Widhi Maharani menikahi Agung Haryanto, duda beranak dua. Berbagai masalah mulai muncul di awal pernikahan. Mulai masalah ekonomi, masalah orang ketiga sampai dituduh sebagai PELAKOR.
Ternyata mereka tak bisa mempertahankan pernikahan, karena Agung lebih memilih kebahagiaan anak-anaknya dan kembali pada mantan istrinya.
Widhi bertemu lagi dengan mantan pacar pertamanya, tapi percintaan mereka pun terhalang lagi oleh istri mantan pacarnya. Dan Widhi dicap lagi sebagai pelakor.
Akhirnya Widhi menemukan cinta sejatinya dengan seorang teman lamanya. Dan mereka memutuskan menikah hingga memiliki anak dan hidup bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Rient, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 SIAPA PELAKUNYA?
Bapak dan ibu yang berjalan di depan kami, menengok ke belakang, mungkin merasa jarak kami makin jauh. Karena kami berhenti sejenak, terkejut mendengar berita bengkel kebakaran.
"Ada apa kok berhenti?" tanya ibu. Kami masih terdiam terpaku. Bapak dan ibu segera menghampiri kami.
"Ada apa?" tanya bapak. Wajah mas Agung kelihatan sangat tegang.
"Bengkel kebakaran pak" jawab mas Agung lemas.
"Astaghfirullah!" seru ibu tak kalah kagetnya.
"Siapa yang kasih kabar?" tanya bapak.
"Bi Siti" jawab mas Agung singkat.
"Ayo kita segera pulang" ajak bapak. Dan ibu pun segera menggandeng anak-anak biar gak minta mampir-mampir lagi.
Kami berjalan cepat ke arah parkiran. Bahkan mas Agung berlari. Aku berusaha mengejarnya. Karena bawaan mas Agung yang agak banyak, jadi larinya gak terlalu kencang.
Mas Agung segera menstater mobilnya. Kami pun segera naik. Suasana tegang di sepanjang perjalanan. Tak ada yang buka suara.
"Hati-hati mas. Tetap fokus" ucapku yang duduk di belakangnya, sambil mengelus lengan mas Agung untuk menenangkan.
Kebetulan jalanan tak begitu ramai, jadi tak makan waktu terlalu lama, kami sudah sampai di depan rumah.
Terlihat banyak orang berkerumun. Sebagian menolong mematikan api dengan air seadanya. Karena di dalam bengkel banyak terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar, membuat api cepat membesar.
Tak lama datanglah mobil pemadam kebakaran dan mobil patroli polisi. Rupanya ada yang menghubungi kantor pemadam kebakaran. Tapi sayang, mereka datang agak terlambat.
Api semakin membesar. Aku khawatir api merembet kemana-mana. Untung para petugas pemadam sigap. Mereka segera bekerja dengan gesit. Sebentar kemudian api pun padam.
Alhamdulillah tidak merembet ke rumah kami, yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Tapi bengkel dan seisinya ludes terbakar.
Kulihat mas Agung terbengong-bengong, menyaksikan hasil jerih payahnya selama ini ludes di sambar si jago merah.
Polisi dan beberapa petugas pemadam menanyakan kepada warga siapa pemilik bengkel ini. Mas Agung yang mendengar pertanyaan itu maju mendekat.
"Saya pemiliknya pak" jawab mas Agung. Mereka terlibat pembicaraan yang serius.
Sementara aku diam terpaku di tempat. Kenapa cobaan datang lagi? Tanyaku dalam hati. Baru selesai kasus dengan mantan istri mas Agung, datang lagi masalah baru. Ada apa ini?
Ibu mengajak kami masuk ke dalam rumah. Anak-anak kelihatan sangat sedih melihat bengkel ayahnya terbakar. Sementara bapak dan mas Agung masih di interogasi oleh beberapa polisi dan petugas pemadam.
Aku duduk menunggu kabar dari mas Agung di ruang tamu. Sementara ibu mengajak anak-anak masuk ke kamar mereka.
Ingin rasanya menangis. Aku memikirkan bagaimana mas Agung bekerja nantinya, kalau bengkel itu ludes tak tersisa.
Hampir 1 jam aku menunggu dengan cemas. Akhirnya mas Agung juga bapak masuk ke dalam rumah. Aku menunggu penjelasan dari mereka tanpa berani bertanya. Tiba-tiba ibu yang keluar dari kamar anak-anak, bertanya pada bapak.
"Gimana pak?" tanya ibu. Bapak menghela nafas berat sebelum menjelaskan.
"Dugaan sementara korsleting listrik. Tapi menurut Agung tak ada lampu atau peralatan yang nyala. Semua udah dimatikan sebelum bengkel tutup, kecuali lampu depan" jelas bapak.
Sementara mas Agung duduk di sebelahku, dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Aku bingung mesti gimana. Aku hanya bisa membelai paha mas Agung. Aku tau perasaannya pasti sangat hancur.
"Kita tunggu hasil penyelidikan polisi besok pagi bu. Polisi juga udah memasangi garis batas. Ibu sekarang mau pulang apa mau nginap disini?" tanya bapak.
"Kita nginap saja ya pak? Perasaan ibu belum bisa tenang kalau belum tau hasil penyelidikan polisi" jawab ibu.
"Ya udah, sekarang ibu istirahat aja. Bapak disini dulu sebentar" ucap bapak. Dan ibu pun melangkah menuju kamar tamu disebelah kamar anak-anak.
Aku menawari bapak dan mas Agung minum. Dan mereka meminta di buatkan kopi.
Aku pun melangkah ke dapur. Di sana masih ada bi Siti dan bi Wati yang kelihatan ketakutan juga. Kemudian aku minta tolong bi Siti untuk membuatkan dua cangkir kopi.
Aku membawakannya ke depan. Bapak sedang merokok. Begitu juga mas Agung, ikut merokok juga. Tidak biasanya mas Agung merokok. Dan setahuku dia memang bukan perokok.
Aku sendiri juga kurang suka dengan asap rokok. Tapi untuk situasi sekarang ini, aku gak bisa protes. Biar aja, mungkin dengan merokok akan sedikit mengurangi beban fikirannya.
Aku letakan kopi di depan mereka duduk. Dan aku segera duduk di sebelah mas Agung. Walaupun aku gak bisa memberi saran apa-apa, tapi setidaknya aku ingin mendampingi suamiku saat ini.
Ya...dia saat ini sangat membutuhkan support dari kami. Terutama aku sebagai istrinya.
Aku hanya jadi pendengar yang baik saat bapak dan suamiku berbicara serius. Dan aku berharap penyelidikan polisi besok pagi, mendapatkan hasil yang memuaskan tentang penyebab kebakaran itu.
Jam 10 malam bapak pamit untuk istirahat. Aku pun mengajak suamiku untuk masuk ke kamar. Tak lupa aku kunci pintu depan, dan mematikan lampu ruang tamu.
Di kamar pun mas Agung tak banyak bicara. Dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan muka dan melepas pakaiannya. Sementara aku menyiapkan baju ganti, dan berganti baju juga.
"Mas tidur yuk. Istirahat biar besok bisa fit lagi" ajaku setelah mas Agung selesai berganti pakaian. Mas Agung pun menurut dan segera naik ke atas tempat tidur. Aku pun mengikutinya, berbaring di sebelahnya.
Aku memiringkan badanku. Membelai dada bidang suamiku lalu memeluknya. Mas Agung hanya memegangi tanganku yang melingkar di tubuhnya.
Tak lama kamipun terlelap, dengan posisi sama, hingga sekitar jam 3 pagi, aku terbangun. Aku merubah posisi tidurku. Terlentang, karena tanganku terasa kebas. Ku lihat mas Agung juga terjaga, atau belum tidur?
"Mas kok bangun?" tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, tiba-tiba bibir mas Agung menyambar bibirku. Wah serangan fajar ini.
------------------‐---------------------
Adzan subuh berkumandang, dan akupun yang baru saja terlelap lagi, karena serangan fajar tadi, segera bangun. Aku langsung menuju kamar mandi. Keramas.
Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat mas Agung udah terduduk di pinggir ranjang. wajahnya kelihatan sangat suntuk. Kurang tidur dan banyak fikiran pastinya.
"Mandi dulu mas, terus kita berjamaah ya?" ucapku pelan. Mas Agung pun mengangguk dan segera ke kamar mandi.
Selesai sholat, kami keluar dari kamar. Terlihat bapak sudah duduk-duduk di taman samping dengan segelas kopi dan rokok ditangan. Sedangkan ibu membantu bi Siti menyiapkan makan pagi.
Mas Agung berjalan ke arah bapak, sedang aku bergabung di dapur. Lalu aku membuatkan kopi untuk mas Agung dan mengantarkannya.
Selesai makan pagi, karena ini hari minggu, anak-anak langsung nonton tv di ruang tengah. Bapak dan mas Agung ke depan karena ada beberapa petugas kepolisian yang datang.
Aku bertanya-tanya dalam hati tentang penyebab kebakaran itu. Kalau bukan karena korsleting listrik, berarti ada faktor kesengajaan. Kalau karena faktor kesengajaan, lalu siapa yang sengaja melakukannya?