Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh
Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wish 16 mengetahui rahasia Senja (Raga )
Raga meletakkan beberapa buku pelajaran di atas meja belajar Senja menyingkirkan bungkusan obat yang sudah tak terpakai dan segelas air yang sudah setengah kosong.
Senja terbaring lemas dengan wajah pucat di atas tempat tidur, mengenakan piyamanya yang kebesaran dan bersembunyi di balik selimut tebal. Sudah dua hari dia sakit, akibat kehujanan akhir pekan lalu. Waktu itu, Senja pulang tengah malam dengan tubuh basah
kuyup, tapi di wajahnya tersungging senyum lebar yang terlihat sangat bahagia. Entah apa yang telah terjadi; Raga gengsi menanyakannya walaupun ingin tahu, padahal dia sudah khawatir setengah mati.
"Gue bawain catatan pelajaran yang ketinggalan hari ini," Raga berkata sambil menjatuhkan tasnya di atas karpet dan berjalan menghampiri sisi tempat tidur. Senja mengerang tanpa suara.
"Kenapa sih orang lagi sakit harus disuguhi PR dan catatan pelajaran tolak Senja kesal.
Raga tidak menjawab. Diulurkannya sebelah tangan untuk meraba kening Senja merasakan panasnya. "Masih demam, nih," dia menganalisis, "udah makan obat?
" Buburnya udah dihabisin?"
Senja memasang raut cemberut.
" Raga cerewet, ih."
Raga balas memasang muka berang.
"Mau cepat sembuh, nggak?"
Senja memang ingin cepat sembuh, karena kangen pada latihan cheers dan acara senam pagi sebelum kelas pertama setiap hari. Dia kangen makan bakso kuah super pedas Mbok
Nah di kantin,dan mencicipi lemper ayam serta jajanan lainnya setiap jam makan siang. ia bersin sekali, lalu sibuk menyeka hidung dengan selembar tisu.
"Lagian kenapa sih, bisa sampai flu berat begini? Memangnya lo mandi hujan semalaman? Raga
melanjutkan,memberikan pertanyaan sebagai umpan untuk memancing Cerita mengenai kejadian Sabtu lalu. Tapi, Senja malah tersenyum lagi, seakan-akan sedang mengingat kembali momen-momen manis yang hanya menjadi miliknya dan Bara
"Kan, udah kubilang, mobil Bara mogok jadi kita harus nunggu mobilnya diderek di tengah hujan. Udah, Cuma itu. Dia menjawab dengan kurang meyakinkan, membuat Raga makin curiga.
"Cowok itu nggak macem-macem sama lo, kan ?"
Dipandang begitu, Senja jadi salah tingkah. Pipinya sedikit bersemu, tapi ia menggeleng mantap. Enggak sama sekali. Bara baik banget, kok. Pas kami lagi nunggu, dia ngasih jaketnya supaya aku nggak kedinginan. Ini pertama kalinya lho, Raga ada Cowok yang care banget sama aku
Enggan mendengar pujian mengenai Bara yang selalu Baik dan sempurna, Raga akhirnya mengalihkan pembicaraan, menyerahkan sebutir obat flu pada Senja yang meminumnya dengan ogah-ogahan.
"Bianca titip salam. Dia ada klub fotografi hari ini, jadi baru bisa menjenguk besok.
Senja menyambut selembar foto yang dititipkan Bianca untuknya sambil tersenyum.
Foto itu adalah foto yang diambilnya dengan kamera Lomo minggu lalu saat Senja sedang kepedesan dengan sepiring pempek, dan Raga duduk di sebelahnya, ikut kerepotan
memesankan segelas teh dingin. Di baliknya, tertulis get well soon dalam tulisan tangan Bianca yang rapi.
"Aku bosan, Raga Di rumah sepi, apalagi Bulan juga pergi ke sekolah. Coba kamu dan Bianca bisa bolos buat nemenin aku.
"Huuu." Raga geleng-geleng mendengar usulan itu dan menyentil kening Senja dengan ujung jari. Tapi, tiba-tiba saja, dia teringat sesuatu. Eh... tunggu sebentar, ya."
Senja menyibakkan selimut dengan penasaran. Raga cepat-cepat menuruni tangga dan berlari ke rumahnya sendiri sebelum ke kamar Senja,
terengah-engah dan mengepit satu set permainan Monopoli di bawah lengan.
"Karena lo nggak bisa keluar, gue temenin main, deh."
"Monopoli!" Senja berseru riang, ikut duduk di atas karpet sambil memasang papan karton dan menyusun uang-uang kertas di atasnya. Dia jadi ingat, dulu setiap salah satu di antara mereka sakit, mereka akan mengeluarkan permainan Monopoli dan bermain
berdua di dalam rumah. Kadang, Raga juga akan menyelinapkan es krim untuk Senja yang sedang sakit walau mereka tahu makanan tersebut dilarang
Raga dapat membaca senyum Senja itu, lalu berkata, "Setiap kali kita main Monopoli, lo
Senja merebut dadu, lalu melemparnya asal di atas karpet. Angka tiga. Itu kan karena aku lagi sakit, atau lagi kurang beruntung
Raga mengambil gilirannya. Angka enam. Monopoli nggak ada hubungannya dengan keberuntungan.
"Yang penting senang." Senja berargumen, lalu sibuk memajukan patung manusia plastik yang menandakan posisinya. " Itu,kan, intinya semua permainan "
Raga mengangkat bahu dan melangkah. Senja berseru heboh ketika masuk penjara, dengan boros membeli semua perhotelan tanpa banyak pikir, dan merengut jika kena denda, seolah lupa akan sakitnya.
Diam-diam, Raga tersenyum sendiri melihat polahgadis itu. Saat-saat seperti ini adalah yang paling menyenangkan, ketika dia bisa memiliki Senja untuk dirinya sendiri. Pikiran yang agak egois, memang, tapi, itulah yang dia rasakan kini
#I'm A Special Girl