Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bukan yang pertama
Matahari siang menggantung tinggi di atas langit Castlewood, memancarkan cahaya terik yang menyelimuti halaman utama istana. Kereta kuda kerajaan perlahan melewati gerbang besar berlapis besi hitam, roda-roda kayunya berderit halus di atas lantai batu granit putih yang membentang luas di pelataran.
Lambang keluarga Wood yang terukir megah di sisi kabin segera membuat para prajurit penjaga berdiri tegak. Denting zirah dan suara hentakan tombak bergema pelan saat mereka memberikan penghormatan tertinggi, menyambut kepulangan sang Putri.
Di dalam kereta yang bergerak lambat itu, Cassia masih terus bercerita dengan wajah antusias. Binar di mata ungunya belum memudar sedikit pun sejak mereka meninggalkan Panti Asuhan Esmeralda. Jemarinya sesekali memainkan mahkota daun kecil yang ia dapatkan dari salah seorang anak panti. Benda sederhana itu kini tergeletak miring di atas pangkuannya.
"Anak itu benar-benar menggigit tangan temannya sendiri hanya karena berebut sepotong roti," ujar Cassia sambil tertawa lepas, ingatan akan kejadian jenaka itu membuat matanya melebar sempurna. "Aku sampai harus melerai mereka sendiri. Rasanya seperti menyaksikan sebuah perang kecil di depan mataku."
Amanda membalas cerita itu dengan senyuman tipis yang sarat akan kehangatan, meski benaknya kini bercabang memikirkan konspirasi yang baru saja mereka temukan. Di sisi lain, Zen duduk membisu di sudut kereta dengan kedua tangan bersedekap erat di depan dada. Tatapan matanya tertuju lurus pada bangunan utama istana yang semakin mendekat di balik jendela kaca.
Sejak mereka melangkah keluar dari gerbang Panti Asuhan Esmeralda beberapa saat lalu, pria itu tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya tenggelam pada belati kayu hitam rawa yang tersimpan rapat di balik jubah zirahnya.
"Zen, apa kau mendengarkanku?"
Pria itu langsung tersadar dari lamunannya. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah sang Putri.
"Setiap kata, Putri," jawabnya singkat dengan nada datar seperti biasanya.
Cassia langsung mengerucutkan bibirnya tidak puas. "Kalau begitu kenapa kau diam saja dari tadi?" protesnya sambil memijat pelipisnya sendiri. "Kau terlihat seperti patung batu di halaman istana itu." Ia menunjuk sembarangan ke arah salah satu patung ksatria yang berdiri kokoh di halaman depan istana Castlewood.
Zen mengikuti arah telunjuk Cassia. Setelah beberapa saat mengamati patung tersebut, ia akhirnya berkata, "...hamba rasa, hamba lebih tampan dari patung itu."
Amanda langsung terperangah mendengar ucapan tersebut. Wanita itu hanya menatap Zen dengan ekspresi nyaris tidak percaya. Cassia yang duduk tepat di tengah-tengah dua ksatria itu membelalak, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Astaga kau bisa bercanda juga rupanya!"
"Itu bukan lelucon, Putri," sanggah Zen tidak terima.
"Justru itu yang membuatnya lucu."
Cassia masih terkekeh ringan sambil memegangi perutnya. Bahkan Amanda sampai harus menundukkan wajah sejenak untuk menyembunyikan senyumnya.
Kereta akhirnya berhenti tepat di depan tangga utama istana. Seorang pelayan segera membuka pintu kereta, membiarkan cahaya matahari siang menyinari bagian dalam kendaraan tersebut. Cassia langsung melompat turun dengan gerakan yang jauh dari kesan anggun seorang putri.
"Aku akan menyimpan mahkota ini di kamarku!" seru Cassia riang sambil menaiki anak tangga marmer istana dengan langkah ringan.
Mahkota daun itu masih ia pegang dengan hati-hati di dadanya, seolah benda sederhana tersebut adalah hadiah paling berharga hari ini. Namun baru beberapa langkah menaiki anak tangga—
"Putri."
Suara berat Zen tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Cassia menoleh perlahan, menemukan Zen yang masih berdiri tegak di samping kereta dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa lagi?"
Zen tampak ragu sebelum akhirnya membuka suara. "Jangan keluar istana sendirian untuk sementara waktu. Tetaplah berada dalam jangkauan hamba atau Amanda."
Cassia mengangkat alisnya, senyum tipis muncul di bibirnya. "Itu perintah atau kekhawatiran?"
"Keduanya," jawab Zen singkat, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Cassia terkekeh pelan, menganggap itu sebagai bentuk proteksi berlebihan yang biasa dilakukan Zen. "Aneh sekali. Kali ini kau terdengar seperti manusia normal. Baiklah, ksatria pelindungku yang menyeramkan."
Zen memperhatikan punggung Cassia yang perlahan menghilang dari pandangannya. Begitu sang Putri menghilang, ia langsung menoleh pada Amanda yang berada di sampingnya.
"Kita harus segera melaporkan masalah ini pada Raja Arthur."
...**********************************...
Ruang kerja Raja Arthur selalu dipenuhi aroma yang menenangkan. Wangi teh rempah hangat bercampur dengan bau khas perkamen tua dan kayu ek dari rak-rak buku besar yang memenuhi dinding ruangan.
Di sudut ruangan itu, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam pendek yang tersisir rapi ke belakang. Tatapan matanya tajam, tenang, dan penuh kedisiplinan khas seorang prajurit veteran yang telah melewati banyak medan perang.
"Abraham, cobalah teh ini."
Suara Raja Arthur memecah keheningan ruangan itu.
Sang Raja duduk santai di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen kerajaan. Di tangannya, sebuah cangkir porselen putih masih mengepulkan uap hangat.
Abraham menoleh pelan.
"Teh baru dari para petani Castlewood," lanjut Arthur sambil menuangkan teh ke cangkir kosong lain. "Kudengar rasanya cukup unik."
Abraham melangkah mendekat dengan tenang sebelum menerima cangkir tersebut menggunakan kedua tangan. Gerakannya rapi dan penuh disiplin khas seorang pengawal kerajaan.
Ia menyesap teh itu sedikit.
Hening sesaat.
"...Tidak buruk, Yang Mulia."
Arthur terkekeh kecil. "Kau selalu memberikan penilaian yang terlalu datar."
"Hamba hanya berkata jujur."
Sudut bibir Arthur kembali terangkat samar. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu lagi tapi tidak jadi.
Abraham mengembalikan cangkir teh ke atas meja kecil di dekatnya, lalu melangkah tenang kembali ke posisinya di sudut ruangan.
TOK TOK TOK.
Suara ketukan pintu tiba-tiba memecah suasana tenang itu, membuat perhatian Raja Arthur dan Abraham langsung beralih ke arah pintu kayu besar di ujung ruangan.
"Masuk," ujar Arthur.
Pintu kayu itu terbuka perlahan.
Zen dan Amanda melangkah masuk bersamaan ke dalam ruangan dengan ekspresi yang jauh lebih serius dibanding biasanya. Suasana santai yang tadi memenuhi ruang kerja Raja Arthur perlahan memudar begitu sang Raja melihat raut wajah keduanya.
Arthur segera meletakkan cangkir tehnya.
"Kalian kembali lebih cepat dari dugaanku," ujarnya sambil menatap mereka bergantian.
Setelah memberi hormat militer dengan rapi, Zen dan Amanda kembali menegakkan tubuh mereka. Arthur memperhatikan keduanya sejenak sebelum memberi isyarat kecil ke arah kursi di depan meja kerjanya.
"Duduklah."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Amanda duduk lebih dulu dengan gerakan sopan, sementara Zen menarik kursi di sampingnya sebelum ikut duduk dengan postur tegak khas seorang ksatria.
"Ada sesuatu yang harus Anda lihat, Yang Mulia."
Nada suara Zen yang tenang namun penuh penekanan membuat Arthur langsung menautkan kedua alisnya.
Amanda mengeluarkan belati yang nyaris merenggut nyawa Putri Cassia beberapa saat lalu. Jemarinya tampak sedikit menegang saat meletakkan senjata berukir indah itu di atas meja kerja sang Raja.
Tuk...
Suara logam yang beradu dengan permukaan kayu ek terdengar nyaring di tengah keheningan ruangan.
Raut wajah Raja Arthur perlahan berubah serius. Jemarinya bergerak pelan mengambil belati kecil itu dari atas meja. Sorot matanya langsung menajam begitu merasakan tekstur gagang kayu hitam yang dipoles dengan sangat halus.
"...Kayu hitam rawa selatan," gumamnya pelan.
Arthur memutar belati itu perlahan di bawah cahaya ruangan. Ukiran kecil di pangkal gagangnya terlihat dibuat dengan sangat rapi, sementara sarung kulit hewan yang membungkusnya tampak jelas berasal dari bahan mahal.
"Hamba sempat menarik bilahnya sedikit saat di panti, Yang Mulia," sela Zen datar, menarik perhatian Arthur. "Logam gelapnya memantulkan cahaya dengan cara yang tidak lazim. Bobotnya juga terlalu padat untuk ukuran senjata biasa, jauh berbeda dari besi militer yang ditempa para pandai besi Castlewood."
"Senjata seperti ini tidak mungkin dimiliki rakyat biasa," ucap Arthur melanjutkan perkataan Zen.
Keheningan singkat menyelimuti ruangan.
Abraham yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan ikut mengalihkan pandangannya pada belati tersebut. Tatapan veteran itu tetap tenang, namun jauh lebih fokus dibanding sebelumnya.
"Lalu?" tanya Arthur akhirnya. "Dari mana kalian mendapatkannya?"
Zen dan Amanda saling berpandangan sepersekian detik. Sebelum akhirnya Zen membuka suaranya lebih dulu. "Belati itu kami temukan di Panti Asuhan Esmeralda, Yang Mulia."
Arthur mengangkat sebelah alisnya.
"Seorang anak perempuan mendekap senjata itu di dalam gulungan kertas gambarnya, Yang Mulia." lanjut Amanda, melanjutkan penjelasan Zen. "Awalnya kami mengira dia hanya anak panti biasa yang sedang menyendiri."
Arthur diam mendengarkan.
"Namun ketika Zen memeriksa gulungan itu..." Amanda mengepalkan jemari di atas pangkuannya, "...kami menemukan belati tersebut disembunyikan di dalamnya."
Arthur meletakkan belati itu kembali, lalu menopang dagu dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja.
"Anak itu mengaku diperintahkan seseorang untuk menusuk Putri Cassia," ujar Zen langsung ke intinya.
Hening.
Namun berbeda dari Amanda yang masih tampak tegang sejak tadi, Raja Arthur justru tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Tatapan matanya tertuju tenang pada Zen sebelum akhirnya mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali," tutur sang Raja dengan nada rendah. "Aku kehilangan Esmeralda dengan cara yang hampir sama dengan kejadian yang menimpa Damian."
Raja itu memejamkan matanya sejenak mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu, Damian juga pernah menjadi target percobaan pembunuhan ketika menghadiri perayaan militer di Distrik Utama. Seorang pemanah bayaran mencoba menghabisinya dari atas tembok distrik. Untungnya, anak panah itu hanya meleset tipis di samping tubuh Damian. Dalang utama di balik percobaan pembunuhan tersebut bahkan hingga kini belum terungkap. Sebab ketika Arthur menginterogasi sang eksekutor secara langsung, pria itu memilih bungkam hingga napas terakhirnya.
Arthur membuka matanya lagi. Sejak hari itu, ia menyadari satu hal. Selama mahkota Castlewood masih berdiri di atas kepalanya, maka keluarganya tidak akan pernah benar-benar hidup aman. Karena itulah, Arthur tidak lagi terkejut oleh ancaman pembunuhan seperti ini.