"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Lapangan basket SMA Bintang dipenuhi sorak sorai penonton yang tak henti-hentinya bersorak mendukung tim kesayangan mereka.
Di tengah kerumunan itu, Luis berdiri tegap sebagai kapten, wajahnya tajam dan penuh fokus.
Setiap kali bola meluncur dari tangannya, seolah ada energi berbeda yang mengalir, membuat bola hampir selalu melesat tepat ke ring lawan.
Beberapa kali, Luis mencetak poin penting yang membangkitkan semangat teman-temannya dan mengacaukan strategi SMA Garuda.
Babak pertama berjalan sengit, namun dominasi SMA Bintang tak terbantahkan.
Skor akhir babak pertama menunjukkan keunggulan tipis mereka.
Di pinggir lapangan, Aron mendekati Luis dengan ekspresi sedikit heran.
"Bukankah Emma pacarmu yang sekarang masih dirawat di rumah sakit? Kenapa kamu bisa begitu bersemangat hari ini?" tanyanya dengan nada rendah.
Luis hanya membalas dengan senyum tipis, matanya yang biasanya penuh beban kini berkilau berbeda.
Dalam hatinya, bukan Emma yang memberi semangat itu, melainkan Laura.
Ingatan tentang malam sebelumnya, saat Laura dengan penuh gairah menghapus penat dan kekalutan hatinya, membuat Luis merasa seperti terlahir kembali.
Semangatnya menggebu, tak lagi terbebani oleh kesedihan, melainkan oleh hasrat dan harapan baru yang menyala dalam dirinya.
Hal yang berbeda di tunjukan oleh Nigel, pria itu malah nampak lesu.
Ia teringat akan Laura, ntah bagaimana nasib gadis itu sekarang?
Di lapangan basket mewah SMA Bintang yang berkilauan di bawah sinar matahari, Nigel duduk termenung di bangku pemain cadangan.
Tatapannya kosong, wajahnya yang biasanya penuh semangat kini terlihat lesu dan hampir tanpa gairah.
Suara riuh penonton dan dentuman bola yang memantul di lantai kayu seolah tak mampu membangkitkan semangatnya.
Babak pertama berakhir dengan kekalahan telak tim SMA Garuda, membuat beban di pundak Nigel terasa semakin berat.
Tiba-tiba, sebuah siluet familiar muncul di pinggir lapangan.
Laura melangkah pelan, menenteng sebuah tas kecil berisi bekal makan siang.
Tongkat yang menopang langkahnya berderit halus setiap kali menyentuh lantai, menambah kesan rapuh namun tegar pada sosoknya.
Ketika ia mendekat, raut wajah Nigel yang semula kusut mulai berubah.
Matanya membelalak, seolah menemukan oase di tengah padang pasir yang gersang.
"Kak Nigel, gimana pertandingannya melawan SMA ku?" suara Laura lembut tapi penuh harap, memecah keheningan yang menggelayuti hati Nigel.
Seorang teman Nigel yang duduk di sebelahnya tersenyum sarkastis, "Tadi sebelum kamu datang, Nigel lesu banget. Bahkan babak pertama kita kalah telak."
Nigel spontan memukul bahu temannya dengan ringan, tapi ada kilatan amarah dan malu yang tersembunyi di balik gerakannya.
Tangannya kemudian meraih bekal makan siang yang Laura sodorkan dengan penuh perhatian.
"Aku harap kak Nigel bisa bersemangat," ujar Laura sambil menatap tajam penuh senyum, seolah menanamkan energi ke dalam jiwa lelaki itu.
Nigel mengangguk perlahan, napasnya mulai teratur.
Sorot matanya berubah menjadi tajam, penuh tekad yang baru ditemukan.
Perlahan, ia bangkit dari bangku, mengusap keringat di dahinya, dan mengangkat kepala tinggi-tinggi.
Hadirnya Laura, meski dengan tongkat di tangan, seperti menghidupkan kembali api yang hampir padam di dada Nigel.
Sementara dari kejauhan, Luis yang sebelumnya memasang ekspresi tenang dan bahagia, tiba-tiba wajahnya berubah muram.
Aron dan Thomas tak kuasa saling pandang, bahkan tatapan keduanya juga menatap ke arah pandang Luis.
Keduanya terkejut mendapati wajah Luis muram saat melihat Laura nampak bermesraan dengan Nigel.
"Laura bukankah kamu berjanji akan menjauhi Nigel? Tapi kenapa kamu masih dekat padanya, bahkan kamu yang masih sakit rela memaksa berangkat ke sekolah demi dia."
Tanpa sadar kedua tangan Luis terkepal.
Thomas yang selama ini sangat membenci Laura nampak bingung dengan sikap Luis, dalam hatinya ia mendesah pelan. "Apa jangan-jangan Luis sebenarnya mencintai Laura?"
Laura menatap Nigel yang sedang makan, Nigel pun tiba-tiba tersedak.