NovelToon NovelToon
Dear Sun

Dear Sun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Fantasi / Kumpulan Cerita Horror / Thriller / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: S,ulfa

"Kita pernah diizinkan bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu"
Pernahkah kalian dibuat bimbang akan dua pilihan? Disaat harus memilih salah satu, tapi kalian menginginkan keduanya. Lalu setelah berhasil memilih satu, kalian juga malah menyesali sesuatu yang tidak dipilih itu.
Itulah aku...
Disini,
Di dalam kisah ini!

Selamat membaca, semoga suka! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S,ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Author Pov :

Pulang sekolah kali ini, tidak seperti biasanya bergegas menuju ke rumah. Jia dengan tampilan kacaunya, memakai pakaian yang tidak seragam, baju pramuka dan bawahan celana training olahraga. Tengah berjalan gontai, bersiap menapaki jalan setapak, yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

Jalan kaki menuju rumah Mita, baru kali ini ia rasakan begitu lelah. Pasalnya, di setiap perjalanan Jia menahan rasa haus, dibalik cuaca panas yang nampak tidak bersahabat. Tadinya Jia mau numpang nebeng di motor Tari. Tapi Tari menolak, karena dia tidak bisa melewati jalan setapak terjal, menuju rumah Mita itu. Alhasil tanpa pikir panjang, Jia terpaksa memilih jalan kaki.

Merogoh saku celana olahraga, saku baju pramuka, mengulik tas selempangnya. Namun nihil, tidak ada sepeser pun nampak uang sisa. Hari ini, Jia mengakui dirinya telah begitu boros membelanjakan uangnya untuk keperluan skincare at school nya. Pikirnya, berada dimana pun, wajah glowing itu lebih penting. Belum lagi, tingkahnya yang sok sultan. Berlaga mampu dan berani nraktir sana - sini. Namun sekarang, 'untuk sekedar membeli air minum saja, aku tidak semampu itu', ringisnya dalam hati.

Bagaikan sosok yang tidak pernah terharapkan kehadirannya. Sesampainya di rumah Mita, Jia tanpa tahu diri langsung masuk begitu saja, lewat pintu depan tanpa izin. Setengah berlari menuju dapur, berniat ingin mengambil minum untuk melepaskan dahaganya. Mita yang melihat hal itu, hanya melongo cengo bingung dibuatnya. Pikirnya, untung saja dia tinggal sendiri di rumah. Coba kalau ada orang tua nya disini, udah pasti bikin malu banget itu anak.

"Ada ini gak Mit, apa sih namanya yang kayak poci gitu."

"Apaan?"

"Es yang ujungnya diiket."

"Es?"

"Iya, es poci yang beraneka rasa itu. Biasanya lo bikin kan, bahan dasarnya dari marimas. Mmpptt!"

"Ih sialan banget lo, ngeledek!"

"Emang fakta aja Mit, bukan ngeledek. Makanya hidup lu tu aesthetic in dikit kek. Bikin es poci tuh kali - kali dari buah asli."

"Ck, belajar ngirit lah gue."

"Halah, keiritan itu. Udah sini buruan, mana es poci nya!"

"Berhenti ngomong es poci!"

"Lah iya kan, emang namanya es poci."

"Es lilin, woy!"

"Gak mau ah, pengennya es poci. Hhii!"

Mita hanya tertegun pasrah dengan tingkah sahabat nya ini. Melihat penampilan Jia dari atas sampai bawah, yang terlihat tidak seperti biasanya.

"Wah, ada yang gak beres nih sama ni anak."

"Apa?"

"Lo kenapa sih hari ini, aneh banget?"

"Harusnya gue yang nanya lo yang kenapa, hari ini sok - sok an absen. Cakit, cakit, padahal cari alesan lain kek. Udah tau mau ada ulangan fisika. Sengaja ya?"

"Eh serius! Tadi pagi - pagi tiba - tiba pusing dah gua. Gak tahu kenapa, Ji."

"Euh, padahal bisa aja kali, buat maksain sekolah."

"Gak kuat Ji, tadi mah beneran. Mau berdiri aja, susah."

"Hmm iya deh, serah."

Jia mengambil beberapa potong es lilin yang selalu menjadi stok Mita. Hari ini Mita absen tidak sekolah, dengan alasan sakit. Padahal dirinya memang sengaja tidak ingin sekolah, mata pelajaran fisika sudah menjelma menjadi musuh bebuyutan nya sejak dulu. Membayangkan nama 'fisika' nya saja, Mita tadi sudah merasa pusing. Apalagi hari ini akan dilaksanakan ulangan. Jadi alasannya sakit pusing, memang benar adanya.

"Ada apa sih sama hari lo sekarang, Ji?"

"Hmm. Asal lo tahu aja Mit, tadi gue di sekolah stres parah."

"Kenapa? Karena gak ada gue?"

"Euh apaan dah, geer banget lu oncom!"

"Ya terus, kenapa?"

"Lo liat kan, penampilan gue sekarang?"

"Iya, persis kek gembel."

"Heh, mulut lo!"

"Haha, emang napa dah lu bisa kayak gini si? Mau nyoba cosplay jadi anak nakal?"

"Iya, mulai sekarang gue pengen jadi anak nakal!"

"Eh, serius lu?"

"Kenapa harus bercanda, Mit. Mumpung masih muda, pengen sedikit gairah, bebas lah ngejalanin hidup. Bosen kekekang mulu jadi anak baik mah, hhe."

"Hmm, saya pikir semua ini hanya sebuah kebac*tan belaka!"

"Ya iyalah, kali aja gue rela bulak - balik ruang BK!"

"Terus alasan lu kayak gini, sebenarnya kenapa?"

Jia sejenak menghela nafasnya kasar. Mencoba menimbang - nimbang, dari mana ia baiknya memulai pembicaraan yang sedikit deep ini. Semenjak kejadian tadi malam, membongkar segala tentang Azka yang belum ia ketahui. Dirinya mulai merasakan sedikit perasaan yang aneh. Seakan suasana panas menguasai dirinya. Hatinya sedikit terusik, entah kenapa tiba - tiba merasa benci dengan sosok Rania. Jia tidak tahu alasan yang pasti, mengapa dirinya jadi berulah seperti sekarang ini.

Tadi malam, Jia tidak bisa tidur dengan tenang. Masih memikirkan tentang perasaan aneh, yang seakan memanas menjalar di sekujur tubuhnya. Jia berandai bagaimana dulu begitu dekatnya Azka dan Rania, yang sama sekali tidak ia ketahui. Mengingat hal itu, justru hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak. Sakit, karena Azka berani menyembunyikan hal ini darinya. Sesak, karena ada sebuah perasaan tidak terima atas kedekatan Rania dan Azka. Belum lagi dengan tanpa beban, Rania meminta dirinya untuk kembali menyatukan hubungannya dengan Azka.

Hari ini Jia bangun kesiangan, karena semalaman tidurnya tidak terasa nyenyak. Setelah pukul dua dini hari, barulah tidurnya terasa pulas. Hampir saja ia lupa dengan harinya, yang masih menjalankan rutinitas pagi, yaitu sekolah. Setelah mematikan alarm tadi, dirinya masih bermalas - malasan tidak ingin beranjak dari kasur empuknya. Pikirnya, hari ini adalah hari Minggu. Barulah setelah pukul setengah tujuh pagi, dia tersadar kala melihat meja belajarnya sedikit berantakan. Semalam ia menyempatkan sebentar belajar, untuk mempersiapkan ulangan fisika besok, seingatnya. Jadi hari ini ia ingat bukan hari Minggu, tapi hari Kamis. Sesegera mungkin ia beranjak dari tempat tidur, menuju lemari pakaiannya. Jia juga teringat bahwa hari ini ada pelajaran PJOK. Dia lupa, semalam tidak mempersiapkan baju olahraga untuk di bawa besok dalam tasnya. Setelah mempersiapkan hal itu, barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Jia kembali datang terlambat ke sekolah. Azka ternyata sudah menunggunya sedari tadi di lantai bawah. Untunglah dia tidak meninggalkannya, pikir Jia. Setidaknya hari ini, dia punya teman lagi untuk dikenakan sanksi. Kali ini Azka dan Jia hanya diberi hukuman ringan. Hormat di tengah lapangan, dengan cuaca yang sedikit mendukung, tidak terlalu panas hari ini. Azka dan Jia hanya bisa diam membisu, tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Bagaimana tidak, sedari tadi mereka terus diawasi oleh Pak Parto. Padahal pikir Jia, tidak diawasi pun ia tidak akan mau berbicara dengan Azka. Ia akan sebisa mungkin khidmat menghormati bendera. Saat ini Jia tidak ingin banyak berbicara dengan sosok disampingnya. Tadi pun berangkat bareng Azka, Jia merasa terpaksa. Pikirnya dia berangkat bareng siapa lagi, lagipula tadi sudah terlalu siang.

Jia kembali dimarahi habis - habisan oleh Bu Eda. Tapi kali ini ia lolos, tidak diberi hukuman. Azka dengan gentle nya mengatakan, Jia datang terlambat karena menunggu dirinya yang bangun kesiangan. Padahal, bukankah itu sebaliknya. Jia sempat merasa tersinggung oleh perkataan Azka itu, dan merasa tidak enak hati dengannya. Tapi kemudian egonya memuncak, dengan mengiyakan pernyataan Azka. Pikir Jia, biarlah sesekali Azka diberi hukuman, dan ia tidak akan merasa peduli. Alhasil, hanya Azka lah yang menerima hukuman tambahan. Bagi Azka itu tidak apa - apa. Lagipula baru kali ini ia mendapatkan sanksi.

Namun kesialan yang lain kembali menghampiri seorang Jiani Ilma. Baju olahraga yang tadi ia bawa, ternyata bukan baju olahraga SMA, tapi baju bekas dia selama SMP. Dia salah mengambil baju dari lemarinya. Untunglah Yuna mempunyai baju olahraga cadangan, itu pun dia hanya membawa celananya saja. Jadi terpaksa Jia harus memakainya, dengan atasan baju pramuka yang sedang ia pakai. Daripada harus memakai baju olahraga SMP, pikirnya itu akan lebih memalukan.

Belum lagi, kejadian pada saat praktek olahraga lompat jauh, membuatnya semakin tak kuasa menahan rasa malu. Saat lompatan pertama Jia berhasil melakukannya dengan baik. Tapi pada saat lompatan kedua, dirinya tidak bisa mendarat dengan sempurna. Kakinya terpeleset, dan menciptakan gaya akhir lompatan yang sedikit nyeleneh. Posisi badannya tersungkur ke dalam bak pasir khusus untuk olahraga lompat jauh itu. Memperlihatkan wajah yang penuh dengan lumuran pasir. Seketika ia menjadi bulan - bulanan teman - temannya. Di bully habis - habisan, dan itu membuat Jia semakin dibuat mumet dengan hari ini.

Ketika Jia ingin kembali membuka suaranya kepada Mita. Tiba - tiba saja segerombolan anak lain datang merusuh. Membuka pintu rumah Mita secara paksa. Mereka adalah Herlin, Tari, Yuna, dan Sri. Ya, siapa lagi kalau bukan mereka. Datang - datang mereka langsung menanyakan keberadaan Jia, dan bertanya kabar Mita. Lumayan sedikit beradab, pikir Mita. Dibandingkan tata krama seorang Jia tadi, yang sama sekali tidak memperlihatkan etika sopan - santun ketika bertamu.

Jia akhirnya menceritakan tentang kejadian tadi malam pada mereka berlima. Bercerita tentang sosok Rania dan kedekatannya dengan Azka. Tadinya Jia hanya ingin bercerita ini pada Mita saja, karena dia yang paling dekat dengan Jia di antara yang lainnya. Tapi berhubung mereka berempat nyusul nyamperin ke rumah Mita, jadi dengan sangat terpaksa Jia harus menceritakan semua pada mereka juga. Namun tidak dengan perasaan anehnya yang tiba - tiba muncul kepada sosok Azka. Dia belum ada keberanian untuk menceritakan hal itu, pada teman - temannya.

...✎﹏𝔻𝕊...

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

Thanks udah mau mampir😊

Sorry for typo and absurd🙏

Menerima kritik dan saran☺️

Jangan lupa like, vote, and comment🙃

1
Siti Ulfa
🤭
Bayu Satriyo
never give up
Siti Ulfa: iyaaa, mksh udah mau mampir hhee
total 1 replies
Zanun Fikri
sangat tertarik
Siti Ulfa: makasih
total 1 replies
Zanun Fikri
keren👍
Siti Ulfa: makasih
total 1 replies
Ahmad Rouf
karya nya bagus mbak @ramadhantimo
semngat ya semoga sukses buat nerbitin novel karangan sendiri 😊good lock
Siti Ulfa: iyaaa hhee makasih
total 1 replies
Ahmad Rouf
keren mbak semngat berkarir @timorama/Smile/
Siti Ulfa: iyaaa pasti makasih
total 1 replies
Syarif SS
lnjutt ah
Siti Ulfa: iyaaa siap
total 1 replies
Syarif SS
sepertinya bakal menarik
ꪶꫝHIDAYAT
Next
ꪶꫝHIDAYAT
Semangat terus
ꪶꫝHIDAYAT
Tetap semangat
Siti Ulfa: iyaaa😍
total 1 replies
ꪶꫝHIDAYAT
Lanjutkan
ꪶꫝHIDAYAT
Oke ..
ꪶꫝHIDAYAT
Oke
ꪶꫝHIDAYAT
Awal yang baik, lanjut ....
ꪶꫝHIDAYAT
Coba mulai
Dzikri Muhammas
penasaran
Dzikri Muhammas
up next
Ndin Ndin
next👍💕
Ndin Ndin
wih seru banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!