Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Gagal
Darma menghentikan langkahnya begitu sampai di terminal kota Ia teringat setahun yang lalu ia pernah datang ke kota ini berniat untuk masuk ke universitas ternama. Walaupun statusnya saat itu sebagai mahasiswa multimedia. Namun ia masih ingin melanjutkan kuliahnya agar mendapatkan gelar sarjana sehingga ia pun lolos masuk di perguruan tinggi lewat jalur beasiswa di Bandung.
Dengan usaha rental komputer ia pun bisa membiayai kuliahnya sendiri setidaknya bisa meringankan beban kedua orang tuanya.
Darma memasuki angkot jurusan pasar Senen. Orang yang ingin ia temui pertama kali adalah Doni. Sejak Doni menikah ia belum sempat mengucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya dalam mencetak gol.
Bisa - bisanya sahabatnya itu menikah tidak mengundangnya, walaupun sibuk ia akan sempatkan demi sahabatnya itu. Doni adalah sahabat Darma yang masih sering berkomunikasi, senasib sepenanggungan sejak dia tinggal di pesantren karena keduanya sama-sama merantau. Hanya saja Doni tidak lanjut kuliah, dia cepat mendapatkan pekerjaan.
Angkot yang ditumpangi Darma berhenti ketika ada dua orang gadis hendak naik. Mereka masih terlibat percakapan yang serius sambil langsung duduk berhadapan dengan Darma.
"Sela kalau anggaran konsumsinya tidak sesuai lebih baik kita ganti menu. Khawatir banyak mahasiswa yang akan hadir. Tahu sendiri kan banyak dana yang belum masuk terus kita akan tutupi dengan apa?" Gadis itu berbicara menyamping tanpa melihat orang yang berada di hadapannya. Sementara Darma tak berkedip.
"Lebih baik memang seperti itu. Yang penting anggaran dan pengeluarannya kita catat sesuai dengan kebutuhan jangan sampai mereka mengganggap kita ngga amanah"
"Kalau mereka menganggap kita ngga amanah sebaiknya mereka suruh cari yang lain saja, jangan kita, emang kita ga cape apa? apalagi suruh ke pasar segala....mereka sih enak tinggal nyuruh-nyuruh. Nasib...nasib rakyat kecil memang begini kali ya. Huh!" Gadis itu membenarkan posisinya menjadi lurus. Ia terkesiap karena yang di depannya orang yang sangat ia kenal.
"Haduh" Gadis itu gigit bibir lantas tersenyum hambar ke arah Darma.
"Eh ada kak Darma. Mau kemana, kak?"
"Mau ke pasar Senin"
"Oooh kakak mau belanja juga?"Seloroh Sela. Salma menyikut perut Sela.
"ngga belanja kok,Kaka mau jadi tukang parkir di sana" Darma tersenyum. Entah lihat senyum itu rasanya berbeda.
Sejak dulu Darma selalu bersikap dingin kalau bertemu dengan Salma, namun untuk hari ini senyumnya begitu menawan ada rasa humor di sana, senyum itu tulus memancarkan kebahagiaan. Tumben. Biasanya garing.
"Mau ada acara di kampus?"
"Iya kak, seminar untuk umum. Kalau kakak ga keberatan kakak bisa datang. Kebetulan ini ada satu undangan lagi. Kalau mahasiswa dari luar kota harus ada undangan untuk ikut seminar tersebut, semoga Kakak bisa datang besok. Kiri bang! Sel kamu kok diam aja? Kak Darma aku duluan ya!" Sela masih melihat ke arah Darma sedangkan tangan kirinya ditarik Salma untuk turun.
" Iiih Salma lepasin tangan aku!"
"Kamu kenapa, kok berhenti?"
"Kamu kok ngga kenalin aku ke kakak yang tadi?"
"Ga penting, ayo!" Salma menarik kembali tangan Sela untuk memasuki pasar.
Darma menghentikan langkahnya tepat di kontrakan bedengan yang dekat dengan pasar senen. Cukup sepi, namun masih ada aktifitas dari beberapa orang yang tinggal di kontrakan tersebut.
"Assalamualaikum" Darma memberi salam sambil mengetuk pintu. Perempuan cantik berhijab warna coksu membuka pintu lalu tersenyum ketika ia mendapati orang yang tak asing lagi berdiri di hadapannya.
"Kamu Esti, kan? Oh maaf aku salah alamat. Aku cari kontrakan Doni tapi kok.....?" Darma garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ia bingung lantas mengeluarkan ponselnya untuk segera menghubungi Doni.
"Kakak ga salah kok" Esti tersenyum kembali.
"Doni suamiku. Kami memang tinggal di sini, mari masuk, Mas Doni ada di dalam" Darma jelas kaget kalau ternyata Doni menikahi Esti adik kelas sewaktu SMA. Padahal ia tahu mereka bersahabat tanpa ia ketahui ternyata mereka sekarang sudah menikah dan terlihat perut Esti agak membuncit.
Esti menuju dapur menyiapkan teh hangat untuk tamu suaminya. Lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat dan cemilan seadanya. Terlihat dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu saling bercengkrama.
"Lantas kamu mau mengakhiri masa lajangmu itu kapan? Sudah jangan kebanyakan milih. Ngga pengen tah cepat nikah biar ada yang ngurus dan ibadahmu lengkap" Pertanyaan tersebut hanya dijawab dengan senyuman. Tidak hanya Doni yang menanyakan hal itu lantaran mungkin hanya Darma lah yang masih jomblo diantara teman-teman dekatnya. Diumur 26 tahun Darma belum juga menemukan jodohnya, maka hal ini jadi pemikiran juga buat Doni untuk menjembatani perjodohan agar Darma bisa menerima orang yang akan ia ajukan. Namun Doni tidak memberitahukan dengan siapa.
Dreeet
Dreeet
Ponsel Darma tiba-tiba memekik di tengah obrolan hangat mereka. Di sana tertera nama Roni memanggil. Ia mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ya Ron, ada apa?"
"Dar cepat ke kampus! Pacarmu Dewi berantem sama Lela"
"Apa! Berantem?"
"Iya cepetan sini. Mereka adu mulut ingin memperebutkan kamu. Huh kayak ganteng aja, tapi beneran ganteng sih. Udah deh pokoknya kamu harus datang karena yang bisa misahin mereka itu kamu!"
"Ga bisa. Saya ada di luar kota. Lagian biarin aja mereka berantem itu bukan urusanku lagi. Aku sudah putus"
"Hah putus, beneran Dar? Alhamdulillah. Kalau gitu Dewi buatku ya Dar!"
"Ambil" Darma langsung menutup panggilan itu dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Tanpa ia sadari sejak tadi Doni memperhatikan gerak-geriknya.
Selang beberapa menit ponselnya kembali berdering. Ia pun langsung menjawab karena di sana tertera nama Gading sekretaris BEM.
"Ya ada apa Ding?"
" Darma kamu di mana? Aku tuh nyari proposal yang akan ditandatangani rektor, tapi dicari kemana-mana ga ada, kamu lihat ga simpannya di mana? mumpung beliau ada di kampus" Gading terdengar panik, karena memang rektornya jarang ada di kampus sering ada kegiatan di luar kota. Sedangkan proposal yang ia buat hilang begitu saja setelah ditandatangani oleh Darma. Gading berpikir kalau proposal tersebut masih dipegang Darma.
Darma terlihat sibuk membongkar isi tasnya. Dan benar saja proposal itu ada di dalam tasnya Darma. Ia memandang Doni dan proposal secara bergantian.
"Maaf Ding, proposalnya ada sama aku"
"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Ya sudah segera ke kampus ya Dar, mumpung rektor belum pergi lagi rencananya besok lusa beliau akan pergi ke Pontianak menghadiri undangan, assalamualaikum " Gading menutup panggilan
"Eh tunggu.....ya....ya...." Darma gemas sendiri. Kenapa sampai tidak ketahuan kalau proposal itu terbawa. Darma segera memasukan kembali barang-barangnya ke dalam tas.
"Maaf Don, aku harus balik lagi ke Bandung. Ternyata proposal kegiatan bulan bahasa ga sengaja terbawa sementara belum ditandatangani rektor"
" Ya sayang sekali padahal kita belum banyak ngobrol."
" iya lain kali aku ke sini lagi. Nunggu waktu yang tepat yang benar-benar tidak ada kegiatan. Aku juga ingin bertemu kak Adam tapi bagaimana lagi tenagaku pun sangat dibutuhkan di sana. Salam saja buat beliau. Aku pamit ya! Teh Esti aku pamit!" Darma keluar dari kontrakan tersebut diantar oleh Doni menuju terminal menggunakan motor.