NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33.

Laura terbangun perlahan, sinar mentari pagi menembus celah tirai dan menyentuh kelopak matanya yang setengah terbuka.

Namun, bukannya merasakan kehangatan biasa, matanya membulat penuh ketakutan saat pandangannya bertemu dengan sosok Luis yang tiduran di samping tempat tidurnya dengan senyum tipis namun tajam.

Tatapan Luis kali ini berbeda—lembut tapi penuh hasrat yang membuat darah Laura berdesir tak nyaman.

"Pagi, Laura," sapa Luis dengan suara rendah, seolah menyembunyikan sesuatu di balik kata-katanya.

Laura menelan ludah, dada sesak. Biasanya Luis adalah sumber ejekan dan kebencian baginya, tetapi pagi itu sikapnya aneh, membuat hati Laura bergejolak tidak karuan.

Kilas balik semalam datang menyeruak—kenangan kelam di mana Luis melecehkannya berulang kali, membuat tubuhnya gemetar sekaligus terasa hampa.

Raut wajah Laura berubah sendu, air mata hampir tumpah dari sudut matanya.

Namun, Luis malah mendekat tanpa ragu, tangannya yang dingin menyentuh pipi Laura dengan lembut lalu berpindah ke dadanya, meremas dengan kasar.

"Kenapa sedih? Semalam goyanganmu sungguh nikmat, bukankah kamu juga menikmatinya? ... Hal itu buat ku kecanduan," bisiknya penuh nada ejekan dan kepuasan yang menjijikkan.

Laura berusaha menjauh, tapi tubuhnya seolah membeku, terperangkap dalam tatapan dan sentuhan yang menyesakkan itu.

Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan jijik.

Tiba-tiba Luis menindih tubuhnya, lalu menciumnya penuh hasrat.

Laura ingin bangkit dan kabur, tapi kakinya terasa sangat sakit.

"Kak Luis, tolong jangan lakukan lagi, ini sakit!!" Ujar Laura, suaranya terdengar jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan sebelumnya.

Tapi Luis lagi-lagi tidak memperdulikannya. Ia dengan penuh semangat melakukannya lagi, bahkan sampai dua ronde.

Baru saat rondek ketiga, Laura kembali pingsan.

Luis akhirnya berhenti.

"Laura, kamu nggak berhak marah atas hal yang aku lakukan padamu sekarang ini."

"Karena semua ini aku anggap sebagai penebusan atas dosa-dosa ibumu menjadi pelakor dan perusak rumah tangga kedua orang tuaku."

Luis bangkit, ia tidak memperdulikan. Laura yang pingsan.

Ia masuk ke dalam kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi dengan pakaian utuh.

Luis memanggil pelayan, lalu mengintruksikan untuk membiarkan Laura tidur dan saat gadis itu bangun, ia meminta pelayan untuk mengantar bebarapa menu makanan kesukaan Laura.

Setelah itu, Luis kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya menjadi seragam sekolah dan pergi ke sekolah.

Laura sendiri sebenarnya pura-pura pingsan, ia tahu, Luis sudah kecanduan.

Karena hobinya membaca buku psikologi, ia tahu kalau sekarang ini Luis benar-benar sudah kecanduan dengan dirinya.

Laura duduk, dan ia mendapati sudah ada pelayan di kamarnya.

Setelah pelayan itu melihatnya bangun, ia segara keluar dan kembali membawa sarapan.

Sementara Laura hanya bisa makan sambil menangis sesenggukan.

"Nona muda, apakah saya perlu menelponkan tuan Wilson untuk anda?" Tanya pelayan yang sedari tadi berjaga didalam kamarnya.

Laura hanya membalas dengan gelengan kepala.

Bagaimanapun juga, ia tahu kondisi Wilson kini semakin memburuk.

Kemarin, saat di rumah sakit, Dylan sudah memberitahukan semuanya kepadanya—tentang penyakit otak Wilson dan alasan Wilson terpaksa berbohong kepada Luis.

Wilson hanya ingin Luis menyayanginya dengan tulus, seolah mereka memiliki hubungan darah.

Namun, kesalahpahaman ini justru berlarut-larut.

Dylan juga menjelaskan bahwa kecelakaan orang tuanya sebenarnya direncanakan oleh musuh, dan nyawa Laura kini juga terancam.

Laura, yang sempat marah dan putus asa hingga ingin bunuh diri atas sikap Luis, kini dalam keadaan sadar justru bertekad untuk mencari tahu kebenaran di balik kecelakaan orang tuanya demi menuntut keadilan dan mencari dalang atas kematian kedua orang tuanya.

Setelah selesai makan, Laura meminta tongkat pada pelayan. Ia ingin pergi ke sekolah untuk menemui Nigel, ia ingin membahas tentang kematian kedua orang tuanya.

Karena sekarang ini Nigel bertanding basket dengan Luis di sekolahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!