Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Keluarga Arkanov
Suasana di dalam rumah tua itu berubah drastis. Leonard yang sejak tadi terlihat tenang kini berdiri dengan wajah tegang, Damar bahkan terlihat lebih buruk, ia seperti baru saja melihat hantu.
Bintang menyipitkan mata.
"Siapa Arkanov?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
"Hei." Bintang melangkah maju. "Aku bertanya."
"Masalah yang selama ini berusaha kami hindari." Damar mengusap wajahnya kasar.
"Jawaban yang buruk." Bintang menatapnya tajam.
"Aku setuju." Leonard mengangguk pelan.
"Apa keluarga Arkanov ada hubungannya denganku?" Rania memandangi mereka satu per satu.
"Tentu saja ada." Damar menoleh cepat.
"Apa maksudmu?" Jantung Rania langsung berdegup lebih keras.
Damar membuka mulutnya. Namun suara langkah kaki dari luar kembali terdengar.
Tap Tap Tap
Langkah yang tenang, tidak tergesa-gesa seolah orang yang datang tidak menganggap siapa pun di dalam rumah itu sebagai ancaman.
"Bersiap." Rangga langsung mengangkat pistolnya.
Anak buah Bintang ikut mengambil posisi. Suasana menjadi sunyi kemudian pintu yang sudah rusak itu terbuka lebih lebar.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk perlahan. Jas hitamnya terlihat rapi, rambutnya sudah mulai memutih, tetapi sorot matanya tajam. Di belakangnya berdiri belasan pria bersenjata.
"Sudah lama sekali," ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
"Sial." Leonard langsung mengumpat.
Bintang belum pernah melihat Leonard seperti itu. Pria tua itu biasanya selalu terlihat percaya diri, namun sekarang... ia tampak gugup.
"Siapa dia?" tanya Bintang.
"Viktor Arkanov." Damar mengembuskan napas panjang.
Nama itu membuat seluruh ruangan kembali hening. Viktor menatap ke arah Rania lama, tatapan pria itu tidak menunjukkan kebencian, justru sebaliknya, ada rasa haru yang aneh.
"Jadi ini dia," gumamnya pelan.
"Kenapa semua orang melihatku seperti itu?" Rania merasa tidak nyaman.
Tidak ada yang menjawab. Viktor melangkah masuk lebih jauh.
"Leonard." Tatapannya beralih pada pria tua itu. "Kau terlihat lebih tua."
"Aku bisa mengatakan hal yang sama." Leonard mendengus.
"Aku senang melihatmu masih hidup." Viktor tersenyum tipis.
"Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama," balas Leonard.
"Masih pemarah seperti dulu," ucap Viktor santai
Bintang mulai kehilangan kesabaran.
"Cukup." Tatapannya bergantian menatap mereka. "Seseorang jelaskan apa yang sedang terjadi."
"Kau pasti putra Adrian." Viktor mengalihkan pandangan.
"Kau mengenal ayahku?" Bintang mengernyit.
"Lebih dari yang kau kira," jawab Viktor.
"Semua orang di ruangan ini saling mengenal." Damar tertawa pahit.
"Lalu kenapa aku tidak tahu apa-apa!" bentak Bintang.
Karena semua orang berusaha melindungimu," jawab Viktor tenang.
"Kalimat itu lagi." Bintang langsung tertawa sinis.
Rania memejamkan mata, ia juga sudah muak mendengarnya.
"Aku hanya ingin satu jawaban." Rania menatap Viktor lurus. "Siapa aku sebenarnya?"
Viktor terdiam, tatapannya melembut.
"Kau benar-benar mirip ibumu," ucap Viktor.
"Aku tidak bertanya soal itu," bantah Rania kesal.
"Kau juga punya sifatnya."
"Jawab pertanyaanku." Rania mengepalkan tangan.
Viktor menatap Leonard, kemudian Damar alu pria yang mengaku ayah Bintang, seolah sedang meminta izin. Tidak ada yang berbicara dan itu membuat Viktor menghela napas panjang.
"Baik," ucap Viktor.
Jantung Rania langsung berdegup semakin cepat, Bintang pun ikut menatap pria itu tanpa berkedip.
"Kau bukan orang biasa, Rania," ucap Viktor lagi.
"Aku tahu itu." Rania mengernyit.
"Tidak. Kau tidak tahu." Viktor melangkah mendekat. "Kau lahir di tengah perang."
Rania membeku dan Bintang ikut terdiam.
"Perang apa?" tanya Rania.
"Perang yang menghancurkan persahabatan kami." Tatapan Viktor berubah dingin. "Perang yang membuat banyak orang mati."
Leonard langsung memalingkan wajah, Damar menunduk sedangkan pria yang mengaku ayah Bintang memejamkan mata. Semua reaksi itu membuat Rania semakin takut.
"Aku tidak mengerti." Rania menggeleng pelan.
"Kau akan mengerti," jawab Viktor.
"Kalau begitu jelaskan," pinta Bintang.
"Dua puluh lima tahun lalu, ada sesuatu yang sangat berharga." Viktor mengangguk.
"Sesuatu apa?" tanya Rania dengan bingung.
"Sebuah dokumen." jawab Viktor seperti teka-teki lagi.
"Masih tentang dokumen itu?" Leonard langsung tertawa.
"Karena semua ini berawal dari sana," balas Viktor.
"Dulu mungkin," bantah Leonard.
"Dan sampai sekarang," pungkas Viktor lagi.
"Dokumen apa?" Bintang mengerutkan kening.
Viktor tidak langsung menjawab, ia justru menatap Rania.
"Dokumen yang membuatmu diburu sejak lahir," ujar Viktor tiba-tiba.
Kalimat itu membuat tubuh Rania membeku.
"Apa?" kejut Rania.
"Kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuka rahasia di dalamnya." Viktor menatapnya dalam.
"Omong kosong." Rania menggeleng cepat.
"Aku berharap itu memang omong kosong," balas Viktor lagi.
"Kau tidak seharusnya mengatakan ini." Damar mengusap wajahnya.
"Sudah terlambat," jawab Viktor pada Damar.
"Belum." Damar sedang menahan emosinya.
"Dia berhak tahu," ujar Viktor santai.
Tiba-tiba suara tawa Leonard terdengar. Semua orang menoleh dan pria tua itu tampak geli.
"Aku baru sadar sesuatu," ujar Leonard.
"Apa?" Viktor menyipitkan mata.
"Kau masih belum mengatakan bagian terpentingnya," jawab Leonard.
Wajah Viktor langsung mengeras, Damar juga terlihat tegang.
Bintang memperhatikan perubahan mereka dan ia langsung tahu, ada sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang belum diungkapkan.
"Apa yang belum dikatakan?" tanyanya.
"Katakan pada mereka." Leonard tersenyum tipis.
Viktor tidak bergerak.
"Katakan," pinta Bintang.
Viktor tetap diam.
"Katakan!" bentak Leonard.
Untuk pertama kalinya sejak datang, emosi pria tua itu meledak. Rania menelan ludah, jantungnya terasa semakin tidak nyaman.
"Apa?" tanyanya pelan.
Leonard menatapnya, tatapan pria tua itu membuat bulu kuduknya meremang.
"Kau ingin tahu siapa dirimu?" tanya Leonard dingin.
Rania mengangguk.
Leonard tersenyum, senyum yang membuat semua orang di ruangan itu terlihat tegang.
"Kau bukan hanya anak dari seseorang," ujar Leonard.
Rania membeku.
"Kau adalah alasan kenapa semua ini terjadi," lanjut Leonard.
Suasana langsung hening, bahkan napas terasa berhenti.
"Apa maksudmu?" tanya Bintang.
Leonard menatap Viktor kemudian Damar lalu pria yang mengaku ayah Bintang.
"Tanyakan pada mereka." Leonard menujuk kepada pria-pria setengah tua itu.
Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak dan diam mereka justru terasa lebih mengerikan daripada jawaban apa pun. Kemudian Viktor menutup matanya, seolah akhirnya menyerah. Saat ia kembali membuka mata, tatapannya langsung tertuju pada Rania.
"Ada satu hal yang harus kau ketahui," ujar Viktor.
"Apa?" Jantung Rania berdegup kencang.
"Kau bukan satu-satunya anak yang lahir malam itu." Viktor menarik napas panjang.
Rania membeku, Bintang langsung menoleh, Leonard tersenyum sedangkan Damar terlihat pucat karena rahasia yang selama puluhan tahun mereka sembunyikan akhirnya mulai terungkap.
"Apa maksudmu?" bisik Rania.
Viktor menatap Bintang lalu kembali menatap Rania dan kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan kehilangan suara.
"Karena malam itu..." Viktor berhenti sejenak. "Kau lahir bersama seorang bayi laki-laki."