NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: 2200 Poin — Warisan Pertama

Dan itu membuat perangkap ini semakin menarik.

Aula besar Fakultas Kedokteran UNAIR penuh sebelum acara dimulai.

Kursi baris depan diisi profesor, kepala bagian, dan dokter senior dari berbagai rumah sakit Jawa Timur. Di bagian tengah duduk spesialis bedah jantung, bedah umum, anestesi, radiologi, emergency, sampai beberapa dokter estetika yang datang karena nama Ardi mulai beredar setelah kasus Rania. Di belakang, residen berdiri karena kursi tambahan tidak cukup.

Total peserta terdaftar: 213 orang.

Di sisi kiri aula, Dokter Agung berdiri bersama seorang perantara Surya Pradana. Keduanya tidak bertepuk tangan ketika Ardi masuk. Mereka hanya memperhatikan panggung, layar besar, dan kamera dokumentasi kampus yang siap merekam setiap kesalahan.

“Pastikan sesi tanya jawab tidak dipotong,” bisik Agung kepada panitia.

Panitia mengangguk gugup.

Di baris ketiga, beberapa dokter yang sudah disiapkan Agung membuka catatan pertanyaan. Ada yang menulis tentang validitas satu kasus, ada yang menyiapkan serangan soal etika publikasi, ada pula yang ingin menekan status Ardi sebagai dokter yang belum lama kembali aktif.

Mereka datang untuk melihat Ardi tergelincir.

Ardi tahu.

Ia berdiri di belakang panggung, menatap slide pertama di laptop.

Teknik Sandwich Modifikasi: Dari Meja Operasi ke Sistem yang Bisa Dipelajari.

Rudi berdiri di sampingnya, lebih tegang daripada saat menghadapi kerusuhan UGD.

“Di, serius lo mau jelasin semua ini ke orang sebanyak itu?”

“Tidak semua.”

“Syukur.”

“Yang penting saja.”

Rudi melihat jumlah slide. “Ini yang lo sebut penting? Ada tujuh puluh dua slide.”

Hasan yang baru datang menepuk bahu Rudi. “Kalau dia menjelaskan dengan benar, tujuh puluh dua slide masih kurang.”

Rudi memandangnya seperti dikhianati.

Profesor Marwan naik ke podium lebih dulu. Sambutannya singkat, formal, dan hati-hati. Ia menyebut inovasi klinis, tanggung jawab akademik, dan pentingnya berbagi pengetahuan tanpa berlebihan memuji sponsor.

Lalu nama Ardi dipanggil.

“Kami persilakan dr. Ardi Pratama.”

Tepuk tangan terdengar.

Tidak semua tulus.

Ardi berjalan ke podium dengan langkah stabil. Ia tidak memakai jas mahal. Hanya kemeja putih, jas dokter bersih, dan ID card UNAIR sementara di dada. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyapu aula seperti menilai ruang operasi.

Ia melihat Agung.

Melihat perantara Surya.

Melihat dokter-dokter yang memegang catatan pertanyaan.

Lalu ia menatap layar.

“Selamat pagi. Hari ini saya tidak akan menjual keajaiban.”

Aula langsung hening.

“Saya akan membahas sebuah kegagalan yang hampir terjadi di meja operasi, dan bagaimana kita mencegahnya menjadi kematian.”

Slide kedua muncul: CT angiografi Pak Gunawan.

Tidak ada animasi berlebihan. Tidak ada kata motivasi. Hanya gambar aorta yang retak, tekanan, risiko, dan pilihan teknis yang sempit.

Dalam sepuluh menit pertama, wajah beberapa peserta masih kaku. Mereka menunggu celah.

Dalam dua puluh menit, tangan yang memegang catatan mulai turun.

Dalam tiga puluh menit, ponsel yang tadinya siap merekam kesalahan mulai merekam layar.

Ardi menjelaskan Teknik Sandwich standar, lalu menunjukkan titik bahayanya pada dinding aorta rapuh. Ia tidak berkata, “Saya lebih hebat.” Ia menunjukkan arah aliran. Menunjukkan sudut jahitan. Menunjukkan mengapa tarikan lurus bisa merobek jaringan. Menunjukkan bagaimana tumpang ganda mengikuti vektor aliran mengurangi turbulensi.

Setiap konsep berat ia pecah menjadi gerakan.

Setiap istilah besar ia kembalikan ke pertanyaan sederhana: jika darah mengalir ke sini, tekanan akan memukul bagian mana?

Di layar, animasi sederhana memperlihatkan aliran darah berubah dari liar menjadi lebih terkendali setelah modifikasi jahitan.

Seorang dokter anestesi di baris depan tanpa sadar mengangguk.

Dokter radiologi di sisi kanan mengambil foto slide.

Salah satu “penanya” Agung menatap catatannya, lalu mencoret pertanyaan pertama.

Hasan duduk di baris kedua. Ia pernah melihat Ardi melakukannya di meja operasi, tetapi mendengar Ardi menjelaskan logika di baliknya membuat punggungnya meremang.

Ia berbisik kepada dokter di sebelahnya, “Ini lebih mengejutkan daripada saat saya melihatnya langsung di meja operasi.”

Dokter itu menatap layar tanpa berkedip. “Kalau ini benar-benar bisa diajarkan, ini bukan hanya skill pribadi.”

“Itu poinnya,” jawab Hasan.

Di sisi kiri aula, wajah Agung mulai mengeras.

Perantara Surya menunduk ke ponsel, mengetik pesan pendek.

Bos, sejauh ini dia lancar.

Balasan datang cepat.

Tunggu Q&A.

Agung juga menunggu Q&A.

Ia sudah menyiapkan tiga dokter untuk menyerang.

Namun saat sesi tanya jawab dibuka, dokter pertama yang berdiri bukan orang Agung.

Seorang spesialis bedah vaskular dari rumah sakit swasta mengangkat tangan dengan wajah serius.

“Dokter Ardi, bisa ulangi bagian sudut jahitan terhadap aliran cabang brachiocephalic? Saya ingin memastikan saya tidak salah memahami.”

Ardi mengangguk dan membuka kembali slide.

Pertanyaan kedua datang dari anestesi.

“Bagaimana Anda menentukan batas tekanan saat reperfusi bertahap?”

Pertanyaan ketiga dari radiologi.

“Apakah pola CT tertentu bisa membantu kita memilih pasien yang cocok untuk modifikasi ini?”

Dalam lima menit, Q&A berubah bukan menjadi pengadilan, tetapi menjadi kelas lanjutan.

Dokter yang disiapkan Agung akhirnya berdiri, mencoba masuk.

“Dokter Ardi, bukankah ini terlalu berbahaya untuk diajarkan kepada dokter umum? Anda bisa membuat orang meniru tanpa pengalaman.”

Beberapa kepala menoleh.

Agung sedikit tersenyum.

Ardi tidak tersinggung.

“Pertanyaan bagus,” katanya. “Karena itu sejak awal saya tidak menyebut ini teknik untuk semua orang. Saya menyebutnya sistem berpikir. Dokter umum tidak perlu melakukan anastomosis aorta. Tetapi mereka perlu tahu kapan pasien harus dirujuk sebelum terlambat. Residen perlu tahu alasan di balik tiap langkah. Spesialis perlu tahu batasnya. Ilmu yang tidak diberi batas memang berbahaya. Tapi ilmu yang disembunyikan lebih berbahaya.”

Aula hening.

Lalu tepuk tangan pertama terdengar dari baris belakang.

Disusul baris tengah.

Disusul depan.

Agung tidak bertepuk tangan.

Panel biru muncul di depan mata Ardi, tepat saat tepuk tangan memenuhi aula.

+--------------------------------------------+

Sistem Warisan Aktif!

Pengajaran terdeteksi.

Tingkat kesulitan: 2000

Jumlah penerima manfaat: 213

Estimasi PM: 2.200 PM

Total PM setelah pengajaran:

910 + 2.200 \= 3.110 PM

+--------------------------------------------+

Ardi menatap angka itu.

3110 PM.

Untuk sebuah kuliah yang seharusnya menjadi perangkap.

Di dadanya, tidak ada tawa keras. Hanya satu kalimat dingin yang lewat seperti pisau bersih.

Terima kasih atas hadiah ini, Surya Pradana.

Acara berakhir lebih lambat dari jadwal. Bukan karena kacau, tetapi karena peserta tidak mau berhenti bertanya. Beberapa dokter senior meminta salinan slide. Residen meminta izin merekam bagian ulang. Bahkan dua dokter estetika mendekati Ardi untuk bertanya tentang prinsip jahitan rendah tegangan yang bisa diterapkan pada rekonstruksi wajah.

Nama Ardi tidak lagi beredar sebagai mantan narapidana yang kebetulan bangkit.

Hari itu, namanya bergerak sebagai dokter yang bisa membuat hal rumit menjadi ilmu yang bisa dipelajari.

Agung berdiri di dekat pintu dengan wajah gelap.

Perantara Surya menatap ponselnya, lalu mengetik:

Bos, rencananya gagal.

Beberapa detik kemudian, balasan Surya masuk.

Jangan biarkan dia mendapat panggung berikutnya.

Di ruang tunggu pembicara, Ardi baru saja duduk ketika ponselnya bergetar.

Email dari The Lancet.

Hasan yang berada di sampingnya ikut menegang.

Ardi membuka pesan itu.

Kalimat pertama membuat ruangan terasa berhenti.

Your manuscript has passed peer review. We are pleased to accept it for publication, pending final production edits.

Di bawahnya, nama Editor Camby tertulis jelas, disertai permintaan untuk komunikasi lanjutan.

Hasan menutup mulutnya dengan tangan.

Rudi membaca dari belakang bahu Ardi, lalu hampir berteriak. “Di... ini artinya diterima?”

Ardi mengangguk pelan.

“Lancet menerima paper kita.”

Sebelum kalimat itu benar-benar selesai, panggilan video dari Profesor Sri Mulyani masuk.

Ardi mengangkat.

Wajah Sri Mulyani tampak lebih hangat dari biasanya, tetapi matanya tetap tajam.

“Ardi,” katanya, kali ini tanpa Dokter di depan namanya. “Lancet menerima tulisanmu. Selamat.”

“Terima kasih, Bu Profesor.”

“Saya punya satu usul. Bulan depan, Jakarta mengadakan konferensi nasional bedah jantung. Kamu datang sebagai pembicara utama untuk sesi inovasi klinis.”

Ardi belum sempat menjawab.

Sri Mulyani melanjutkan, “Dan jika data Bronkosol sudah cukup rapi, itu adalah panggung terbaik untuk menyampaikan sinyal keamanan obat secara bertanggung jawab. Bukan lewat gosip. Bukan lewat media liar. Lewat forum ilmiah.”

Panel sistem berkedip di sudut pandang Ardi.

[Misi Berantai — Tahap 3/5 siap dimulai.]

[Panggung internasional/nasional tingkat tinggi teridentifikasi.]

Ardi menatap layar.

Di belakangnya, tepuk tangan aula masih terdengar samar.

Perangkap Surya baru saja memberinya 2200 PM, Lancet, dan jalan menuju Jakarta.

“Saya akan datang, Bu Profesor,” kata Ardi.

Di dalam hatinya, satu pintu lagi terbuka.

Kali ini, pintu itu mengarah langsung ke jantung Surya Perkasa Group.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!