NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Banyak Bet Kejadian Hari Ini... Boleh Istirahat Bentar Gak?!

"Nganu..." ucap Moiro segera ingin memberikan alasan.

"Nganu, nganu. Gak ada alasan!" seru orang di depannya dengan nada kesal—anggep aja dia itu Penagih A, disingkat PA (bukan pe'a).

"Tapi saya—"

Satu tangan dengan jemari rapat tiba-tiba terangkat ke wajah Moiro, membuatnya seketika terdiam.

"Jangan formal. Ntar kami nagihnya jadi gak enak," ucap orang yang memegang gergaji mesin sebelumnya, terdengar sedikit lebih tenang—yang ini anggap aja Penagih B, disingkat PB (bukan game Point Blank).

"Dia keliatan lebih kayak orang baik dibanding yang satunya," pikir Moiro saat menatapnya, meski alisnya sedikit mengerut karena ucapannya dihentikan.

Ia pun menundukkan kepalanya, lalu berucap pelan, "Ya udah. Kalo gitu, aku gak bakal formal sama kalian."

Moiro tiba-tiba terdiam, menyadari bahwa seharunya ia tetap formal agar mereka merasa bersalah saat menagih utang padanya. Itu membuatnya menyesal karena tidak mengambil kesempatan itu.

Iya juga ya?

Moiro kembali tersadar sisi yang lain, "Kayaknya ga masalah juga. Aku jadi lebih mudah ngobrol sama mereka kalo gak formal. Masih ada untungnya."

Ia kembali mengangkat kepalanya, menatap keduanya dengan wajah serius, lalu berkata mantap, "Maaf sebelumnya, tapi aku gak punya duit!"

"Banyak alasan!" sahut PA cepat, hampir memotong ucapannya.

Ekspresi Moiro mendatar, sedikit sebal, "Gini lagi... Dari awal ketemu gini terus dah..."

"Beneran! Aku masih belum gajian buat bayar utang ke kalian," ucapnya berusaha menjelaskan, lalu memberikan saran, "Jadi, kalian bisa pulang dulu dan nanti kukabari kalo udah ada duitnya."

"Enak aja nyuruh-nyuruh!" seru PA lagi, "Lau siape, Mpruy?!"

"Perasaan tadi gak ada nyuruh, etdah!" balas Moiro nyaring spontan.

Ia segera menutup mulutnya yang keceplosan membalas dengan nada nyaring pada mereka.

"Oh, dah berani ngelawan ya...?" tanya PA sedikit mendekat. Di wajahnya mulai bermunculan urat halus dan hawa panas karena marah.

PA menunjuk ke arah hidung Moiro, "Asal kau tau, kami gak bisa asal pulang kalo gak bawa apa-apa! Apalagi tanpa alasan yang jelas!"

Moiro mendorong menjauhkan tangan pria itu dari hidungnya, lalu balas menatap serius—berkeringat dingin, "T-Terus kau mau apa?"

"Ayo kita duel!"

Dahlah, dia punya gergaji mesin. Selamat tinggal, Moiro. Tamatlah sudah alkisah tadi... Terime kaseh, dan jumpe lagi...

PB di sampingnya tiba-tiba berucap sedikit lebih nyaring, terkejut, "Kenapa kau tiba-tiba ngajak duel?"

Oh, masih lanjut ternyata. Hehe.

Saat itu, Moiro diam sejenak, memikirkan ucapan PA yang baru saja keluar dengan serius.

Merasa harga dirinya dipertaruhkan di sana, ia pun menerima tantangan itu, "Baiklah. Ayo kita duel!"

PB membelalak, "Malah diterima!"

Kuliat si PB ini berpotensi menggantikan tugasku. Tidak akan kubiarkan!

PA tersenyum lebar lalu kembali berucap, "Bagus! Itu baru namanya laki!"

Pria itu berpaling, lalu mengambil sesuatu entah dari mana, "Ayo kita duel..."

Sebuah papan catur keluar dan langsung dihempaskan ke tanah.

"Catur!" lanjut PA.

PB menatap datar rekannya, "Sejak kapan kau bawa catur...?"

Moiro ikut berucap, pelan dan datar, "Kau nyimpen benda itu di mana tadi...?"

"Kalian gak perlu tau," jelas PA tidak jelas, lalu melanjutkan pada Moiro, "Pokoknya, ayo kita berduel! Kalo kau menang, kami akan pergi. Setidaknya kami punya alasan bahwa kami kalah duel."

Moiro menelan ludah, "Kalau aku kalah...?"

PA tersenyum, sudah menunggu pertanyaan itu, "Kau harus bayar hutangnya sekarang!"

"Tapi aku emang lagi gak punya uang buat bayar!" sahut Moiro cepat, kembali memberitahu meski sedikit kesal, "Cuma ada buat seminggu kedepan!"

"Cih!" decak PA, "Kalo gitu, ganti aja hukumannya."

Satu tangannya diayunkan hingga mengarah pada Moiro, seolah menantang, "Kalau kau kalah, kami akan nginep di sini!"

"NGAPA TIBA-TIBA NGINEP?!" seru PB kaget.

"HARUSNYA AKU YANG NANYA GITU!" sahut Moiro yang gak kalah kagetnya.

KALIAN JANGAN NGAMBIL JATAH TERIAKKU!

.........

Setelah tau lasan mereka mau nginep biar gak kena ocehan bos, Moiro pun memakluminya.

Dan kini, mereka sedang dalam duel catur antara Moiro dan dua penagih utang.

"Ini bukan duel gak sih?!" serunya sebal dalam hati karena melawan dua orang dalam permainan catur.

Beberapa langkah catur kemudian...

Tau-tau Moiro malah menang.

Alamak! Jago juga ternyata!

Mereka semua terdiam, tidak percaya melihat remaja rambut pink itu malah menang meski sendirian.

PB sempat berucap dalam hatinya, "Ni anak ternyata cukup beruntung... Gak sih, rekanku aja yang kayak bot."

Moiro mengeraskan rahangnya tidak percaya, lalu tersenyum lebar karena merasa bangga. Ia segera mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak penuh kemenangan, "YEAAAAAHH!"

"SIAAAAALL!" teriak PA yang menggebrak tanah dengan kedua tangannya.

"JANGAN BERISIIIIIKK!" seru tetangga di sebelah.

Ketiganya sontak menoleh dan terdiam membisu.

...***...

Setelah masalah itu selesai—dua penagih utang itu kembali—Moiro akhirnya memutuskan untuk menjual barang-barang tidak terpakai di dalam rumahnya. Ia juga berniat untuk meminta bantuan tetangganya.

Saat matanya menatap ke arah rumah di sebelah, ia menjadi ragu—sedikit berkeringat, "Gimana, ya... Tadi dia keliatan marah pas kami ribut di halaman..."

Setelah merenungkan sejenak dan tidak ingin berurusan lagi dengan penagih utang itu—takut di pertemuan selanjutnya mereka malah membawa ekskavator—Moiro akhirnya memberanikan diri meminta bantuan.

.........

Tetangga menatap ke arahnya dengan ekspresi kesal, menatap Moiro yang meminta bantuannya, "Kau yang tadi berisik kan?"

Moiro segera membungkukkan badannya, kedua tangannya saling bertumpu di depan kakinya, "Maafkan aku..."

Tetangga itu yang melihat Moiro meminta maaf dengan gaya seperti perempuan seketika mengeluarkan ekspresi jijiknya, "Entah kenapa kau keliatan bersikap imut. Bikin jijik."

L-Lah? Hah? Beneran?!

Moiro seolah tersambar petir yang mengagetkan setelah mendengar itu, "Hah? Apa aku keliatan imut? Eh?! KENAPA?!"

Ia seketika tersadar saat melihat kedua tangannya yang saling bertumpu di depan kaki yang rapat—padahal seharusnya keduanya tetap lurus di samping kaki, bukan di depan—dan itu membuatnya mulai takut dengan dirinya sendiri, "Jangan bilang ini efek kerja sampingan jadi maid?! YANG BENER AJAAAARGHH!"

Tapi tetangga tidak memedulikan bagaimana cara dia meminta maaf, melainkan ketulusannya, jadi Moiro tetap dimaafkan dan dia akan membantu mengurusnya.

...***...

Setelah dijual, ternyata Moiro mendapatkan uang yang lumayan untuk melunasi sebagian hutangnya.

"Hhh... Harusnya ini kulakukan dari dulu," ucapnya setelah menjual barang-barang tak terpakainya, dan kini berada di depan rumah.

Moiro kembali masuk ke rumah. Ia menatap tanggal dan menemukan besok masih libur akhir pekan, tapi ia ingat kalau tempat kerjanya akan tetap beroperasi.

Ia menghela napas, mengingat hal apa saja yang akan terjadi saat ia kembali bekerja.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi, dan sebuah pesan dari kontak tak dikenal muncul di layar ponselnya.

Moiro merasa ragu saat menatap kontak itu. Matanya mengerjap sesekali, sebelum akhirnya ia menghela napas dan membalas pesannya.

...——————————...

(Nomor Tidak Dikenal): aktif

Halo Asahi, besok kamu pergi kerja, kan?

Ada yang ingin kusampaikan padamu.

^^^Maaf, ini siapa, ya?^^^

Saya bos kafe tempatmu bekerja.

^^^Begitu, ya?^^^

^^^Bos dapat nomor saya dari siapa?^^^

Dari Suzuki.

Katanya, adiknya punya nomor kontakmu, jadi kuminta.

Oh, iya. Untuk besok, kamu bisa datang pagi? Soalnya akan ada persiapan dan saya harap kamu bisa bantu-bantu.

Sekalian saya ingin memberitahu tentang event untuk kafe maid. Kamu tidak keberatan, kan?

Nanti saya kasih bonus.

^^^Baiklah kalau begitu.^^^

^^^Saya akan membantu dengan senang hati.^^^

...——————————...

Moiro pun berbaring di atas kasurnya. Jam baru menunjukkan pukul lima sore.

"Pagi, ya...?" gumam Moiro pelan, mengucap pesan yang dikirim oleh bosnya.

"Kalau ada bonus, aku tidak keberatan," lanjutnya.

Kalo itu mah udah pasti.

Moiro menghela napasnya, masih memikirkan tentang hari esok. Event kafe, sesuatu yang ingin dibicarakan oleh bos, dan hal lainnya yang belum ia tau.

Meski dirinya masih takut dengan dampak kerja crossdress yang mulai terasa dalam hidupnya, ia tetap akan bekerja untuk melunasi semua utang orang tuanya.

"Aku harus tidur cepat malam ini."

Dan Moiro pun tidur sebelum nantinya kembali bekerja esok harinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!