Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turun Jabatan
Pendingin ruangan yang disetel pada suhu 18°C sama sekali tidak mampu mendinginkan kepala para petinggi perusahaan yang kini sedang duduk di kursi masing-masing. Mulai dari jajaran direksi, kepala divisi, hingga para supervisor tingkat bawah dihadirkan dalam rapat internal kali ini.
Di ujung meja oval yang panjang, Xena duduk sebagai pemimpin. Di sebelahnya, sekretaris pribadi dengan cekatan menampilkan beberapa proyektor data di layar putih besar.
Xena mengetukkan pulpennya ke meja, sebuah ketukan berirama yang sanggup membuat jantung para atasan di ruangan itu berdegup kencang.
"Saya mengumpulkan kalian semua hari ini karena saya melihat ada penyakit kronis yang mulai menggerogoti efisiensi kerja kita. Selama beberapa waktu terakhir memantau, saya melihat perusahaan ini terlalu banyak delay dalam penyampaian laporan keuangan dan progres kerja. Alasannya selalu klise, menunggu laporan dari bawahan, bawahan belum menyetor data, atau data dari lapangan belum sinkron."
Xena berdiri, berjalan perlahan mengitari meja rapat. Pandangannya menyapu satu per satu wajah yang mendadak menunduk.
"Mulai hari ini, saya tidak mau mendengar alasan itu lagi. Seharusnya, sebagai atasan, kalian harus tahu detailnya tanpa mengandalkan pengetahuan bawahan semata. Setiap atasan di perusahaan ini wajib menguasai data secara real-time. Kalian digaji besar bukan untuk menjadi kurir yang hanya mengoper laporan dari bawah ke atas, tapi untuk menganalisis."
Xena memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk mengganti slide presentasi.
"Oleh karena itu, saya ingin sistem laporan per divisi diubah menjadi lebih detail. Kita akan menerapkan konsep manajemen ameba. Artinya, setiap divisi, bahkan setiap unit terkecil, akan diperlakukan seperti perusahaan mandiri yang mengelola anggarannya sendiri. Dengan begitu, akan langsung ketahuan jika ada untung atau rugi, dan terdeteksi jelas dari pos mana asalnya. Jika ada kebocoran anggaran atau penurunan performa, kita bisa mendeteksinya lebih cepat dan menanganinya saat itu juga."
Xena kemudian berhenti tepat di belakang kursi seorang kepala manajer, lalu membeberkan contoh kasus konkrit.
"Sebagai contoh, saya menemukan kejadian di internal kita. Ada pengadaan material untuk proyek di sub-divisi B yang membengkak hingga 15% dari anggaran awal, namun laporannya baru sampai ke meja direksi dua minggu setelah proyek selesai. Alasannya? Karena kepala divisinya tidak tahu kalau ada salah satu stafnya yang melakukan salah input data, dan dia baru menyadarinya saat diaudit. Hal-hal kecil seperti ini meskipun tampaknya sepele, tetap harus dibenahi dari sekarang. Ingat, sebanyak apa pun tender yang kita menangkan, sebanyak apa pun income yang masuk, jika pengeluaran tidak dimanage dengan ketat dan transparan, ya... kita bisa merugi juga pada akhirnya karena sebuah keborosan."
Reyhan duduk terpaku. Matanya sama sekali tidak berkedip menatap Xena. Ada rasa kagum yang membuncah di dalam dadanya. Xena yang dulu ia kenal sebagai wanita penurut di rumah, kini menjelma menjadi sosok pemimpin yang luar biasa cerdas, visioner, dan begitu berwibawa.
Cara Xena menguasai panggung rapat benar-benar membuat Reyhan terpesona. Bibir Reyhan tanpa sadar menyunggingkan senyum kagum, bernostalgia betapa beruntungnya ia dulu pernah memiliki wanita sehebat ini.
Namun, senyuman Reyhan tidak bertahan lama. Di sebelahnya, Nadine yang juga bekerja di divisi yang sama, sedang mengamatinya dengan mata menyipit. Nadine menyadari betul tatapan memuja suaminya itu kepada sang mantan istri. Rasa cemburu dan dongkol membakar dada Nadine.
Tanpa sepatah kata pun, Nadine menggeser kakinya di bawah meja. Dengan ujung sepatu hak tingginya yang runcing, ia menginjak punggung kaki Reyhan sekuat tenaga, lalu memutarnya sedikit.
"Aww!" Reyhan hampir saja berteriak histeris jika ia tidak segera membekap mulutnya sendiri. Wajahnya langsung memerah menahan sakit.
Nadine berpaling ke arah lain, berpura-pura mencatat dengan wajah datar. tangannya dengan sengaja menumpahkan beberapa tetes air kopi panas dari cangkirnya ke atas celana kerja Reyhan. Cairan panas itu langsung merembes ke paha Reyhan, membuat pria itu berjengit kesakitan di kursinya dalam diam. Itu adalah pelajaran kecil dari Nadine agar suaminya tahu diri dan berhenti tebar pesona.
"Rapat selesai," suara Xena memecah fokus Reyhan yang sedang sibuk mengusap celananya. "Saya minta para atasan divisi yang hadir di sini untuk mengumpulkan ringkasan restrukturisasi data yang saya minta tadi. Saya berikan waktu tepat satu jam dari sekarang untuk dikirim ke email saya. Terima kasih."
Para peserta rapat mulai membubarkan diri dengan tergesa-gesa, mengejar tenggat waktu yang sangat sempit. Reyhan kembali ke kubikel kerjanya dengan langkah gontai. Saat ia baru saja menyalakan komputernya, sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselnya. Pesan itu dari ibunya, Bu Mirna.
Rey, ini alamat rumah baru Xena yang ibu maksud: Jalan Asoy No. 12. Kamu harus lihat, rumahnya megah seperti istana. Tapi Rey, kamu harus cepat bergerak. Ibu dapat kabar kalau Xena mau menikah lagi dengan seorang dokter bernama Dokter Ibra. Rumah itu sebenarnya dulu hadiah untukmu. Ibu tidak rela Xena jadi milik orang lain. Dia harus kembali ke keluarga kita.
Membaca pesan itu, darah Reyhan seketika mendidih. Rasa senang karena mendapatkan alamat Xena langsung lenyap, ganti jadi rasa panas yang membakar dada. Xena mau menikah lagi dengan seorang dokter?
Nggak... nggak boleh! Xena cuma milikku. Batin Reyhan geram. Pikirannya langsung melayang jauh, menyusun rencana bagaimana cara merusak hubungan Xena dengan dokter tersebut. Saking sibuknya terhanyut dalam urusan pribadinya yang pelik, Reyhan sama sekali lupa dengan dunia nyatanya. Ia melupakan tugas penting yang diinstruksikan Xena di ruang rapat tadi.
Satu jam berlalu begitu cepat.
Tiba-tiba seorang staf mengetuk meja Reyhan. "Pak Reyhan, Anda dipanggil Ibu Xena ke ruangannya sekarang."
Reyhan tersentak. Ia melirik jam dan seketika wajahnya pucat pasi. Satu jam sudah lewat, dan lembar kerjanya di komputer masih kosong melompong Dengan perasaan was-was, Reyhan melangkah masuk ke ruangan Xena.
Xena duduk di balik meja kerjanya yang besar, menatap layar laptop sebelum mengalihkan pandangannya kepada Reyhan.
"Dari semua kepala sub-divisi, hanya kamu satu-satunya yang tidak mengumpulkan analisis data yang saya minta satu jam lalu, Pak Reyhan," kata Xena tanpa basa-basi.
"Maaf, Xena... maksud saya Ibu Xena. Tadi ada kendala teknis dan saya sedikit kurang sehat."
"Saya tidak butuh alasan. Di perusahaan ini, kamu dianggap tidak serius bekerja dan tidak kompeten dalam memenuhi instruksi cepat. Saya enggan memarahi kamu karena itu membuang waktu saya. Tapi tindakan tegas harus diambil."
Xena mengambil sebuah dokumen yang sudah ditandatanganinya. "Mulai besok, jabatan kamu saya turunkan satu tingkat di bawah jabatanmu yang sekarang. Kamu dimutasi ke bagian administrasi lapangan."
Reyhan bagai tersambar petir di siang bolong. Shock luar biasa. jabatannya diturunkan? Itu adalah pukulan telak bagi harga dirinya sebagai seorang lelaki. Namun di tengah keterkejutannya, Reyhan mencoba menghibur dirinya sendiri.
Tidak apa-apa. Apalah arti sebuah jabatan di perusahaan ini? Yang paling penting sekarang adalah aku harus bisa mengambil hati Xena kembali. Itu yang paling penting.
Reyhan mengangguk patuh dan keluar dari ruangan. Saat berjalan di koridor, seorang rekan kerja senior yang setara dengannya menghampiri, lalu menepuk pundak Reyhan dengan senyum penuh arti.
"Wah, sayang banget ya, Rey, jabatanmu malah turun. Padahal ya, namamu itu sebenarnya sudah diagendakan di barisan paling depan untuk dipromosiin jadi Direktur Operasional. Tapi entah kenapa agenda itu langsung lenyap gitu aja. Kenapa ya kira-kira? Kamu tahu jawabannya?"
Teman Reyhan berlalu sambil tertawa kecil, meninggalkan Reyhan yang terpaku di tempatnya seperti patung.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Reyhan dengan sangat telak. Penyesalan yang amat besar mendadak datang menyerbu jiwanya.
Air matanya hampir menitik saat menyadari kenyataan pahit itu. Sebegitu besar dan tulusnya Xena dulu dalam menyayangi dan mempersiapkan masa depan yang gemilang untuk dirinya. Xena telah menyiapkan segalanya agar Reyhan sukses.
Cinta tulus itu telah ia hancurkan sendiri berkeping-keping hanya karena ambisi ingin memiliki keturunan dari wanita lain.
Reyhan menarik napas dalam-dalam. Ia merogoh ponselnya lalu dengan cepat mengetik pesan untuk ibunya.
Ibu, beri tahu Bapak untuk sangat berhati-hati menjalankan misinya di rumah baru Xena. Jangan sampai penyamaran Bapak terbongkar oleh Xena atau calon suaminya itu. Pokoknya rencana kita harus berhasil. Aku harus mendapatkan Xena kembali, apa pun caranya.
Bersambung.
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......