I Love You, Om
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flobamora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
DISCLAIMER:
Novel ini sedang dalam proses rencana perbaikan kualitas, berupa penggunaan kalimat efektif dan PUEBI lainnya.
Mohon pembaca sabar menanti. Sambil menunggu perbaikan, silahkan baca novel author yang lain. Terima kasih.
Pagi hari, di kelas Yuri.
“Jadi, kalau X ini dikuadratkan, maka A akan bergeser dan nilainya menjadi minus. Nah, yang C ini kan dia ada di dalam kurung...,”
ucap Yuri sedang mengajari beberapa orang temannya matematika.
“Pssst.. pssst..,”
panggil Debora menyiku tangan Yuri kemudian melemparkan pandangannya ke pintu.
Yuri lalu menoleh dan ia melihat arah yang ditunjukkan Debora itu. Rupanya Rico datang.
Para siswi lantas segera memandangi Rico, karena ia adalah idola bagi mereka.
“Selamat pagi, Pak,” “Pagi, Pak...,” Selamat pagi, Pak Rico,”
sapa beberapa di antara mereka.
“Ya, pagi,”
jawab Rico sambil menganggukkan kepalanya.
“Waah, wajah bapak kok ada yang luka-luka begitu?,”
tanya salah seorang siswi.
“Tidak apa-apa. Saya hanya terbentur benda sedikit saja,”
jawab Rico.
Rico berjalan menuju meja Yuri. Tanpa berkata-kata, ia lalu menyerahkan tas kecil Yuri yang semalam dicuri.
Beberapa siswa melihat cincin yang baru dikenakan Rico.
“Wah, sudah lama tidak mengajar di kelas kita, begitu datang, Bapak sudah mau menikah saja,”
ceplos salah seorang dari mereka.
Rico hanya menjawabnya dengan senyuman. Siswi lain pun berbisik-bisik dan beberapa menunjukkan wajah yang kecewa. Sementara Debora hanya diam dan senyum-senyum sendiri.
“Terima kasih, Pak,”
ucap Yuri.
“Ya, lain kali hati-hati. Jangan sampai dicuri lagi,”
ucap Pak Rico.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian kala itu. Kebanyakan siswi memperhatikan mereka, beberapa ada yang berbisik-bisik.
“Mohon maaf saya sudah merepotkan Bapak dan berbuat suatu kesalahan,”
ucap Yuri menundukkan bahunya kepada Rico.
“Tidak masalah. Saya tidak marah kepadamu. Yang terpenting kamu bisa pulang dengan selamat,”
jawab Rico.
“Ya sudah. Saya pergi dulu,”
ucap Rico yang kemudian pergi meninggalkan kelas itu.
“Waaaa... Kenapa kamu bisa sangat akrab dengan Pak guru Rico seperti itu?,”
tanya seorang teman Yuri.
Yuri hanya berpandang-pandangan dengan Debora yang selalu senyum-senyum sendiri sejak tadi.
“Tapi bagaimana pun juga sungguh disayangkan, ternyata Pak guru Rico akan menikah,”
ucap teman Yuri yang lain.
“Aku jadi tidak bersemangat lagi sekarang.. huhu,”
ucap teman Yuri yang lain.
“Hei, Yuri, Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak ikut-ikutan menyukai Pak guru Rico? Mengherankan sekali, kenapa kalian begitu menyukainya, sedangkan ada aku begitu tampan di kelas ini,”
ucap salah seorang siswa yang duduk di pojok belakang.
Suasana kelas menjadi hangat. Beberapa saling bercanda dan tertawa, dan ada pula yang mengobrol.
Sementara Yuri diam saja. Ia masih memikirkan Rico. Ia merasa simpati karena beberapa luka di wajah Rico yang ditempelinya dengan plaster luka. Ia juga merasa berdosa karena meninggalkannya semalam dan bulang bersama Om Seno.
“Tapi sepertinya Kak Rico ga ada marah-marahnya sama sekali kepadaku. Dia baik sekali,”
ucap Yuri di dalam hati.
Beberapa waktu kemudian, kelas menjadi kondusif kembali karena pelajaran akan segera dimulai.
* * * * * *
Jam sekolah hampir berakhir.
“Baik, anak-anak. pelajaran hari ini cukup sekian. Silahkan merapikan barang-barang kalian dan tunggu bel berbunyi,”
ucap guru Fisika di depan kelas.
Ponsel Yuri bergetar. Ia mendapatkan pesan di ponselnya.
“Nanti kita pulang bareng, ya? Katakan kepada Debora agar menurunkanmu di tikungan setelah pintu gerbang. Aku menunggumu,”
isi pesan yang dikirimkan oleh Rico.
“Baiklah. Aku akan datang,”
balas Yuri.
“Kak Rico mengajakku pulang bareng. Nanti aku cuma nebeng sampai tikungan di depan ya?,”
bisik Yuri kepada Debora.
“Waah.. Romantisnya.. Oke.. oke!,”
jawab Debora.
“Kriiiiiiiingggg... Kriiiiiinggg...” (suara bel tanda berakhir jam sekolah berbunyi).
Yuri dan Debora pun berjalan bersama-sama keluar kelas.
“Aduuuuh.. Aku gemas sekali kepada kalian berdua,”
ucap Debora.
“Iya, aku pun rasanya.. em.. ternyata berbeda sekali ya. Ternyata seperti ini rasanya punya pacar,”
ucap Yuri.
“Bagaimana rasanya?,”
tanya Debora.
“Risih,”
jawab Yuri.
“Yah.. kok begitu sih. Orang tuh kalau selokasi dengan pacarnya seharusnya bahagia, bukan merasa risih,”
protes Debora.
“Ya, habisnya mau ke mana saja pasti ada dia lagi, dia lagi. Sekarang malah kami akan pulang bareng. Lalu bagaimana nanti kalau dilihat orang? Terus kalau seisi sekolah ini tahu? Apalagi kalau menikah nanti. Tidak bisa aku bayangkan,”
ucap Yuri.
“Kamu ini bagaimana sih. Biasanya sama ayah tampan saja kamu senang-senang aja. Bahkan kamu sampai disebut-sebut sebagai peliharaan dady sugar lah,”
ucap Debora.
“Iya juga, ya..,”
jawan Yuri.
Yuri pun jadi memikirkan Om Seno.
“Jelas saja perasaanku kepada Om Seno berbeda. Dia jelas-jelas sudah mengisi ruang di dalam hatiku jauh sebelum aku mengenal Kak Rico. Terutama statusnya sebagai keluargaku sendiri,”
ucap Yuri di dalam hati.
Dari jauh, tiba-tiba mata Yuri menangkap sosok yang sedang memandangnya dari halaman luar sekolah. Sosok itu tidak memanggilnya, ataupun menghampirinya. Ia hanya berdiri memandangi saja.
“Om Senooo...,”
ucap Yuri.
“Hah? Mana?,”
tanya Debora.
Yuri lalu berbicara kepada Debora kemudian kembali mengalihkan wajahnya ke arah ia tadi melihat lelaki itu.
“Itu.. Eh, kok sudah tidak ada?,”
ucap Yuri.
“Kamu sedang berfatamorgana,”
ucap Debora.
“Tapi tadi aku benar-benar melihatnya!,”
ucap Yuri dengan yakin.
“Tapi sekarang ga ada tuh? Oke, nanti kita lihat pas di mobil ya?,”
ucap Debora menantang Yuri.
Mereka pun memasuki mobil jemputan Debora. Mobil lalu bergerak dan mengantar mereka. Mobil Debora lalu melewati gerbang sekolah. Di sana laju mobil melambat. Mereka menoleh ke segala arah, namun Om Seno tidak kunjung mereka temukan.
“Tuh, kaaan.. Cuma fatamorgana saja,”
ucap Debora.
“Hemm.. Mungkin iya,”
jawab Yuri.
“Setidaknya hari ini aku sudah melihatmu. Aku senang kamu baik-baik saja. Tapi jangan sampai kehadiranku kembali membuatmu merasa tidak nyaman lagi. Bahkan kamu sering merasa bersalah oleh hal-hal yang bukan merupakan kesalahanmu. Maka, aku segera pergi saja seperti ini,”
ucap Om Seno di dalam hati yang sedang berada di dalam mobilnya yang melaju agak jauh di depan mereka.
Om Seno begitu fokus memikirkan Yuri, pandangannya lurus ke depan. Ia tidak melihat Rico di tepi jalan, sekitar 300 m dari gerbang sekolah, yang sedang menunggu Yuri.
Beberapa saat kemudian mobil Debora tiba di tempat Rico menunggu. Yuri turun dari mobil dan pulang bersama Rico. Mereka melakukan hal itu agar orang-orang di sekolah mereka tidak mengetahui kedekatan mereka.
“Kamu mau kita kemana dulu?,”
tanya Rico kepada Yuri.
“Aku tidak punya tujuan lain,”
jawab Yuri.
“Kamu kelelahan ya? Mau kita langsung pulang saja?,”
tanya Rico.
“Sebaiknya begitu. Maaf, ya Kak?,”
ucap Yuri.
“Tidak masalah. Lagi pula nantinya kita akan bertemu setiap hari,”
ucap Rico tersenyum.
“Lagi-lagi Kak Rico tidak menunjukkan kekecewaannya padaku. Aduuh.. Aku egois sekali. Tapi biar saja lah. Benar apa katanya, nanti kita akan bertemu setiap hari, setelah menikah,”
ucap Yuri di dalam hati.
* * * * * * *
Malam hari, pukul 19.00 di ruang makan rumah Debora.
Kali ini papa Debora ikut berkumpul dengan mereka. Di tempat itu sedang duduk, Yuri, Rico, mama Debora, papa Debora, Debora, isteri Pak Ekindo, anak Pak Ekindo, serta Pak Ekindo sendiri.
Mereka mengobrol begitu akrab. Hal itu karena Pak Ekindo memang sudah dikenal baik oleh keluarga Debora.
“Jadi kapan kira-kira Yuri dan Rico akan menikah?,”
tanya papa Debora.
“Saya sih, inginnya secepatnya, Om. Besok pun kalau bisa akan saya lakukan,”
ucap Rico dengan percaya diri.
Papa Debora dan beberapa orang di sana tertawa mendengar Rico berucap.
“Waaah.. Kamu bersemangat sekali,”
ujar papa Debora.
“Masih muda, Tuan. Wajaaar.. Jadi ingat waktu kita masih muda, ya kan Bun? Hahaha..,”
ucap Pak Ekindo.
“Beruntung sekali mereka berdua, ya.. Tidak perlu menunggu lama, tahu-tahu sudah berjodoh,”
ucap istri Pak Ekindo.
“Tapi ingat, banyak yang mengatakan ketika setelah menikah mereka sebenarnya akan menyesal....,”
ucap mama Debora.
“Kok menyesal, sih Ma?!,”
protes Debora.
“Iya menyesal... kenapa tidak menikah lebih awal. Hahaha,”
ucap mama Debora.
Mereka pun kemudian membicarakan pernikahan Yuri. Pernikahan itu akan dilaksanakan bulan depan.
Keluarga Debora begitu antusias membantu dalam pernikahan itu. Hal itu dikarenakan mereka sudah mengaggap Yuri seperti anak mereka sendiri dan urusan pembiayaan bukan lah hal yang memberatkan mereka.
Namun, Yuri meminta pernikahan agar dilaksanakan sederhana dan di lingkungan keluarga dekat saja. Ia malu apabila orang-orang di sekolahnya mengetahui perihal pernikahannya itu. Lalu semua menyepakatinya, dan persiapan pernikahan pun dimulai.
* * * * * *
Hari berganti, minggu demi minggu berlalu.
Namun bagi Yuri, bayangan Om Seno seperti selalu mengawasinya.
Karena sudah sering terjadi, maka Yuri selalu menyempatkan dirinya berhenti dari aktivitasnya dan mencari bayangan Om Seno di tempat yang sama, tempat seakan Om Seno sedang memandanginya dari jauh.
Suatu pagi, pukul 6.00. Yuri menyempatkan diri untuk pergi ke halaman rumah Debora. Ia membantu tukang kebun mengurus bunga-bunga yang indah di sana.
Sebenarnya bukan karena ia benar-benar ingin merawat bunga-bunga itu. Beberapa waktu yang lalu ia pernah tanpa sengaja melihat bayangan Om Seno sewaktu ia menyiram tanaman pagi-pagi.
Kemudian, ia jadi keterusan ingin selalu menyempatkan diri ke halaman rumah untuk kembali melihat bayang Om Seno lagi.
Demikian pun di saat pulang sekolah. Meskipun hal-hal itu tidak terjadi setiap hari, namun setidaknya setiap pekan pasti terjadi beberapa kali.
Sebenarnya itu bukanlah bayangan dari Om Seno, melainkan Om Seno memang benar-benar datang untuk sekedar memandangi Yuri dari kejauhan.
Hingga pada suatu waktu Om Seno tidak bisa melakukan hal itu lagi.
Pagi hari, pukul 9.01 di ruang kerja Om Seno. Om Seno menerima panggilan telepon dari rekan kerjanya.
“Ayolah Seno San. Selama ini karirmu begitu terpuruk. Kau tidak bisa terus menerus mengandalkan pendapatanmu mengamen dari cafe ke cafe terus. Ini adalah kesempatan yang bagus untukmu. Ingat, kesempatan itu tidak akan datang dua kali,”
ucap rekan Om Seno melalui ponselnya.
“Sepertinya benar. Bagaimana aku akan menjaga seseorang, sedangkan hidupku sendiri pun terpuruk seperti ini. Aku memang harus pergi, toh hanya sementara waktu. Ketika masa kontrakku selesai nanti aku bisa kembali lagi,”
ucap Om Seno di dalam hati.
“Hei.. Seno San. Bagaimana? Sudah, jangan terlalu banyak pertimbangan. Dengarkan saja saranku. Percaya lah kepada ku. Kita sudah berapa lama bekerja sama..,”
ucap rekan kerja Om Seno menyerocos.
“Oke. Aku akan menerima tawaran itu,”
jawab Om Seno.
“Nah, begitu dong. Kapan kau akan datang ke sini? Secepatnya lah ya?!,”
ucap orang di panggilan telepon itu.
“Oke.. Oke, hari ini juga aku akan melihat-lihat jadwal penerbangan yang ada di sini. Nanti akan aku hubungi lagi. Jangan lupa kau di sana bantu aku untuk melengkapi segala kelengkapannya,”
ucap Om Seno.
“O..iya, tentu. Jangan khawatir,”
jawab rekan kerja Om Seno itu.
Panggilan telepon pun berakhir.
Om Seno berencana akan berangkat ke New York untuk menerima panggilan kerja yang akan diselesaikan paling lama 2 tahun.
* * * * * *
kok gak enak bgd bacanya,..
kn bisa panggil "Deb" or "Ra",.
Jangan lupa likeback😁💕
jangan lupa mampir kenapa aku ke novel aku