Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.
"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"
Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Mengantar
Rei mengolesi lehernya dengan fondation, juga tak lupa memakai sweater. Kini dia baru mengerti mengapa Marva kemarin menyuruhnya memakai sweater, mungkin agar orang-orang mengira bahwa dirinya dan Marva telah melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri.
Sesekali Rri menguap, dia hanya tidur kurang dari dua jam saja. Diliriknya Marva dari kaca yang sibuk dengan ponselnya.
Marva sebenarnya tidak melakukan kesibukan dengan ponselnya. Dia hanya sedang memikirkan kegiatannya bersama Rei tadi malam.
Saat dia terbangun, dia melihat wajah Rei dan wanita itu ada dalam pelukannya. Nafas hangat Rei terasa di dada bidangnya yang tidak memakai baju. Tidak lama kemudian, Rei terbangun dan Marva memejamkan matanya.
Rei melonggarkan pelukan Marva, dan meringis, membuat Marva langsung terbangun.
"Kenapa?" tanyanya.
Rei hanya menggeleng, merasa malu jika dia harus mengatakannya.
"Tunggu sebentar."
Marva langsung masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Rei. Setelah siap, digendongnya Rei dan dibawa ke bathub.
"Berendamlah, nanti kalau sudah selesai, kamu bisa memanggilku."
Marva menutup pintu kamar mandi, dan melihat ke arah kasur yang terdapat noda darah, kembali menyadarkan Marva bahwa tadi malam dia dan Rei telah benar-benar melakukannya. Bukan hanya khayalan apalagi mimpi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Rei terus termenung.
Sudah terjadi, sudah benar-benar terjadi. Semoga aku bisa segera hamil agar semua ini bisa segera berakhir.
Rei meneteskan air matanya, yang semakin lama semakin deras dan mulai terisak. Dia menutup mulutnya, agar tangisannya tidak terdengar ke kuar, apalagi di dengar oleh Marva.
Entah dia menyesal atau tidak, namun semua sudah terlambat.
Dia juga ingat, saat telah selesai melakukannya, Marva mengusap pelan perutnya sambil berbisik, "Semoga kamu segera hadir, my baby."
Ingat Rei, tugasmu di sini hanya memberikan keturunan. Maka berdoalah semoga kamu bisa segera hamil.
Di luar, Marva termenung. Jika Rei hamil, bagaimana perasaan Viola? Satu hati akan berduka namun banyak hati yang bahagia.
Pintu kamar mandi terbuka, Rei ke luar dengan hanya memakai handuk sebatas dada dan paha, karena dia lupa mengambil seragam sekolahnya dari dalam tasnya, yang belum sempat dia keluarkan.
Marva melihat jejak yang dia berikan di sepanjang leher dan dada Rei yang tak tertutup handuk, bahkan di pahanya pun banyak.
"Aku mandi dulu, tunggu aku."
"Saya belum menyiapkan air untuk Kakak."
"Biar aku saja."
Rei lalu memakai seragamnya, namun dia melihat dari kaca, jika ditubuhnya banyak kissmark, membuat wajahnya merona malu.
Marva ke luar, dan melihat Rei yang sudah menyiapkan pakaian untuknya.
"Kak, ayo kita turun."
Marva tersadar dari lamunannya, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Aw," Rei kembali meringis.
"Kalau masih sakit, sebaiknya jangan ke sekolah dulu."
"Tapi aku ada ulangan, lagi pula sebentar lagi akan ujian, aku tidak ingin ketinggalan pelajaran."
Mereka turun bersama, di ruang makan sudah ada Frans, Carles, Delia dan Viola. Mereka kembali melihat Rei yang menggunakan sweater.
Lalu tiba-tiba Rei bersin beberapa kali.
"Kamu sakit?"
"Aku hanya flu saja."
Pikiran mereka tentang Rei yang memakai sweater, yang tadinya mengira untuk menutupi jejak kepemilikan, kini mengira karena Rei flu.
"Jagalah kesehatan, agar kamu juga bisa segera hamil."
Ya, aku hanyalah mesin pembuat anak.
Marva melirik Rei yang menunduk, sebelah tangannya menggenggam tangan Rei, membuat perempuan itu menengok ke arahnya, namun pandangan Marva tetap ke arah makanan.
Viola merasa kini apa yang dulu sering dia rasskan, akhirnya dirasakan juga oleh Rei. Diteror dan dituntut soal anak.
Sedangkan Delia, bisa melihat Rei yang sedikit tertekan.
"Biar kamu diantar oleh Marva, dan Marva, belilah seragam sekolah Rei yang baru."
"Jangan! Saya bisa ke sekolah naik sepeda. Orang-orang bisa berpikiran yang tidak-tidak jika saya diantar dengan mobil mewah. Juga sebentar lagi lulus sekolah, jadi tidak perlu membeli seragam yang baru."
"Biar aku antar, nanti kamu bisa turun beberapa meter sebelum sekolah, sepedamu juga bisa dimasukkan ke dalam bagasi," ucap Marva.
Dia masih ingat kalau Rei masih merasa sakit, apa jadinya nanti dia mengayuh sepeda dengan jarak yang cukup jauh.
Viola merasa cemburu karena Marva mengantarkan dan memberikan perhatian pada Rei. Sebenarnya itu hanyalah tanggung jawab Marva sebagai suami, meski dia menikah karena terpaksa.
Apa kami harus tinggal satu atap? Tidak bisa kah aku dan perempuan ini tinggal di tempat yang terpisah? Tapi tinggal di tempat yang berbeda juga, membuat aku dan Marva bisa semakin berjarak.
"Kami pergi dulu."
Marva ke luar disusul oleh Viola dan Rei.
"Kak, saya pergi dulu," pamit Rei pada Viola di depan pintu, setelah sebelumnya Rei berpamitan pada Frans, Carles dan Delia.
Viola tak menjawab, dirinya masih belum bisa menerima kehadiran Rei dalam rumah tangganya, bahkan mungkin tidak akan pernah.
Marva melihat keterdiaman Viola kepada Rei. Dia juga tidak bisa melarang, bahkan bisa mengerti bagaimana perasaan Viola.
"Aku pergi," pamit Marva pada Viola.
"Iya, hati-hati di jalan," ucap Vio sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
Marva juga sudah memasukkan sepeda Rei ke dalam mobil.
"Kak, pulang sekolah nanti aku mau ke rumah sakit. Oya, nanti malam aku bolehkan menginap di rumah sakit?"
"Kamu boleh ke sana, tapi jangan menginap. Ingat kondisi kamu juga sedang tidak baik."
"Baiklah," jawab Rei singkat.
Sebagai istri dia harus mematuhi perkataan Marva. Beberapa meter sebelum tiba di sekolah, Marva menghentikan mobilnya dan mengeluarkan sepeda Rei.
"Oya, ini buat kamu."
Marva memberikan uang lima ratus ribu dan black card untuk Rei.
"Buat kamu jajan, dan ini buat kebutuhan kamu kalau ada yang mau kamu beli atau ada kebutuhan mendesak."
"Jangan repot-repot, Kak."
"Ini kewajiban aku sebagai suami. Aku juga memberikannya untuk Viola. Oya, aku belum mengurus rekening dan ATM unguk kamu, mungkin nanti siang baru aku urus."
"Ini sudah cukup, Kak."
"Jangan menolak! Sudah, nanti kamu terlambat."
Rei akhirnya menerima pemberian Marva dan memasukkannya ke dalam dompet.
Rei mulai mengayuh sepedanya dengan pelan, karena masih merasa sangat sakit. Tadi saja saat di mansion, dia berusaha berjalan dengan normal agar tidak menarik perhatian keluarga Marva.
Marva mengikuti Rei dari belakang, sama seperti yang dia lakukan dari rumah sakit kemarin. Setelah Rei memasuki gerbang sekolahnya, Marva kemudian melajukan mobilnya.
Di dalam perjalanan, dia kembali teringat akan malam tadi. Malam di mana dia menanamkan banyak benih di dalam rahim istrinya itu. Entah mengapa, dia yang sebelumnya cuek saja soal keturunan, kini mulai berpikir soal anak.