Naima, anak ABG yang baru merasakan yang namanya jatuh cinta terhadap lawan jenis. Diam-diam ia mengagumi sosok laki-laki tampan yang terlihat sangat menyayangi keluarganya. Takdir membuat cinta pertamanya itu datang sendiri menghampirinya.
Siapa sangka suatu peristiwa telah membuat Naima berada pada situasi yang tidak terduga. Dia mengalami hal yang tidak seharusnya terjadi dengan lawan jenis. Namun, peristiwa itu telah membuat harapannya terwujud dalam sekejap. Ia dinikahi oleh cinta pertamanya.
Namun, apakah pernikahan itu akan berjalan dengan indah seperti harapan Naima sebelumnya? mampukah Naima bertahan jika mempelai pria sesungguhnya tidak mencintainya?
Seperti apa perjalanan nikah muda Naima?
Ikuti terus kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ney-nNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Bisa Masuk
Seusai makan siang Naima melihat Reynand masuk ke dalam kamar. Reynand terlihat asyik mengobrol di telepon entah dengan siapa. Naima yang merasa letih dan ingin tidur merasa tidak nyaman jika harus tidur di kamarnya sedang ada Reynand di sana.
Akhirnya Naima mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Naima pergi mengendap-endap masuk ke dalam kamar orang tuanya. Di sana ada Mira yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Saat sore menjelang Mira terbangun mendengar adzan ashar berkumandang, ia seketika terkejut mendapati Naima yang tidur di sampingnya.
"Astaghfirullah, kenapa anak ini malah tidur di sini! Di jadikan satu dengan suaminya kok malah ngungsi!" gumam Mira.
Mira pun segera membangunkan Naima dengan mengguncang lengannya, "Nai, bangun, Nai! udah sore lhoh ini, sana buruan balik ke kamar kamu!"
Perlahan-lahan Naima mulai membuka matanya. "Apa sih, Mi?"
"Bangun! udah sore. Sana salat sama mandi dulu!" ujar Mira.
Naima pun menurut dan beranjak bangkit menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamarnya ia tidak mendapati Reynand. Ia pun merasa lega bebas beraktivitas di kamarnya. Ia mulai mengambil baju ganti kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah menyelesaikan mandinya dan hendak ke luar dari kamar mandi ia mendengar ada aktivitas di dalam kamarnya. Sudah pasti itu adalah Reynand yang sudah pulang dari masjid.
Naima seketika ragu untuk membuka pintu, sebab ia lupa tidak membawa kerudung.
"Aduh, aku musti gimana, Nih? mana nggak bawa jilbab tadi!" gumam Naima lirih.
Tok tok tok.
"Nai, cepetan gih mandinya! aku keburu mau pergi, nih!" seru Reynand dari luar.
"Iya!" jawab Naima singkat.
Naima mengumpulkan keberanian untuk keluar dengan ekspresi yang biasa saja. Ia harus bisa berpura-pura percaya diri melangkah melewati Reynand . Akhirnya ia beranikan diri untuk membuka pintu.
Cklek!
Pintu terbuka Naima pun segera berjalan keluar sembari merapal kata-kata motivasi. Ia putuskan untuk tidak melihat ke arah Reynand.
Biasa aja ... biasa aja... biasa aja! ucapnya di dalam hati.
Naima dengan santai melewati Reynand begitu saja. Ia melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri padahal sesungguhnya ia tengah menahan rasa malunya yang luar biasa.
Reynand cukup terkejut dengan tindakan Naima yang sudah berani memperlihatkan auratnya di depannya itu. Reynand sejenak takjub melihat ke arah Naima yang terlihat berbeda. Ia bahkan menoleh mengikuti ke arah Naima pergi.
Naima, terlihat lebih menarik. Rambutnya terikat ke atas hingga menunjukkan lehernya yang jenjang. Aroma tubuhnya selepas mandi menyeruak menggelitik di indera penciuman Reynand.
Sadar Reynand tengah mengawasinya, Naima pun segera mengenakan mukenanya untuk melaksanakan salat.
"Mas Reynand nggak jadi mandi?" tegur Naima.
"Oh iya!" Reynand seketika tersadar lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Naima seketika menghembuskan napas beratnya merasa lega. Karena ia sudah terbebas dari tatapan mata Reynand.
"Huh untung Mas Reynand mau mandi!" gumam Naima seraya mengibaskan jarinya karena merasa gerah.
Seusai salat Naima pergi ke dapur untuk menjumpai miminya yang tengah memasak dengan dibantu mbok Yem. Beliau adalah asisten rumah tangga yang diperkerjakan Mira hingga sore. Beliau akan kembali pulang setelah jam empat atau terkadang jam lima sore.
"Masak apa, Mi?" tanya Naima seraya mendudukkan diri di kursi meja makan.
Jangan ditanya kenapa malah duduk, sebab ketika Naima datang selalu saja masakannya sudah hampir jadi. Sebab Mbok Yem sudah meramu bumbu sejak awal agar bisa pulang lebih awal. Tinggallah Naima bagian mengincipi.
"Nih, Didi kamu dari kemarin request dibuatkan cumi asam manis dan udang goreng tepung!" ujar Mira di sela-sela memasak.
"Seafood semua, ya? wah mas Reynand nggak bisa makan itu, Mi!" ujar Naima.
"Kenapa? Reynand nggak suka sama seafood?" tanya Mira.
"Mas Reynand alergi kalau makan seafood. Kemarin waktu acara peresmian cafe yang baru nggak sengaja makan seafood yang tercampur nih masakan lain, akhirnya kulitnya kemerahan terus gatal-gatal gitu!" tutur Naima.
"Wah kalau gitu musti nambah menu yang lain dong. Di kulkas ada apa ya Mbok?" tanya Mira.
"Hanya ada telur, Bu," jawab mbok Yem.
"Oh, ya udah diceplokin telur aja atau didadar beres 'kan?" ujar Naima.
"Nggak perlu, Mi. Reynand nanti makan malam di luar aja, ini ada janji sama temen buat jenguk teman yang lagi sakit. Paling nanti pulangnya agak maleman," ujar Reynand yang tiba-tiba datang.
"Oh, ya udah kalau begitu hati-hati di jalan ya, Nand!" jawab Mira.
"Iya, Mi. Reynand berangkat sekarang ya. Assalamu'alaikum," ujarnya seraya pamit kepada Mira.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua yang ada di ruangan itu.
"MasyaAllah sopan sekali suami, Mbak Nai. Simbok ikut seneng!" ujar Mbok Yem.
Sedangkan Naima nampak cemberut karena Reynand tidak berpamitan kepadanya. Padahal kan dia yang istrinya. Naima nampak kesal menatap kepergian Reynand.
"Sopan apanya coba, Mbok. Yang istrinya mas Reynand itu Mimi apa aku sih? masa yang dipamitin cuma Mimi doang, akunya enggak!" Naima menimpali sembari memangku wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.
Sedangkan Reynand yang kembali masuk karena hendak mengambil handphonenya yang ketinggalan akhirnya mendengar keluh kesah Naima.
Ia kemudian mendekat ke arah Naima yang sedang duduk. Tanpa aba-aba, tiba-tiba ia mengecup pucuk kepala Naima.
"Aku pergi dulu ya!" ucapnya seraya menjawil dagu Naima.
Kemudian Reynand berlari kecil menaiki tangga menuju kamar mereka untuk mengambil handphonenya yang ketinggalan.
Sedangkan Naima hanya diam terpaku di tempatnya, saat mendapat perlakuan manis dari Reynand. Ia sampai tak bisa berkata apa-apa. Ia merasa bagaikan ditimpa es di atas kepalanya.
"Ciyee ..., yang habis dikecup keningnya. Mukanya langsung merah euy!" goda Mira yang juga melihat perlakuan Reynand kepada Naima barusan.
Naima seketika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya merasa malu pada miminya dan juga mbok Yem yang juga menyaksikan hal itu.
......................
Pukul sembilan malam Reynand belum juga pulang. Naima bolak-balik melihat pada layar handphonenya. Namun tidak ada notifikasi pesan masuk sama sekali dari Reynand. Sedangkan jika ingin mengirimi chat terlebih dahulu Naima merasa gengsi. Akhirnya ia pun memilih untuk kembali fokus belajar sembari menunggu Reynand. Hingga tak terasa Naima tertidur di di atas meja belajarnya karena Reynand tak kunjung datang.
Di tempat lain selepas menjenguk temannya yang sakit Reynand diajak nongkrong di cafe dengan teman-teman yang lain. Hal itu pun membuatnya merasa bebas seolah jiwa mudanya bangkit. Hingga pukul sepuluh malam Reynand baru kembali pulang.
Sesampainya di kediaman Dipa. Rumah terlihat sudah sunyi karena lampu-lampu sudah di matikan dan tersisa lampu remang-remang di beberapa sudut rumah.
Sebab penghuninya sudah pada tidur. Reynand mengetuk beberapa kali namun tidak ada yang datang membukakan pintu. Ia pun tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Reynand sudah mencoba menelepon Naima berharap untuk dibukakan pintu. Namun, rupanya Naima yang baru terlelap dalam tidurnya tidak mendengar bunyi nada dering dari handphonenya yang kemudian mati karena lowbat. Reynand yang tidak punya cara lain untuk masuk pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.
...______Ney-nna______...
ehhh kak Ney sehat ??
semangat kak, selalu ku nanti kelanjutan ceritanya
sehat selalu kak
semangat
tenang nai..mas reynand bakal lbh perhatian ga akan galak dan cuek lagi koq...
ehhh apa yng tertinggal Reynand gak peke pengaman kah atau semburan nya di dalam ??? 🙄🙄🙄🤭🤭🤭