Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Di ruang pemeriksaan kantor polisi, suasana terasa tegang. Evan duduk di hadapan dua orang penyidik. Di atas meja telah tersusun beberapa map berisi dokumen dan barang bukti. Salah seorang penyidik membuka berkas pertama.
"Saudara Evan Cristian, kami akan mengajukan beberapa pertanyaan. Kami harap Saudara memberikan keterangan yang jujur."
Evan mengangguk pelan, meski wajahnya masih tampak tegang.
"Saya akan menjawab semampu saya."
Penyidik menatapnya tajam.
"Apakah Saudara mengenal seorang wanita bernama Amelia?"
Mendengar nama itu, jantung Evan kembali berdegup kencang. Namun, ia segera menguasai ekspresinya.
"Tidak, saya tidak mengenal siapa pun bernama Amelia."
Penyidik saling berpandangan.
"Saudara yakin?"
"Sangat yakin."
"Kalau begitu, bagaimana Saudara menjelaskan ini?"
Penyidik menggeser sebuah map ke hadapan Evan. Di dalamnya terdapat salinan data kepegawaian perusahaan Hartono. Nama Amelia tercatat sebagai salah satu pemilik perusahaan.
Evan terdiam beberapa detik.
"Itu ... hanya karyawan. Saya tidak mungkin mengenal semua karyawan. Dan dia bukan pemilik."
Penyidik kembali membuka berkas lain.
"Kami juga memiliki sejumlah dokumen yang menunjukkan adanya hubungan pekerjaan antara Saudara dan Amelia pada periode tersebut."
Evan menarik napas panjang.
"Itu urusan perusahaan. Banyak berkas yang saya tanda tangani. Belum tentu saya mengenal orangnya."
Penyidik tidak langsung menjawab. Ia mengambil beberapa lembar dokumen lagi dan meletakkannya di atas meja.
"Kami juga menerima laporan mengenai dugaan tindakan yang merugikan Amelia, termasuk rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum ia dinyatakan menghilang. Laporan itu menyebut nama Saudara."
Evan langsung menggeleng keras.
"Itu fitnah, saya tidak pernah melakukan apa pun kepada wanita itu. Kalau dia menghilang, itu bukan urusan saya."
Penyidik mencatat jawaban tersebut.
"Baik, semua keterangan Saudara akan kami masukkan ke dalam berita acara pemeriksaan. Kami juga akan mencocokkannya dengan dokumen dan keterangan saksi yang telah kami terima."
Evan mulai kehilangan ketenangannya.
"Siapa yang melaporkan semua ini?"
Penyidik menutup map di hadapannya.
"Untuk kepentingan penyelidikan, kami belum dapat menjelaskan seluruh identitas maupun keterangan para pelapor dan saksi. Yang jelas, kami memiliki dasar untuk melakukan pemeriksaan."
Evan mengepalkan tangannya. "Demi Tuhan, saya tidak bersalah. Saya dijebak."
Penyidik menatapnya dengan tenang.
"Itu hak Saudara untuk menyampaikan pembelaan. Tugas kami adalah memeriksa seluruh bukti dan keterangan secara objektif."
Ruangan kembali hening. Evan mulai menyadari bahwa perkara ini tidak akan selesai hanya dengan menyangkal. Sementara itu, di luar ruang pemeriksaan, seorang penyidik lain berjalan membawa map tambahan yang baru diterima.
Di dalamnya terdapat sejumlah bukti baru yang akan diperiksa untuk menentukan langkah penyelidikan berikutnya. Babak baru dalam kasus yang selama ini terkubur pun perlahan mulai terbuka.
Menjelang siang, proses pemeriksaan terhadap Evan masih terus berlangsung. Berulang kali ia memberikan keterangan, namun setiap penjelasannya kembali dipatahkan oleh bukti-bukti yang telah dikumpulkan penyidik.
Wajah Evan yang sejak pagi berusaha tenang kini mulai dipenuhi kegelisahan. Ia beberapa kali melirik ke arah pintu ruang pemeriksaan, berharap pengacaranya segera datang membawa kabar baik. Namun, yang datang justru seorang penyidik lain dengan membawa sebuah map tambahan.
"Saudara Evan Cristian," ucap penyidik itu dengan nada tegas, "kami telah menerima sejumlah dokumen dan keterangan tambahan yang memperkuat laporan terhadap Saudara."
Evan langsung berdiri.
"Itu tidak mungkin! Saya sudah bilang, saya dijebak!"
Penyidik tetap tenang. "Silakan duduk kembali."
Evan menggeleng. "Saya tidak akan mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan."
Penyidik membuka map tersebut satu per satu.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, Saudara diduga terlibat dalam serangkaian tindak pidana yang saat ini masih kami dalami."
Ia melanjutkan, "Dugaan tersebut meliputi penipuan, dugaan perampasan aset milik perusahaan Hartono secara melawan hukum, serta dugaan tindak kekerasan yang berkaitan dengan perkara Amelia."
Mendengar itu, wajah Evan semakin pucat.
"Itu semua bohong! Saya punya hak untuk membela diri!"
"Tentu," jawab penyidik. "Dan Saudara akan memiliki kesempatan memberikan pembelaan dalam proses hukum. Namun, berdasarkan alat bukti yang telah kami kumpulkan pada tahap ini, kami perlu mengambil langkah penyidikan berikutnya."
Ruangan kembali hening. Penyidik menatap Evan beberapa saat sebelum membacakan keputusan.
"Demi kelancaran proses penyidikan serta untuk mencegah kemungkinan menghilangkan barang bukti atau memengaruhi saksi, kami menetapkan Saudara Evan Cristian untuk menjalani penahanan sesuai ketentuan hukum yang berlaku."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
"Apa?" Evan membelalak tak percaya. "Ditahan? Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Saya belum terbukti bersalah!"
Pengacaranya yang baru saja tiba segera menghampiri.
"Pak Evan, tenang dulu. Kita akan mengajukan upaya hukum yang tersedia."
"Tapi saya tidak mau ditahan!" Teriak Evan dengan napas memburu. "Saya harus pulang. Anak saya menunggu di rumah."
Penyidik menggeleng pelan.
"Silakan ikuti petugas."
Dua orang petugas kemudian mendampingi Evan keluar dari ruang pemeriksaan menuju ruang tahanan sementara. Saat melangkah di lorong kantor polisi, Evan masih terus menoleh ke belakang. Wajahnya dipenuhi ketakutan.
Ia benar-benar menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berada sepenuhnya dalam kendalinya.
Di luar kantor polisi, wartawan yang telah menunggu sejak pagi langsung mengerumuni halaman ketika kabar penahanan itu mulai tersebar. Kamera-kamera segera menyorot ke arah pintu masuk. Nama Evan Cristian kembali menjadi sorotan publik. Dan tanpa disadari Evan. Roda yang akan menyeret seluruh rahasia masa lalunya kini mulai berputar semakin cepat.
Kabar penahanan Evan Cristian menyebar dengan sangat cepat. Menjelang sore, berita itu sudah sampai ke telinga Carolin.
Di ruang keluarga kediaman Baskara, wanita itu menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Beberapa media memberitakan bahwa Evan resmi ditahan untuk kepentingan penyidikan.
Sesaat kemudian, tawa Carolin pecah.
"Hahaha...! Akhirnya! Akhirnya pria itu merasakan juga akibatnya." Ia bangkit dari sofa sambil tertawa puas.
"Rasakan, Mas Evan! Berani-beraninya kamu menceraikanku dan memilih wanita itu!"
Tuan Baskara yang duduk tak jauh darinya hanya memperhatikan putrinya.
"Sudah kubilang, cepat atau lambat dia akan jatuh."
Carolin mengangguk penuh semangat.
"Benar, Pa. Kalau Evan ditahan ... hak asuh Aurora pasti kembali kepadaku. Itu anakku. Tidak mungkin pengadilan memberikan hak asuh kepada seorang tahanan."
Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Ia bahkan mulai membayangkan Aurora kembali tinggal bersamanya.
"Laras juga pasti akan terusir dari rumah itu. Kalau Evan sudah tidak ada, siapa lagi yang akan melindunginya?"
Carolin tertawa kecil. "Aku akan mengusirnya. Aku akan mengambil kembali semua yang pernah dia rebut dariku."
Tuan Baskara mengangguk pelan.
"Tetap tenang, perkara ini belum selesai. Tapi peluang kita memang jauh lebih besar sekarang."
Carolin memeluk ayahnya dengan wajah lega.
"Terima kasih, Pa. Untung Papa bertindak cepat. Kalau tidak, mungkin sekarang Evan sudah menikahi Laras."
Tuan Baskara tersenyum tipis.
"Belum saatnya kita lengah. Masih banyak yang harus dibereskan."
Carolin mengangguk tanpa sedikit pun rasa curiga. Ia begitu yakin kemenangan sudah berada di depan mata. Ia tidak pernah membayangkan. Bahwa di luar sana, ada seseorang yang sedang menyusun langkah berikutnya.
Di sebuah ruang kerja yang tenang. Elang berdiri menghadap jendela sambil memandang langit sore.
Di atas meja tergeletak beberapa berkas, laporan investigasi, dan dokumen kepemilikan saham perusahaan Hartono.
Seorang pria berpakaian rapi berdiri di hadapannya.
"Semua sudah siap, Tuan."
Elang mengangguk pelan. "Bagus, jangan hentikan penyelidikan. Terus kumpulkan semua bukti."
Pria itu mengangguk hormat.
"Baik, Tuan."
Elang kemudian mengambil salah satu map dan membukanya perlahan. Tatapannya dingin.
"Carolin ... Evan ... kalian berdua masih mengira permainan ini hanya tentang perceraian dan hak asuh."
Ia menutup map itu kembali.
"Padahal, ini baru permulaan. Kalian belum tahu ... siapa lawan yang sebenarnya sedang kalian hadapi." Senyum tipis terukir di wajah Elang.
Bukan senyum kemenangan. Tetapi, senyum seseorang yang telah menyiapkan langkah terakhir untuk meruntuhkan seluruh kebohongan yang selama ini dibangun oleh Evan dan Carolin.
Dan ketika saat itu tiba. Bukan hanya Evan yang akan kehilangan segalanya. Carolin dan keluarga Baskara pun akan menghadapi kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,