NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Sepuluh tahun telah berlalu sejak badai api di Frankfurt meluluhlantakkan garis takdir dua benua.

Sepuluh tahun pula waktu merayap maju, mengubah remaja-remaja liar dari Oakridge menjadi jajaran pria dewasa yang memegang kendali atas gurita bisnis dan kekuasaan di bawah tanah Pantai Barat.

Namun, di dalam sebuah penthouse eksklusif di kawasan elit Los Angeles malam ini, waktu seolah membeku dalam atmosfer yang kelam, hampa, dan sarat akan frustrasi.

Di atas ranjang ukuran King Size yang terletak di tengah ruangan luas berkonsep industrial itu, seorang wanita cantik sedang bergerak dengan sangat sensual.

Tubuhnya begitu indah, meliuk-liuk dengan lekukan sempurna layaknya gitar spanyol yang terbakar gairah.

Keringat bercucuran di atas kulitnya yang kecokelatan, memberikan kesan luar biasa menarik dan menggoda bagi pria mana pun yang melihatnya.

Wanita itu memejamkan mata, mendesah pelan, mencoba mengerahkan seluruh keahlian terbaiknya sebagai wanita panggilan kelas atas demi memuaskan pria yang berada di atasnya.

Namun, kenyataannya berbanding terbalik.

Pria yang berada di atas tubuhnya sama sekali tidak menikmati aktivitas panas tersebut.

"Argh, sialan!"

Pria itu menggeram kesal.

Alih-alih mencapai puncak kenikmatan, ia justru mencengkeram bahu wanita itu dengan kasar dan membanting tubuh indahnya ke atas kasur hingga memantul.

Wajah tampannya mengeras, dipenuhi oleh ekspresi muak yang amat sangat. Pria itu adalah George.

George beranjak dari ranjang dengan sentakan kasar, meraih jubah tidur sutra hitamnya dan memakainya tanpa memedulikan wanita yang kini menatapnya dengan tatapan syok dan tidak percaya.

"Bawa wanita ini keluar dari pandanganku!" teriak George lantang, suaranya menggelegar memecah keheningan ruangan menuju arah pintu depan.

Pintu kamar langsung terbuka, dan masuklah dua orang pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam—asisten dan pengawal pribadi George.

Mereka melangkah maju dengan cepat untuk mengeksekusi perintah sang atasan.

"Kenapa? Kenapa kau mengusirku?!" teriak wanita itu, suaranya melengking histeris saat permainan nakal mereka terpaksa harus berhenti di tengah jalan.

Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, menatap George dengan mata berkaca-kaca karena harga dirinya terluka.

"Apa salahku? Aku telah melakukan segalanya sesuai keinginanmu! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun malam ini!"

George membalikkan tubuhnya, menatap wanita itu dengan pandangan dingin yang menghina. Ia melangkah mendekati tepi ranjang, lalu menundukkan kepalanya tipis.

"Kau bertanya apa kesalahanmu, hah?" tanya George dengan nada suara yang bergetar menahan jengkel.

"Ck. Dirimu sama sekali tidak membuatku merasakan hal yang memabukkan, Sialan! Sentuhanmu hambar, desahanmu palsu, dan yang paling membuatku muak..." George mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuknya dengan tegas menuju ke ujung ruangan yang remang-remang.

"...dirimu bahkan tidak mampu membuat sahabatku di ujung sana terlihat bergairah sedikit pun! Keluar dari sini sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaranku!"

Mendengar bentakan mutlak dari salah satu penguasa distrik itu, sang wanita tidak berani memprotes lagi.

Ia segera menyambar pakaiannya dan membiarkan dirinya diseret keluar oleh dua pria berbadan kekar tadi, meninggalkan kamar utama dalam keheningan yang canggung.

George mengembuskan napas panjang yang sarat akan kekesalan. Ia berjalan mendekati asisten pribadinya yang masih berdiri di dekat pintu dengan kepala tertunduk.

"Kenapa seleramu dalam memilihkan wanita untukku semakin hari semakin buruk, hah? Apa aku kurang membayarmu?!" damprat George.

Dari sudut ruangan lain, sebuah suara tawa hambar terdengar dari balik layar monitor besar.

Grey, yang sejak tadi duduk bersila di atas sofa sambil memegang controller PlayStation, mendengus sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan di layar.

"Ck. Bukan selera asisten mu yang buruk, Brengsek," sahut Grey, jemarinya bergerak lincah menekan tombol-tombol itu.

"Wanita tadi sangat cantik, bertubuh indah, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria yang biasa kau minta. Aku rasa, masalahnya ada pada dirimu sendiri. Kau sudah terlalu sering bergonta-ganti wanita selama sepuluh tahun ini, George. Frekuensi gila itu membuat minat dan sensitivitas mu semakin lama semakin menurun. Kau mulai mati rasa."

George mendengus tidak terima, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak mati rasa! Aku hanya... ah, persetan!"

Padahal, maksud terselubung George melakukan aktivitas gila di depan teman-temannya malam ini bukanlah untuk memuaskan hasratnya sendiri.

Ia sengaja menyewa wanita tercantik dan melakukan tindakan panas itu dengan harapan bisa memicu kembali insting dasar dari sahabat terbaiknya yang duduk membisu di sudut ruangan.

Ia ingin melihat sahabatnya itu tiba-tiba memiliki hasrat kembali setelah sekian lama hidup layaknya mayat berjalan.

Namun usahanya gagal total.

Di ujung ruangan yang remang-remang, duduklah Navarro Von-riccardo.

Pria yang kini telah menginjak usia dua puluh enam tahun itu tampak jauh lebih matang, dengan rahang yang tegas tertutup jenggot tipis yang terawat, dan aura dingin yang ribuan kali lebih mencekam daripada sepuluh tahun lalu.

Navarro duduk bersandarkan sofa kulit, matanya menatap kosong ke arah gelas kristal di tangannya yang berisi whiskey mahal.

Sejak awal wanita panggilan itu masuk, mendesah, hingga diusir keluar, Navarro tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Ia tetap stay dengan alkoholnya, meneguk cairan amber itu dalam diam seolah-olah dunia di sekitarnya tidak pernah ada.

Grey tentu saja pria yang normal, namun ia memilih menyibukkan diri dengan PlayStation sebagai bentuk pengalihan agar tidak perlu melihat tingkah konyol George.

Tapi bagaimana dengan Navarro?

Sejak kehilangan kekasihnya—Issabelle—dalam tragedi kebakaran kastil Frankfurt sepuluh tahun yang lalu, pria itu tidak pernah lagi dekat dengan wanita mana pun.

Jangankan menyentuh, melirik pun tidak.

Nama besar Navarro Riccardo bersih dari segala bentuk skandal asmara di seluruh Pantai Barat.

Ia mengubur seluruh emosinya dalam-dalam. Selama satu dekade, Navarro hanya menyibukkan dirinya dengan mengelola aset-aset perusahaan bersih milik ayahnya, bertransformasi menjadi seorang CEO jenius yang dingin dan kejam di dunia bisnis legal.

Ia bekerja tanpa henti dari fajar hingga fajar berikutnya, memeras seluruh tenaga dan otaknya sampai ke titik lelah yang paling ekstrem hanya agar otaknya tidak memiliki celah untuk memikirkan masa lalu.

Namun, jika malam tiba dan rasa rindu yang teramat masif kepada sang mawar es mulai menggerogoti dadanya hingga ia tidak bisa bernapas, di sinilah Navarro akan berakhir.

Di apartemen pribadi mereka, duduk diam bersama Grey dan George, meminum alkohol sampai pagi menjelang, mencoba menenggelamkan bayangan wajah Issabelle yang masih terekam abadi dengan kain rajut sutra hitamnya malam itu.

Hhh... hoammm...

Sebuah lenguhan malas terdengar dari sofa panjang yang terletak di sudut paling gelap ruangan.

Skylar, sahabat mereka yang juga perlahan membuka matanya.

Pria berambut pirang itu tampak sangat berantakan, dengan kantung mata yang cukup jelas akibat kurang tidur.

Skylar mengucek matanya, mendudukkan diri sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah tertidur selama beberapa jam di tengah kebisingan malam ini.

"Kalian berisik sekali, Sialan," umpat Skylar, suaranya parau khas orang bangun tidur. "Aku baru saja bisa memejamkan mata selama satu jam, dan George sudah berteriak seperti orang gila."

George menoleh, mendengus melihat sahabatnya yang kini telah berubah status menjadi seorang kepala keluarga.

"Kau tidur di sini seperti gelandangan, Skylar. Kenapa kau tidak tidur saja di rumah mewahmu bersama Claire?"

Skylar mengembus napas panjang, bersandar lelah pada bantalan sofa. "Jangan sebut nama rumah sekarang, George. Aku tidak tidur semalaman karena sibuk mengurus anak keduaku yang baru berusia satu tahun. Anak itu sedang berada di fase sangat rewel, giginya baru tumbuh, dan dia selalu ingin menempel pada dadaku sepanjang malam. Claire bahkan sudah kehabisan tenaga untuk menenangkannya."

Skylar melirik ke arah Navarro yang masih bergeming dengan gelas alkoholnya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan rasa syukur sekaligus kelelahan seorang ayah.

"Malam ini Claire mengizinkanku keluar karena dia tahu kita sudah sangat jarang memiliki waktu luang untuk berkumpul bersama semenjak aku fokus mengurus keluarga kecilku. Tapi melihat kalian berdua... yang satu frustrasi karena mati rasa, dan yang satu lagi..." Skylar menjeda kalimatnya, menatap sayu ke arah Navarro. "...masih tetap menjadi patung es."

Mendengar ucapan Skylar tentang anak dan keluarga, ruangan itu kembali dilingkupi oleh kesunyian yang berat.

Kehidupan Skylar telah bergerak maju secara nyata bersama Claire di Los Angeles, namun kehidupan emosional Navarro telah mati di tempat sejak sepuluh tahun lalu.

Navarro perlahan meletakkan gelas kristalnya yang telah kosong di atas meja kaca dengan bunyi klik yang pelan. Ia bersandar pada sofa, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit penthouse yang tinggi.

Tatapan matanya begitu sayu, kosong, dan dipenuhi oleh hancurnya ruang jiwa yang tidak akan pernah bisa diperbaiki oleh waktu seberapa lama pun.

"Aku tidak lagi memiliki hasrat pada apa pun, George," ucap Navarro akhirnya, suaranya terdengar sangat rendah, parau, dan dingin—sebuah pengakuan jujur yang pertama kali keluar dari mulutnya setelah sepuluh tahun membisu tentang perasaannya.

Navarro memejamkan matanya, dan seketika itu juga, memori malam terakhir bersama Issabelle kembali berputar.

Wangi mawar es yang khas, kelembutan bibir gadis itu saat ia meminta jatah ciuman dua tahun ke depan, desahan lirih yang memanggil namanya, dan penyerahan mutlak di atas ranjangnya... semua itu adalah puncak dari seluruh berahi dan kehidupan yang pernah ia miliki.

"Kematian Issabelle... telah membawa pergi seluruh jiwa dan hasrat ragawi dalam diriku," lanjut Navarro, sebutir air mata murni yang teramat jarang terlihat kini mengalir lambat di sudut mata sang Tuan Muda Riccardo, menghilang di sela-sela jenggot tipisnya.

"Bagiku, tidak ada lagi wanita di dunia ini setelah mawar esku terbakar menjadi abu di Frankfurt. Seluruh tubuh indah yang kau bawa kemari, George... tidak lebih dari sekadar tumpukan daging tak bernyawa di mataku."

George, Skylar, dan Grey terdiam kaku.

Mereka menatap Navarro dengan rasa simpati yang mendalam.

Mereka tahu, sang sahabat tidak akan pernah bisa disembuhkan, karena obat dari kegilaannya telah lenyap sepuluh tahun yang lalu di daratan Eropa—atau setidaknya, begitulah yang mereka yakini hingga malam ini.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!