NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Pewaris Kedua

Perjalanan kembali ke mansion berlangsung dalam keheningan.

Raven terus menggenggam foto yang ditemukan di makam Adrian Valerio. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

"Anak ini bukan satu-satunya pewaris keluarga Valerio."

Kalimat itu seolah menghantui setiap tarikan napasnya.

Aurora yang duduk di samping Raven diam-diam memperhatikan wajah pria itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan.

Raven menggeleng.

"Aku hanya sedang berpikir."

"Tentang saudaramu?"

Raven menatap foto kecil itu lagi.

"Kalau ini benar... berarti selama ini aku tidak sendirian."

Aurora menggenggam tangan Raven dengan lembut.

"Kalau begitu kita akan menemukannya."

Raven menoleh. Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terungkap, ia tersenyum tipis.

"Terima kasih."

Sesampainya di mansion, Elena langsung menghampiri mereka.

"Kalian baik-baik saja?"

Aurora mengangguk.

"Untungnya kami datang tepat waktu."

Raven menyerahkan foto itu kepada Leo.

"Selidiki semua tentang keluarga Valerio."

Leo menerima foto tersebut.

"Baik, Tuan."

"Aku ingin tahu apakah benar masih ada pewaris lain."

Leo segera pergi bersama tim intelijen organisasi.

Malam mulai larut.

Di ruang kerja, Raven kembali membuka semua dokumen yang ditemukan di ruang bawah tanah mansion lamanya.

Satu demi satu ia memeriksa setiap lembar.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah surat yang sebelumnya terselip di antara map-map tua.

Amplop itu sudah menguning dimakan usia.

Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan Matteo Alvaro.

"Untuk Raven. Bacalah saat kau siap mengetahui semuanya."

Raven menarik napas panjang sebelum membuka surat itu.

Isi surat membuat ruangan mendadak sunyi.

"Raven, jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku gagal melindungimu."

"Ayah kandungmu, Adrian Valerio, mempercayaiku untuk menyelamatkanmu."

"Malam itu aku berhasil membawa satu anak keluar dari kobaran api."

"Namun..."

Kalimat berikutnya terputus.

Bagian bawah surat telah robek.

"Sial..."

Raven mengepalkan surat itu.

"Lagi-lagi bagian terpenting hilang."

Aurora ikut membaca surat tersebut.

"Kalimatnya mengatakan 'satu anak'."

Raven mengangguk perlahan.

"Itu berarti..."

"...ada anak lain yang tertinggal."

Ruangan kembali hening.

Kemungkinan bahwa ia memiliki saudara kandung kini terasa semakin nyata.

Di sisi lain kota...

Damian memasuki sebuah ruangan luas yang hanya diterangi cahaya lampu gantung.

Black King sudah menunggunya di sana.

"Rencanamu gagal," ucap Black King dingin.

Damian tertawa kecil.

"Gagal?"

"Justru semuanya berjalan sesuai keinginanku."

Black King menatapnya tajam.

"Kau membiarkan Raven hidup."

"Aku memang sengaja."

Damian mengambil segelas anggur.

"Kalau dia mati sekarang..."

"...permainan ini akan terlalu cepat berakhir."

Black King terdiam.

Damian melanjutkan,

"Biarkan dia menemukan sedikit demi sedikit kebenaran."

"Semakin dekat dia dengan jawaban..."

"...semakin besar rasa sakitnya."

Keesokan paginya...

Leo memasuki ruang kerja dengan wajah serius.

"Tuan."

"Apa hasil penyelidikanmu?"

Leo meletakkan sebuah map di atas meja.

"Kami menemukan catatan kelahiran keluarga Valerio."

Raven segera membukanya.

Di dalam dokumen itu tertulis jelas.

Adrian Valerio dan istrinya memiliki anak kembar.

Raven langsung membelalakkan mata.

"Anak kembar?"

Leo mengangguk.

"Ya."

"Salah satunya bernama Raven."

"Sedangkan nama anak kedua..."

Leo berhenti berbicara.

"Kenapa diam?"

Leo menelan ludah.

"Nama itu sengaja dihapus dari semua dokumen."

Raven menarik napas panjang.

Berarti seseorang benar-benar ingin menghilangkan jejak saudara kandungnya.

Namun di bagian paling bawah dokumen terdapat sebuah cap merah yang hampir pudar.

Panti Asuhan Saint Maria.

Aurora membaca tulisan itu dengan saksama.

"Mungkin di sanalah kita bisa menemukan petunjuk."

Raven menutup map itu perlahan.

"Kalau begitu..."

"...besok kita berangkat ke Panti Asuhan Saint Maria."

Tanpa mereka sadari, dari balik jendela ruang kerja, seseorang diam-diam memotret dokumen tersebut.

Foto itu langsung dikirim ke sebuah nomor rahasia.

Beberapa detik kemudian, sebuah balasan masuk.

"Jangan biarkan Raven menemukan pewaris kedua."

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!