NovelToon NovelToon
Kawin Lari

Kawin Lari

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Ketika kenyataan tak seindah bayangan...

Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.

Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.


"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~


"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantan Terindah

Setengah jam sudah Radit menunggu Jenna kembali dari toilet, namun gadis itu belum menampakkan batang hidungnya sedangkan film sudah usai. Radit berdiri dari duduknya, melangkah menuruni anak tangga keluar dari studio itu.

Radit memperhatikan dari kejauhan, ketika ia mendapati Jenna sedang berbincang berdua dengan seorang lelaki. Ya, lelaki yang dulu pernah Radit lihat saat pertama kali mereka bertemu. Raka, namanya Raka mantan kekasih Jenna.

Radit berjalan perlahan mendekati Jenna saat Radit melihat Raka meraih tangan Jenna. Ada gemuruh tak menentu di dada Radit, seakan tak rela gadis yang belakangan dekat dengannya tiba-tiba membalas genggaman tangan lelaki lain.

"Na," ujar Radit dari balik tubuh Jenna.

Jenna tersentak, ia buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raka. Raka melihat Radit yang datang dengan tas Jenna yang ada di bahunya.

"Mas," ujar Jenna gugup.

"Udah dari toiletnya?" tanya Radit santai. "Tas kamu." Radit memberikan tas Jenna yang sedari tadi berada di bahunya.

Jenna menerima tas kulit berwarna coklat itu. "Udah ... ah ya, Mas ... kenalin ini Raka, Raka ini Mas Radit." Jenna masih terlihat canggung.

"Radit."

"Raka."

Kedua lelaki itu saling berjabat tangan, tatapan mata Raka tajam pada Jenna yang seolah menuntut jawaban dari Jenna.

"Udah?" tanya Radit pada Jenna.

"Udah ... Raka, maaf ya kayaknya aku duluan ... sudah malam juga, next ketemu lagi," basa basi Jenna menutupi kegugupannya.

Jenna memilih untuk pulang bersama Radit. Raka hanya bisa mengangguk, Jenna dan Radit berlalu dari hadapan lelaki itu. Raka hanya bisa memandangi punggung mereka seiring langkah kaki yang semakin menjauh. Ada perasaan sakit di hatinya melihat gadis yang dulu sempat berada di hatinya bahkan hingga sekarang, berada di sisi lelaki lain.

Penyesalan selalu datang terlambat, jelas Raka merasa seperti tertusuk belati menyaksikan Radit dan Jenna begitu terlihat akrab. Entah sejak kapan kedekatan mereka, mungkin nanti bisa Raka tanyakan langsung pada Jenna. Namun saat ini, rasa hatinya seakan patah, remuk menyisakan serpihan yang menyakitkan.

"Kak," panggil Wita mengagetkan Raka.

"Ya," jawab Raka namun matanya masih mengikuti kemana Radit dan Jenna melangkah.

"Kakak gak papa?" tanya Wita.

"Kakak gak papa, kakak baik-baik aja."

Wita melihat raut wajah kecewa pada Raka, Wita tahu sekali jika saat ini kakaknya sedang tidak baik-baik saja.

...----------------...

"Kemana lagi?" tanya Radit saat mereka sudah berada di dalam mobil.

Jenna yang di tanya hanya bisa diam.

"Na," panggil Radit namun belum ada tanggapan dari Jenna. "Na ...." Radit menggoyangkan pundak Jenna.

"Ah ... iya Mas," sahutnya.

"Ngelamun ya?"

"Gak ... aku gak ngelamun," jawab gadis itu tersenyum.

"Apa perlu aku antar lagi ke dalam ... biar bisa pulang sama dia?" tanya Radit memutar sedikit tubuhnya ke arah Jenna.

"Oh ... Mas Radit gak mau nganterin pulang? ya udah gak papa kalo gak mau ...aku bisa naik taksi kok," ujar Jenna membalik tubuhnya membuka pintu.

Radit menahan lengan gadis itu, "loh kok jadi marah?"

"Aku gak marah kok," ujar Jenna namun dengan wajah cemberut.

"Mukanya gitu bilang gak marah," Radit terkekeh, "cepet ngambek ternyata."

"Aku males ah ... udah aku naik taksi aja." Lagi-lagi Jenna sebal.

"Jelek tau kalo marah," kata Radit mengusak rambut gadis itu. "Aku tuh liat kamu pulang nonton bukannya seneng, malah ngelamun ... mikirin Raka?" dan skak matt dari Radit.

"Hah? gak ... siapa yang mikirin dia."

"Ya mikirin juga gak papa," kata Radit lalu menyalakan mesin mobilnya keluar dari pelataran parkir Mall itu.

Selama perjalanan pulang yang ada hanya suasana diam diantara mereka. Harusnya hari ini adalah hari pelepas rasa kangen yang sudah Radit impikan, tapi harus rusak karena kehadiran mantan terindah Jenna.

"Makasih ya," ujar Jenna saat mobil Radit berhenti tepat di depan rumahnya.

"Hhmm," jawab Radit.

"Mas ... ish," ujar Jenna kesal.

"Iya ... istirahat, langsung tidur gak chatting an," ujar Radit tersenyum.

"Sok tau ...."

"Ya kali aja kan ... siapa tau, aku kan cuma nebak."

"Tau ah ... kamu nyebelin," kata Jenna membalik tubuhnya membuka pintu mobil.

"Hei ...," ujar Radit menahan Jenna kembali.

Jenna menoleh pada lelaki itu.

"Mimpi indah," ujar Radit membelai lembut pipi Jenna.

Gadis itu tersenyum, baru kali ini Radit memberanikan diri menyentuhnya selain memegang tangan dan mengacak rambut. Kali ini sentuhan Radit membuat darahnya semakin berdesir.

"Mas Radit juga," kata Jenna lalu turun dan meninggalkan Radit, sudut bibir lelaki itu mengembang.

...----------------...

Ketukan di pintu pagi itu membangunkan Jenna. Ini hari Minggu, hari dimana semua orang bermalas-malasan tapi sepagi ini Jenna harus bangun hanya karena suara sang Mama sudah menggema di balik pintu.

"Na ... Jenna ... Jenna," panggil Mama Kartina.

Jenna membuka pintu, dengan alis yang mengkerut dan mata yang sedikit menyipit karena pantulan cahaya.

"Iya Ma ...."

"Ada Raka di bawah cari kamu ... kayaknya penting sampe sepagi ini dia dateng, mandi dulu sana ... nanti Mama suruh dia sarapan dulu sama Papa di bawah," kata wanita cantik paruh baya itu.

"Masih jam enam pagi ini ... Jenna masih ngantuk banget," ucap Jenna meraup semua rambutnya ke belakang.

"Anak perawan bangun siang umur 25 tahun dan calon tunangannya ada di bawah, malu Na," sungut Mama Kartina sambil berlalu.

"Tunangan? siapa yang mau tunangan," gerutunya.

Selang setengah jam, Jenna sudah menemui Raka yang sedang berbincang dengan orangtuanya di teras rumah.

"Na," sapa Raka saat melihat Jenna sudah berdiri di depan pintu.

"Papa Mama tinggal dulu ya," ujar Mama Kartina.

"Raka ijin bawa Jenna, Tante," kata Raka.

"Oke ... ati-ati ya," ujar Mama Kartina dengan tersenyum.

"Ayo, Na." Raka beranjak dari duduknya, Jenna hanya menuruti Raka.

"Mau kemana?" tanya Jenna saat mobil menjauh dari kediaman keluarga Sofyan Alamsyah.

"Jalan aja," jawab Raka menoleh pada Jenna.

"Pulang jam berapa semalam?"

"Langsung pulang," ucap Jenna.

"Udah kenal lama?"

"Baru satu bulan lebih," jawab Jenna seakan tahu arah pembicaraan Raka.

"Yang punya coffee shop itu kan?" Raka bertanya kembali kali ini di jawab oleh anggukkan Jenna.

"Aku sempat ingat wajahnya, kenal di coffee shop?"

"Kenal di kantor," ujar Jenna.

"Oh ...."

Mobil melaju ke arah taman kota, pagi itu cuaca cukup mendukung. Biasanya Minggu pagi adalah waktu kebanyakan orang menghabiskan paginya dengan berolahraga di sana.

Raka menghentikan mobilnya, dia menyandarkan kepalanya di kemudi dengan menatap Jenna.

"Kayaknya putus dari aku, kamu cukup menikmati ya Na."

Jenna tersenyum, "aku cuma menikmati apa yang aku bisa nikmati sekarang, termasuk berteman dengan siapa aja." Jenna balas menatap Raka.

Lelaki itu tersenyum samar, gadis itu sedikit berubah sekarang, lebih lugas dalam berkata. Seakan memagari perasaannya ... iya, Jenna memagari perasaannya agar tak lagi merasakan sakit. Cukup sudah dia mengalah demi ambisi Raka.

"Gak ada kesempatan lagi buat aku?"

"Aku gak berani kasih itu ke kamu ... karena rasanya pasti sama seperti yang dulu." Jenna mengusap layar gawainya, matanya tertuju pada pesan masuk dari Radit.

"Apa Radit?"

"Apa?"

"Sekarang yang ada di hati kamu?"

Jenna terdiam, jujur saja ini benar. Raja benar dengan pemikirannya, Radit yang perlahan membalut luka di hatinya.

"That should be me (harusnya itu aku)," kata Raka, diraihnya tangan Jenna.

"Ya, harusnya itu kamu kalo semuanya gak berakhir." Jenna tersenyum menatap lelaki dengan rahang yang tegas itu.

Mata Raka memandang sendu pada Jenna, lelaki itu masih berharap sesuatu yang baik pada hubungan mereka. Tapi, semuanya tak lagi sempurna sepertinya dia memang sudah menyakiti hati Jenna selama ini. Kenangan indah itu akan selalu ada di hatinya.

"Na," ucap Raka

"Ya,"

"Jangan benci aku ya, seandainya aku bisa memutar kembali waktu, merendahkan sedikit ambisi aku, mungkin ini gak terjadi sama kita ... aku nyesel ngelepasin kamu," Raka membelai lembut pipi gadis itu. Jenna hanya dapat memejamkan matanya merasakan kembali belaian Raka.

"Gimana aku mau benci kamu, kamu gak patut untuk di benci ... aku sayang kamu, tapi aku juga gak bisa menahan ini semua, aku butuh kamu di samping aku, bukan hanya sekedar lewat, bertemu lalu berpisah lagi," ujar Jenna meraih tangan Raka yang berada di pipinya.

"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika memberi perih," kata Jenna lagi dengan mata berkaca-kaca.

**enjoy reading 😘

ada satu pepatah buat para mantan : Bertahan artinya kamu percaya akan masa lalumu. Melepaskan artinya kamu percaya akan adanya masa depan yang baru**.

like komen jangan lupa yaaaah 😘

1
Wiwik Roviyantini
kpn mulai up cerita terbaru kk
Maryati Subur92
AQ ikut deg deg kan
Aisya
part ini ak nangis malem malem 😭😭
Agus Tina
Baca ini sudah ketiga kalinya ... nggak bosen. Suka ceritanya .... Pak Sofyan sosok ayah yg baik dan bijaksana banget ...
Dewa Nara
gak ada kota bangka Thor, karena bangka itu nama pulau. adanya kota Pangkal Pinang, Mentok, dsb.
Chida: oh iya kota Pangkal Pinang .. makasih ya
total 1 replies
Ulil Baba
jangan pernah berhenti untuk mencintai KU
dalem banget artinya
Ulil Baba
wong gendeng 😤😤 semremet Karo mbok e
Ulil Baba
yaa Allah serius kak nangis nyesek banget,, konyol ku lagi mata masih merah habis nangis ada kurir paket datang,,,ambyar deeehh
T.N
Luar biasa
Ulil Baba
bacanya ikut senyum senyum
Vivo Smart
Budi emang anak baik kek dibuku buku pelajaran
Vivo Smart
duda emang udah lebih berani ya
Vivo Smart
kok diajarin boong Jenna nya Dit
Vivo Smart
aku sudah punya anak dua, tapi masih suka banget kalau dicium
Vivo Smart
waaahhh... kasih pak Manto tips Na. oke banget dia padahal belum dibriefing
Vivo Smart
Radit duda kan
Vivo Smart
kadang cinta datang tanpa menunggu kesiapan Mas.
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba
Vivo Smart
akbar nggak tegas jadi laki
Vivo Smart
Emang Abang nggak kemana-mana Bang?
May Keisya
diajarin ya mas😂..itu senjata dia wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!