NovelToon NovelToon
My Bastard Husband

My Bastard Husband

Status: tamat
Genre:Patahhati / Balas Dendam / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Erna Surliandari

Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.

Happy reading!

Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.

Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.

Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekat, namun begitu jauh

Naya kembali terdiam, menahan semua perih di dadanya. Ia bisa menerima perkataan Ririn yang memang tak tahu semuanya. Tapi dengan Isti, rasanya menjadi Sepuluh kali lebih perih ketika Ia mengucapkan meski dengan nada datar dan tanpa menatapnya sama sekali.

"Mba, makasih ya. Saya puas dengan pelayanan kamu. Saya udah belanja beberapa produk sama temen saya, atas rekomendasi kamu. Dan ini, tips karena kamu sudah begitu ramah dengan kami." ucap Ririn, dengan memberikan selembar uang biru pada Naya.

Ririn lalu pergi dengan menggandeng Isti, pergi ke tempat belanja yang lain. Mereka tampak begitu bahagia, dengan segala yang mereka miliki, seperti tanpa pernah merasa kurang seperti Naya saat ini.

"Ku fikir, dengan menikah, hidupku akan terasa lebih ringan. Tapi, ternyata tidak." ujar Naya. Ia menggenggam erat uang tips tadi dengan begitu erat. Tersenyum kecut mengingat kembali akan nasib yang masih terkatung-katung.

*

*

*

Lelah seolah belum menghentikan langkah Dua wanita dewasa itu untuk menjelajahi Mall yang mereka hampiri. Tak terasa, hari sudah mulai sore, dan waktunya mereka pulang ke rumah masing-masing.

Isti sesuai janjinya mengantar Ririn pulang hingga ke depan pintu rumahnya. Ririn menawarkan untuk singgah, tapi Isti menolak dengan alasan Zalfa yang telah menunggunya di rumah. Apalagi, Rani masih ada jadwal konsul dan perbaikan proposal skripsi bersama para sahabatnya. Isti pun pamit, dan buru-buru pulang ke rumah.

"Assalamualaikum..." ucap Isti yang memasuki rumahnya, disambut Zalfa dengan pelukan hangat untuk sang Mama.

"Kok lama?" tanya Zalfa, yang sudah sejak tadi menunggu.

"Maaf, Mama tadi ke Mall sebentar buat beli bedak. Mama juga lihat mainan, terus belikan buat Zalfa."

Isti memgeluarkan sebuah mainan yang sedang trend saat ini, yang sering di sebut dengan pop it. Entah apa fungsinya, tapi Zalfa sudah sejak lama menginginkannya karena Aisyah sudah terlebih dulu memiliknya.

Zalfa tampak begitu bahagia, dan langsung duduk memainkannya dengan diam. Entah bagaimana caranya, karena Isti hanya melihat bulatan-bulatan saja disana.

"Is, udah pulang?" tanya Bu Laksmi, yang keluar dari kamarnya. Sepertinya baru saja shalat Ashar.

"Udah, Bu. Maaf telat, tadi ke mall dulu. Dan... Isti malah ketemu dia disana...." ucap Isti, sembari mencium tangan mertianya.

"Dia? Ngapain ketemu disana? Dia shoping, ngabisin duit suamimu?" tanya Bu Laksmi.

"Ibu kan tahu, gaji Mas Fikri aku yang pegang, jadi masih terkendali. Dia kerja, kembali jadi SPG." ujar Isti, yang sebenarnya kasihan pada wanita itu.

"Kasihan juga lihatnya." imbuh Isti.

"Ngga usah kasihan. Dia pantas menerimanya, anggap saja Ia sedang melewati masa sulit dalam berkeluarga. Sama sepertimu, ketika menemani Fikri dari Nol hingga sekarang. Enak saja, mau senang-senang tanpa berjuang. Gaji Fikri itu hakmu dan Zalfa, itu pun masih kamu bagi dengan Rani."

Ucap Ibu Laksmi benar, gaji Fikri memang sudah di bagi-bagi oleh Isti. Fikri sebagai penanggung jawab Sang adik dalam membiayai hidupnya, semua sudah terkontrol dengan baik oleh Isti. Tak pernah kurang sama sekali, dan selalu ada ketika Rani meminta kebutuhannya.

"Oh iya, besok Mas Fikri gajian." ingat Isti, ketika melirik kalender yang terpajang di atas kulkas. Wajahnya pun berseri-seri, Ia membayangkan ketika nanti Mas Fikri akan meminta haknya, atau bahkan berani meminta hak untuk Naya padanya.

"Ketika kamu jauh, masih masuk akal jika kamu meminta banyak dengan alasan ongkos hidup di perantauan. Dan kala itu, aku tak tahu sama sekali ketika aku kau bohongi mentah-mantah. Apakah, sekarang kau berani meminta dengan segala kejujuranmu?" lirik Isti, pada foto pernikahan mereka, yang sebenarnya begitu ingin Ia lepas dari dinding rumahnya.

"Mama... Papa mana, kok belum pulang?" tanya Zalfa yang kembali rindu.

"Papa lembur, sayang. Papa lagi banyak kerjaan, kan biasanya begitu kalau udah tanggal segini."

"Oh iya, Zalfa lupa. Berarti, besok kita jalan-jalan ya? Kan, Papa gajian."

"Aah, pinternya anak Mama. Faham banget kalau Papanya besok gajian. Yaudah, besok kita jalan-jalan sebentar." balas Isti pada permintaan anaknya itu.

Memang sejak dulu, jika Fikri gajian, mereka akan merayakannya dengan jalan-jalan bersama. Meski kadang hanya ke Mall dan ke wahana permainan yang tak terlalu jauh tempatnya. Meski Isti tak tahu, apakah Fikri bisa menemani sang anak atau tidaknya besok. Fikri kini memang dekat, tapi terasa jauh.

"Mending jauh sekalian, Mas. Jadi Zalfa ngga terlalu banyak berharap padamu. Kamu Yang kini dekat, namun sulit untuk di sentuh." gumam Isti dalam hati.

Sore pun berganti malam, Rani pulang seperti biasa dengan wajah yang lelah dan fikiran yang sedikit tertekan. Wajar, karena semester akhir dengan segudang tugas dan skripsinya. Ditambah lagi, dengan masalah Kakaknya. Meskipun, Isti memintanya tak memikirkan, tapi akan selaluh terfikirkan olehnya.

"Ran, mandi terus makan dulu sana, biar seger." tegur Isti, yang keluar dair kamar Zalfa.

"Zalfa udah tidur, Mba? Mas pulang?" Rani memberondong pertanyaan.

"Udah, dan masmu ngga pulang. Dia pulang ke sana. Ke...."

"Aish, sudahlah, tak usah diteruskan. Cukup kalimat pertama saja, Rani sudah faham." ujar Rani, dengan wajah kesal, ketika harus mendengar nama perempuan itu.

"Rani, ngga boleh gitu sama Mas. Dia Mas kandungmu, Walimu. Sebenci apapun kamu sama dia, Kamu akan tetap butuh dia. Terutama ketika menikah nanti."

"Mendengar kata pernikahanpun, rasanya Rani sudah trauma Mba. Kelakuan Mas bikin Rani ilfeel sama laki-laki. Bahkan yang deketin Rani pun, dengan terang-terangan Rani tolak."

"Heh, ngga boleh gitu, dosa. Masalah ini, adalah masalah Mas sama Mba, Rani ngga boleh terlalu ikutan."

Rani menghembuskan nafas panjang, Ia kembali menatap Isti, lalu menganggukkan kepalanya, tanpa kata IYA. Kemudian masuk ke kamar, menuruti semua perintah Kakak Iparnya itu.

...*~*...

" Mas, tadi aku ketemu Mba Isti di Mall." lapor Naya pada Fikri.

" Lalu? Dia ngga ngapa- ngapain kamu 'kan?" tanya Fikri dengan sedikit cemas.

Naya menggeleng, namun kemudian Ia menundukkan wajahnya sendu.

"Enak ya, Mba Isti. Mau belanja apapun dia mau, sebanyak apapun, tanpa mikir besok mau makah apa. Hari ini aja, Aku untungnya dikasih Tips sama sahabatnya. Jadi, bisa makan enak dikit." ujar Naya pada Fikri, dengan raut wajah sedihnya.

"Besok Mas gajian. Mas akan coba bilang ke Isti, agar memberi lebih sama Mas. Karena, biar bagaimanapun ada jatah kamu disana. Harusnya dia faham itu." bujuk Fikri pada istri mudanya itu.

Membuat Sang istri muda kembali tersenyum, dan berkhayal akan mendapatkan haknya sebagai istri dari suaminya. Harapan Naya adalah diperlakukan secara adil, dan sama rata antara Isti dan dirinya.

"Karena setidaknya, statusku adalah istri, meski istri sirinya. Kami sah menikah, dan tak hanya berzina. Harusnya dia menghargai itu." gumam Naya, yang bangga akan statusnya.

1
NaNa
Luar biasa
kinan kinan
Seru dan ceritanya bagus...
wo ai ni
lah gajelas bgt, takdir situkang selingkuh sama pelakor kok enk bgt hidupnya, kyk ga ada rasa sesal bersalah
Soraya
mksh y thor karyanya
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak👍
Ririn Nursisminingsih
suka karakter isti
Assyifa Ramadhani
untung isti masi liat ank ma ibu,
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya
Aas Azah
baru mampir thoor tapi udah bikin nyesek😭😭😭
Alexa Juliana
Semoga bayinya kembar biar rumah tambah rame..
Alexa Juliana
Jgn² nanti ternyata ayahnya Laras adalah Pak Bardo..
Alexa Juliana
Menjemputnya ---> menjenguknya
Alexa Juliana
Awal kehancuran hidupmu sdh di depan matamu Fikri..nikmati hari2mu saat sdh di ceraikan Isti..
Alexa Juliana
Jgn² Rani tuh yg ngehajar Naya
Alexa Juliana
Si Naya tuh yg ngirim foto ke sekolah Zalfa..
Alexa Juliana
Gaji Masih pas²an sok sok'an punya istri 2..
Alexa Juliana
Mengharapkan naik pangkat demi utk menghidupi selingkuhan bukan demi kebahagiaan anak dan istri sah..Semoga mimpimu g akan terwujud Fikri..kalau perlu posisimu diturunkan..
Alexa Juliana
Pak Bardo kan duda..semoga Isti bercerai dgn Fikri dan menikah dgn Pak Bardo biar si Fikri tau rasa klo berlian yg dia sakiti menikah sama si Boss..
Alexa Juliana
Klo ada di dekat si Fikri, asli pengen getok tuh kepalanya.. egois banget sih..
Alexa Juliana
Setuju sama perkataan Bu Laksmi..
Alexa Juliana
Tetap keukeuh g mau cerai tp ga mau juga ngelepasin selingkuhan hanya krn sdh dijebol..Iihh jijay banget itu otong udh nyelup lobang yg lain..di pikiran suami, klo suami selingkuh itu g apa dan dianggap wajar, tp klo istri selingkuh ga ada kata maaf dan langsung bilang istrinya seorang jalang dan diceraikan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!