NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 30

Setelah malam itu, Amelia selalu merasa was-was. Dia jarang keluar dari kamarnya, takut jika melangkah sedikit saja akan bertemu dengan Hanan, tapi justru hal inilah yang membuat Rosa bertanya-tanya dengan tingkah laku adiknya.

Wanita itu tengah banyak pikiran belakangan ini, tentang bagaimana bisa rencananya menjebak suaminya sendiri agar mau berhubungan kembali gagal, sementara Hanan juga memilih tak membahas hal yang sudah dia ketahui itu. Berusaha memaklumi bahwa istrinya hanya terlalu khawatir dengan dirinya sendiri. Dia memilih menutup mulut.

“Amel, ayo keluar belanja. Kamu tidak bisa terus-terusan berada di dalam kamar.” Rosa memaksa Amelia hingga adiknya itu tak bisa menolak lagi.

Amelia dengan hati tak rela akhirnya meninggalkan kamar—tempat ternyamannya. Di minimarket, dia membantu kakaknya memilih beberapa barang kebutuhan sehari-hari.

“Kamu tidak beli ini? Bukannya harusnya sekarang sudah jadwal tamu bulananmu?” Rosa menunjuk salah satu kemasan di rak.

Amelia terdiam beberapa saat. Benar kata kakaknya, harus sekarang sudah jadwal tamu bulanannya, bahkan sudah lewat. Dia terlalu sibuk menghindari Hanan setiap hari hingga lupa bahwa sekarang dia terlambat dua minggu. Kepanikan mulai melanda gadis itu, meski dalam hati dia berusaha tenang mengingat pil kontrasepsi yang sudah dia konsumsi tak mungkin gagal. Ini pasti hanya keterlambatan yang biasa.

“Ada apa?” Rosa menyadari kecemasan di wajah adiknya.

“Tidak apa-apa, Mbak. Aku masih punya stoknya di rumah.” Amelia menarik senyum paksa.

Setelah mereka membayar semua barang di kasir, Amelia tiba-tiba berhenti. Entah kenapa dia berubah pikiran dan ingin membeli sesuatu, meski tampak ragu.

“Mbak masuk duluan ke mobil. Aku lupa membeli sesuatu.” Amelia terburu-buru kembali ke dalam minimarket dan mengambil sebuah kemasan kecil di rak ujung. Tak lupa juga mengambil beberapa snack untuk menyembunyikan barang pertama yang dia beli.

“Camilan? Kamu yakin tidak ada lagi yang ketinggalan?” Rosa bertanya sekali lagi agar adiknya itu tidak bolak-balik ke minimarket.

“Tidak, sudah semua.” Amelia menetralkan degup jantungnya. Dia menyembunyikan alat tes kehamilan di saku hoodie-nya dengan hati tak tenang.

Meski pil kontrasepsi itu sudah dikonsumsi, tapi Amelia tak bisa tenang sampai benar-benar memastikannya langsung.

Setibanya di rumah, Amelia menarik napas panjang dan mulai menggunakan alat tes kehamilan itu. Dia menunggu beberapa saat hingga garis merah muncul perlahan.

“Kumohon ... negatif, negatif, negatif.” Amelia memejamkan matanya dengan tangan menyatu di dada—memohon dengan sangat.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya hanya terdapat satu garis tebal yang nyaris membuat Amelia berteriak.

“Syukurlah, syukurlah.” Amelia benar-benar senang dengan hasil yang dia pastikan negatif itu. Dengan sigap tangannya membereskan semuanya ke dalam bak sampah dan menutupinya dengan sampah lain.

Yang tak Amelia sadari, satu garis samar tambahan muncul perlahan pada alat tes kehamilan yang telah dia buang ke tempat sampah—membuatnya terlambat menyadari bahwa masalah baru akan muncul tak lama lagi.

Amelia keluar kamar dengan hati lega. Dia menghampiri kakaknya yang duduk di ruang makan dengan roti di tangannya.

“Apa yang Mbak makan?” Perasaan Amelia tak nyaman melihat bungkusan roti yang harusnya menjadi miliknya.

“Roti, mau tidak. Rasanya enak.” Rosa menawarkan dengan semangat.

Amelia mengambil roti itu dengan cepat dan menyadari bahwa itu memang miliknya. Masalahnya bukan di sana, tapi roti yang dia beli mengandung stroberi. Di kemasannya memang tidak terlalu jelas, tapi di kandungannya tertulis dengan jelas.

Dan Rosa ... dia alergi stroberi.

“Mbak, muntahkan.” Amelia nyaris membentak.

“Ada apa?” Rosa tampak kebingungan.

“Rotinya mengandung stroberi. Cepat muntahkan.” Amelia panik, tapi Rosa lebih panik. Dia benar-benar tidak tahu dan terus menikmatinya karena sudah lama sekali tak merasakan buah yang menjadi sumber alerginya itu.

Tak lama kemudian, tubuh Rosa mulai bereaksi. Ruam kemerahan muncul dan napas Rosa terasa berat.

“Bibi! Paman!”

Amelia celingukan mencari siapa pun yang bisa dimintai bantuan. Pintu depan terbuka memunculkan Hanan yang langsung menyorot pada keadaan Rosa yang sudah setengah sadar.

“Apa lagi yang kamu lakukan pada istriku?” Pertanyaan menusuk itu langsung dilayangkan oleh Hanan dengan tangan yang sigap membopong tubuh Rosa.

“Mbak Rosa tak sengaja memakan roti stroberi. Itu memang salahku karena tidak memisahkannya dari belanjaan kami tadi.” Amelia tak menghindar.

Hanan mengabaikannya, dia lebih fokus pada Rosa yang keadaannya semakin parah. Pria itu membawa istrinya ke mobil dan berkendara seperti orang kesetanan. Perjalanan yang harusnya ditempuh dua puluh menit terpangkas setengahnya.

Amelia menyusul kemudian dengan motornya. Jauh lebih lambat. Saat tiba di sana, Rosa sudah ditangani oleh dokter. Begitu dia mendekat ke ruangan kakaknya, Hanan langsung berdiri dari kursi dan menghampiri Amelia lebih dulu.

Tanpa mengatakan apa pun dia melayangkan tangannya ke wajah Amelia, begitu cepat hingga gadis itu nyaris tak bisa memproses apa pun sampai akhirnya terjatuh ke lantai.

Hanan berada di puncak emosinya. Untuk ke sekian kalinya dia harus melihat istrinya dalam bahaya akibat gadis sialan yang sayangnya adalah adik istrinya sendiri.

“Kau ... gadis sialan! Dengan apa lagi aku harus memperingatimu? Tidak bisakah kamu diam saja?”

“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf.” Amelia mati-matian menahan air matanya agar tidak turun, meski matanya sudah sangat memerah. Dia benar-benar sadar dan mengakui bahwa ini adalah salahnya.

“Omong kosong. Apa kau pikir maafmu bisa mengembalikan keadaan Rosa? Dia lagi-lagi sekarat karenamu. Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Hanan berucap penuh penekanan.

“Tidak, kumohon biarkan aku melihat keadaan Mbak Rosa. Aku janji akan lebih berhati-hati lagi.” Amelia bangkit sekuat tenaga dan memohon pada pria yang menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Kau tidak tuli, ‘kan? Aku tidak ingin ada noda sepertimu lagi di kehidupan istriku. Gadis sepertimu sampai kapan pun tidak pantas mendapat kebahagiaan. Harusnya kau tidak lahir ke dunia ini dari pada menularkan kesialan dan nasib buruk pada Rosa. Tidak kau merasa lebih baik mati dari pada harus terus menjadi sumber kemalangan orang lain?”

Telinga Amelia berdengung untuk sesaat. Dia kehilangan sebagian kemampuan berpikirnya sebelum kembali pada realitas. Dia memaksakan diri menatap sepasang netra hitam yang menatapnya dengan jijik.

“Ingat ini, kamu adalah gadis kecil yang paling berharga di dalam hidupku. Hiduplah seratus tahun lagi agar kamu bisa melihat betapa kehadiranmu merupakan berkah di dunia ini.”

Amelia berusaha keras mencari jejak senyum tulus seorang remaja yang dulu pernah mengatakan kalimat itu padanya, tapi satu-satunya yang dia lihat sekarang hanyalah sorot asing yang tak dia kenali.

Remaja yang dulu sangat lembut padanya telah menghilang bersama kenangan mereka yang tak akan kembali. Amelia sudah terlalu lama berharap bahwa Hanan remaja akan kembali dan menyelamatkannya dari sepi dan gelisah yang selalu menghampirinya.

“Kamu ... kamu benar-benar berubah.”

1
falea sezi
lu emank g cocok ma cwek baik lun cocok ma Rosa apalagi lu bekas si rosokan🤣🤣 najis amat
falea sezi
lanjut donkk😓 baguss q ksih hadiah deh
Yourfaa: Sabar, yah Kakak. Akan kulanjut, tapi setelah menghadapi dunia yang gonjang-ganjing ini. Ngetiknya cuma bisa pas malem doang, soalnya siang kita harus kembali ke realita dunia kerja😭
total 1 replies
falea sezi
rosa ini bner bner playing victim deh
falea sezi
menikahi kaka adek kandung mana boleh kecuali uda mati tuh kakak nya😒
Yourfaa: Terima kasih buat koreksinya yah, Kakak. Karena ini cerita pertama aku, jadi masih banyak salah dan kurangnya informasi. Next bakal aku perbaiki pelan-pelan supaya alurnya lebih masuk akal dan gak bertentangan sama fakta yang terjadi 🙏🏻☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!