Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Sinar matahari pagi menembus celah tirai beludru tebal di kamar tidur utama, menyinari hamparan seprai kusut yang dipenuhi peluh dan sisa-sisa gairah malam panjang.
Percy terbaring lemas di atas tempat tidur, tubuh mungilnya terasa remuk redam seolah baru saja dilindas truk kontainer. Kulit putih porselennya dipenuhi oleh puluhan jejak keunguan dan kemerahan tanda kepemilikan mutlak yang ditinggalkan oleh sang suami. Napasnya masih terdengar terengah-engah pelan, dan untuk menggerakkan jari kelingking saja ia nyaris tidak memiliki tenaga.
Di sampingnya, Hades duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan ekspresi wajah yang tampak sangat segar, kontras dengan kondisi istrinya yang kelelahan. Pria berdarah Yunani-Italia itu mengenakan celana bahan hitam longgar, menatap sang istri dengan sepasang mata kelabu yang memancarkan kepuasan mendalam.
Jemari besar Hades terulur perlahan, merapikan helaian rambut panjang berwarna chesnut brown yang menutupi wajah Percy yang memerah.
"Masih ingin merencanakan pelarian lagi, Ma chérie?" bisik Hades dengan suara bariton yang terdengar begitu lembut, namun mengandung nada mengejek yang manis.
Percy mengerjap lemah, membuang muka sambil merenggut sebal. Bibir kecil ranumnya mengerucut kesal, dan lesung pipinya sama sekali tidak terlihat karena ia terlalu lelah untuk sekadar tersenyum. "Kau... benar-benar monster, Hades..." cicit Percy lirih, suaranya terdengar serak karena terlalu banyak berteriak semalam.
Hades tertawa pelan sebuah suara rendah yang bergetar di dadanya. Ia mendekat, mengecup kening istrinya penuh kasih sayang, lalu menarik selimut kasmir hingga menutupi leher Percy.
"Kau boleh pergi ke mal, salon, spa, dan menemui Tyche hari ini seperti yang kau minta," ujar Hades dengan nada mutlak, memberikan izin setelah memastikan istrinya sudah sepenuhnya "jinak". "Tetapi ingat batasannya. Sopir dan pengawal akan mengawasimu dari jarak dekat. Dan pastikan kau sudah kembali sebelum makan malam, atau aku akan mengulang hukuman semalam."
Mendengar kata 'hukuman', mata amber Percy seketika melebar horor. Ia langsung mengangguk lemah di bawah selimut, tidak berani membantah lagi.
Beberapa jam kemudian, setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan sesi perawatan kilat di kamar mandinya, energi seorang Persephone Sinclair kembali terisi penuh. Sifat 'cegil' dalam dirinya tidak mungkin mati semudah itu hanya karena satu malam penuh siksaan manis dari sang suami.
Di dalam sebuah kafe rooftop eksklusif di Manhattan yang menghadap langsung ke arah Central Park, Percy duduk bersilang kaki di samping Tyche Vance. Di hadapan mereka tersaji cangkir kopi latte hangat dan deretan kantong belanjaan bermerek internasional.
"Astaga, Percy! Wajahmu benar-benar terlihat segar untuk seseorang yang baru saja mengaku hampir tewas di tangan suaminya," ledek Tyche sambil terkekeh renyah, melirik leher tertutup turtleneck tipis yang dikenakan sahabatnya untuk menyembunyikan jejak-jejak dari Hades.
Percy mendengus, menyesap minumannya lalu menyeringai licik. Matanya yang amber memancarkan binar penuh antisipasi. "Simpan tawamu, Tyche. Malam ini adalah panggung kita. Acara amal para konglomerat di Manhattan itu akan dimulai, dan aku mendengar kabar burung bahwa aktris silikon itu Iris Montgomery akan hadir dengan gaun pinjaman paling mahal yang ia miliki."
Tyche menegakkan duduknya, senyuman penuh minat terukir di bibirnya. "Oh? Jadi, apa rencana busukmu untuk meruntuhkan harga diri sang bintang besar malam ini, darling?"
Percy meletakkan cangkirnya perlahan, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Tyche. "Kita tidak akan meneriakinya atau menjambak rambutnya, Tyche. Itu cara murahan. Kita akan membuatnya merasa sekecil debu di hadapan Nyonya Sterling yang sah tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata kemarahan pun."
Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya kemerahan di seluruh penjuru ballroom Hotel Plaza yang megah di Manhattan. Malam itu, para konglomerat elit, investor Wall Street, dan tokoh-tokoh terkemuka berkumpul dalam acara gala amal tahunan yang disponsori oleh yayasan keluarga terpandang. Suara dentingan gelas kristal bercampur dengan alunan musik klasik orkestra mengisi udara, menciptakan atmosfer kemewahan yang begitu pekat.
Di sudut ruangan, Iris Montgomery berdiri tegak dengan gaun malam berpotongan tinggi berwarna emerald green yang memeluk tubuh sempurnanya. Sebagai aktris papan atas yang sedang naik daun, ia tahu persis bagaimana cara menarik perhatian seluruh lensa kamera. Senyuman manis terukir di bibirnya saat ia berbasa-basi dengan beberapa produser film, meskipun matanya terus-menerus menyapu ke sekeliling ruangan mencari sosok Hades Sterling yang dikabarkan akan hadir malam ini. Di dalam kepalanya, Iris sudah merangkai skenario ia akan mendekati sang miliarder, menciptakan momen di depan publik, dan memastikan rumor hubungan mereka semakin mengakar kuat.
Namun, di tengah gelimang sorotan lampu dan bisik-bisik kekaguman, pintu utama ballroom tiba-tiba mendadak hening. Alunan musik orkestra seolah melemah seiring dengan bergesernya perhatian seluruh tamu undangan ke arah pintu masuk.
Dua pengawal berbadan tegap berjas hitam membuka pintu ganda berlapis kayu mahoni secara perlahan. Dari balik ambang pintu, muncullah sesosok wanita berbalut gaun malam berpotongan off-shoulder berwarna merah darah dari lini haute couture Italia, gaun yang memeluk siluet tubuh mungilnya dengan sempurna, kontras dengan kulit putih porselennya yang berkilau di bawah cahaya lampu.
Rambut panjang lurus berwarna chesnut brown tergerai indah di punggungnya, membingkai wajah cantiknya yang dihiasi oleh sepasang mata amber tajam dan dua buah lesung pipi manis yang tercetak tipis di kedua pipinya.
Persephone Sinclair melangkah masuk dengan anggun, berdampingan dengan Tyche Vance yang mengenakan gaun perak berkilau. Meskipun Percy tidak berkecimpung di dunia hiburan, darah bangsawan keluarga Sinclair dari Italia serta statusnya yang mutlak sebagai Nyonya Sterling membuat kehadirannya membawa aura dominasi tersendiri yang langsung membungkam ruangan.
Di belakang mereka, berdiri Dionisos Volkov bersama dua pengawal senior, memastikan tidak ada satu pun orang rendahan yang berani mendekati sang nyonya besar tanpa izin.
Bisik-bisik mulai bergemuruh di antara para tamu elit.
"Siapa wanita itu? Dia tidak terlihat seperti aktris biasa..."
"Itu Nona Sinclair... astaga, kudengar ia adalah pewaris tunggal dinasti bisnis di Milan."
Iris Montgomery, yang berdiri tidak jauh dari jalur masuk, merasakan tenggorokannya tercekat. Ia memperhatikan bagaimana para sosialita papan atas langsung menyingkir dan membungkuk hormat memberi jalan saat Percy melangkah melewati mereka. Kecantikan Percy yang natural, dipadu dengan perhiasan berlian bernilai jutaan dolar yang melingkar di lehernya, membuat Iris merasa bagai replika murahan dalam sekejap.
Didorong oleh rasa iri yang membakar dan ambisi yang sudah di ambang batas kewarasan, Iris memutuskan untuk mengambil langkah gegabah. Ia mengangkat gelas champagne nya, memasang senyuman palsu paling manis, lalu sengaja berjalan memotong arah langkah Percy.
"Oh, pardon me," ucap Iris dengan suara yang sengaja dilembutkan, berdiri tepat di hadapan Percy dan Tyche. "Aku tidak sengaja. Wah, Nona Sinclair, ya? Senang akhirnya bisa melihat langsung sosok di balik desas-desus keluarga bangsawan itu. Kudengar kau sangat suka menghabiskan waktu dengan travelling ke luar negeri, sementara suamimu..." Iris sengaja menggantung kalimatnya, memberikan tatapan penuh arti, "...sibuk mengurus urusan bisnis penting di New York bersamaku."
Suasana di sekitar mereka mendadak membeku. Beberapa tamu undangan terkesiap, menutup mulut mereka dengan sebelah tangan, menyadari bahwa sang aktris tengah terang-terangan mencari perkara dengan wanita yang berdiri di hadapannya.
Tyche Vance langsung menyipitkan mata tajam, hendak melangkah maju untuk mencabik-cabik mulut lancang sang aktris, namun sebuah gerakan tangan halus dari Percy menghentikannya.
Percy berdiri tegak, postur mungilnya sama sekali tidak menciutkan nyalinya di hadapan Iris yang jauh lebih tinggi. Sepasang mata amber Percy menatap lurus ke dalam mata sang aktris dengan senyuman paling manis yang ia miliki lesung pipinya tampak begitu dalam, namun auranya berubah menjadi dingin membeku.
"Kau menghabiskan banyak waktu untuk membaca majalah gosip murahan ya, Nona Montgomery?" suara Percy terdengar tenang, jernih, dan bergeming sempurna di tengah kesunyian ballroom. "Atau mungkin... kau hanya sedang berhalusinasi tingkat tinggi karena suamiku bahkan tidak tahu di belahan dunia mana kau berdiri saat kau memohon-mohon di lobi kantornya?"
Wajah Iris mendadak memerah padam menahan malu dan amarah. "Kau...!"
"Dengar, aktris kecil," potong Percy dengan nada berbisik namun penuh tekanan mutlak yang membuat Iris tertegun di tempat. "Kau bisa menyebar rumor apa pun yang kau inginkan di internet, karena suamiku terlalu sibuk untuk membuang waktu mengurus sampah. Tetapi jika kau berani melewati batas di depanku lagi..." Percy memiringkan kepalanya, senyumannya semakin lebar, "...aku akan pastikan karier aktingmu yang menyedihkan itu hancur berkeping-keping sebelum matahari terbit besok pagi."
Sebelum Iris sempat membalas satu patah kata pun, Percy melewatinya begitu saja dengan langkah anggun bak seorang ratu yang baru saja menyingkirkan debu di ujung gaunnya, meninggalkan sang aktris berdiri terpaku di tengah tatapan tajam dan cemoohan tertahan dari seluruh penjuru ruangan.