"Ara... mas sudah bilang, mas tidak peduli kamu membalas cinta mas atau tidak, tapi mari kita melangkah berdua. Kita bergandengan tangan bersama dengan ikatan suci. Mas ingin mengikrarkan janji nikah hanya dengan kamu."
Kata-kata itulah yang akhirnya membuat Ara mengambil keputusan menerima Sony, meskipun tanpa cinta, ditengah-tengah rasa sakit akibat cintanya dikhianati.
Kata-kata CINTA itu sangat menyakitkan bagi Ara.
Cinta seperti apakah yang akan diterima oleh Ara? Seorang gadis cantik yang menjadi kesayangan keluarga, terutama papinya.
Ikutin terus yuk kisahnya dan tinggalin jejaknya dengan like, komen & vote
Sebelumnya baca juga Bukalah Hatimu Untukku ya.... Biar nyambung cerita dan tokoh-tokohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sebuah asumsi
Di kamarnya, Ara sangat kaget mendengar suara yang cukup keras dari ponsel dokter Sony, bahkan Ara
sampai agak menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dan tak lama kemudian dokter Sony mematikan ponselnya, rupanya dia sudah menyadari kalau ponselnya masih dalam mode bicara dengan Ara.
Ara masih terngiang dengan ucapan seorang perempuan yang terdengar dari ponsel dokter Sony.
“Sony kamu kemana aja sih, selalu menghindar terus? Alasan sibuklah, inilah… tapi nyatanya kamu ngurusin pasien spesialmu yang pakai kursi roda itu. Rasa kasihanmu pada dia membuat kita susah ketemu. Came on Son…. aku kangen….”
Tanpa sadar air mata Ara meleleh.
Ah…. ternyata selama ini kamu hanya merasa kasihan padaku mas. Kasihan pada kondisi kakiku yang belum pulih
dan terus memerlukan bantuan orang lain.
Sikap manismu, kesabaranmu dan supportmu ternyata hanya karena rasa kasihan padaku. Ternyata ungkapan
cintamu hanyalah sebuah kebohongan. Sama seperti dia. Betapa bodohnya aku. Bodoh….! Bodoh…..!
Apakah aku memang patut dikasihani? Sebegitu menyedihkankah kondisiku sehingga patut untuk dikasihani?
Sungguh menyakitkan. Aku harus segera sehat agar semua orang tidak mengasihaniku lagi.
Ara terus merutuki dirinya sendiri yang merasa bodoh.
Sementara itu, dokter Sony yang baru menyadari kalau ponselnya masih mode on bicara dengan Ara, buru-buru
mematikan. Hatinya gusar karena Ara pasti mendengar ocehan wanita yang ada di hadapannya. Wajah dokter Sony berubah menjadi dingin, sama persis dengan saat tidak berdekatan dengan Ara dan keluarganya.
“Alice… apa maksudmu datang-datang langsung marah-marah begini?” Tanya dokter Sony dengan sedikit ketus.
“Aku kesal karena kamu sekarang berubah, apalagi sejak kamu dekat dengan pasienmu yang cacat itu…” Jawab
Alice dengan nada kesal.
Alice adalah seorang dokter ahli kecantikan yang mempunyai karier cemerlang. Selain sebagai dokter, dia juga
memiliki klinik kecantikan yang cukup terkenal. Rupanya sejak mahasiswa dia sudah mengidolakan sosok Sony untuk menjadi suaminya kelak. Namun ternyata Sony lebih memilih seorang gadis cantik yang sederhana dan menikahinya, meskipun usia pernikahan mereka tidak lama karena isterinya meninggal setelah melahirkan.
Dengan memanfatkan persahabatan mamanya dan mama Sony, kembali Alice mendekati Sony yang sudah menjadi duda, dan ini sangat didukung oleh mama Alice. Tetapi rupanya cinta Sony tidak bisa berpindah pada sosok Alice. Apalagi Alice tidak bisa mengambil hati Chacha, sehingga anaknya tidak dekat dengan Alice. Namun Alice tidak putus asa, dia terus melakukan pendekatan pada Sony. Bahkan dengan bantuan mamanya, Sony yang merasa tidak enak mau menemani Alice jalan ataupun makan, meskipun dengan terpaksa.
Sudah beberapa kali Sony mengajak Chacha saat bertemu dengan Alice, rupanya Alice lebih perhatian pada
dirinya dari pada dengan Chacha, sehingga Sony mengurungkan niatnya untuk mencoba membuka hati untuk Alice. Sampai akhirnya dia bertemu dengan sosok Ara. Gadis muda yang ceria, lincah dan sayang pada anaknya.
Dokter Sony terkejut saat Alice menyebut Ara sebagai gadis cacat. Wajahnya makin dingin.
“Benar kan kata-kataku, kamu berubah karena dia…..?” Kembali terdengar suara Alice, meskipun nadanya sudah
mulai menurun.
“Tidak ada yang berubah Alice, aku masih tetap seperti dulu…..” Jawab dokter Sony lagi.
“Kalu tidak berubah, kenapa kamu selalu menghindar dariku…? Bahkan kamu selalu menolak ajakanku…”
“Aku tidak menghindar, tapi memang aku benar-benar sibuk. Aku…….” Kata-kata dokter Sony terhenti saat
berbunyi nada dering dari ponselnya. Setelah dilihat, ternyata dari asistennya, Ronald
“Ya Nal….. ada apa….?”
“Pak satu jam lagi bapak ditunggu meeting dengan pak Ramli dari PT Angkasa.”
“Kenapa kamu nggak ngingetin dari tadi….?” Tanya dokter Sony dengan nada kesal.
“Saya sudah coba telpon bapak dari tadi, tapi rupanya bapak mematikan ponsel…” Jawab Ronald takut-takut.
Dokter Sony baru ingat kalau tadi saat ada operasi, dia mematikan telponnya, dan menyalakan lagi saat akan
menelpon Ara.
“Tidak bisa cansel…..?” Tanya dokter Sony.
“Maaf tidak bisa pak, ini sudah cansel yang kedua. Apalagi pak Ramli sudah otw ke kantor pak…”
Dokter Sony berdecak.
“Ya sudah…, saya jalan sekarang… Siapkan semua dokumennya…!” Kata Dokter Sony lalu berkemas.
“Alice sory… aku ada meeting di kantor, sudah ditunggu.” Kata dokter Sony sambil menoleh ke arah Alice.
Wajah Alice makin kelam.
“Terus kapan kita makan bareng lagi….?” Tanya Alice dengan suara memohon.
“Aku nggak bisa janji….”
Selama meeting, dokter Sony tidak dapat konsentrasi. Dia selalu kepikiran dengan Ara yang pasti sudah mendengar omongan Alice. Dokter Sony sangat khawatir kalau terjadi kesalah pahaman, apalagi Alice mengatakan kalau di hanya merasa kasihan pada Ara. Kekhawatiran dokter Sony semakin besar saat dijalan dia mencoba menelpon Ara tetapi rupanya ponsel Ara dimatikan.
Dokter Sony ingin segera mengakiri meetingnya dan menemui Ara, tetapi rupanya meeting berlangsung lama
dan membutuhkan banyak energinya karena ini menyangkut PT Angkasa yang akan menanamkan investasinya yang cukup besar di perusahaan dokter Sony, sehingga dia harus professional.
Bahkan setelah meeting berakhirpun, dokter Sony masih disibukkan dengan memeriksa beberapa dokumen
penting yang sangat melelahkan sehingga dia baru bisa pulang dari kantor sampai malam.
Sudah dua hari Ara tidak mau menerima telpon dokter Sony, bahkan chatingan lewat WA pun tidak pernah Ara
baca. Saat dokter Sony datang ke rumah, Ara beralasan pusing kepalanya dan tidak mau menemui.
Karina tidak merasa curiga dengan sikap Ara. Tetapi karena sudah satu minggu lebih Ara tidak berubah dan
selalu menolak untuk bertemu dengan dokter Sony, akhirnya Karinpun baru menyadarinya.
“Sayang…. kamu ada masalah dengan Sony….?” Tanya Karina saat menghampiri Ara di kamarnya.
“Nggak ada mam…” Jawab Ara dengan suara datar tanpa menoleh pada maminya.
“Kamu nggak pandai berbohong sayang, coba lihat mami…..” Kata Karina dengan lembut sambil memegang dagu Ara agar menoleh kearahnya. Mata Ara sudah memerah menahan tangis. Karina lalu memeluk anak gadisnya.
“Cerita sama mami, ada apa….?” Karina menguap-usap kepala belakang Ara. Terdengar isakan kecil Ara. Karina dan Seno memang dari kecil mendidik anak-anaknya untuk selalu terbuka dengan orang tuanya. Mereka memerankan diri sebagai seorang teman, sahabat dan kakak di waktu-waktu tertentu, sehingga anak-anak mau mengungkapkan semua masalah yang dihadapinya tanpa adanya jurang diantara mereka.
“Atau kamu mau nunggu papi….?” Tanya Karina lagi. Ara hanya menggelengkan kepalanya.
“Oke… kalau begitu cerita sama mami….”
Sambil terhisak, akhirnya Ara menceritakan semua yang dia dengar dari ponsel dokter Sony dan mengungkapkan semua asumsinya, pemikirannya atas sikap dokter Sony pada dirinya selama ini. Ara menyamakan dokter Sony dengan Dion.
“Ara lelah mam tapi Ara harus segera sehat, Ara harus segera pulih biar semua orang tidak lagi mengasihani Ara….” Ara mengakhiri ceritanya.
*******
Hai readerssss....
Diantara kalian ada yang setuju Ara dengan dokter Sony, tapi ada juga yang ggak setuju karena status dokter Spny yang duda. Terus.... gimana dong.....
Terus ada juga yang kesel dengan si ulet ya... padahal si ulet bulu yang ngramein lho....😂😂😂
Untuk yang kangen mas El, nanti ada bagiannya tersendiri.
Terus ikutin ceritanya aja ya dan tetap tinggalin jejaknya dengan vote, like & komen