentang ku baiklah, aku tidak akan memberikannya kesempatan lagi untuk mu dan untuk semua orang di rumah ini," ucap Lilian dengan suara lirih, dia dengan kasar menghapus air matanya dan berbalik menatap seisi kamar yang kini hanya ada dirinya sendiri di sana.
Ruang segi empat itu menjadi saksi tiga tahun rasa cinta Lilian kepada Alen, foto pernikahan, foto masa pacaran, lemari baju yang di penuhi pakaian mereka berdua serta barang-barang berharga lainnya, semua itu adalah saksi tiga tahun pernikahan Lilian dan Alen.
"Dalam kamus cinta seorang Lilian tidak ada yang namanya orang ketiga, jika itu terjadi maka salah satu dari tiga orang itu harus pergi, mas Alen, aku sudah memberi mu kesempatan memilih, aku yang pergi atau dia, tapi kenyataannya kau malah memilih nya, baiklah itu artinya aku yang pergi," ucap Lilian dengan senyum tipis yang menyimpan seribu arti.
Waktu tiga hari yang di minta Lilian kepada sang papa adalah untuk dia membersihkan dan membereskan semua barang serta jejaknya di rumah tersebut.
"Sebelum aku pergi, tidak boleh ada satupun jejaku tertinggal di sini," ucap Lilian. Ia meraih satu persatu barang-barang miliknya yang akan dia buang atau dia bakar.
"Mas Alen," panggil Tasya saat melihat Alen turun ke bawah.
"Tasya, sudah bangun? Bagaimana tidur mu, apakah nyenyak?" tanya Alen sambil kemudian duduk di samping Tasya.
"Tidur ku sudah lama tidak begitu nyenyak karena perut ku yang semakin lama semakin membesar, tapi karena kasur nya empuk aku bisa sangat mudah berpindah, intinya sangat nyaman," jawab Tasya dengan senyum tipis nya yang terlihat sangat lembut dan menciptakan kesan wanita lemah di hadapan Alen dan keluarga Bayron.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍