kisah ini menceritakan tentang Rehaan, putra konglomerat yang harus menjalani kehidupan sulitnya sejak ia masih kecil,
Rehaan harus kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih berusia 2th karena kejahatan Om dan Tante-Nya.
tidak cukup sampai disitu, hidup Rehaan semakin sulit sejak Nayla pengasuhnya diusir dari rumah Rehaan atas fitnahan oleh Om dan Tante-Nya,
Akankah Rehaan bisa berjuang sendiri menghadapi kejahatan Om dan Tante-Nya?"
ikuti Terus "Pesona pengasuhku" karena kisah ini juga akan diwarnai oleh kisah cinta Romantis antara Rehaan dan Nayla 😉
@Noor.hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Masa laluku
Nayla Berjalan menuju kamar mandi, ia terus mengusap-usap gaunnya yang basah,
Karena terlalu fokus membersihkan gaunnya Nayla menabrak seorang pria di depannya.
"Awwhhh...." Jerit Nayla hampir terjatuh ke belakang.
"Hati hati," ucap pria itu yang langsung meraih tangan Nayla, sedangkan tangan satunya berada di pinggang Nayla, uantuk sesaat Pria itu terdiam menatap wajah cantik Nayla.
"Terimakasih," ucap Nayla mengagetkan pria itu.
"Oh... Ya..." Pria itu menarik tubuh Nayla hingga berdiri dengan benar.
"Apa kamu tidak papa?" tanya pria itu.
"Tidak... Maafkan aku, aku benar-benar tidak melihatmu," ucap Nayl
"Bagaimana kamu melihat jika kamu sibuk membersihkan gaunmu," ledek pria itu.
"Ya, Aku merasa sangat tidak nyaman dengan gaunku yang basah, Ee. Baiklah aku akan ke toilet, sekali lagi aku ucapkan terimakasih," ucap Nayla langsung meninggalkankan pria itu
"Hey... Kita belum berkenalan, Siapa namamu?" Triak pria itu.
"Aarrgghh.. dia tidak mendengarku," sesal pria itu.
Pria itu terus menatap ke arah toilet, ia menunggu beberapa saat dan berharap agar Nayla segera terlihat kembali.
"Oh ya Ampun...dia benar-benar terlihat sangat cantik, andai saja aku sedang tidak buru-buru, pasti aku akan menunggunya," ucap pria itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
*****
Sementara Rehaan sedang gelisah menunggu Nayla kembali.
"Kenapa bibi lama sekali," ucap Rehaan dengan kaki yang tidak bisa diam.
"Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Aaah... Aku akan menyusulnya," ucap Rehaan lalu bangun dari duduknya.
Saat Rehaan berbalik badan Rehaan menabrak seseorang.
Rehaan memperhatikan wajah orang itu, dan betapa terkejutnya saat Rehaan menyadari wajah wanita paruh baya itu.
"Apa kamu tidak punya mata!" umpat wanita paruh baya itu dengan nada kesal.
Rehaan kembali mengingat masa lalunya yang pahit.
Nayla yang baru saja kembali dari toilet ikut terkejut melihat wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu pun terkejut melihat Nayla.
"Nayla?" ucap wanita itu
Rehaan berbalik badan menatap Nayla.
Wanita paruh baya itu kembali menatap Rehaan, kemudian kembali menatap Nayla.
"Jika dia Nayla berarti kamu... Rehaan?" tanya wanita itu.
"Nyonya Hema?" lirih Nayla.
Rehaan langsung menarik tangan Nayla dan pergi meninggalkan Tante Hema.
Rehaan berjalan begitu cepat hingga Nayla sulit mengimbanginya.
"Rehaan, jalannya pelan-pelan," ucap Nayla.
"Aku ingin segera pergi dari sini dan tidak melihatnya lagi bibi," ucap Rehaan kesal
"Tapi jika kamu terus menarik bibi seperti ini bibi bisa terja....Auwhh...."
"Bibiiiii..." dengan sigap Rehaan menangkap tubuh Nayla yang akan terjatuh, namun karena Rehaan tidak begitu siap merekapun jatuh ke lantai dengan posisi Nayla di atas tubuh Rehaan.
"Aauwhhh.. Rehaan memegangi kepalanya yang terbentur lantai.
"Rehaan...." Nayla mencoba bangun tapi kembali terjatuh hingga membentur kepala Rehaan.
"Aaawwhhh....." Nayla dan Rehaan sama-sama memegangi kepalanya.
Sejenak Rehaan terdiam melihat wajah Nayla yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Oh ya Ampun... Wajah bibi terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dari jarak sedekat ini," ucap Rehaan dalam hati.
Seakan lupa dengan kekesalannya pada Tante Hema, Rehaan tersenyum menatap wajah cantik pengasuhnya yang sedang lberusaha bangun dari atas tubuhnya.
"Rehaan ayo bangunlah," ucap Nayla yang berhasil bangun dari atas tubuh Rehaan.
Rehaan masih terdiam
"Rehaan apa kamu ingin membuat orang berkumpul dan melihat kita.?"
"Ee...." Rehaan pun duduk.
"Sekarang bangunlah.," ucap Nayla mengulurkan tangannya.
Rehaan pun menatap Nayla, kemudian memegang tangannya
"Apa kamu tidak papa Rehaan?"
"Bahkan hingga pagipun aku tidak papa bibi," jawab Rehaan dalam hati.
"Rehaaaaaan...." Nayla kembali mengagetkan Rehaan.
"Ya .. aku tidak papa bibi, Ayo kita Pulang,"
Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bibi... Tunggu..." ucap Rehaan menghentikan Nayla.
"Pakailah ini," ucap Rehaan membuka jasnya dan memakainya ke pundak Nayla.
"Rehaan ini tidak perlu," ucap Nayla menurunkan jasnya.
"Pakailah bibi, udaranya sangat dingin aku tidak mau gara-gara aku bibi jatuh sakit,"
Nayla tersenyum melihat Rehaan yang begitu perhatian padanya.
"Baiklah Rehaan, bibi akan memakainya, Sekarang kita pulang?"
Rehaan pun mengangguk dengan senyum bahagianya.
*****
"Hema, Apa yang kamu lihat?" tanya Ruslaan yang baru saja datang.
"Rehaan," ucap Hema singkat.
"Rehaan? Kapan kamu bertemu dengannya? Dimana dia sekarang?"
"Dia sudah pergi!" ucap Hema sedikit kesal mendengar pertanyaan begitu banyak dari suaminya.
"Pergi?"
"Ya, penampilannya begitu berbeda, sekarang dia terlihat seperti pengusaha sukses," jelas Hema
"Benarkah.? tanya Ruslaan memastikan.
"Ya itu benar, Bahkan Nayka ada bersamanya,"
"Apa? Nayla juga bersananya?" tanya Ruslaan tak percaya
Hema mengangguk
"Jika itu benar, Nayla benar-benar sangat beruntung, dia masih bersama Rehaan saat Rehaan telah mencapai kesuksesannya, sedangkan kita? Kita malah mengalami kebangkrutan," ucap Ruslaan sedih.
"Ya, tapi kita harus bersyukur karena putra kita berhasil menyelamatkan satu perusahaan yang tersisa sehingga kita tidak benar-benar jatuh miskin" ucap Hema.
"Ya, Semoga putra kita bisa memulihkan kejayaan kita," ucap Ruslaan penuh harap.
*****
Rehaan sampai di rumahnya.
Rehaan membukakan pintu untuk Nayla.
Tanpa mengatakan apapun Rehaan langsung masuk ke dalam.
"Rehaan, Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nayla khawatir.
"Aku baik-baik saja bibi, aku hanya merasa lelah," ucap Rehaan sambil memaksakan senyum di bibirnya.
"Maksud bibi bagaimana perasaan mu setelah sekian lama bertemu kembali dengan Om dan Tantemu?"
"Kumohon jangan membahas itu bibi, Aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan mereka," ucap Rehaan sedih.
"Baiklah, Maafkan bibi, bibi tidak bermaksud membuatmu mengingat masa-masa sulitmu,
Bibi hanya...." Belum selesai Nayla bicara Rehaan langsung memeluk Nayla.
Nayla begitu terkejut dibuatnya.
"Bibi.... Karena mereka aku kehilangan ayah dan ibuku, karena mereka aku berpisah dari bibi, dan karena mereka juga aku kehilangan semua hakku, aku harus berjuang seorang diri menghadapi masa-masa sulitku, Andai saja aku bisa menghukum mereka, tapi aku tidak bisa melakukannya, bagaimana pun mereka adalah adik dari ayahku, sekarang Aku hanya tidak ingin mereka kembali hadir dalam kehidupku bib, jangan biarkan mereka kembali dalam hidupku," Rehaan menangis seperti anak kecil di pundak Nayla.
"Tenanglah Rehaan semua akan baik-baik saja," ucap Nayla mengusap-usap punggung Rehaan.
Sesaat kemudian Rehaan tersadar jika dia sedang memeluk erat Nayla, Rehaan terdiam dan merasakan degupan jantungnya menjadi lebih kencang, Rehaan pun langsung melepaskan pelukannya, dan membelakangi Nayla.
Nayla terlihat sedikit bingung.
"Jangan sampai bibi merasakan detak jantungku," batin Rehaan sambil melirik Nayla
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Nayla
"Ya, Aku pergi ke kamarku dulu bi," ucap Rehaan langsung meninggalkan Nayla
Nayla menggelengkan kepalanya kemudian pergi ke kamarnya.
Bersambung...