Sisilia Maharani awalnya adalah seorang gadis yang cantik, ceria dan baik hatinya. Walaupun Sisilia anak tunggal tapi tidak membuat dia jadi manja.
Setahun lalu Sisilia baru ditinggal mamanya karena sakit. Inilah titik awal kesengsaraan dalam kehidupannya dimulai. Keluarga yg dulunya cukup harmonis mulai terganggu dengan adanya perempuan laen dalam kehidupan papanya. Satu per satu masalah mulai timbul dalam hidup Sisil, baik masalah pribadi dengan pacarnya, Handoko juga masalah dengan papanya.
Bagaimana dengan pacarnya yg bernama Handoko?
Apakah Handoko seorang laki-laki yg bertanggungjawab dan bisa diharapkan?
Apakah papanya Sisilia akan menikah lagi? Bagaimana nanti dengan mama tirinya?
Akankah Sisil menemukan kebahagiaan?
Yuukk kita ikuti saja kisahnya yaa.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Dhenok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Ditembak Johan
Di pagi hari Sisil membuka matanya dengan berat, dikarenakan menangis hampir semalaman. Menjelang hampir pagi dia baru bisa tidur.
Sisil dengan mata masih mengantuk bangun dan seperti biasa menggerakkan badannya dulu. Kemudian dia keluar kamar untuk mandi, bersiap-siap pergi ke kantor.
Tanpa sarapan pagi terlebih dahulu, Sisil langsung berangkat ke kantor. Matanya masih terlihat bengkak. Hatinya masih sedih.
Kesibukan paginya di kantor membuat Sisil sedikit melupakan kesedihannya.
Siang ini Mbak Yani mengajak Sisil untuk ikut makan siang dengan nasabah nya. Sisil menyetujuinya.
Mereka berdua meluncur ke tempat restauran yang sudah ditentukan dengan mobil kantor. Setelah sampai mereka berdua langsung menuju meja yang telah di reservasi dan tampak seseorang sudah menunggu mereka.
"Siang pak Johan.....maaf sudah menunggu kami. " ucap Mbak Yani sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Diikuti juga oleh Sisil.
"Oiya....ini Sisil. Saya mengajaknya. Gapapa kan pak? " tanya Mbak Yani seraya mengenalkan Sisil.
"Ohh gapapa mbak! " Johan tersenyum dan mempersilakan mereka berdua duduk.
"Justru saya senang mbak... " ucap Johan dalam hatinya.
Mereka bertiga berbincang sambil memesan makanan. Sambil menunggu makanan, mereka melanjutkan obrolan.
"Panggil saya nama aja, gak usah pake sebutan pak. Keliatannya saya jadi tua bener... " Johan terkekeh. Mbak Yani tersenyum.
"Iya kak Johan. " Sisil menjawab pelan tapi di telinga Johan terdengar merdu. Hatinya berbunga-bunga mendengar panggilan Sisil terhadap dirinya.
Johan melirik gadis yang disamping nya ini, Sisil terlihat agak sedikit lesu. Matanya masih terlihat sedikit bengkak. Semua tak luput dari penglihatan Johan.
Setelah agak lama menunggu, makanan yang dipesan akhir nya datang.
"Silakan di makan... " ucap Johan sopan. Mereka bertiga makan sambil sesekali ada pembicaraan sedikit.
"Johan sudah punya pacar atau mungkin mau menikah? " mbak Yani bertanya sambil menikmati makanannya. Mbak Yani seperti biasa jiwa keponya timbul, dia penasaran sebab Johan ada ambil kredit rumah yang harganya jauh diatas rata-rata.
"Uhuukk... " Johan tersedak dengar pertanyaan mbak Yani yang langsung terucap.
"Ohh...maaf Johan! Saya cuma ingin tau aja, gak ada maksud apa-apa! " mbak Yani langsung menyambung begitu melihat Johan sedikit kaget.
"Gapapa mbak.... itu hanya invest buat masa depan! " ucap Johan tersenyum
"Belum punya pacar ya Johan? Kamu kebanyakan milih-milih! Orang ganteng begini masa gak ada satupun yang nyantol! " mbak Yani memandang Johan sekilas. Dilihatnya Johan sedang memperhatikan Sisil. Timbul isengnya.
"Sisil juga belum punya pacar nih Johan! " mbak Yani tersenyum.
"Masa? " Johan memasang tampang pura-pura gak tau. Sedangkan Sisil merasa tidak enak hati menjadi topik pembicaraan.
"Saya memang lagi cari pacar..... tepatnya cari istri kali yaa... " Johan tertawa. Di sela-sela tawanya, masih sempat dia melirik Sisil yang wajahnya merona.
"Tapi gak ada yang mau sama saya mbak Yani! " Johan pura-pura mengeluh ke mbak Yani.
Mbak Yani yang terpancing langsung berkomentar.
"Masa sih orang ganteng gini, sudah mapan.... apalagi coba?... "
"Iya bener mbak! Cari yang bener2 cantik luar dalam tuh susah Mbak Yani!! Kalo cuma asal nyari atau sekedar pacaran doang mah banyak. Tapi saya gak minat! " ujar Johan dengan mimik yang dipasang serius.
"Iyaa bener sih. Jaman sekarang memang harus hati-hati memilih cewek! " sahut mbak Yani mengiyakan omongan Johan.
"Kalo Sisil mau dan tidak keberatan....boleh kok jadi pacar saya, sekaligus istri nantinya! " Johan bergurau, kemudian terkekeh. Dilihatnya Sisil salah tingkah dengan wajah yang sudah merona kaya kepiting rebus.
Sisil merasa panas wajahnya. Dia merasa malu. Mendengar omongan Johan membuat jantungnya sedikit berdebar. Secara tidak langsung Johan mengutarakan isi hatinya. Walaupun Johan menyampaikannya dengan bergurau tapi tetap hal ini membuat Sisil tidak nyaman.
"Hayoo neng Sisil....bagaimana permintaan Johan di terima gak? " goda mbak Yani sambil tertawa.
"Hayoo jawab dong..... " ucap Johan dalam hatinya berharap Sisil menerima. Dia sengaja bergurau sambil mengutarakan isi hatinya.
"Aahh kak Johan bisa aja bergurau nya! ....mana mungkinlah saya jadi pacar kak Johan, mbak Yani! " Sisil berkata pelan karena malu.
"Lho? Kenapa gak sayang? " mbak Yani menyemangati Sisil yang terlihat gamang.
"Maaf kak Johan, rasanya Sisil gak pantas buat kakak! " ucap Sisil sendu tapi bibirnya tersungging senyuman.
Mbak Yani tersenyum. Dia tau, ada kemungkinan Sisil menyukai Johan tapi takut untuk melangkah.
"Johan kasih waktu aja buat Sisil.... " akhirnya mbak Yani memutuskan.
"Hahaha.....kenapa jadi tegang sih? Nyantai aja. Saya gak memaksa Sisil kok! Kalau Sisil menerima saya, saya terima apa adanya..... tapi..... "
"Tapi apa? " mbak Yani langsung nyerobot dengan penasarannya.
"Tapi jika belum menerima pun....pintu hati saya masih terbuka lebar khusus buat Sisil! " Johan tertawa renyah. Senang rasanya melihat Sisil yang tambah salah tingkah dan wajah yang sudah benar-benar merah.
"Itu mah intinya sami mawon....hahaha.... " mbak Yani juga tertawa.
Johan sengaja menembak Sisil dengan gurauannya. Siapa tau gayung bersambut. Hahaha....
Sementara Sisil berusaha menyembunyikan wajahnya tapi tidak bisa. Karena salah tingkah dan malu, Sisil pamit pergi ke toilet. Dia berusaha menetralisir debaran jantungnya. Entah kenapa jantung ikut-ikutan pula berdebar.
Johan mengikuti Sisil dengan tatapan matanya. Dia tahu kalau Sisil malu dan salah tingkah. Senang rasanya bisa menggodanya.
"Sepertinya dia lagi sedih... " gumam Johan dalam hatinya.
*
*
Kita tinggalkan dulu mereka bertiga. Sekarang kita beralih ke kantor Pratama Teknologi.
Seorang gadis bertubuh mungil dan berpakaian sexy atau lebih boleh dikatakan minim, memasuki gedung Pratama group. Dan gadis itu memilih receptionis bagian Teknologi.
"Siang.....saya mau ketemu pak Johan! " gadis itu berkata dengan ketus.
"Apa ibu sudah buat janji? " dahi gadis itu mengkerut.
"Belum. Pak Johan kenal siapa saya. " kekeh gadis itu.
"Maaf bu..... Ibu harus buat janji dulu! " reception menegaskan.
"Berbelit banget sih! Sambungin aja ke Pak Johan nya, biar nanti saya yang ngomong! " gadis itu tampak mulai kesal.
"Pak Johan nya gak ada di tempat, Bu. " kembali mbak recepsionis merespon dengan cepat.
"Kamu itu bisa kerja gak sih?! Saya mau ketemu pak Johan!! " gadis itu sudah mulai berteriak. Dengan kesal dan marah, gadis itu langsung bergegas menuju lift. Beberapa satpam yang sudah mendengar keributan itu buru-buru langsung menghalangi jalannya gadis itu.
"Apa-apaan ini?!! Lepaskan!!! " gadis berambut panjang dengan pakaian minim itu berteriak marah sebab satpam langsung memegangi kedua lengannya.
Dari pintu masuk gedung, Danu yang baru balik kantor melihat kejadian tersebut. Dia tau siapa gadis yang telah membuat ulah itu. Kemudian Danu mengirim pesan ke Johan.
"Lagi dimana bro? Ini di kantor lagi ada ulah gadis mau ketemu lu bro!! Cewek pakaian minim dari hotel C bro!! " ketik Danu dalam pesan nya.
*
*
Balik lagi ke restauran dimana Johan dan mbak Yani masih menunggu Sisil. Tiba-tiba terdengar bunyi pesan dari hape Johan. Johan membuka hape dan membacanya. Dia mengerutkan dahinya, terdengar helaan nafas nya.
"Kenapa Han? Ada masalah? " mbak Yani yang peka melihat perubahan dalam raut wajah Johan pun bertanya.
"Iyaa..... sedikit masalah mbak. Apa kalau saya tinggal duluan gak masalah mbak? " Johan tak enak hati meninggalkan restauran lebih dulu.
"Ohh... gapapa Johan. Silakan! " mbak Yani menyuruhnya untuk segera pergi.
"Oke mbak, saya pamit dulu yaa. Sampaikan sama Sisil. Mohon maaf atas ketidaknyamanan nya!! " Johan berdiri dan membungkukkan badan nya sedikit.
" Gapapa Johan. Terimakasih banyak ya! " Mbak Yani mengulurkan tangannya. Mereka bersalaman kembali. Kemudian Johan bergegas menuju mobilnya setelah melunasi semua pembayaran di restauran tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf yaa.... hari sabtu dan minggu kemarin gak bisa upload sebab ada keperluan keluarga yang mendesak.
Jangan lupa teman-teman untuk komentar membangunnya, like, vote/hadiah.
Makasih buat yang sudah memberikan nya.
Luv u all ❤🤗