"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 | Mengantar Ke Ruang Tes
Gwenny terpatung ditempatnya. Ia menatap dua sosok dihadapannya. Kalara baru saja mengatakan akan berjalan-jalan dan membelikannya sate. Ya, memang ia kembali membawa sate. Tapi laki-laki rupawan yang berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan sorot datar tanpa ekspresi itu?
"Dia siapa, Kala?" tanya Gwenny yang tak yakin akan sesuatu.
"Gwen, dia ini kakak polisi. Kami pernah bertemu di kota lain. Namanya kak Levi Ilanoraz." Kata Kalara.
Gwenny menatap Levi. Begitupun dengan Levi yang menatap Gwenny dengan tatapan datar. "Anda adalah polisi?"
Levi terdiam dan bergumam menekan dengan samar. Gwenny berbalik dan tersenyum miris. Merasa miris akan sikap Kalara yang asal mendeklarasikan status seseorang. Bagaimana bisa seorang Pangeran Perang dikatakan sebagai seorang polisi. Tentu saja Gwenny tahu siapa itu Levi Illanoraz. Orang yang terkenal akan kekuatan dan kemampuannya beberapa tahun terakhir diseluruh Alguin.
Gwenny berbalik dan tersenyum lebar namun canggung. "Haha, senang berkenalan dengan anda. Saya akan bantu menjelaskan kebenarannya pada dikecil imut ini nanti."
Tangan Gwenny bergerak mencubit pipi Kalara. Hingga ruam merah tercipta disana. Air mata menggenang dipelupuk mata Kalara. Gwenny lupa jika Kalara paling tidak suka dicubit pipinya. Karena katanya itu sangat menyakitkan.
Gwenny panik!
"Kala, astaga! Maafkan aku! Aku lupa kalau kamu tidak tahan pipimu dicubit!" panik Gwenny mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya.
Kalara mengusap kedua pipinya yang memerah dan menganggukkan kepala kecil, "Humm."
"Coba kulihat, ap—"
Gerakan tangan Gwenny berhenti ketika sepasang tangan kokoh menyelanya. Menempelkan tangannya dikedua pipi Kalara, Levi mendongakkan wajah Kalara dan menatapnya. Cahaya lembut kebiruan muncul dari tangan Levi dan ekspresi Kalara nampak sangat nyaman. Kalara mengembangkan senyuman lima jari yang menyilaukan siapapun yang melihatnya.
"Rasanya dingin~" ucapnya riang.
"Hum." Gumam Levi.
Gwenny mematung ditempatnya. Bibirnya rapat melengkungkan senyuman. Namun maniknya menampakkan perasaan syok yang amat.
Gwenny menangis dalam batinnya, "Huaaa!! Kala-ku yang manis dan polos sedang didekati laki-laki tampan! Astaga-astaga! Dan mereka terlihat sangat manis!"
Ia menggigit jemarinya dan memalingkan wajahnya dan kembali membatin. "Tapi wajar saja. Kala kan sangat cantik, Levi ini sangat serasi dengan Kalara."
"Sudah." Ujar Levi.
Kalara tersenyum, "Terima kasih kak!"
...🌙...
Ketika keadaan mulai sepi, Kalara, Levi dan Gwenny melangkah menuju meja pendaftaran.
"Permisi. Kami ingin mendaftar di Celestial Academy. Apa saja syarat yang harus dibutuhkan?" tanya Gwenny.
Dua pria yang berjaga itu mendongak. Tertegun begitu melihat sosok Kalara didepan mereka. Wajah mereka memerah dan nampak terpana. Namun sedetik kemudian aura gelap menyelimuti mereka. Ketika mereka menggeser pandang, netra ungu milik Levi berkilat tajam.
Dua pria itu mengalihkan tatapan dengan cepat. Menyadari kesalahan mereka.
"Si—Silakan isi formulir disini." Kata pria yang berambut pendek.
Kalara tersenyum dan menerimanya, "Terima kasih kak."
"S—Sama-sama." Jawab pria itu.
Levi dan Gwenny juta menerima formulir. Mengambil pena bulu, Kalara mulai membaca tiap pertanyaan yang tercantumkan didalam sana.
"Nama lengkap, jenis sihir, usia." Kalara berhenti membaca.
Ia menatap pertanyaan yang ada dibawahnya. "Asal dan nama orangtua?"
Kalara terdiam beberapa saat. Melirik kearah Gwenny dan Levi yang nampak tenang mengisi formulir yang ada didalam kertas itu. Tangannya bergerak mengisi pertanyaan yang bisa ia jawab.
Nama lengkap: Kalara Io
Jenis sihir: Sihir api dan angin
Usia: 16 tahun
Asal: -
Nama orangtua: -
Tujuan mendaftar ke Dragonia Academy: Ingin belajar.
Awalnya Kalara nampak ragu untuk menjawab darimana asalnya. Ketika ia melihat kearah Levi dan Gwenny, mereka melukai jari mereka dan menetekan darah ditempat yang disediakan dibagian kertas. Mengikutinya, Kalara melukai ibu jarinya dengan bagian tajam cincinnya. Darah menitik diatas kertas. Menyebar dan membentuk sebuah gambar berbentuk bulan sabit.
"Hm?" gumamnya.
Ia menoleh pada Gwenny. "Gwen, maksud dari gambar bulan ini apa?"
Gwenny menoleh, "Kamu dapat bulan? Aku dapat gambar pohon."
"Kakak, apa yang kamu dapat?" tanya Kalara pada Levi.
"Naga." Jawabnya.
Kalara bertanya pada salah satu pria tadi. "Kakak, apa maksud dari gambar ini?"
"Itu adalah ruangan tes di Celestial Academy. Pergilah keruang tes yang sesuai dengan gambar itu. Tes akan dibagi menjadi tiga tahapan. Tes tertulis, tes umum dan tes khusus. Masing-masing tes akan dipimpin oleh penyihir elite yang berbeda. Tes dimulai pukul empat sore. Jadi selamat berjuang. Semoga berhasil." Kata pria dengan rambut panjang itu.
Kalara tersenyum, "Terima kasih kakak. Kami pergi dulu!"
Sebelum benar-benar pergi, Levi menatap tajam dua pria yang berkeringat dingin ditempat. Sampai pria-pria itu menyaksikan ketiganya menghilang tertelan oleh portal berwarna keunguan itu.
"Hah! Kurasa laki-laki tadi adalah malaikat maut! Lihat tatapan matanya, sangat menakutkan."
"Hn, kau benar sekali. Aku sampai gemetaran karena dipelototinya. Tapi,"
Keduanya berucap bersamaan. "Apa salah kita?"
...🌙...
Selepas melewati portal, Kalara, Gwenny dan Levi sampai disebuah tempat yang sangat luas, taman indah dengan air mancur besar.
Bangunan yang berdiri megah didepan mereka adalah bangunan dari Celestial Academy. Bangunan dengan pilar raksasa dan jajaran dinding berlapis kaca sihir yang memukau itu berhasil membuat Kalara termangu takjub. Bangunan itu dikelilingi hutan dan perbukitan yang luas. Dipuncak bangunan yang setinggi ribuan meter dari permukaan tanah, sebuah patung berbentuk naga raksasa yang melingkupi bangunan itu terlihat. Patung naga dari batu itu tentu sudah dilengkapi sihir yang membuatnya jadi lebih ringan sehingga lebih aman tanpa merusak bangunan dibawahnya.
Naga itu nampak begitu megah dan mulia. Juga nampak begitu kuat dengan sayap yang kokoh. Kalara menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik, sebelum ia tersadar dan kembali pada apa yang ada disekelilingnya.
"Wahh!! Cantiknya!" puji Kalara.
Orang-orang yang mendaftar nampak berlalu lalang. Mencari ruangan dimana tes mereka akan dilakukan. Gwenny nampak melihat jam bundar dari dalam sakunya dan mendapati jam menunjukkan pukul 3 lebih 45 menit. 15 menit sebelum tes dimulai.
"Oh gawat! Limabelas menit lagi tes akan dimulai. Kala, kak Levi, mari segera cari ruangan. Kala, setelah selesai aku akan menemui. Atau kamu menemuiku setelah kamu selesai. Sampai jumpa!" ucap Gwenny kemudian bergegas pergi mencari dimana ruangannya.
Kalara menatap sekeliling dan bergumam pelan. "Dimana ruangannya ya?"
Kalara sedikit terkejut saat tangan Levi menggenggam tangannya. "Eh? Ada apa kak?"
"Ke arah sini." Gumam Levi sembari menarik Kalara pergi tanpa kata.
Kalara keheranan dan kebingungan dengan sikap Levi. Kemana Levi akan membawanya? Apakah menuju ruang tes? Tapi ruang tes mereka berbeda bukan? Kalara bahkan tak bisa protes ketika Levi telah menariknya begitu saja. Bahkan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disana.
"Lihat, gadis itu sangat cantik."
"Cantik sekali."
"Laki-laki itu sangat tampan dan punya tubuh yang bagus."
"Dia tinggi dan tampan."
"Astaga, kulitnya bisa seputih itu. Bagaimana caranya?"
"Cih, paling hanya anak lemah."
"Benar. Lihat saja penampilannya, terlihat lemah."
"Sampai." Singkat Levi.
"Eh?" beo Kalara saat mendengar kata Levi.
Levi menunjuk pintu bercat putih dengan gambar bulan sabit ditengahnya. Ia menoleh pada Levi.
"Kakak mengantarku? Terima kasih banyak! Tapi kakak akan terlambat keruangan kakak karenaku." Kalara berujar sedih.
Namun Levi menyela, "Tidak. Kalau begitu aku pergi. Aku akan menemuimu nanti. Sampai jumpa."
Kalara melambaikan tangannya dan mengulum senyuman, "Sampai jumpa kak!"
gak ketebak