NovelToon NovelToon
LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:127.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

"Akan kubeli gitar ini untukmu," ujar Sekar tanpa basa-basi.

"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda, kan?" Einar tak percaya gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu dengan suka rela membelikannya gitar semahal itu

"Kau memainkan Canon D dengan sempurna. Aku sangat menyukainya."

"Hanya itu alasannya?"

Begitu awal mula Sekar bertemu dengan Einar. Di sebuah toko musik di Oslo.

Sekar Ayuning Prayoga, 16 tahun, pindah ke Oslo mengikuti kedua orang tuanya. Ayahnya ditugaskan menjadi Duta Besar RI untuk Norwegia.

Sekar, seorang pianis berbakat, introvert, pelahap buku, dan anak tunggal yang begitu dimanja oleh kedua orang tuanya. Ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di negara dingin itu. Hingga ia bertemu dengan Einar Haugen, pemuda Norwegia, seorang gitaris band black metal.

Bersama Einar, Sekar menemui banyak hal tentang misteri di balik ritual-ritual pagan, agama leluhur orang Scandinavia, witchcraft, bahkan konspirasi politik. Dibumbui dengan cinta yang terhalang restu orang tua Sekar, yang memandang Einar sebagai seorang pemuda selengean, berbahaya, serta masa lalunya yang buruk, bahwa ia pernah dipenjara karena melakukan pembakaran gereja.

Enjoy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Bisikan.

FROGNER, OSLO.

Sekar membanting pintu kamarnya. Lalu menghambur ke atas tempat tidur. Ia benar-benar kacau.

Namun ia sadar. Sikapnya pada Einar tadi sungguh berlebihan. Tentu saja ini bukan salahnya. Einar bahkan tidak tau apa pun tentang perasaannya.

Sungguh kekanakan.

Sekar menyusut sisa air matanya. Ia beranjak dari atas ranjang. Melangkah ke arah pianonya dan duduk termangu di depannya.

Johann Sebastian Bach, Air.

Sepi. Itulah yang ia rasakan ketika jemarinya mulai bergerak pelan menyentuh tuts-tuts piano. Seperti menyiksa diri sendiri dengan kehampaan yang luar biasa. Namun, jemarinya terus saja bergerak. Tak peduli hatinya meronta untuk segera menghentikannya. Menghentikan nada-nada depresif itu.

Padang rumput. Dua tangan saling bergandengan. Kaki-kaki mereka berlarian kecil menapaki salju. Mata hazel itu begitu memukaunya. Bibir tipis warna merah muda itu menyunggingkan senyum padanya. Rambut panjangnya menari-nari terhembus angin.

Ksatria abad pertengahan.

Einar.

Dengar ini.

Come to me

Comfort me

Take my hand

In your arms

In your eyes

I will be

Forever yours

Bring me down

To your bed

To your dreams

Take my life

Take everything

Through those meadows

Of heaven

Where we ran forevermore

I wish, oh, how I wish again

With you. Oh, to be with you

So lay me down

Close to you

Hold me now my lover

I kiss your tears

My sweet one

And kiss again, my love

"Sekar ...."

"Sekar ...."

"Help me (tolong aku) ...."

Sekar terkesiap. Apa baru saja ia mendengar seseorang berbisik di telinganya?

.

.

Mendengar bel pintu yang berbunyi beberapa kali, Mama yang tengah berada di dapur membantu Mbok Mar menyiapkan makan malam, segera melangkah menuju pintu dan membukanya.

"Ja (ya)?" ucapnya pada sesosok pemuda berambut panjang yang berdiri di hadapannya.

"God kveld, Fru (selamat malam, Nyonya)."

"Mencari siapa?" tanya Mama penuh selidik. Memandang pemuda itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Mata Mama menangkap tato yang menyembul di lehernya.

"Jeg heter (namaku), Einar, aku teman Sekar. Apa dia ada di rumah, Nyonya?"

"Teman Sekar? Teman sekolah?" Dahi Mama mengerenyit. Pemuda ini terlalu dewasa untuk ukuran anak SMA.

"Ah, bukan ... emm ... teman bermusik, Nyonya," jawab Einar sekenanya. Tapi itu adalah jawaban yang tepat. "Bisa bertemu Sekar, Nyonya?"

"Vent litt (tunggu sebentar)," ucap Mama. Wanita itu masuk ke dalam sembari sesekali menoleh ke arah Einar dengan waspada.

Einar duduk di kursi teras sembari menunggu Sekar keluar. Ia memandangi halaman rumah yang tertutup salju tipis dan diterangi oleh lampu-lampu taman.

"Nggak pernah cerita sama Mama kamu punya temen model begitu, Se!"

"Mama perlu ngobrol sama kamu loh, Se!"

Sayup-sayup ia mendengar suara dua orang wanita dari dalam rumah. Sebelum akhirnya mendapati Sekar muncul dari balik pintu, dengan wajah sembab dan piyama yang dibalut sweater panjang.

"Hei ...." Einar tersenyum sembari tatapannya mengikuti gerakan Sekar hingga duduk di sampingnya.

Gadis itu hanya terdiam. Memandang lurus ke depan.

"Aku datang untuk memastikan kau baik-baik saja. Kau aneh sekali tadi sore."

Sekar mengedikkan bahunya.

"What happened (apa yang terjadi)?" Einar mencondongkan badanya ke arah Sekar. Menatap wajah gadis itu yang merengut.

"Nothing (tidak ada apa-apa)," jawab Sekar pendek.

"Kau tiba-tiba marah padaku. Kau membuatku bingung, Sekar."

"Aku marah pada diriku sendiri!"

Einar menghela napasnya. "Tell me why (katakan padaku kenapa)?"

"Why do you care (kenapa kau peduli)?"

Einar mendecak. "Hei, kita teman, bukan?"

"Aku tidak mau jadi temanmu!" seru Sekar. "Maksudku ... aku tidak apa-apa. Hanya sedang kacau saja." Sekar meralat kata-katanya begitu melihat wajah Einar terkesiap mendengar seruannya.

"Okay, okay," ucap Einar sembari mengacak rambut Sekar.

Sekar menghindar dengan sebal. Einar selalu saja mengacak rambutnya. Akan lebih baik jika tangan kokohnya itu membelai rambutnya saja, lalu bibir tipisnya itu mengecup keningnya.

"Mau menonton kami di Helvete festival?" tawar Einar.

"Helvete?"

"Ya ...."

"Kapan?"

"Minggu depan."

Sekar terdiam sejenak. "Kau juga mengajak Anna?"

"Hmmm ... aku tidak tahu. Sepertinya aku harus menyembunyikan identitasku darinya," gurau Einar.

"Are you guys lovers, now (kalian berdua sudah resmi jadi sepasang kekasih, sekarang)?"

Einar mengedikan bahunya. "Mungkin ...."

Sekar mendongakkan wajah dan memejamkan matanya.

"Ein ...."

"Ya?"

Sekar menatap sepasang mata hazel yang terlihat gelap di bawah bias lampu teras yang redup. Ia menatapnya cukup lama. Mencoba menyelam masuk dan bertahta di sana. Ia ingin hanya dirinyalah yang ada dalam jangkauan pandangnya.

Aku menyukaimu.

"Sekar?" Einar menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Sekar. "Helloo?"

"You go home, I'm tired (kau pulang saja, aku capek)." Sekar beranjak dari duduknya.

"Sekar, tunggu!" seru Einar seraya meraih lengannya. "Kau yakin kau baik-baik saja?" Ia berdiri dan menyentuh bahu Sekar lembut.

Sekar mengangguk lemah.

"Kalau kau punya masalah kau bisa katakan padaku."

Iya. Masalahku adalah kau, Einar, kau!

Einar meraih tubuh Sekar dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung Sekar pelan. Usapan seorang sahabat. Tentu saja.

Sekar tak melewatkan kesempatan itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Einar, lalu mengaitkan kedua tangannya di punggung pemuda itu. Merasakan hangat dan harum tubuhnya. Menikmatinya selagi bisa.

"Help me (tolong aku) ...."

Sekar terperanjat dan mendorong tubuh Einar seketika. Membuat pemuda itu merasa kebingungan.

"Kau kenapa?" tanya Einar.

Sekar menggeleng. Apa ia barusan mendengar sesuatu? Ia merasa kosong untuk beberapa saat. Ia merasa hilang untuk beberapa detik saja.

"Hei?"

"Nothing (tidak apa-apa) ... god natt (selamat malam), Ein." Sekar melangkah masuk. Ia membiarkan saja Einar yang masih berdiri memandangnya hingga ia menutup pintu rumahnya.

"Sekar, Mama mau ngomong."

Sekar urung menaiki tangga. Dengan malas ia berjalan mendekati Mama yang tengah duduk di atas sofa ruang keluarga.

"Apa sih, Ma?"

"Itu temenmu?" tanya Mama.

"Guru les, Ma ... les gitar," jawab Sekar sembari menjatuhkan badannya di samping Mama. Ide itu terbersit begitu saja di kepalanya.

Ya. Les gitar dengan Einar. Dengan begitu intensitas bertemu mereka akan lebih sering.

"Les gitar? Sejak kapan tertarik sama gitar?" tanya Mama heran.

"Aku lagi belajar genre baru, Ma."

"Siapa namanya tadi, Ein ...."

"Einar."

"Kamu kenal dari mana sih si Einar ini? Memangnya nggak ada guru les lain gitu, Se? Mama nggak yakin sama dia. Penampilannya gitu. Gondrong, tatoan ... duh." Mama memijit keningnya.

Sekar mendecak. "Dia yang terbaik di seluruh Oslo," jawab Sekar asal. Namun itu memang pujian untuk Einar.

"Terus dia ke sini tadi ngapain?" tanya Mama kembali.

"Nentuin jadwal les."

"Nggak bisa lewat telpon gitu?" cecar Mama.

Sekar menghela napasnya berkali-kali. "Mau ngomong langsung."

"Emang lesnya di mana?"

"Rumahnya.

"Rumahnya di mana?"

"Ya ampun, Mama kenapa, sih?"

"Biar kalau kamu les bisa ditungguin Pak Karso!"

Sekar menepuk keningnya. "Einar bukan orang jahat, Ma."

"Siapa tahu, Se."

Sekar beranjak dari duduknya dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga. "Terserah Mama aja deh."

"Makan malam dulu, Se!" seru Mama.

"Nggak laper."

***

***

***

1
🇲🇨 QaFeeFa 🇵🇸 💙
AQ tertarik krna judulnya. Bosen liat judul2 di NT MT yg ngadi2 banget.
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Dewa Qin
tapi klo diinget2 dr percakapan sekar-einer,sepertinya kisah mereka memang hanya ada dihalusinasi sekar.einer adalah sosok yg sekar hadirkan dikehidupan imajinasinya
Dewa Qin: ooo q belum lihat filmnya.makasih ya 🙏...mau lihat ah😂🏃🏃
total 3 replies
Dewa Qin
jadi kesimpulannya apa thor???kisah sekar dan einer ini nyata atau halusinasi????kok q gak paham🤭maklum IQ jongkok🤭🤭
Dewa Qin
baca bab ini pas banget sama tragedi genosida yang lagi rame di medsos juga didunia tentang serangan membabibuta israel ke gaza.dan ternyata dr dlu zionis memang ibliiiissss
Dewa Qin
makasih juga thor udah buat karya sebagus ini👍👍
Dewa Qin
kok sampai sini ada aroma mistis ya...
Dewa Qin
q gak ngerti musik tp sejauh ini q mencoba menikmati ceritanya karna yg q tau cerita2 kak lady selalu beda dr yg lain dan sangat layak untuk dinikmati❤️
Dellintang
luarbiasa
Elya Dewi
👍👍👌
Nunasoraya
Mungkin aku telata baca ini. Tapi ini cerita yg unik dan penuh misteri. Setiap babnya aku merasa ngeri-ngeri sedap 😂. Terima kasih utk karyanya, Author❤
Lina Maryani
msih terpaku bingung.... happy ending pastinya...
Lina Maryani
pembaca jg kecewa🤣🤣
Lina Maryani
semngat ein....
Lina Maryani
dak suka adegan ini....😢
Lina Maryani
😭😭😭😭
Lina Maryani
narik nafas aku Mak🤣
Lina Maryani
aduh serem ya,klo anak gadis pulang dianterin yg beginian 🤭
Lina Maryani
akhirnya sudah tidak bertepuk sebelah tangan lagi....😍
Lina Maryani
ketemu cowok tak peka...ya udah makan hati jdnyaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!