Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Apa dia melihatnya tadi?
Sepertinya tidak ada siapapun di sana hanya kita berdua. Batin ku mengancingkan piyama Reno.
"Sudah selesai, sekarang ayo tidur." Ajak ku pada Reno menghiraukan perkataan Reno.
"Iya, Ma." balas Reno tersenyum.
Aku mulai membaringkan buah hatiku dan menceritakan dongeng sebelum tidur seperti biasanya. Reno perlahan mulai terlelap dan tidur.
Flashback off.
Tuan Abbas yang selesai mandi segera mengganti baju tidur. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Mengambil ponselnya menghubungi dokter tadi pagi.
Tut... Tut...
"Halo, Tuan Abbas. Ada yang bisa di bantu?" tanya dokter Steven.
"Terkadang hidup mu masih banyak luang ya. Menerima panggilan dariku dengan gesit." sindiran Tuan Abbas pada dokter Steven.
"Kamu ini sangat merepotkan dan sindiran anda itu ngena banget." tungkasnya dokter Steven menyentuh dadanya.
"Ngena dimana memang? Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Tuan Abbas seraya tertawa pelan.
"Sekarang hidup anda lebih bahagia sehingga tawa pelannya itu pertanda akan harmonis." kekeh dokter Steven menggoda.
"Belum, anda tunggu saja beberapa hari." imbuhnya pada tuan Abbas.
"Setelah keluar hubungi saya langsung dan tidak ada yang boleh tahu termasuk Clara ibunya Reno." perintah Tuan Abbas dan mengakhiri panggilan.
Selang beberapa menit suara ketukan dari luar pintu.
Tok... Tok...
"Siapa malam-malam begini mengganggu tidur saya." gumam Tuan Abbas berjalan membuka pintu.
Saat Tuan Abbas membuka pintu terdapat Clara berdiri dihadapannya sambil menunduk. Tuan Abbas dengan kagetnya melihat rambut panjang Clara yang menutupi semua wajahnya. Namun Tuan Abbas menyembunyikan kekagetannya sehingga Clara tidak tahu.
"Hem..." Tuan Abbas berdeham membuat Clara segera mendongak.
"Tu-tuan Abbas..." ucap ku dengan gugup dan grogi.
"Ada apa?" sahut Tuan Abbas dengan dingin.
"Saya... Mau memberikan ini pada Tuan Abbas." balas ku menyodorkan map formulir pendaftaran sekolah.
"Ini formulir dari kepala sekolah Paud dan TK." kata Tuan Abbas menerima map itu.
"Masuklah." Ajak Tuan Abbas padaku seraya masuk.
"Maaf, saya tidak bisa." ucap ku menolak padanya.
Wanita ini selalu menolak ku dengan mentah-mentah tanpa basa basi padaku. Tidak ku sangka wanita ini berbeda dengan wanita yang lain. Batin Tuan Abbas membalikkan tubuhnya kembali mendekat pada Clara.
"Kita bicara di dalam." Ajak Tuan Abbas menarik tanganku.
"Saya... Tidak mau, Tuan." sentak ku padanya dan tubuh ku di tarik oleh Tuan Abbas ke dalam kamarnya. Dia melepaskan ku dan terjerembab di sofa panjangnya. Aku meronta ronta darinya ingin keluar dari kamar dan tangan ku di genggam erat oleh Tuan Abbas. Dia duduk di meja dengan sigapnya mengunci kedua kaki ku dengan kakinya yang menyatu dengan erat.
"Lepaskan..." lirih ku padanya yang masih meronta ronta.
"Tidak bisa, sudah aku kunci dengan kuat kedua kakimu." balasnya dengan tegas.
Begitu kuatnya dia. Tenagaku terkalahkan oleh kaki dan tubuhnya yang kekar dan berotot itu. Batin ku dengan kesal.
"Aku mau pergi dari sini, Tuan." cetus ku seraya menatap sinis padanya.
"Diam lah... Kamu telah membangunkan ku dan sekarang aku tidak bisa tidur." tegasnya pada ku seraya menatap ku dengan tajam.
"Hah... Apa anda ingin mendengar dongeng saya?" tanya ku membalas memicingkan kedua mataku.
"Saya bukan anak kecil seperti Reno," ujarnya, "ceritakan masa lalu kamu." seraya menaruh map di sampingnya.
"Anda tertarik dengan masa lalu saya." sindir ku padanya tak sangka dia berantusias dengan masa lalu ku yang kelam ini.
"Sebelum menjadi istri dan anak ku, aku harus mengetahui banyak hal tentang dirimu dari mulut orang itu sendiri." jelas Tuan Abbas.
"Baiklah tapi harus bersyarat." balas ku padanya tak meronta lagi.
"Syarat apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Abbas masih mengunci kakiku.
"Bebaskan saya dari pernikahan di atas kertas ini." pinta ku seraya tersenyum.
"Tidak bisa, ini sudah kesepakatan," ucapnya, "Syarat seperti itu tidak akan aku kabulkan."
"Kenapa? Anda menyembunyikan sesuatu dari saya?" tanya ku berkelit darinya.
"Tidak ada sesuatu yang saya sembunyikan." tungkasnya seraya melepas kungkungan kakinya.
Aku tidak bisa memberi tahu mu sekarang. Akan ada waktunya aku memberi tahu yang sebenarnya. Batin Tuan Abbas beranjak dari duduknya.
Aku merasa ada yang di sembunyikan olehnya. Tapi aku tidak tahu itu dan masa bodoh buat ku. Hal yang terpenting menyelesaikan masalah ini dan segera pulang. Batin ku meracau melihat punggung Tuan Abbas menjauh.
Map itu sudah di bawa olehnya dan di tandatangani. Entah perasaan ku yang aneh atau gimana, aku hiraukan begitu saja. Aku mengambil map itu lalu Tuan Abbas mencegat ku dengan menarik lengan ku sehingga aku terjatuh di pangkuannya.
"Tuan...." pekik ku.
"Apa kau ingin tidur dengan ku sekarang, atau... Setelah acara pernikahan selesai." ketusnya padaku mengusap punggung ku.
"Apa yang anda lakukan..."
"Dasar mesum." seru ku padanya dengan sinis.
"Tidak ada kata mesum untuk calon suami istri." imbuhnya menjatuhkan ku di ranjangnya yang luas dan nyaman itu.
"Tuan... Ku mohon, saya ingin kembali ke kamar Reno." pinta ku padanya yang di hiraukan ini. Dia mulai menindih tubuh ku dan membisikkan padaku, "Janda itu lebih indah daripada lajang."
"Jaga bicara anda, Tuan." pekik ku mendorongnya.
Tuan Abbas semakin aneh hari ini, ia mulai menurunkan tali piyama di pundaknya dan mencium leher jenjang milik Clara.
"Tuan... Ku mohon... Apa yang anda lakukan?" lirih ku seraya mendorong dengan kuat namun kalah dengan tubuhnya.
"Ingin tahu bagaimana Riko Hilman melakukannya padamu. Apakah seperti ini?" kilahnya mulai menggerayangi tubuh ku.
Tanpa banyak kata aku dengan kesal menampar pipinya dengan keras. Hingga terdengar suara tamparan dengan keras.
Plak...
Seketika tuan Abbas berhenti sejenak dan menatapku dengan tajam. Aku segera memalingkan wajahku karena takut dengan tatapannya yang mengingatkan ku pada Riko Hilman.
"Saya... Minta maaf, Tuan." lirih ku.
Tanpa membalas permintaan maaf ku, ia mensejajarkan tepat ke wajahnya lalu mencium ku dengan lembut tak terasa aku meneteskan butiran kecil dari kedua mataku yang terpejam.
Terasa sekali perasaan takutnya setelah menampar ku sehingga kamu meneteskan air mata mu dengan gemetar. Aku tidak sejahat itu, Clara. Karena kamu, aku merasa tidak kesepian lagi. Kehadiran mu bersama Reno membuat hati yang sepi menjadi ramai. Perasaan yang dingin berubah menjadi hangat. Batin Tuan Abbas masih mencium bibir Clara.
Apakah ini yang di namakan cinta dan bukti kesetiaannya? Harus melakukan hubungan seperti ini. Selama ini aku tidak pernah mengalami perasaan yang membuat jantungku berdegup kencang. Hari ini kamu membuat jantung ku yang mati kembali hidup merasakan cinta dan kesetiaan. Batin ku seraya merasakan ciuman darinya dan membalas memeluk leher dan pundaknya.