Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Keberangkatan Menuju Akademi Aetherion
Festival Bintang telah usai. Namun cahaya yang muncul dibawah pohon Astra malam itu masih menjadi pembicaraan di seluruh penjuru kota. Ada yang menyebut kejadian itu sebagai keajaiban, ada juga yang menganggap hanya gangguan sihir biasa. Tapi tidak bagi para penyihir tua, mereka bahkan diam-diam mulai membuka kembali kitab-kitab kuno untuk mencari penjelasannya.
Sementara itu di kediaman keluarga Arvendis, semua orang memilih untuk bungkam. Tak seorang pun disana yang membahas kejadian semalam, seolah dengan melupakannya, mereka bisa menghindari sesuatu yang lebih besar, namun ketenangan itu hanyalah ilusi.
Matahari baru saja terbit ketika para pelayan sibuk mengangkut koper ke halaman depan. Kereta sihir keluarga Arvendis telah menunggu. Kereta berwarna putih keperakan itu ditarik oleh dua ekor kuda bersayap yang bulunya berkilau.
Hari itu adalah hari dimana Aurelia berangkat menuju akademi Aetherion. Jantung Aurelia berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri didepan pintu kastel seraya memeluk sebuah buku tua pemberian Selena. Sampulnya sederhana, tapi halaman pertama terdapat tulisan tangan yang rapi.
Rumah akan selalu menunggumu pulang.
Kalimat itu tanpa sadar membuat kedua mata Aurelia mulai berkaca-kaca, kemudian Selena memeluknya erat. “Jangan lupa untuk makan tepat waktu, kalau sakit langsung ke ruang penyembuhan, dan kalau ada yang membuatmu sedih…” Aurelia tersenyum sambil mengusap air matanya.
“… aku akan menulis surat.” Selena mengangguk pelan. Selena berusaha tersenyum, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan bahwa hatinya terasa sangat berat. Bukan karena harus berpisah dari Aurelia, tapi karena ia tahu bahwa diluar sana, secara perlahan akan memperkenalkan Aurelia pada takdir yang selama ini mereka sembunyikan.
Relia.” Rowan datang dengan membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ini apa?”
“Kau boleh membukanya ketika sudah berada di akademi.”
“Tapi isinya apa?” Aurelia menerimanya dengan bingung.
“Rahasia.”
“Kalau dibuka sekarang, bukan kejutan namanya.” Sahut Lucien yang mencoba membela Rowan, dan Rowan yang mendengar itu pun langsung mengangguk dengan penuh semangat.
“Terima kasih.” Ucap Aurelia akhirnya dengan senyuman yang terukir dibibirnya.
Sejak tadi, Kael yang tengah diam memandangi mereka pun akhirnya mencoba berjalan mendekat. Ditangannya terdapat sebuah gelang kulit hitam sederhana dengan ukiran simbol pelindung, ia mengulurkan benda itu tanpa banyak bicara.
“Pakai ini.” Ucap Kael tanpa berbasa-basi dan Aurelia pun menerimanya.
“Ini apa?”
“Pelindung sihir. Kalau terjadi sesuatu padamu, gelang itu akan aktif.” Aurelia menatap gelang itu sebentar, kemudian ia memberikan sebuah senyuman manisnya pada kakak sulungnya tersebut.
“Terima kasih, kak Kael.” Tutur Aurelia dan untuk sesaat wajah dingin Kael agak sedikit melunak. Hanya sebentar, kemudian ia segera memalingkan wajahnya agar tidak ada yang menyadari perubahannya tersebut.
Perjalanan menuju akademi Aetherion membutuhkan waktu hampir setengah hari. Kereta sihir melaju di atas jalur cahaya yang membentang di langit. Dalam perjalanan itu, Aurelia menatap keluar melalui jendela, ia melihat hutan-hutan yang luas, pegunungan yang tinggi dan danau-danau yang berkilau seperti kaca.
“Indah sekali.” Ucap Aurelia dengan nada yang kagum. Lucien yang duduk diseberang Aurelia pun tersenyum.
“Pertama kali aku ke akademi, reaksiku juga sama.” Tutur Rowan yang kemudian malah sibuk menunjuk ke luar jendela. “Itu Griffon, ada yang Unicorn. Eh bukan, itu kambing.” Mendengar itu membuat Kael tidak tahan dan langsung menutup buku yang sedang dibaca olehnya.
“Bukan kambing, itu rusa.” Sahut Kael langsung.
“Oh iya itu namanya Rusa.” Tutur Rowan seraya mengangguk-angguk, dan Aurelia hanya tertawa kecil.
Menjelang siang, kereta berhenti di sebuah bukit dan didepan mereka terdapat gerbang raksasa yang menjulang tinggi. Gerbang tersebut terbuat dari batu putih dengan ukiran rasi bintang di seluruh permukaannya dan dibagian atasnya tertulis dengan huruf kuno.
Academia Aetherion
Saat melewati gerbang, Aurelia terpaku. Dibaliknya terbentang dunia yang sama sekali berbeda. Terdapat menara-menara tinggi di antara awan, jembatan kristal yang menghubungkan antara satu bangunan dengan bangunan yang lain.
Air terjun terlihat mengalir dari pulau-pulau yang melayang di udara, ribuan burung cahaya yang berterbangan di langit biru, dan ditengah semuanya berdiri pohon raksasa yang hampir menyentuh langit, itu lebih besar dari pohon Astra yang pernah ia lihat.
“Aku…” Aurelia benar-benar kehilangan kata dan Rowan langsung menyenggol bahu saudarinya itu.
“Bagaimana? Keren, kan?” Gadis itu hanya mengangguk kagum, karena seumur hidupnya, ia belum pernah melihat tempat seindah akademi Aetherion.
Lapangan utama akademi telah dipenuhi oleh ratusan calon murid, semuanya mengenakan jubah dengan warna yang berbeda-beda sesuai daerah asal mereka. Suasana disana benar-benar ramai, ada tawa, obrolan dan suara langkah kaki bercampur menjadi satu.
Aurelia berada di kerumunan itu dengan sangat gugup, ia benar-benar tidak mengenali siapapun disana selain keluarganya, hingga tiba-tiba seorang gadis berambut merah muda menabrak dirinya tanpa sengaja.
“Maaf.” Ucap gadis itu dan buku-buku di tangan Aurelia pun berjatuhan. Namun, gadis itu pun segera membantu untuk memungutinya. “Aku benar-benar minta maaf.” Ujarnya lagi dengan menyesal.
“Tidak apa-apa.” Jawab Aurelia ramah dan membuat gadis berambut merah muda itu tersenyum lebar.
“Namaku Lyra, kau siapa?” Gadis itu menjulurkan tangannya dengan sebuah senyuman yang terlukis dibibirnya.
“Aurelia.” Balasnya dengan menjabat tangan Lyra.
“Wah namamu sangat cantik seperti pemilik namanya.” Aurelia tersipu malu dengan pujian itu. Lyra gadis yang sangat ramah, dan tak butuh waktu yang lama, mereka pun mulai mengobrol.
“Lumayan.” Rowan memperhatikan mereka dari kejauhan. “Akhirnya adikku punya teman.” Ucapnya lagi.
“Itu bagus bukan?” Lucien menyambar dengan mengangguk pelan. Sedangkan Kael, ia tetap memperhatikan sekeliling, karena instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Di balkon gedung utama akademi, seorang pria tua berjubah putih memperhatikan seluruh calon murid. Seluruh rambutnya berwarna putih tanpa terkecuali, tatapannya sangat tajam meski usianya telah senja. Ia adalah Kepala Akademi Aetherion.
Di samping Kepala Akademi, berdiri seorang pemuda berjubah hitam dengan lambang ksatria di dadanya, rambut hitamnya tertiup angin, mata abu-abunya tidak pernah lepas dari kerumunan dibawah dan tatapannya pun kemudian berhenti pada satu orang—Aurelia, dan Kepala Akademi menyadarinya.
“Kau mengenalnya?” Pemuda itu terdiam cukup lama tanpa mengalihkan pandangannya dari Aurelia.
“Ya, aku mengenal gadis itu.”
“Sejak kapan? Apa sudah lama?”
“Sangat lama.” Balasnya lagi yang masih tidak melepaskan pandangannya dan membuat Kepala Akademi tersenyum tipis.
“Lalu, kenapa tidak datang untuk menemuinya?” Tanya Kepala Akademi, dan pemuda itu hanya memandangi liontin bintang yang tergantung di leher Aurelia. Lagi-lagi tatapannya kembali berubah menjadi lembut.
“Dia tidak mengingatku. Kalau aku datang sekarang, aku hanya akan menjadi orang asing.” Tuturnya dan membuat Kepala Akademi menghela napasnya.
“Takdir memang suka sekali mempermainkan manusia.” Pemuda itu tidak menjawab, ia hanya menggenggam pita biru lusuh yang selalu dibawanya kemana pun ia pergi. Matanya kembali tertuju pada Aurelia, seolah takut kehilangan gadis itu untuk kedua kalinya.
Sore hari, upacara penyambutan dimulai. Seluruh murid baru berkumpul di lapangan utama, Kepala Akademi berdiri di atas panggung, suara beliau benar-benar menggema ke seluruh penjuru.
“Selamat datang di Akademi Aetherion. Mulai hari ini, kalian bukan lagi anak-anak. Kalian adalah calon penyihir yang akan menentukan masa depan dunia.”
Semua murid disana mendengarkan dengan serius tanpa terkecuali dengan Aurelia. Namun, ditengah pidato itu, angin tiba-tiba saja berhembus pelan dan membuat liontin di leher Aurelia kembali bersinar dengan sangat redup, begitu redup hingga hanya satu orang yang menyadarinya.
Seorang pria bermata abu-abu dibalkon, ia menatap cahaya itu tanpa berkedip sedikit pun. “Aku menemukannya lagi.” Ucapnya dengan senyuman yang terukir dibibirnya.