Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Antara Ya dan Tidak
Kirana sudah menerima kehadiran Bang Raihan di dalam hidupnya. Kirana akhirnya memutuskan untuk menerimanya sebagai bentuk terima kasihnya pada semesta yang masih begitu baik pada gadis hina sepertinya. Dia terus berusaha memperlakukan Bang Raihan dengan baik, sebisa mungkin menjaga perasaannya walaupun sebenarnya hal itu sangat berat untuk Kirana.
Sejak saat itulah Bang Raihan tidak pernah lagi absen menjemput Kirana. Selepas isya Bang Raihan pasti sudah stand by di cafe bahkan sering kali juga membawakan makan malam untuk Kirana dan kedua sahabatnya. Atau seperti kemarin malam misalnya,, Bang Raihan bilang baru saja naik pangkat dan dia mentraktir Kirana dan teman-temannya sekaligus juga karyawan-karyawannya.
“Dek? Abang mau bicara sama kamu dulu berdua, bisa? Sekalian kita makan malam,” tanya Bang Raihan.
“Harus sekarang Bang?” tanya Kirana yang memang sedang sibuk mengecek isi gudang.
“Nanti saja kalau kamu sudah selesaikan pekerjaanmu,” kata Raihan.
“Maaf ya, sebentar saja. Selesai ngecek gudang aku temui Abang. Abang tunggu saja di depan ya,” kata Kirana.
Lucy dan Ningrum sedang tidak berada di tempat hari ini itulah kenapa Kirana jadi sibuk sejak tadi. Kirana sebisa mungkin meng-cross check semuanya sebelum dia tinggalkan untuk makan bersama dengan Bang Raihan. Kirana memberikan amanah pada Dimas untuk mengawasi dan mengabarinya jika terjadi sesuatu baru dia berani meninggalkan cafe.
“Mau makan di mana kita Bang?” tanya Kirana.
“Kamu maunya makan apa Dek? Abang manut deh,” kata Raihan.
“Abang hari ini sudah makan nasi kan?”
“Belum sih, tadi siang cuma makan pecel. Kenapa tanya begitu?”
“Aku pengen mie ayam Bang,” kata Kirana sambil memainkan jari tangannya.
“Sama-sama tepung Dek, bedanya apa? Bukannya sama saja makan nasi?” kata Raihan.
“Beda dong Bang, tepung di nasi sama tepung di mie tuh beda. Kandungan gizinya beda, di perut juga rasanya beda,” kata Kirana.
“Sama saja Dek. Abang mah perutnya kebal sama segala jenis makanan jadi mau kemanapun dan makanan apapun yang kamu mau Abang jabanin, ya kecuali kalau diminta nyamai level pedasmu sih,” kata Bang Raihan sedikit bergumam di kalimat terakhirnya.
Kirana tertawa, “siapa juga yang minta Abang ngikuti level pedasku.”
“Yaudah kita makan mie ayam ya, kebetulan Abang punya warung mie ayam langganan. Tapi tempatnya di dalam gang kecil gitu, cuma pedagang kaki lima yang buka lapak di depan rumahnya,” kata Bang Raihan.
“Perfect Bang. Malah nggak begitu berisik tempatnya,” kata Kirana.
“Beneran? Perutmu kan sensitif Dek.”
“Asal tempatnya bersih nggak masalah Bang,” kata Kirana.
Kirana dan Raihan kemudian segera menuju ke lokasi. Begitu sampai di sana, Raihan yang memesan. Dia pesan satu porsi jumbo untuknya dan yang porsi normal untuk Kirana. Entah apa yang mau dibicarakan Raihan, tapi laki-laki itu bilang dia baru mau bicara setelah mereka selesai makan. Ketika makan mereka malah sibuk membahas soal kerandoman Bang Adnan yang tiba-tiba mau pakai baju berwarna tosca cerah yang jelas-jelas bukan selera Bang Adnan.
“Kirana…, Abang mau tanya sama kamu,” kata Raihan yang mulai serius.
“Tanyalah Bang,” jawab Kirana.
“Soal hubungan kita, Abang memang berniat untuk menunggu kamu sampai siap menerima Abang tapi kayaknya orang tua Abang nggak siap menunggu selama itu,” kata Bang Raihan sedikit ragu.
“Kalau soal itu Kirana sendiri juga sama. Papa selalu menanyakan kapan Abang akan datang ke rumah, tapi Kirana bingung Kirana ini sudah siap belum menerima Abang,” kata Kirana.
“Apa yang membuatmu ragu Dek? Biar Abang bisa hilangkan keraguan itu dari hatimu,” tanya Bang Raihan.
“Abang tahu kan aku sudah nggak utuh, apa benar Abang mau menerima aku? Dengan kondisiku seperti ini?”
“Astagfirullah Dek, apa Abang masih kurang membuktikan diri kalau Abang tulus sama kamu? Abang tahu dan paham betul sama apa yang pernah terjadi sama kamu. Abang juga kan yang mengusut kasusmu sampai tuntas. Toh itu bukan kesalahanmu Dek, itu musibah.”
“Beneran Abang mau menerima Kirana yang bekas orang lain?”
“Kamu bukan bekas Kirana, kamu itu perempuan, sebuah pribadi, bukan barang. Jangan pernah bilang kamu itu bekas. Bagi Abang kamu itu masih bersih. Justru Abang berpikir, dengan pengalamanmu di masa lalu itu kamu akan mampu jadi ibu yang baik buat anak-anakmu nanti, buat putrimu,” kata Bang Raihan.
“Beneran Bang?”
“Bener Dek, Abang nggak berani bohong sama kamu,” kata Bang Raihan.
Kirana terdiam selama beberapa saat dan memaksa Raihan kembali bicara untuk menghapus keheningan, “Kalau kamu mau menerima Abang, Abang janji tidak akan memaksakan kehendak sama kamu. Masalah hak dan kewajiban suami istri pun Abang hanya akan selalu melibatkanmu dalam semua keputusan,” kata Bang Raihan.
“Kalau begitu, Kirana minta waktu sedikit lagi buat mikir ini ya Bang. 3 hari saja, nanti Kirana akan jawab Abang. Maafkan Kirana Bang,” kata Kirana.
“Jangan terlalu sering minta maaf Kirana, Abang nggak suka. Abang paham kok sama kondisimu,” kata Raihan.
***
Sudah beberapa malam ini Kirana tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan apakah akan menerima Bang Raihan atau bertahan dengan masa lalunya. Jika dia mengiyakan ajakan Bang Raihan untuk menikah, maka Kirana akan menyelamatkan banyak orang. Hubungan keluarganya dan keluarga Bang Raihan tidak akan merenggang. Bang Adnan sendiri juga tidak perlu canggung dengan Bang Raihan. Tapi dia akan mengorbankan seluruh hidupnya hanya untuk satu keputusan ini.
Andai Kirana mengambil langkah untuk menunggu Keenan yang entah berada di mana dan bagaimana kabarnya itu dia akan mengorbankan banyak orang. Bukan hanya Bang Adnan akan semakin terpuruk melihat kondisinya yang tidak mampu lepas dari belenggu masa lalu, tapi juga tentang nasib dirinya sendiri yang entah akan bagaimana kedepannya. Harapannya terlalu kecil untuk bisa bersama lagi dengan Keenan walaupun Kirana sebenarnya masih menyimpan rapi semua tentangnya di dalam hatinya.
“Kirana…, Dek, kamu kok belum bangun sayang?” tanya Mama yang terus mengetuk pintu kamar Kirana.
“Dek Kirana?” panggil Mama lagi.
“Ada apa Ma?”
“Eh Abang, maaf Mama jadi bangunin kamu. Ini lho adikmu kok sudah hampir jam 9 belum bangun juga. Nggak sholat subuh, nggak sarapan juga. Mama takut ada apa-apa. Beberapa hari ini adikmu diem aja, bahkan Mama merasa Kirana menghindari Papa dan Mama,” kata Mama.
“Kirana? Dek ini Abang,” kata Adnan ikut memanggil-manggil Kirana.
Karena beberapa kali mengetuk tidak mendapatkan respon apa-apa, Adnan terpaksa mendobrak kamar adiknya. Dia tidak peduli pada pintu itu, yang dia pedulikan adalah kondisi adiknya. Begitu dia dan Mama masuk, mereka menemukan Kirana tertidur dengan tenang di atas tempat tidurnya tapi seluruh badannya diselimuti keringat dingin.
“Ya Allah badanmu panas banget sayang,” kata Mama.
“Ma, kita bawa Kirana ke rumah sakit ya,” kata Adnan.
Begitu mendengar kata rumah sakit, Kirana menolak. Dia dengan secepat kilat menahan tangan Mama dan memohon agar dirinya tidak dibawa ke rumah sakit. Dia benci bau etanol, dia benci ada jarum yang menembus kulitnya, dia juga benci dengan semua hal yang berkaitan dengan rumah sakit.
“Nggak papa Mama yang temani, mau ya? Janji hanya diperiksa saja nggak sampai menginap di rumah sakit,” kata Mama.
“Mama bilang gitu di rumah juga kalau dokter minta Kirana nginap Mama akan iya iya aja. Kirana nggak mau Ma, pokoknya Kirana nggak mau,” kata Kirana.
“Dari kapan coba kamu sakit kaya gini Dek, astaga. Kenapa kamu nggak bilang sih. Kan Abang sudah pernah bilang, kalau ada apa-apa cerita,” kata Adnan sedikit memarahi adiknya.
“Abang jangan marah dong, kepalaku jadi makin pening,” kata Kirana nyaris menangis.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor