Maraknya berita rampok akhir-akhir ini mengakibatkan semua orang waswas. Sekarang ayah Alice menyimpan pistol yang telah diisi peluru di dalam kamarnya, dan... itu malah membuat keadaan semakin mengerikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Alice mengendap-endap ke sudut jendela dan mengintip ke dalam. Matahari memantul pada jendela kaca, sehingga ia kesulitan untuk bisa melihat ke dalam. Tapi, ya... Ada orang di dalam rumahnya, katanya dalam hati. Seseorang tengah mondar-mandir di ruang tamu dalam rumahnya. Sesosok bayangan sedang bergerak ke sana ke mari.
Spencer-kah itu?
Apakah dia turun dari kamarnya?
Apakah dia sedang menunggu Alice?
Seorang perampok takkan mondar-mandir, kan?
Tentu saja tidak.
Alice menarik napas dalam-dalam, kemudian memberanikan diri untuk bergegas ke dalam untuk melihat siapa sebenarnya orang itu.
Dan...
"Aaron?" pekik Alice lebih keras daripada yang dimaksudkannya.
Cowok itu membalikkan badan sekaligus karena terkejut oleh teriakan Alice. "Hai," sapanya setengah tergagap.
Alice menghembuskan napasnya sekaligus. "Apa yang kaulakukan di sini?" Ia bertanya dengan perasaan lega. Tapi tak lama kemudian ia kembali teringat bahwa ia masih kesal pada Aaron.
Cowok itu mengenakan T-shirt biru tanpa lengan dan celana baggy model Hawaii.
"Mmmm... Ibumu menyuruhku masuk. Lalu dia pergi berbelanja." Aaron menjelaskan. "Apa kabar?" Ia bertanya.
"Baik-baik saja," sahut Alice ogah-ogahan.
Aaron mengembangkan senyum mautnya. "Aku datang untuk minta maaf," ungkapnya.
"Sungguh?" Alice duduk di punggung sofa kulit dan menyilangkan lengan di depan dadanya. "Sebenarnya kau tak perlu..."
"Tidak," sergah Aaron cepat. "Aku ingin minta maaf. Maksudku... begini, maksudku aku menyesal. Begitulah." Aaron melangkah mendekati Alice.
"Aaron, kau masih belum percaya soal Spencer." Alice menarik-narik bandul perak yang tergantung di lehernya.
"Alice, sudahlah... Jangan mulai soal itu lagi," katanya.
"Tapi jika kau tak percaya," kata Alice. "Jika kau menganggapku sudah gila..."
"Aku tak menganggapmu gila," Aaron membantah. Ia menyelipkan tangannya ke dalam saku celananya. "Dengar," katanya. "Aku punya usul. Bagaimana kalau malam ini kita keluar dan bersenang-senang. Bagaimana menurutmu?"
Alice menatap Aaron dengan ragu-ragu. "Bersenang-senang?" Ia bertanya tak yakin.
"Ya," jawab Aaron. "Kau akan kujemput jam delapan dan kita akan pergi ke Underground Fort."
"Mmmm..." Alice tampak mempertimbangkan.
"Ayolah, Alice," desak Aaron. "Kau selalu mengatakan ingin pergi ke sana."
Alice akhirnya tersenyum dan meluruskan lengannya. Aaron benar-benar berusaha menyenangkannya. Aaron tidak menyukai suasana diskotek yang bising. Ia juga benci hiruk-pikuk. Sebelum ini, Aaron selalu menolak menemani Alice ke Underground Fort. Sekarang ia sendiri yang mengusulkan.
Aaron mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.
"Oke. Asyik!" seru Alice. Kemudian menghambur ke dalam pelukan Aaron dan mencium pipinya. "Kau kumaafkan," katanya.
Aaron tersenyum lebar. "Whoa," katanya setengah tak percaya. "Hatimu ternyata mudah sekali dilunakkan. Apa yang akan kaulakukan kalau aku mentraktirmu makan sekalian?"
"Jangan memandangku begitu," tegur Alice seraya mendelik. "Aku bukan P.E.L.A.C.U.R!"
_
Sebelum menjadi diskotek remaja, Underground Fort adalah gudang perkakas. Dari luar bangunan yang tinggi dan panjang itu masih kelihatan seperti gudang. Namun bayangan tentang mesin-mesin pertanian segera lenyap begitu orang-orang menginjakkan kaki di lantai diskotek berukuran hanggar itu.
Lantainya yang terbuat dari beton kasar kini tertutup linoleum bergaris-garis beraneka warna, merah muda dan hitam, oranye dan hijau pucat, biru laut dan merah tua, semuanya tidak serasi, bertabrakan. Namun ketika deretan panjang lampu warna-warni menyorot dari atas, lantai itu terlihat seakan-akan hidup dan bergoyang bersama para pedisko di atasnya. Gudang itu pun seakan berubah menjadi dunia yang berbeda.
Seluruh dindingnya dicat merah meskipun warna yang sebenarnya jarang terlihat jelas. Langit-langitnya dicat merah. Bar minuman nonalkohol yang memanjang dan semua peralatan lainnya juga berwarna merah.
Speaker-speaker hitam raksasa menjulang dalam jarak yang teratur dari kasau, menggelegarkan dentun musik ke bawah, kemudian lantainya menerima dentuman itu dan memantulkannya kembali ke atas, menjebak semua orang di tengah-tengah ruangan, meliputi mereka dengan musik dan mengikat mereka bagaikan mantera.
"Tempat ini seharusnya diberi nama Big Bang," komentar Aaron seraya mengernyit menahan dengkingan yang memekakkannya.
"Apa?" Alice memegang bahu Aaron seraya mendekatkan dirinya untuk mendengar apa yang dikatakan Aaron di sela-sela dentuman musik.
Sudah hampir satu jam mereka berjingkrak-jingkrak di dalam diskotek itu.
Alice memakai blus ngatung berkilau dengan celena bersepeda Spandex di bawah rok mini berwarna ungu. Gadis itu mulai merasa pusing dan lelah. Ia serasa bergerak dalam aliran deras arus lampu, suara dan manusia. Rasanya lebih baik tidak memikirkan apa pun, bergerak saja sebebas-bebasnya, hampir mirip mesin, mengikuti musik.
Ia sudah hampir tak berpikir soal hantu.
Spencer.
Tapi, di mana dia?
Alice sempat memanggil Spencer di kamarnya setelah makan malam tadi, tapi Spencer tidak menjawab. Tidak ada tanda-tanda kehadirannya, tidak ada hawa dingin, tidak ada bisikan, tidak ada bayangan yang menyeberangi karpet.
"Selama ini aku tak melihat hantu itu." Alice memberitahu Aaron.
"Apa?" Aaron berteriak mengatasi dentuman musik.
Isi kepalanya Alice, mendadak dipenuhi pikiran-pikirannya pagi hari di perpustakaan tadi.
Seketika Aaron menariknya dari lantai dansa, kemudian berjalan ke bar berlampu neon warna merah di sudut ruangan. "Aku mau ambil minuman."
"Aku juga. Coke atau yang lainnya." Alice berjalan membuntuti Aaron.
Mereka berdua tersengal-sengal. Musik berdentam-dentam dari segala arah. Lampu-lampu merah dan hijau bergantian menyinari wajah mereka, membuat keduanya terlihat tidak nyata seperti tokoh-tokoh Helloween.
"Apa katamu tadi?" Aaron masih berteriak supaya bisa didengar.
"Coke atau yang lainnya." Alice menyeka keringat di dahinya dengan tisu yang ia keluarkan dari dalam tas pinggang kecilnya.
"Bukan itu," teriak Aaron lagi. "Sebelum itu." Antrean di bar sangat panjang dan bergerak lambat.
"Kubilang aku tak melihat Spencer seharian ini," Alice balas berteriak.
"Kukira kita takkan membicarakan itu lagi," tukas Aaron tajam.
"Bukan. Maksudku, tidak." Alice menggamit lengan Aaron. "Dengar, Aaron. Sulit untuk tidak memikirkan dia. Dia mengancam akan membunuhku."
"Apa?" Aaron berteriak semakin keras.
"Kau sudah mendengarnya, Aaron." Alice berteriak lebih keras lagi. "Semuanya sudah kuceritakan padamu. Dia mengira aku membunuhnya, dan kalau aku tidak berhasil menemukan pembunuh yang sebenarnya, dia akan..."
"Alice!" Aaron berteriak marah dan melemparkan tangannya ke atas. "Stop... Berhentilah!"
Alice melepaskan lengan Aaron. "Aku tak bisa berhenti. Aku tak bisa mencegahnya karena ini adalah kenyataan. Ini terjadi padaku, Aaron. Dan aku tak bisa berhenti memikirkannya. Kau harus percaya padaku..."
Aaron keluar dari antrean, wajahnya merah, lalu hijau, kemudian merah lagi, kelihatan sangat jengkel. "Tidak," katanya. "Stop. Aku tidak bisa mempercayainya. Pokoknya aku tidak bisa. Kau hanya membuat kacau seluruh malam ini, Alice!"
"Tidak!" Jerit Alice. "Kau yang bikin kacau!"
Alice berbalik dan mulai berlari. Kemudian menabrak pasangan yang sedang berdansa. "Hei... Hati-hati!" Teriak Si Cowok, terkejut.
Tapi Alice berhasil melewati mereka, cepat-cepat menyeberangi lantai dansa yang yang menjadi lautan manusia, yang seolah tak ada ujungnya.
terima kasih banyak, author.