Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
BAB 9: Kehangatan Baru dan Tamu yang Rusuh
Suasana di dalam apartemen penthouse siang itu terasa jauh lebih hidup dan berwarna dari biasanya. Kamar utama yang biasanya bernuansa monokrom kaku, kini seolah memiliki detak jantung baru. Setelah tangisnya reda di pelukan Zayn pagi tadi, kondisi fisik dan mental Elva berangsur-angsur membaik dengan sangat signifikan. Demam tinggi yang sempat membakar tubuh mungilnya semalam kini sudah turun sepenuhnya, meninggalkan rona merah alami yang sangat manis di kedua pipinya yang halus.
Zayn Dominic benar-benar membuktikan ucapannya sebagai seorang pelindung yang mutlak. Cowok yang biasanya terkenal sedingin es dan acuh tak acuh di sekolah itu kini menjelma menjadi sosok yang sangat telaten dan penuh perhatian.
Karena Elva tidak membawa satu pun baju ganti selain seragam sekolahnya yang sudah kotor dan ternoda debu gudang bawah tanah, Zayn diam-diam memesan beberapa pasang pakaian baru melalui layanan pesan antar kilat dari butik ternama milik salah satu kenalan ibunya di Jakarta Pusat.
Sekarang, Elva sudah rapi mengenakan sepotong sweter rajut longgar berwarna krem lembut dan celana rumahan katun putih yang sangat nyaman. Rambut hitam panjangnya yang halus digerai dengan rapi hingga mencapai punggung, tampak berkilau sehabis dikeringkan dengan telaten. Dia duduk dengan posisi agak canggung di atas sofa beludru besar di ruang tengah, matanya yang bulat memperhatikan Zayn yang sedang fokus mengoleskan salep tipis-tipis di pipi kirinya.
Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Elva bisa mencium aroma maskulin khas perpaduan mint dan parfum mahal dari tubuh Zayn. Napas Zayn yang teratur terasa hangat menerpa permukaan kulit wajahnya.
"Sakit nggak?" tanya Zayn, suaranya sangat rendah dan dalam. Matanya fokus menatap lebam kemerahan di wajah Elva, seolah sedang melakukan sebuah operasi medis yang sangat krusial dan membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi.
Elva menggeleng kecil, tidak berani terlalu banyak bergerak karena jemari hangat Zayn masih menempel di pipinya.
"Nggak, Zayn. Sudah jauh lebih mendingan daripada tadi malam. Malah rasanya agak dingin dan nyaman karena salepnya."
Zayn tidak langsung menarik tangannya. Dia memandangi wajah polos Elva selama beberapa detik, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa air mata atau rasa sakit yang tertinggal di sana. Setelah merasa puas dengan apa yang dilihatnya, Zayn menutup kembali tub salep medis tersebut lalu mengacak
puncak kepala Elva dengan gerakan yang sangat lembut.
"Bagus. Berarti dokter pribadi gue nggak bohong soal khasiat obatnya," ketus Zayn, meskipun nada bicaranya terdengar judes, namun binar protektif di matanya tidak bisa disembunyikan.
"Lo tunggu di sini, jangan banyak tingkah. Gue mau ambil air minum hangat dulu di dapur."
"Iya, Zayn. Terima kasih banyak," jawab Elva dengan senyuman tulus yang sangat manis.
Matanya mengikuti setiap gerak-gerik tegap Zayn yang berjalan santai ke arah dapur bersih yang terletak tidak jauh dari ruang tengah. Elva menyandarkan punggungnya di sofa, menghirup napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun hidupnya, Elva merasa dadanya begitu ringan dan bebas dari tekanan. Di tempat ini, di bawah atap apartemen mewah milik cowok paling ditakuti satu sekolah, dia tidak perlu takut untuk disisihkan.
Dia tidak perlu cemas akan dibanding-bandingkan atau dicaci maki sebagai anak pembawa sial. Di sini, dia menjadi prioritas utama. Namun, kedamaian siang itu mendadak terusik oleh sebuah gangguan yang sangat tidak disangka-sangka.
TING TONG! TING TONG! TING TONG!
Bel pintu apartemen mewah milik Zayn ditekan bertubi-tubi dengan ritme yang sangat cepat dan tidak sabaran, disusul oleh suara gedoran keras yang sama sekali tidak mencerminkan sopan santun bertamu di kawasan elite.
"ZAYN! WOI, MANUSIA ES! BUKA PINTUNYA SEKARANG! GUE TAHU LO DI DALEM SAMA IBU NEGARA!"
Suara cempreng nan familier milik Leo menggema keras dari balik pintu besi tebal apartemen, membuat Elva tersentak kaget di atas sofanya. Bahunya refleks menegang karena mengira orang tuanya telah berhasil melacak keberadaannya.
Zayn yang baru saja memegang gelas berisi air putih hangat langsung menghentikan langkahnya di ambang dapur. Dahinya berkerut sangat dalam, dan aura kekesalan yang luar biasa pekat seketika terpancar dari wajah tampannya. Dia meletakkan gelas itu kembali ke atas meja konter dengan hentakan yang cukup keras, lalu berjalan cepat menuju pintu utama.
Zayn membuka pintu apartemennya dengan sentakan yang sangat kasar. "Lo kalau cuma punya niat mau ngerusak bel pintu apartemen gue, mending lo pulang sekarang sebelum gue lempar dari lantai ini," sembur Zayn dingin dengan tatapan mata elang yang mematikan begitu pintu terbuka.
Di depan pintu, Leo berdiri dengan cengiran lebar tanpa dosa yang sangat khas. Tidak sendirian, di belakang tubuh tinggi Leo ternyata ada dua teman satu geng basket Zayn di SMA Pelita—Arkan yang bertubuh jangkung dengan rambut ikal acak-acakan, dan Kevin si cowok humoris bertubuh bongsor yang kedua tangannya sibuk menenteng beberapa kantong plastik besar berisi makanan.
"Santai dong, Bos! Jangan galak-galak amat sama sohib sendiri!" sahut Leo dengan nada santai seraya menepis pelan tangan Zayn yang menghalangi jalan. Tanpa menunggu kalimat persetujuan atau dipersilakan masuk, Leo, Arkan, dan Kevin langsung melangkah menerobos masuk ke dalam apartemen penthouse mewah tersebut seperti rumah mereka sendiri.
"Wah, gila... keren banget pemandangan apartemen lo, Zayn. Ini sih jauh lebih gede dan mewah daripada rumah gue," puji Kevin sambil celingukan menatap langit-langit apartemen, sampai pandangan matanya terhenti sempurna pada sosok Elva yang sedang duduk kaku di sofa ruang tengah.
Suasana di dalam ruangan luas itu mendadak hening selama beberapa detik. Ketiga teman dekat Zayn itu terpaku di tempat mereka berdiri, menatap Elva yang memakai sweter kebesaran dengan wajah polosnya yang tampak sangat menggemaskan sekaligus rapuh.
"Eh... halo, Elva," sapa Arkan pertama kali, memecah kecanggungan yang sempat tercipta sambil melemparkan sebuah senyuman ramah. Dia kemudian menyikut lengan Leo dengan cepat.
"Tuh, kan, bener apa kata lo tadi di jalan. Elva beneran ada di apartemen si Zayn."
"P-Pagi... eh, siang, Kak Leo, Kak Arkan, Kak Kevin," jawab Elva cicit, suaranya sangat pelan dengan wajah yang merona merah karena mendadak diserbu oleh tiga cowok paling populer di sekolah. Elva merasa tidak enak jika hanya duduk, dia hendak berdiri untuk menyambut kedatangan mereka, namun Zayn yang baru kembali dari arah pintu dengan cepat menahan pundak Elva lembut, memaksanya untuk tetap duduk di atas sofa.
"Nggak usah bangun, Anggap aja mereka bertiga ini cuma patung pajangan yang salah masuk ruangan," ketus Zayn seraya melemparkan tatapan mengancam ke arah ketiga sahabatnya.
"Ngapain lo semua ke sini? Ganggu ketenangan orang tahu nggak."
"Yaelah, Zayn. Jutek amat lo jadi manusia. Kita ke sini karena niatnya baik, mau menjenguk Elva sekalian mengantarkan laporan penting dari lapangan," cibir Leo sambil meletakkan kantong belanjaan makanan di atas meja kopi marmer. Tanpa permisi, Leo langsung mengambil posisi duduk lesehan di atas karpet bulu di bawah sofa, diikuti oleh Arkan dan Kevin yang mulai mengeluarkan isi kantong plastik.
"Kabar apa?" tanya Zayn, suaranya mendadak berubah menjadi serius. Dia mengambil posisi duduk di sebelah Elva, lalu melingkarkan sebelah lengan kekarnya di sandaran sofa tepat di belakang tubuh Elva—sebuah gestur posesif yang sangat kentara, seolah-olah menegaskan kepada ketiga temannya bahwa gadis ini berada di bawah kendali dan perlindungan mutlaknya.
Leo mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menggeser beberapa berkas digital di layarnya sebelum menatap Zayn dengan raut wajah yang tidak lagi main-main.
"Tadi pagi di sekolah, bokap nya Clarissa heboh banget nyariin kepala sekolah di ruang yayasan. Katanya, semua saham gabungan mereka di proyek besar Jakarta Barat mendadak ditarik massal oleh konsorsium investor asing tanpa alasan yang jelas. Dan tebak siapa yang memegang kendali penuh atas pergerakan investor asing itu? Perusahaan finansial di bawah bendera Dominic Group."
Zayn hanya mendengus pelan, sama sekali tidak terkejut mendengar laporan Leo. Sejak tadi malam, setelah memastikan Elva tertidur lelap di kamarnya, Zayn sudah menghubungi asisten pribadi ayahnya untuk meneliti dan mencari tahu titik lemah dari seluruh lini bisnis milik Narendra Ileana. Menghancurkan investasi gabungan dan memutus aliran dana dari sekutu-sekutu bisnis keluarga Ileana adalah langkah awal yang sangat mudah bagi pengaruh kekuasaan keluarga Dominic.
"Bukan cuma itu aja, Zayn," sambung Arkan, ikut menimpali pembicaraan sambil membuka sebungkus besar keripik kentang. Dia melirik ke arah Elva dengan pandangan mata yang sarat akan rasa simpati.
"Bokap lo, Narendra Ileana, dikabarkan tadi siang bolos dari rapat pleno asosiasi pengusaha karena panik setengah mati mencari pinjaman dana darurat ke bank-bank swasta lain untuk menutupi minus perusahaannya yang anjlok drastis. Rumah mewah lo sekarang juga dijaga ketat oleh pengawal pribadi mereka. Kayaknya mereka bener-bener stres setelah sadar kalau mereka udah salah cari lawan."
Elva terdiam seribu bahasa mendengarnya. Ada rasa campur aduk yang bergejolak hebat di dalam lubuk hatinya. Di satu sisi, Narendra adalah ayah kandungnya yang memiliki hubungan darah dengannya. Namun di sisi lain, mengingat bagaimana dinginnya perlakuan mereka selama belasan tahun ini, serta kejamnya tamparan dan kurungan di gudang bawah tanah yang gelap kemarin malam, Elva merasa apa yang menimpa keluarganya saat ini adalah sebuah bentuk karma instan yang sangat setimpal.
Zayn yang sangat peka terhadap perubahan raut wajah Elva langsung meraih jemari tangan kecil gadis itu di atas sofa. Dia menggenggamnya dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan untuk memberikan ketenangan batin bagi Elva. Zayn lalu mendongak, menatap Leo, Arkan, dan Kevin dengan sorot mata yang sangat tegas.
"Bagus. Biarin mereka bangkrut sekalian sampai nggak punya apa-apa lagi. Apa yang menimpa perusahaan mereka saat ini bahkan belum seberapa dibanding rasa sakit yang udah mereka torehkan ke Elva."
Kevin yang menyadari bahwa atmosfer di dalam ruangan mulai berubah menjadi terlalu dramatis dan serius langsung berdehem dengan sangat keras, mencoba mencairkan suasana kaku tersebut.
"Udah, udah! Jangan bahas soal bisnis dan angka-angka mulu, pusing kepala gue yang dapet nilai lima di kuis Matematika kemarin siang. Sekarang mendingan kita makan bareng-bareng! Elva, lo harus cobain martabak manis keju-cokelat yang dibeli Leo di perempatan jalan tadi, ini rasanya enak banget dan masih anget!"
"Eh? B-boleh, Kak Kevin. Terima kasih," jawab Elva, akhirnya tersenyum kecil melihat tingkah lucu Kevin yang langsung membuka kotak martabak dengan gerakan yang sangat heboh dan ekspresif.
Melihat senyuman tulus Elva kembali terbit di wajahnya, Zayn mengurungkan niatnya untuk mengusir ketiga temannya yang super rusuh itu. Ruang tengah apartemen penthouse yang biasanya selalu sunyi, dingin, dan kaku, siang itu mendadak dipenuhi oleh gelak tawa, candaan santai, dan keriuhan dari Leo, Arkan, dan Kevin yang sesekali tidak bosan-bosan menggoda Zayn karena sifat posesifnya yang sangat kentara jika menyangkut soal kenyamanan Elva.
Di tengah-tengah keriuhan dan kehangatan tersebut, Elva melirik ke arah Zayn yang sedang tersenyum tipis mendengarkan ejekan konyol dari Leo. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Elva merasa bahwa garis takdir hidupnya tidak lagi menyedihkan. Dia tidak hanya menemukan seorang pelindung yang luar biasa hebat dan berkuasa, tetapi di tempat ini, dia juga telah menemukan sebuah dunia baru yang penuh dengan warna, tawa, dan kehangatan yang benar-benar tulus tanpa rekayasa.