“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malam: Pesan Asing dan Ketenangan di Taman Kampus
Kevin yang penuh penyesalan mencoba menghubungi Alya menggunakan nomor baru—nomor yang tidak terdaftar di kontak gadis itu. Ia mengetik pesan permintaan maaf yang tulus, berharap bisa meluluhkan hati Alya.
Di sisi lain, ponsel di tangan Alya bergetar. Ia membuka aplikasi WhatsApp dengan perasaan bingung. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isinya tiba-tiba meminta maaf tanpa penjelasan panjang lebar.
"Siapa ini? Kenapa tiba-tiba minta maaf padahal kita tidak kenal?" batin Alya penuh tanda tanya. Karena penasaran, ia pun membalas bertanya, "Maaf, ini siapa ya? Dan dari mana kamu bisa tahu nomor saya?"
Tak lama kemudian, balasan itu datang singkat namun membuat darah Alya mendidih. "Gue adalah tamu lu yang kemarin"
Alya terpaku, tubuhnya kaget dan gemetar menahan amarah. "Astaga! Kenapa laki-laki itu bisa mendapatkan nomor pribadiku? Apa dia peretas? Atau dia punya kuasa untuk mengintip privasi orang lain?" Kesal dan risih bercampur menjadi satu, Alya memilih untuk mengabaikan pesan itu dan tidak membalasnya lagi. Ia membiarkan Kevin menunggu dengan keraguan, tanpa berani mengganggu lagi.
Pikiran tentang "Om-om" bernama Kevin itu benar-benar merusak suasana hatinya. Agar hati dan pikirannya kembali tenang, Alya pergi ke taman kampus yang rindang. Di sana ia duduk sendirian, membuka buku-buku tebal jurusan Manajemen yang menjadi dunianya. Tempat ini adalah pelarian terbaik baginya; udaranya segar, anginnya sejuk, dan suasananya hening—sangat damai untuk menata kembali perasaan.
Tiba-tiba, kegelapan menutupi pandangannya dari belakang. Sepasang tangan hangat menutup kedua matanya dengan lembut.
"Hei, tebak siapa?" suara itu terdengar akrab dan ceria.
Alya tersenyum lega. Itu adalah Raka, sahabat paling baik yang selalu ada di sampingnya.
Raka melepaskan tangannya dan duduk di samping Alya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Gue cariin lu ke mana-mana, ternyata ada di sini ya... di taman belakang gedung yang sepi ini."
Alya menutup bukunya perlahan. "Iya, gue lagi asik baca materi bisnis. Soalnya Pak Rindo nggak bisa masuk kelas hari ini, tapi beliau minta kita tetap harus presentasi dan jelasin materi di depan teman-teman. Jadi gue harus siap-siap."
Alya memang murid berprestasi yang cerdas. Ia sering dipercaya oleh para dosen untuk menggantikan menjelaskan pelajaran saat mereka berhalangan hadir. Meski berat, Alya selalu patuh dan pasrah menjalani tugas itu. Bagaimanapun, ia adalah anak penerima beasiswa. Sedikit saja ada masalah atau keluhan, posisinya bisa terancam dan itu akan sangat merepotkan segalanya.
"Ngomong-ngomong," tanya Alya menatap Raka, "Ngapain sih lu sibuk nyariin gue? Padahal lu tau kan gue paling nyaman baca buku di tempat tenang kayak gini."
Raka tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Iya gue tau kok tempat favorit lu di mana, makanya langsung nyasar ke sini. Soalnya..." Raka mengelus perutnya yang terlihat lapar, "Gue laper banget dari tadi! Pengen makan tapi nggak ada temennya, sepi banget kalau sendirian."
Alya terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang manja itu. "Dasar anak manja banget ya... makan aja harus ditemenin," godanya sambil tersenyum lebar, rasa kesal tadi perlahan luntur digantikan kehangatan persahabatan ini. 💛🥪
Di sudut kantin kampus yang selalu ramai dan berisik oleh hiruk-pikuk mahasiswa, Alya duduk berhadapan dengan sahabatnya, Raka. Di hadapan mereka terhampar sepiring nasi goreng yang masih mengepul hangat, mengundang selera. Namun, di sela-sela nikmatnya menyantap makanan itu, insting Alya seolah menangkap sesuatu yang berbeda. Secara tidak sadar, ia sering melirik ke sekeliling ruangan. Di mana pun matanya memandang, ia menemukan sepasang mata—bahkan puluhan pasang mata—yang seolah tidak lepas menatap ke arah meja mereka. Tatapan itu campur aduk; ada yang penasaran, ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk, ada pula yang menyeringai penuh isyarat. 🤭👀
Alya sangat paham betul apa yang sedang terjadi. Kabar burung atau rumor tentang kedekatannya dengan Raka sudah lama menyebar luas di lingkungan kampus. Orang-orang seolah memiliki imajinasi tanpa batas; mereka berasumsi bahwa hubungan antara Alya dan Raka bukan sekadar teman biasa, melainkan ada benih-benih asmara yang tersembunyi di balik persahabatan itu.
Namun, bagi Alya yang cerdas dan berprinsip, omongan orang lain hanyalah angin lalu yang tak berarti apa-apa. Ia memilih untuk mengabaikan segala bisikan itu seolah tak pernah mendengarnya sama sekali. Baginya, membuang waktu dan tenaga hanya untuk mengurusi urusan percintaan atau gosip tak berdasar adalah hal yang sangat melelahkan dan membosankan. Apalagi, beban hidup yang sedang ia pikul saat ini sudah jauh lebih berat, jauh lebih rumit daripada sekadar menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol dari orang-orang yang tidak tahu menahu tentang nasibnya. Ia memiliki dunia sendiri yang harus diperjuangkan. 🤍🌬️
Sementara itu, Raka yang sedari tadi diam memandangi wajah Alya dengan tatapan yang entah mengapa terasa berbeda—lebih lembut, lebih dalam, dan tulus—tiba-tiba memecah kesunyian di antara suapan nasi goreng mereka.
"Al..." panggil Raka dengan nada yang ramah namun sedikit berharap.
"Hm? Kenapa, Ka?" jawab Alya sambil mengunyah santai.
"Gimana kalau nanti sore atau malem ini kita nonton bioskop bareng gue? Ada film horor baru yang lagi ngetren banget sekarang, semua orang ngomongin ini. Judulnya unik, 'Jangan Panggil Aku'." Raka bercerita dengan antusias, matanya berbinar. "Katanya ceritanya bener-bener seru, menegangkan, dan bikin bulu kuduk berdiri. Ulasannya udah menyebar luas di berbagai platform media sosial, nilainya bagus banget. Gimana? Lu tertarik nggak buat nemenin gue?" 🎃🎬
Alya tersenyum simpul menahan rasa bersalah karena harus menolak ajakan sahabatnya yang baik itu. Ia menggeleng pelan dengan lembut.
"Wah, kedengarannya seru sih, Ka... tapi kayaknya nggak bisa hari ini dulu ya. Kita atur jadwal pas gue lagi libur aja gimana? Biar bisa santai nggak terburu-buru."
Raka mengernyitkan dahi sedikit penasaran. "Lho? Kenapa emangnya? Ada jadwal padat kuliah?"
Alya menunduk sejenak, menyembunyikan bayang kesedihan sekilas di matanya. "Bukan gitu... Malam ini gue terpaksa harus bekerja lagi. Masih ada beberapa urusan dan masalah yang harus gue selesaikan terkait kejadian kemarin..." Alya memilih menghentikan kalimatnya di situ. Ia tidak ingin membebani hati Raka dengan cerita kelam dan dunia gelap yang ia jalani demi bertahan hidup. 🤐🥺
Raka pun mengerti. Ia tidak pernah memaksa atau menuntut jawaban lebih lanjut dari Alya. Sikapnya tetap santai dan penuh pengertian.
"Oke, oke, santai aja! Nggak apa-apa kok. Kalau gitu bisa diatur lain waktu aja nanti. Nggak usah dipikirin, kita kan punya banyak waktu," ucapnya lega tanpa beban.
Suasana pun kembali cair dan menyenangkan. Mereka kembali bercanda, menertawakan hal-hal konyol, dan menikmati sisa nasi goreng di piring masing-masing dengan penuh kegembiraan. Namun, nasib baik tidak berpihak pada lidah Alya siang itu. Tanpa diduga, rasa pedas yang luar biasa tiba-tiba meledak di mulutnya! Ternyata cabai yang ia pesan itu benar-benar "level seratus" yang membakar lidah dan tenggorokan. 🥵🔥
"Pffft! Aduh... pedeh banget sumpah! Mulut gue rasanya mau meledak!" seru Alya sambil terbatuk-batuk kecil, wajahnya memerah padam, matanya berkaca-kaca menahan sengatan pedas yang luar biasa.
Melihat tingkah konyol dan menggemaskan itu, Raka langsung tertawa terbahak-bahak, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Hahaha! Lagian sih lu, Al! Ada-ada aja kelakuan lu ini. Udah tau mulut lu nggak seberapa kuat, malah pake gaya sok jago pesen yang paling pedes banget! Lu emang juara dunia kesombongan level cabai ya!" candanya sambil terkekeh tak henti.
Tanpa menunggu diminta, Raka dengan sigap dan penuh perhatian segera menggeser gelas besar berisi teh manis dingin yang manis dan segar ke hadapan Alya. Gerakannya lembut dan tulus.
"Nih, cepat minum dulu biar tenggorokan lu nggak kerasa kebakar. Awas jangan sampai keselek atau tersedak gara-gara nafsu makan pedas," katanya sambil menyunggingkan senyum paling hangat dan menenangkan hati. 🥤🥰
Momen sederhana itu terasa begitu berharga di tengah keramaian kantin. Mereka tertawa lepas tanpa beban, saling melempar candaan yang konyol, dan menciptakan suasana yang terasa begitu hidup. Di dalam hati kecilnya, Alya merasa sangat bersyukur dan beruntung luar biasa. Di tengah kerasnya kehidupan yang sering kali menyakitkan dan penuh pengkhianatan, ia masih memiliki Raka—seorang sahabat yang tulus, setia, dan selalu ada untuk menopangnya. Kehadiran Raka adalah oase di padang pasir kesepiannya, bukti bahwa di dunia yang keras ini, persahabatan murni masih ada dan bersinar terang. ✨🤝💖