NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Awal yang Sebenarnya

Langit di luar udah terang benderang. Matahari pagi masuk lewat celah jendela ruang Kepala Sekolah, menyinari debu yang melayang pelan di udara. Rasanya kayak dunia baru aja dibersihkan dari debu tebal yang menutupinya lama banget.

Polisi udah pergi sama Paman Budi. Kepala Sekolah masih di ruangannya, bikin pernyataan lengkap bareng Pak Budianto. Kita semua berdiri di koridor, diem, napas pelan-pelan mulai lega.

Dimas jalan ke arah kita, tas di pundak, senyumnya ringan banget — kayak beban satu tahun lebih akhirnya lepas dari pundaknya.

"Gue harus ke kantor polisi sebentar lagi," katanya pelan. "Tanda tangan terakhir. Terus mulai masa pembinaan."

"Lo oke?" tanya Farhan. "Bisa kita antar?"

Dimas geleng pelan, senyum lebar dikit. "Gue mau jalan sendiri dulu. Sekali aja. Tanpa takut ketemu siapa-siapa. Tanpa ngerasa semua orang natap salah ke gue." Dia berhenti, natap gue sama Farhan bergantian. "Tapi nanti... kalau gue udah bebas sepenuhnya... boleh gue ikut jalan bareng? Bukan buat ngeganggu. Cuma buat temenan kayak dulu."

"Selalu boleh," jawab gue cepat. "Lo gak pernah jadi orang asing buat kita, Dim."

Farhan maju, tepuk bahu Dimas pelan tapi erat. "Hati-hati ya. Kalau butuh apa-apa — apa pun — kabarin. Lo tau di mana nyari gue."

"Gue tau." Dimas hening sebentar, natap kita berdua sekali lagi, kayak nyimpen pemandangan ini baik-baik. "Bahagia ya. Kalian berdua pantes banget."

Dia melangkah pergi. Punggungnya tegak, langkahnya mantap. Bukan lagi anak yang lari dari kenyataan. Tapi orang yang berani hadapi dan mulai lagi dari nol.

Saat Dimas hilang di tikungan koridor, Bu Sari mendekat pelan. Matanya masih merah, tapi senyumnya tenang.

"Farhan... bolehkah saya bicara sebentar?"

Farhan menoleh, napasnya tertahan dikit. "Tentu, Bu."

Mereka mundur sedikit ke pinggir jendela, berdua aja. Gue nunggu agak jauh, kasih ruang. Gak kedengaran apa yang diomongin, tapi gue lihat Farhan mulai turunkan tembok di wajahnya. Bahunya turun, matanya basah, dan akhirnya... dia peluk ibunya pelan. Bu Sari memeluknya erat, seakan takut ditinggal lagi.

Gue senyum sendiri, mata panas. Bapak sama Ibu yang merawat Farhan berdiri di ujung lorong, natap mereka diam-diam. Wajahnya sedih tapi lega.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Farhan jalan balik ke arah gue. Matanya bengkak, tapi senyumnya paling tulus yang pernah gue lihat.

"Lo oke?" tanya gue pelan.

"Oke." Dia tarik napas panjang, buang pelan-pelan. "Rasanya aneh. Punya Ibu lagi. Tapi bukan kehilangan Bapak sama Ibu yang selama ini ngerawat gue. Justru... nambah. Gue punya dua Ibu. Dua orang yang sayang sama gue, walau caranya beda."

"Itu hal indah banget, Han." Gue pegang tangannya pelan. "Bukan pengganti. Tapi tambahan. Cerita yang lebih lengkap."

Dia angguk, genggam tangan gue erat. "Bu Sari mau tetap di sini. Mau mulai hidup baru. Katanya mau kenal gue pelan-pelan. Gak minta langsung semuanya."

"Bagus banget. Semua butuh waktu."

"Dan Bapak sama Ibu..." Dia senyum kecil. "Mereka bilang maaf. Dan bilang... Farhan tetap nama yang mereka pilih. Raka nama ayahnya. Tapi gue bisa jadi keduanya. Gue bebas milih siapa yang gue mau jadi."

"Lo gak harus milih salah satu," kata gue tegas. "Lo bisa jadi keduanya. Satu orang yang utuh."

Dia natap gue lama banget, kayak mau hafal setiap inci wajah gue. "Lo tau gak... kalau dulu gue gak pernah berani bayangin hari kayak gini? Di mana semua rahasia udah keluar, semua orang tau, dan gue masih berdiri di sini. Dan lo di samping gue."

"Gue gak kemana-mana," jawab gue lembut. "Dari awal gue gak pernah mau pergi."

"Yuk jalan?" ajaknya pelan. "Gue mau ajak lo ke satu tempat."

"Ke mana?"

"Nanti lo tau."

Kita jalan keluar sekolah. Udara pagi segar banget, gak ada mendung, gak kelabu. Langit biru bersih, awan putih bergerak pelan. Beberapa anak udah mulai datang — lihat Farhan, ada yang senyum, ada yang melambaikan tangan. Bukan tatap aneh kayak dulu. Tatap hormat.

"Mereka tau?" tanya gue pelan.

"Pak Budianto udah cerita di grup kelas tadi pagi," jawab Farhan. "Secukupnya. Yang penting — nama gue bersih. Dan Dimas juga."

Gue senyum. "Leganya."

Jalan kaki sekitar sepuluh menit dari sekolah, kita sampai di pemakaman umum kecil yang tenang. Di sana, di bawah pohon rindang, ada makam dengan batu nisan sederhana.

Raka Wijaya — Ayah yang selalu baik hati.

Farhan berhenti di depan makam itu, duduk pelan di tepinya. Gue duduk di sebelahnya, diem.

"Pertama kali gue ke sini," katanya pelan, jari menyentuh nisan pelan. "Bu Sari yang bawa gue kemari pagi ini. Bilang... sekarang ayah gue bisa tenang. Karena ceritanya udah bersih."

"Beliau pasti bangga," kata gue lembut. "Anaknya sama kayak beliau — baik, tulus, berani."

Farhan senyum tipis, matanya berkaca-kaca tapi gak jatuh. "Gue janji, Yah. Gue bakal hidup layak. Bukan buat ganti nama lo. Bukan buat ngebuktikan apa-apa ke siapa pun. Tapi karena lo bikin gue. Dan gue mau lo lihat... anak lo bahagia."

Dia diam sebentar, lalu tambah pelan: "Dan gue bakal jaga orang yang gue sayang. Kayak yang lo lakuin dulu."

Dia berdiri, bantu gue berdiri juga. "Makasih udah ikut ke sini. Gue gak berani datang sendirian."

"Gue bakal ikut ke mana pun lo butuh," kata gue. "Ke sini, ke sana, ke tempat baru. Bareng."

Dia genggam tangan gue lagi, kali ini lebih erat, lebih tenang. "Bareng."

Kita jalan pulang lewat jalan yang agak jauh, lewat taman kecil yang bunga-bunganya lagi mekar. Angin berhembus lembut, bawa bau tanah basah dan bunga melati.

"Lo pernah mikir," buka Farhan pelan, "kalau dulu kita gak pernah ketemu di hujan hari itu? Gak ada yang nawarin payung, gak ada yang nunggu di gerbang..."

"Semua bakal beda," potong gue. "Tapi gue yakin... kita bakal ketemu juga. Di tempat lain, di waktu lain. Karena hati gue tau arahnya ke mana."

Dia berhenti sejenak di bawah pohon besar, natap gue dalam-dalam. "Mir... dari dulu sampai sekarang, di antara semua hal yang berubah — nama, keluarga, cerita, rahasia — satu hal yang gak pernah berubah."

"Apa itu?"

"Pilihan gue." Dia mendekat pelan, kasih gue ruang buat mundur kalau mau. "Dari awal sampai sekarang... lo satu-satunya pilihan gue. Bukan karena terpaksa. Bukan karena kasihan. Tapi karena cuma di samping lo... gue ngerasa cukup. Cukup jadi diri sendiri."

Gue mata panas, senyum sampe pipi gak nyaman. "Lo juga pilihan gue, Han. Bukan karena lo sempurna. Tapi karena lo nyata. Dan di dunia yang penuh rahasia ini... lo satu-satunya yang jujur ke gue — walau harus diem lama banget."

Dia senyum lebar, terus peluk gue lembut di tengah jalan setapak taman. Gak peduli siapa yang lewat. Gak peduli apa yang orang bilang. Cuma kita berdua, di pagi yang cerah, di awal cerita yang sebenarnya milik kita.

"Makasih ya, Mir..." bisiknya di telinga gue. "Makasih udah sabar nunggu gue."

"Gue gak nunggu lama," jawab gue pelan di bahunya. "Gue cuma ikut hati gue."

Sore itu, gue duduk di beranda rumah, tulis di buku catatan halaman paling baru:

"Cerita kita bukan soal siapa yang dipilih. Tapi soal siapa yang berani tetap — saat semua orang pergi, saat semua rahasia keluar, saat dunia terasa runtuh. Dan ternyata... jawabannya bukan di antara dua hati. Jawabannya di satu hati yang akhirnya pulang ke rumahnya sendiri."

Tiba-tiba HP bunyi. Pesan dari Farhan:

"Besok pagi gue jemput ya. Bukan buat hadapi masalah. Cuma buat jalan bareng. Sekolah, makan, pulang. Kayak biasa. Tapi kali ini... gak ada yang disembunyikan."

Gue senyum, ketik balas cepat:

"Oke. Gue tunggu. Dan kali ini... gue yang bawa payung."

Pesan masuk lagi cepat banget:

"Gue tetap mau nawarin tumpangan. Sampai kapan pun."

Gue ketawa kecil, masukin HP ke saku. Langit di atas udah mulai jingga di ujungnya, tenang dan damai.

Besok bakal jadi hari biasa. Pelajaran, tugas, bel istirahat, pulang. Sama kayak hari-hari lain.

Tapi rasanya bakal beda.

Karena sekarang kita tau — di balik semua kerumitan, semua kebohongan, semua air mata... ada satu hal yang sederhana dan nyata.

Kita berdua. Saling memilih. Tanpa ragu. Tanpa takut.

Dan di tempat yang dulu penuh badai... sekarang cuma ada angin sepoi-sepoi. Dan harapan yang tumbuh pelan, tapi pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!